
Malam hari di saat Gentayu berhadapan dengan Karang Setan itu, di tempat lain Mpu Jangger dan pasukannya juga mengalami serangan.
Sesuai dengan perkiraan Rambang Dangku, pengaruh ratusan liter racun tidur yang mereka larutkan dalam air konsumsi para prajurit beberapa waktu lalu mulai luntur efeknya setelah para prajurit itu meminum air dari sungai yang dilewati.
Akibatnya, pada malam itu semua prajurit tenpa terkecuali termasuk Mpu Jangger akhirnya dapat tertidur pulas setelah lebih dari seminggu mereka tidak bisa tidur.
Melihat hal ini, puluhan pendekar aliansi Bintang Harapan di bawah pimpinan Benduriang segera bertindak.
Kuda-kuda perang termasuk kereta barang menjadi sasaran pertama mereka. Saat seluruh prajurit tengah terlelap tanpa ada yang berhasil melawan kantuk, para pendekar itu melepaskan semua kuda yang tertambat. Kuda-kuda itu segera berlarian ke sana kemari sebelum hilang masuk ke kedalam hutan. Kuda-kuda itu digiring oleh empat pendekar perempuan menggunakan api obor dan beberapa kuda betina.
Sedangkan kereta perbekalan mereka jarah dan dilarikan ke pinggir sungai. Disembunyikan setelah kuda-kuda penariknya dilepas-liarkan di tepi hutan terdekat. Rencananya, perbekalan itu selain untuk menambah persediaan para pendekar juga untuk membantu para penduduk desa-desa sekitar yang mulai menderita kelaparan. Mereka berhasil mengamankan dua ratus lebih kereta perbekalan malam itu.
Saatnya tim ketiga yang bergerak. Mereka terdiri dari para pendekar yang memiliki gaya bertarung jarak jauh. Sekitar 20 orang telah disebar mengepung tenda-tenda prajurit yang menghampar pada area tak kurang dari satu hektar lahan tersebut. Mereka mempersiapkan senjata panah, tombak, pisau dan beragam senjata lempar lainnya.
Benduriang segera memberi aba-aba pada seorang pendekar di dekatnya yang membawa panah. Panah itu telah dinyalakan api pada ujung mata panahnya, dan setelah Gentayu memberi aba-aba untuk menembak, anak panah tersebut melesat ke satu titik di sekitar perkemahan prajurit.
Lesatan anak panah itu kemudian diikuti oleh panah-panah api lainnya dari empat penjuru mata angin. Dan dalam sekejap, sebuah lingkaran api telah terbentuk dan bersambung.
Rupanya, mereka telah menyiapkan segalanya dengan matang. Sebuah parit kecil yang diisi dedaunan kering dan disiram minyak jarak telah disiapkan. Minyak jarak itulah yang mempercepat terbakarnya daun kering, lalu membakar tempat itu dengan hebat, hanya dalam waktu kurang dari sepuluh hitungan saja.
Para prajurit Lamahtang itu benar-benar tidur sangat pulas hingga tidak lagi dapat merasakan api yang panasnya telah menyentuh kulit mereka. Mereka baru mulai sadar ketika api telah benar-benar menyentuh kulit mereka dan membakar sebagian pakaian yang mereka kenakan. Bukan hanya prajurit biasa, bahkan para pendekar saktipun mengalami hal serupa. Tidur terlalu pulas.
__ADS_1
Anehnya, mereka tidak langsung bisa pergi menyelamatkan diri setelah terbangun, namun malah tidur lagi tanpa menghiraukan api yang mulai membakar tubuh mereka. Lagi-lagi, ternyata para pendekar aliansi Bintang Harapan menggunakan racun yang mereka peroleh dari pembantaian empat ratusan prajurit di tepi jurang beberapa waktu lalu.
Api dengan cepat membesar dan menghanguskan tenda-tenda berikut para penghuninya. Mereka terbakar dalam kondisi tertidur dan tak mampu untuk bangun karena menghirup racun yang diuapkan oleh panas api malam itu.
Tak ada perlawanan, kecuali terlihat beberapa pendekar di antara para prajurit yang terlihat berlompatan mencoba menerobos api lalu kembali tertidur setelah berada di luar kungkungan api. Tanpa mempedulikan kondisi tubuh mereka yang mulai terbakar. Segera saja mereka menjadi sasaran empuk para pemanah dari aliansi Bintang Harapan yang membantai mereka tanpa ampun.
Mpu Jangger bahkan memaksakan matanya untuk terbuka dengan cara paling sadis. Dia sengaja membakar rambut di kepalanya agar kantuknya hilang, namun sia-sia. Api dari ajiannya itu segera padam kembali ketika matanya mulai terpejam, meninggalkan sisa rambut yang mengeriting di antara kepala yang telah membotak.
Rasa kantuk yang hampir tak pernah dirasakannya selama beberapa puluh tahun terakhir kini benar-benar menyiksanya. Dia melawan keinginannya untuk tidur, tapi sia-sia. Tubuhnya bangkit, namun sesaat kemudian kembali jatuh ke tanah dan tertidur. Empat anak panah mengarah kepadanya, namun tidak berhasil menembus kulitnya.
Benduriang segera turun tangan karena pernah melihat sendiri bagaimana kehebatan lelaki tua dari pulau Padi Perak tersebut. Membakar lelaki tua itu juga akan percuma, karena sepengetahuannya, para pendekar Segoro Geni justru menguasai ilmu berunsur apinya dengan melakukan tapa geni.
“Biar aku saja, ketua..” seorang wanita tiba-tiba mengajukan diri sambil menghunus pedangnya. Melangkah mendekati tubuh Mpu Jangger tanpa menunggu persetujuan Benduriang.
Mata pedang itu berkilat sesaat. Lalu perempuan pendekar itu mengangkat tinggi pedangnya ke atas kepalanya. Saat itulah kilatan petir tampak mulai menyelimuti bilah pedang. Dan sedetik kemudian..
‘Blash!’
Kilatan petir mengiringi gerakan pendekar tersebut memenggal kepala Mpu Jangger. Pedang itu mendarat tepat di leher bagian belakang Mpu jangger.
‘KYAAAAAAA....!’
__ADS_1
Justru pendekar wanita itu yang kini terpental, bersamaan dengan terpentalnya tubuh Mpu Jangger ke arah berlawanan.
Petir itu jelas melukai Mpu jangger sekalipun kulitnya tetap kebal. Namun, kondisi pendekar perempuan itu sendiri justru memprihatinkan. Tubuhnya terbanting kasar ke belakang dan nyaris masuk ke dalam kobaran api yang menyala.
Sementara tubuh Mpu Jangger justru perlahan bangkit, membuat para pendekar yang mengepung menjadi waspada.
“Cacing-cacing seperti kalian ingin main-main denganku? Rasakan ini....!!” Mpu Jangger ternyata justru tersadarkan setelah menerima serangan pedang petir. Dengan aura yang mengancam, Mpu Jangger yang kini berambut kribo dan muka gosong itu segera menerjang Benduriang berikut dua orang anggota aliansi Bintang Harapan.
Benduriang menangkis pukulan tapak Mpu Jangger dengan siku kanannya, namun ternyata tekanan yang diberikan Mpu Jangger terlalu besar untuknya. Sebuah ledakan tercipta pada lutut Benduriang, mementalkannya beberapa depa ke belakang. Secepat kilat, serangan lain Mpu Jangger menyasar pendekar wanita dengan pedang petir dan pemanah di sampingnya.
Pendekar wanita itu berhasil menghindari serangan tepat waktu dengan melompat tinggi ke udara sembari menebaskan pedangnya ke kepala Mpu Jangger. Kilatan Petir menyambar sekali lagi namun kali ini Mpu Jangger justru menahannya dengan tapak kirinya.
Sang Pendekar pemanah bernasib kurang beruntung. Tubuhnya terpental oleh pukulan tapak tangan kiri Mpu Jangger sebelum digunakan untuk menahan serangan petir.
Kini, serangan petir itu berbalik menghantam tubuh pendekar wanita yang masih melayang di udara dan menghempaskannya ke balik semak yang belum sempat terbakar.
Saat itulah, puluhan anak panah kembali melesat ke arah Mpu Jangger dari empat penjuru angin.
Pendekar dari Segoro Geni itu dengan percaya diri membiarkan panah-panah itu mengenainya. Satu, dua, sepuluh, tiga belas anak panah berjatuhan terpental ketika menyentuh tubuh Mpu Jangger. Tapi tidak dengan anak panah ke empat belas. Anak panah itu tepat menancap di dada Mpu Jangger.
Lelaki tua itu menoleh ke arah datangnya anak panah tersebut. Seolah tak percaya ada anak panah kecil yang berhasil menembus kulitnya, segera dicabutnya anak panah tersebut. Darah mengucur dari luka akibat tertembus anak panah itu, namun Mpu Jangger nampak tak peduli. Dia justru sibuk mengamati anak panah di tangannya.
__ADS_1