
Sementara itu, waktu telah berlalu dua tahun lamanya di bumi Dwipantara.
Lamahtang, kerajaan itu telah benar-benar musnah.
Para pendekar anggota aliansi Bintang Harapan yang awalnya menjadi harapan bangkitnya kerajaan itu seluruhnya telah tertangkap oleh kelompok kecil anggota Telegu Merah. Kelompok ini benar-benar serius bermaksud menjadikan seluruh pendekar sebagai ternak mereka.
Selama itu, para pendekar yang tertangkap di masukkan ke dalam sebuah kantong aneh yang mampu menampung entah berapa ratus atau ribuan orang. Di dalamnya, para pendekar dipaksa menelan sesuatu berwarna merah, dengan tekstur keras sedikit kenyal, namun sangat cerah berkilau.
Para pendekar Telegu Merah menyebutnya sebagai bibit kristal. Mereka berharap, bibit kristal ini akan berubah menjadi kristal sejati dan bisa mereka perdagangkan dengan harga selangit!
Bibit kristal sendiri, adalah hasil uji coba dari faksi obat dari padepokan aliran hitam tersebut. Sejatinya, bibit kristal adalah ramuan unik yang diekstrak dengan teknik rahasia mereka. Ketika ditanam di tubuh hewan liar biasa, maka hewan liar itu akan berubah menjadi hewan sekuat siluman pada level pendekar bumi.
Sayangnya, pada hewan-hewan itu, kemampuan obat aneh itu hanya sebatas mengubah mereka menjadi kuat. Selebihnya, hewan yang telah berubah menjadi sekuat siluman itu tidak mengalami perkembangan apapun. Bahkan kemudian, bibit kristal yang diharapkan berkembang ternyata justru meleleh menjadi racun dan membunuh hewan liar itu sendiri setelah beberapa waktu berlalu.
Kejadian yang sama tidak terjadi ketika bibit kristal itu dikonsumsi manusia.
__ADS_1
Ternyata, pada tubuh manusia bibit kristal berfungsi dan bekerja dengan baik.
Selain mampu memperkuat manusia biasa menjadi sekuat pendekar bumi, kristal itu dapat terus berkembang dan menjadi kristal sejati.
Bahkan, salah satu sesepuh Telegu Merah saat ini berhasil mencapai tingkat puncak pendekar Alam, hanya satu tingkat di bawah pendekar suci berkat menggunakan bibit kristal tersebut.
Awalnya, telegu merah hanyalah sekelompok besar pemburu biasa sebelum bibit kristal ini tercipta dan mengubah mereka semua menjadi sebuah padepokan. Kini, mereka tumbuh sebagai kelompok yang kuat dan disegani.
Kecepatan perkembangan kemampuan mereka meningkat sangat cepat, menjadikan mereka tidak bisa diremehkan. Bahkan oleh ketujuh marga sekalipun.
Bila normalnya manusia menciptakan kristal itu pada level pendekar alam, maka orang-orang dari Telegu Merah telah memiliki kristal yang ditanam dalam tubuhnya sejak awal.
Kristal-kristal itu adalah simpanan sejumlah besar energi yang mereka olah sedemikian rupa selama bertahun-tahun hidup mereka. Mereka memadatkannya menjadi kristal.
Dengan kristal tersebut, mereka memiliki peluang untuk mencapai level tertinggi mandiwata, yaitu menjadi Dewa atau Iblis!
__ADS_1
Centini, karena kecerdasannya dan sikap keras kepalanya, telah kabur dari padepokan membawa ribuan bibit kristal bersamanya. Ambisinya sederhana : Beternak manusia penghasil kristal!
Selama dua tahun ini, Centini dan kelompok kecilnya telah mengalahkan ratusan pendekar. Banyak padepokan yang akhirnya bubar karena para pemimpinnya tertangkap.
Akibat kondisi tersebut, membuat para penjahat yang semula bersembunyi karena keberadaan para pendekar menjadi berani menampakkan diri secara terang-terangan.
Keadaan seluruh daratan Pulau Emas Besar menjadi kacau hanya oleh ulah lima orang yang seolah berkekuatan dewa bagi para penduduk.
Tiga Kerajaan besar dibuat tak berdaya. Para adipati, tumenggung dan senopati yang berusaha melawan mereka semuanya tewas atau tertawan. Tak ada yang bisa kembali.
Perampokan terjadi di mana-mana. Penjarahan dan pembunuhan oleh para penjahat nyaris tanpa penghalang. Masyarakat jatuh dalam kekacauan dan kesengsaraan. Hanya sesekali, pasukan dari kerajaan berusaha mengatasi para penjahat sembari menghindari bertemu dengan kelompo Telegu merah. Semua menjadi kacau!
Abul Ardh yang biasanya tenang di Lembah Kenangan menjadi Gerah oleh perkembangan situasi ini.
Terganggunya keseimbangan dan kehidupan harmonis oleh kemunculan kelompok Telegu Merah membuatnya harus keluar dan bertindak. Namun, perintah dari Marga Tanah yang ditunggunya tak jua turun.
__ADS_1
“Kalau aku bertindak tanpa perintah, sama saja aku melakukan pembangkangan! Kalau aku berdiam diri, akan jatuh semakin banyak korban. Dan aku akan merasa berdosa karena berdiam diri! AArgghhh…” Abul Ardh meninju kanvas lukisnya, membuatnya hancur berkeping-keping dan jatuh ke dalam kolam di bawahnya.
Pemuda ini segera melesat keluar dari lembah melewati celah sempit dari lembah kenangan tersebut. Matanya tajam menatap ke cakrawala. Sebuah sinar yang awalnya samar terlihat mendekat dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu tersenyum penuh arti.