JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Anda Benar-benar Kaya


__ADS_3

Dana Setra tanpa ragu segera menelan pil obat di tangannya, sedangkan Montawiraba, sekalipun sedikit ragu akhirnya mengikuti langkah seniornya.


Aliran energi dath dalam jumlah besar segera menyebar ke seluruh tubuh saat pil-pil itu larut dalam lambung mereka. Dana Setra yang sedikit terkejut segera mengatur nafas guna menyalukan energi tersebut ke seluruh tubuhnya.


Dana Setra menoleh ke arah Pendekar Lou, yang membalas memandangnya sambil tersenyum. Lalu mengangguk.


Kini, tanpa ragu baik Dana Setra maupun Montawiraba melangkahkan kakinya masuk ke dalam air kolam.


Ajaib!


Begitu kakinya menyentuk permukaan air, dinginnya air yang terlihat sebagiannya membeku tak terasa sama sekali.


Yang mereka rasakan justru rasa lembut permadani mewah menggelitik syaraf telapak kaki mereka berdua, membuat keduanya saling berpandangan. Tapi tak ada kata yang keluar dari keduanya. Mereka terus melangkah semakin ke tengah.


Kini, bukan hanya rasa di telapak kaki mereka yang merasakan sentuhan permadani, mata mereka juga melihat hamparan kolam berubah menjadi hamparan permadani berwarna hijau mewah.


Hamparan permadani selebar tiga meter itu membentang dan mengarah ke sebuah bangunan sangat besar. Benar, mereka kini melihat sebuah bangunan mewah dengan puluhan pilar raksasa di bagian depan.


Dana Setra mendongak ke atas untuk melihat langit di atas mereka. Di sana, langit tidak berwarna biru, tetapi sewarna air kolam dengan teratai-teratai raksasa mengawang bagaikan awan di atas mereka.


Tak dapat menyembunikan rasa kagumnya, kedua ksatria dari Marga Tanah itu berdecak kagum. Kemewahan di hadapan mereka bahkan puluhan kali lebih mewah daripada istana kediaman Reksa Bhumi sendiri.


Untuk beberapa saat, mata mereka seolah lapar untuk tidak berhenti mengagumi keindahan bangunan mewah tersebut.


“Senior Lou, anda benar-benar kaya raya..!” Dana Setra tak menahan diri untuk tidak memuji sahabatnya itu.


“Terimakasih, adikku. Tapi, kediamanku berada di belakang istana itu. Kita harus melewati sebuah jalan kecil di sebelah istana itu. Istana ini sendiri, milik Kaisar Naga Air”

__ADS_1


“Kaisar Naga Air?” Dana Setra dan Montawiraba serentak berhenti melangkah dan membeo.


“Iya, dialah murid terakhirku yang kemudian diangkat murid oleh guruku...” Pendekar Lou kembali tersenyum.


Pertamakali kedua ksatria ini mendengar tentang sosok murid misterius pendekar Lou, mereka mendapati bahwa sang murid ternyata adalah sosok luar biasa! Seorang Kaisar!


“Aku menolongnya suatu hari. Dia berada dalam kondisi kritis. Kemudian, di bawah perawatanku dia perlahan pulih. Hampir dua tahun. Tapi selama dua tahun itu aku sama sekali tidak mengetahui latar belakangnya. Barulah setelah menjalani ikatan guru dan murid, aku mendapati bakatnya luar biasa.


Bahkan, sejak menjadi murid, aku tahu bahwa dia lebih hebat dariku. Istana ini, berikut keanehan yang kalian rasakan adalah karyanya setelah sepuluh tahun menjadi muridku.


Dia menghadiahkanku tempat ini ketika guru mengangkatnya menjadi murid. Tapi, aku lebih menyukai sebuah rumah di belakang istana. Jadi, istana ini kujadikan sebagai padepokanku. Di sanalah aku mendidik beberapa siluman yang kutaklukkan selama ini. Menjadikan mereka murid...”


Lou Shisan menjelaskan sambil jalan, tanpa memperhatikan berubah-ubahnya ekspresi kedua tamunya. Dari terkejut, membelalak tak percaya, geleng-geleng dan terakhir menghela nafas panjang.


Mereka terus berjalan. Melewati sebuah jalanan kecil di sisi tembok istana sepanjang kurang dari tiga kilometer. Sepanjang itulah bangunan istana tersebut. Tepat di ujung tembok bangunan istana, terdapat sebuah rumah kecil di tengah kebun tanaman herbal.


Dua siluman berwujud seekor kera dengan bulu merah dan belalang raksasa dengan kaki depan setajam pedang menyambut ketiganya dengan hormat. Sepertinya, mereka adalah penjaga kebun ini.


Ketiga pendekar melewati dua siluman penjaga yang tetap membungkuk hormat sampai ketiganya berlalu. Dua siluman itu baru kembali berdiri tegak saat ketiganya telah berjarak sepuluh langkah meninggalkan dua penjaga itu di belakang.


Ketika memasuki halamannya, hamparan luas kebun herbal menyambut mereka bertiga.


Aroma harum khas tanaman obat campur aduk menusuk hidung. Wangi, segar, atau aroma yang membuat semangat. Lalu berganti-ganti terus, sesekali merekapun harus terhirup tanaman yang memantik batuk, bersin dan kepala pusing.


“Biarkan aku menjamu kalian dengan arak terbaik yang kumiliki..” kata Luo Shisan segera meninggalkan kedua tamunya untuk pergi ke belakang, tapi Dana Setra menghentikannya.


“Tidak perlu repot, senior! Kami mungkin tidak akan lama.. “

__ADS_1


“Ah, bicaramu sudah seperti para pejabat kekaisaran Huang saja.. hehehehe.. Tidak repot, tidak. Kalian duduk saja..” Lou Shisan terkekeh mendengar penolakan Dana Setra yang menurutnya setengah hati.


Dalam waktu kurang dari dua puluh tarikan nafas, pendekar Lou telah kembali. Di belakangnya, seorang wanita berparas cukup cantik mengiringi membawa senampan makanan, dan sebuah kendi beraroma khas terletak di tengah nampan anyaman bambu itu.


Dana Setra sebenarnya benar-benar ingin menolak. Tubuhnya tidak cocok untuk minum arak. Salah satu kemampuannya, yaitu tubuh elastis menjadikan arak dan segala minuman beralkohol sebagai musuh alami tubuhnya.


“Aku sudah mengenalmu cukup lama, adik. Arak ini tidak akan membahayakanmu ataupun mengganggu kemampuan tubuhmu. Ini aman.


Aku mengekstrak buah kristal merah, hadiah dari salah satu saudara seperguruanku..” Lou Shisan tidak perlu menunggu persetujuan Dana Setra. Dituangnya isi kendi ke dalam tiga gelas keramik.


Aroma menyegarkan segera menyeruak ke seluruh ruangan. Sama sekali jauh berbeda dari aroma alkohol. Bahkan, mungkin arak yang dimaksud.


Sang perempuan pengiringnya, menata berbagai macam makanan yang tampak mengundang selera pada hamparan anyaman bambu di hadapan ketiganya. Mereka memang hanya duduk di lantai keramik rumah tersebut.


“Jadi, apa yang terjadi di gurun barat selama dua ratusan tahun terakhir? Maafkan, aku jarang mendengar kabar tentang daratan gurun gersang itu..” tanya Lou Shi San di tengah-tengah santapan mereka yang mewah.


“Ehem.. sebenarnya, senior. Semenjak tragedi belalang itu..” pada kalimat ini, Dana Setra menoleh ke arah luar rumah itu. Kepada salah satu penjaga berbentuk belalang.


“Dia memang salah satunya..” Lou Shisan tersenyum mengerti isi kepala Dana Setra. Makhluk penjaga itu, memang jenis siluman belalang yang sama yang menghabisi ribuan orang di gurun barat, dua ratusan tahun sebelumnya.


“Lanjutkan ceritamu..” Lou Shisan mengingatkan. Dia jelas menyadari, kedatangan sahabatnya tentu berkaitan dengan hal sangat penting untuk ditangani. Lou Shisan tetap sambil menyantap makanan yang dihidangkan padanya.


“Semenjak tragedi belalang itu, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan melukis. Aku telah berkeliling dan berdiam beberapa lama di kediaman para Pendekar Penjaga Gerbang. Terakhir kali, aku berdiam cukup lama di Lembah Kenangan bersama Datuk Alehah Rajo Narako...”


Kemudian, Dana setra bergantian bercerita dengan Montawiraba mengenai Telegu Merah dan hasil temuan sementara mereka terkait kelompok tersebut. Dana Setra menyerahkan dua buah kantong kepada Lou Shisan untuk diperiksa. Satu kantong adalah Kantong Buana yang menjadi penjara para pendekar, dan satu kantong berisi Bibit Kristal Merah.


“Ini.. ini..” Tampak raut wajah Lou Shisan berubah ketika membuka kantong berisi bibit kristal merah milik telegu Merah.

__ADS_1


“Ini, ini adalah buah kristal yang sama yang kupakai untuk membuat minuman ini...” kata Lou Shisan sembari menunjuk kendi dan gelas keramik di hadapan mereka


Kenyataan itu membuat Dana Setra dan Montawiraba terbelalak tak percaya.


__ADS_2