
Siang itu, seminggu setelah Mpu Jangger mengumpulkan para senopati di kepatihan dan mendapat restu dari Karang Setan, sekitar tiga ribuan pasukan diberangkatkan. Tujuan mereka tetap sama, yaitu menghancurkan tiga kadipaten pembangkang dengan tujuan pertama adalah Tulang Mesjui.
“Aku akan memimpin langsung serangan kali ini. Untuk itu, para ketua aku harap memberikan dukungan..” demikian Mpu Jangger meminta para guru besar dan ketua padepokan aliansi aliran hitam untuk turun membantu.
Sayangnya , guru besar dari Kala Merah dan Kelabang Hitam menolak tegas. Kedua padepokan telah kehilangan ketua dari padepokan mereka, hingga memaksa kedua guru besar yang seharusnya telah pensiun untuk turun gunung kembali.
Tujuan mereka berdua turun gunung saat ini bukanlah urusan mendukung kekuasaan kerajaan sebagaimana para ketua yang mereka utus sebelumnya. Mereka hanya ingin memastikan keberlangsungan perguruan mereka. Itulah alasannya sehingga beberapa waktu terakhir mereka terus mendesak untuk mendapatkan jatah jabatan lebih banyak. Penolakan Mpu Jangger untuk menyerahkan sebagian jabatan senopati dan adipati kepada wakil-wakil padepokan tersebut memicu konflik bawah tanah semakin memanas.
“Kami akan mendukung dengan bertahan di kotaraja saja, Gusti. Kotaraja ini tetap butuh dilindungi.
Siapa tahu ada penyusup yang ingin mengambil kesempatan..” tolak Ki Lipan Raja, guru besar padepokan Kelabang Hitam dengan halus. Lelaki tua berambut putih itu adalah guru langsung dari Piyut, sang Pendekar Kelabang Darah yang tewas saat penyerbuan terhadap sisa kekuatan raja Prabu Menang di Desa Air Kati.
Sikap serupa juga diambil oleh Nyi Mawar Arum, guru besar dari Mawar Hitam sekaligus guru langsung Dewi Mawar Upas serta Bratakala, guru besar dari Kala Merah. Ketiganya menolak memberangkatkan anggotanya termasuk yang telah menjabat senopati untuk terlibat dalam penyerangan sebelum jelas jatah pembagian kekuasaan bagi mereka.
‘Melindungi istana dari penyusup’? Jelas itu hanya akal-akalan mereka saja untuk menolak berangkat.
Akhirnya, dengan sedikit dongkol Mpu Jangger berangkat sendiri memimpin pasukannya.
__ADS_1
Tersisa sekitar seratusan orang dari padepokan Kala Merah dan Kelabang Hitam saat ini yang tetap berada di istana. Sedangkan dari kelompok Mawar Hitam sepenuhnya telah meninggalkan kerajaan dan kembali ke gunung Peraduan Langsat. Gunung itu terletak di pedalaman pulau Emas Besar dan jarang terdengar, namun di sanalah padepokan Mawar Hitam Berada.
Mereka jelas tidak ingin terlibat dalam pertempuran apapun sebelum mendapat kompensasi yang layak atas banyaknya anggota mereka yang tewas.
Jumlah prajurit di dalam istana sendiri sebenarnya masih lebih dari empat ribuan orang. Namun, kemampuan tempur mereka sangat rendah karena sebagian hanya prajurit penjaga serta prajurit penagih pajak di istana. Sisanya adalah prajurit yang baru direkrut sesaat sebelum kudeta terjadi.
Sedangkan jumlah Pasukan yang sekarang diberangkatkan merupakan pasukan gabungan dari tiga kekuatan penopang kekuasaan raja Tulung Selangit saat ini.
Mereka terdiri dari sekitar sembilan ratus pendekar yang berasal dari aliansi aliran hitam, prajurit reguler di bawah para bangsawan dan pejabat korup pendukung pangeran ke tiga, dan pasukan beberapa kabupaten seperti dari bupati Talang Tengah.
Para senopati dan seluruh penghuni istana juga sebenarnya merasakan hal serupa. Kurang tidur dan kelalahan. Namun dihadapan Mpu Jangger dan Karang Setan mereka tidak boleh terlihat loyo dan lemah, atau nyawa mereka terancam.
“Hoaammh.. aku ngantuk sekali. Sudah beberapa hari aku sulit tidur..” bisik seorang prajurit pejalan kaki di barisan belakang kepada rekannya yang terlihat segar di sampingnya.
“Sssst... jangan sampai panglima tau. Bisa mati kau nanti. Sebenarnya aku juga sedang lelah..” sahut rekannya, juga sambil berbisik.
Banyak di antara mereka di barisan belakang yang terpaksa menyeret kakinya karena tubuh mereka sudah terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan. Namun semuanya memilih memaksakan diri dan terlihat bugar demi menyelamatkan diri dari amukan pimpinan pasukan mereka.
__ADS_1
Efek racun tidur yang larut dalam air dan mereka konsumsi beserta kuda-kuda mereka membuat tubuh mereka lesu sepanjang perjalanan. Indera para pendekar sakti termasuk lima senopati perang yang mempimpin pasukan di bawah Mpu Jangger menjadi tumpul. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di belakang mereka ada sekitar enam puluh pendekar lainnya sedang sibuk memasang perangkap beberapa saat setelah mereka melewati jalan tersebut.
Mereka adalah para pendekar dari kelompok ‘Bunga Kebenaran’ yang kini telah bekerjasama dengan aliansi ‘Bintang Harapan’ berkat kerja cepat Putik Embun dan Diah Rangi.
Mereka bertugas membuat perangkap dan jebakan mematikan guna menghambat jalur kembali pasukan ini. Tujuannya adalah mengurangi sebanyak mungkin jumlah pasukan yang berhasil kembali ke istana. Ada kelompok lain yang melakukan tugas penghadangan pasukan ini di sebuah desa.
“Kita pasang secara menyebar. Agak melebar pada sisi ini hingga ke sana. Aku memperkirakan, begitu menyadari jalan ini dipasangi jebakan, mereka akan menyingkir dan berjalan melebar di sekitar jalan ini. Dengan jumlah tiga ribuan orang, seharusnya pelebaran jalur perjalanan mereka sekitar seratus meter di kiri dan kanan jalan ini. ...” Kata lelaki berkumis pimpinan kelompok Bunga Kebenaran memerintahkan anggotanya.
Diah Rangi dan Putik Embun hanya menyaksikan mereka bekerja sambil sesekali membantu anggota perempuan dari kelompok tersebut yang terlihat kesulitan dengan tugasnya. Mereka tidak banyak memberikan saran karena memang si pria berkumis dan anggotanya jelas lebih memahami karakter sebuah pasukan yang berkelompok. Diah Rangi bahkan menduga bahwa pria berkumis di hadapannya memiliki latar belakang yang tidak biasa dilihat dari kemampuannya mengatur strategi.
“Ranu dan Nada! coba kau periksa sisi sebelah sana. Pastikan tidak ada penduduk yang melintas. Cari saja alasan agar mereka tidak melintas. Katakan saja di sini sedang menjadi lahan perburuan raja atau apalah, terserah. Yang penting mereka tidak melintas sampai besok pagi..” Kembali pria berkumis itu memerintahkan anggotanya. Kali ini untk memeriksa sekaligus berjaga jika ada penduduk yang melintas karena akan sangat berbahaya.
“Bagaimana saudari Embun? Apa kita kembali saja dulu dan melaporkan pekerjaan kita? Atau kita membantu tim sapu jagat yang mencegat tiga ribu pasukan itu?. Bukankah lokasinya seharusnya tidak terlalu jauh dari sini?” Diah Rangi meminta pendapat rekannya.
Rencana yang disusun oleh para pemimpin aliansi adalah membakar perkemahan pasukan saat malam hari. Dalam perhitungan para pemimpin Bintang Harapan, seharusnya pasukan itu akan menyebrangi sungai Beka saat tengah hari menjelang sore. Diperkirakan, saat itu mereka akan minum air dari sungai tersebut sehingga pengaruh racun tidur akan hilang.
Semestinya, mereka akan tidur nyenyak malam harinya setelah beberapa hari tidak tidur. Saat itulah anggota Regu sapu jagat yang memiliki kemampuan menyerang jarak jauh akan membakar seluruh perkemahan berikut hutan saat mereka tidur. Mengepung mereka dengan api dan membakarnya hidup-hidup..
__ADS_1