JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Masalah


__ADS_3

Gentayu membuat perhitungan jarak waktu dan lama jeda antara satu semburan dengan semburan api lainnya. Setelah yakin hitungannya benar dan kurat, Gentayu segera bersiap untuk memasuki goa.


Dia hanya berniat masuk untuk memeriksa fenomena apa yang menyebabkan munculnya suara aneh tersebut. Tidak lebih. Lalu dia akan segera keluar.


‘Melihat indahnya tempat ini, sepertinya kalaupun aku harus berakhir menjadi bagian penghuni lembah dan tidak bisa keluar lagi juga bukan sesuatu yang buruk’ Gentayu membulatkan tekadnya.


1, 2, 3.. Wuzz..!


Gentayu segera melompat masuk ke dalam goa pada semburan api yang ke tiga dari perhitungannya. Menurutnya, jeda semburan api ini seharusnya adalah yang terlama. Sekitar delapan puluh helaan nafas.


Setelah berada di dalam goa, hawa panas begitu menyengat. Tetapi beruntung, Gentayu dengan elemen api di dalam dirinya menjadi sangat toleran terhadap hawa panas tersebut.


Bergerak cepat, ternyata Gentayu menemukan percabangan tak jauh dari mulut goa. Tak menunggu lebih lama dia segera memilih masuk ke percabangan goa yang terasa lebih dingin dari yang lainnya.


Tak lama setelah dirinya masuk ke dalam cabang goa yang lebih dingin, pintu mulut goa yang dirasanya lebih panas menyemburkan kembali apinya keluar.


‘Syukurlah, dugaanku benar! Sekarang, kita lihat apa yang ada di dalam goa ini...’ Gentayu seolah berdialog dengan dirinya sendiri.


Goa itu seutuhnya terbentuk dari batuan hitam yang keras. Tapi semakin ke dalam, batuan goa itu menjadi semakin licin karena lumut yang tumbuh dengan subur.


Di dalam sana, suara misterius seperti lolongan, auman atau geraman itu berasal. Anehnya, suara itu selalu keluar berbarengan dengan semburan api dari sisi goa lainnya.


Gentayu meningkatkan kewaspadaannya. Berada dalam goa yang tidak pernah tersentuh manusia seperti ini, jelas harus bersiap menghadapi bahaya tak terduga.


Goa terasa bergetar pelan setiap kali suara itu terdengar.


Hingga setelah berjalan berhati-hati dan jantung yang berdegup kencang karena tegang, akhirnya Gentayu menemukan sumber suara itu berasal.

__ADS_1


Gentayu nyaris tak mempercayai penglihatannya.


Di hadapannya, seorang lelaki tua dengan tubuh tinggal kulit membalut tulang tampak tengah terikat dalam posisi menggantung pada sebuah altar raksasa. Lelaki tua itu digantung dengan kedua tangan terentang, masing masing terikat pada tiang altar. Di belakang tubuhnya terikat, tampak sebuah patung sosok seram dengan lidah menjulur dan mata melotot berwajah sangar.


Gentayu masih bersembunyi di balik sebongkah batu besar, mengamati dan mempelajari situasi lebih lanjut. Ternyata, suara aneh itu berasal dari lima cerobong api di atas langit-langit goa dan menyemburkan api secara berkala ke arah lelaki tua itu. Saat api menyembur, lelaki tua itu selalu menjerit dan melolong karena tersiksa.


Gentayu menyipitkan matanya meyakinkan dirinya bahwa yang dilihatnya benar-benar makhluk hidup. Bagaimana mungkin manusia bisa bertahan dalam semburan api terus menerus tanpa terbakar? Lalu kenapa dia menjerit?


Tak mau berfikir lebih jauh, Gentayu melompat keluar dari persembunyannya. Dengan cepat dia menebaskan padang satamnya untuk memutus tali temali yang mengikat lelaki tua kurus tersebut.


‘bres’


‘bres’


Tali temali yang semula mengikat lelaki tua itu putus, membuat sang lelaki tua kurus nyaris jatuh dari ketinggian seandainya Gentayu tidak buru-buru menangkap. Tapi di luar dugaan Gentayu, keadaan ternyata tidaklah sederhana.


Gentayu hendak menarik lelaki tua itu beranjak dari tempat itu, tapi justru dirinya yang kini ditarik dan..


‘BRAK!’


Gentayu dibawa keluar dengan cara menjebol langit-langit goa yang sebenarnya terpendam di kedalaman cerukan lembah. Dindning bebatuan pada langit-langit itu segera runtuh luruh ke dasar goa ketika Gentayu dan lelaki tua kurus telah sampai di bagian depan mulut goa, mendarat sempurna.


Lidah api masih terlihat keluar beberapa saat dari mulut goa, sebelum padam. Entah bagaimana hal itu terjadi, mungkin hanya lelaki tua itu yang bisa menjelaskan.


Gentayu memegangi lututnya yang terasa lemas.


Dia menyadari telah melakukan kesalahan, mungkin telah menyinggung sosok yang seharusnya tak perlu diusik. Jelas bahwa lelaki tua kurus ini tak butuh bantuannya sekedar melepas tali yang mengikatnya, bila dia mampu menghancurkan goa perkasa itu. Namun, semua bagi Gentayu telah terlambat. Dia harus menghadapi konsekuensinya.

__ADS_1


“Kenapa kau mengusik pertapaanku?”


Benar dugaan Gentayu. Kini lelaki tua itu menatapnya dengan mata seperti hendak menelannya bulat-bulat.


“Maafkan saya, tuan pertapa! Saya benar-benar tidak, tidak tahu kalau tuan sedang bertapa. Kufikir, tuan sedang mengalami penyiksaan atau sejenisnya..” Gentayu berkata sejujurnya sembari berusaha menekan rasa gentar di hatinya. Mencoba bersikap tenang menghadapi lelaki tua dengan pancaran kekuatan yang membuat nafasnya sesak seolah ditimpa beban sangat berat.


“Aku harus menghukummu karena kelancanganmu telah menggagalkan upaya pencapaianku! Sekarang terima ini..” Lelaki itu menyarangkan sebuah serangan tapak ke dada Gentayu.


Gentayu yang biasanya gesit dan reflek, ketika berhadapan dengan lelaki tua itu menjadi sangat lambat merespon. Bukan dia yang lambat, tapi kecepatan lelaki tua itu membuat seolah gerakan Gentayu untuk menghindar menjadi selambat siput.


Pukulan itu begitu keras, membuat Gentayu terlempar ratusan meter ke tengah-tengah lembah. Terjerembab di antara tumbuhan bunga warna warni yang indah.


Meskipun merasakan sakit dan nyeri luar biasa di dadanya, Gentayu tetap mencoba bangkit. Memaksa bangkit membuatnya memuntahkan Darah segar dari mulutnya, menandakan lukanya cukup parah.


‘Ugh..! Seperti ini rasanya dipukul pendekar di atas level pendekar bumi..’ Gentayu ingat betul, pukulan Karang Setan yang membuatnya terluka parah dan pingsan beberapa bulan lalu tidak sekuat ini. Setidaknya, kini dia telah jauh lebih kuat dari Karang Setan, nyatanya lelaki tua kurus ini membuatnya seperti manusia biasa yang dihajar pendekar sakti.


Belum sempat Gentayu bangkit sempurna, bagaikan setan yang muncul tiba-tiba, lelaki tua kurus telah berada di hadapannya. Kali ini, Gentayu bermaksud membuat perisai energi untuk sekedar meredam kekuatan serangan yang pasti segera akan diterimanya.


Namun lagi-lagi, gerakannya kalah cepat terlalu jauh dari lelaki tua kurus itu.


Kembali tubuhnya terlempar setelah satu pukulan tapak kiri lelaki tua kurus kembali menghajar dadanya. Kali ini, bahkan dirinya terlempar lebih jauh dari sebelumnya.


Nyaris saja tubuhnya menabrak seekor badak bercula tiga kalau saja lelaki tua kurus itu tidak menendang gerombolan badak dan melemparkan mereka ke segala arah seperti boneka dilemparkan anak kecil.


“Minggir! Jangan ganggu pestaku!” Lelaki tua itu mendengus kesal pada para badak yang terlihat masih melayang di udara terkena pukulannya sebelum berjatuhan ke tanah.


“Kau fikir, kau hebat? Mau jadi pahlawan? Lihat dulu kemampuanmu! Lemah!” Kalimat terakhir lelaki itu, berbarengan dengan tendangannya yang melemparkan Gentayu tinggi ke angkasa.

__ADS_1


__ADS_2