JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Suara Misterius


__ADS_3

Hao Lim, Anjani dan Gentayu terus melangkah menyusuri jalanan berbatu itu hingga hari telah lewat tengah hari. Sepanjang perjalanan, mereka sama sekali tidak bertemu orang lain lagi setelah rombongan dari Gunung Pelangi yang mereka jumpai pagi tadi.


Namun langkah mereka terhenti ketika menemukan jalanan yang mereka susuri berakhir di tepi jurang yang dalam. Mereka sama sekali tidak bisa melihat bagian seberang dari jurang karena pekatnya kabut, sekalipun matahari sedang cerah-cerahnya. Kedalaman jurangpun tidak juga bisa diketahui di tengah kegelapan akibat pekatnya kabut yang menyelimutinya.


“Apakah ada yang salah? Apa kita melewatkan sesuatu?” Anjani yang pertama bereaksi.


Namun, mereka memang berjalan dengan biasa. Tak ada hal istimewa sepanjang perjalanan ini, sebelum bertemu jurang.


Gentayu mengambil posisi jongkok. Memeriksa tanah di bawahnya. Tak ada jejak roda kereta ataupun bekas tapak kaki kuda atau manusia. Jejak rombongan Gunung Pelangi tidak ada di sana, padahal tanah di sana sedikit becek walau berbatu.


“Sepertinya, kita melewatkan sesuatu..” Gentayu mengambil kesimpulan. Menurutnya, mereka telah berselisih jalan dengan rombongan Gunung Pelangi.


“Jadi, apa kita harus berbalik?” tanya Hao Lim kepada dua rekan perjalanannya.


“Menurutmu?” Anjani berlalu tanpa memandang kepada Hao Lim dan Gentayu, berjalan ke arah mereka berasal sebelumnya.


Akhirnya, Gentayu dan Hao Lim tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti Anjani. Berbalik kembali ke arah mereka datang sebelumnya. Tapi, belum sepuluh langkah mereka berjalan, dari kedalaman jurang terdengar suara gema samar-samar.


“Ada sesuatu di dasar jurang..” Anjani memberikan isyarat dengan telunjuk di depan mulutnya.


Anjani-lah yang pertamakali menyadari suara itu, walau sepintas tak ada bedanya dengan suara angin yang menabrak tebing jurang, namun telinga saktinya mampu menangkap dengan jelas suara tersebut. Jelas itu bukan suara angin seperti pemikiran Hao Lim dan Gentayu.


Ketiganya segera kembali ke bibir jurang, pada ujung jalan yang mereka lalui. Mereka bertiga mencoba melongok ke kedalaman jurang. Namun di sana hanya ada kegelapan tak bertepi dan kabut yang tak pernah tersingkap.


“Kau benar Anjani. Aku juga mendengarnya samar-samar... tapi aku tak yakin suara apa itu..” Gentayu sampai memiringkan kepalanya agar mampu mendengar lebih fokus. Tidak lebih baik, tapi setidaknya dia berupaya pendengarannya lebih fokus.

__ADS_1


Hao Lim yang tidak bisa mendengar apapun menjadi sedikit kesal. Namun dia mempercayai kedua rekannya tidak mungkin salah.


“Mari kita periksa saja!” Seru Gentayu.


“Apa kau gila?!” protes Hao Lim dan Anjani serentak.


Bagaimana Gentayu memiliki pemikiran untuk memeriksa sumber suara yang tidak jelas tersebut. Bahkan mereka belum menyimpulkan, apakah itu suara hewan, manusia atau yang lainnya. Apa jadinya jika ternyata suara di bawah sana adalah suara hewan buas atau hal lain yang mengancam jiwa.


Untuk ukuran manusia yang tidak bisa menang melawan seekor kelinci, bukankah itu hal yang konyol?


“Kalau begitu, kalian tunggu saja di sini dan biarkan aku memeriksanya..” Gentayu langsung melompat masuk ke dalam jurang tanpa menunggu persetujuan maupun pendapat dua wanita itu.


Bahkan, Anjani tak sempat mencegahnya saat tubuh pemuda itu telah lenyap di telan kegelapan jurang.


“Aih! Dasar gila..!” Anjani mengumpat.


Hao Lim bahkan sampai merasa bahwa Anjani telah mengambil alih kebiasaannya selama di Sekte Naga Merah. Mengomel.


Anjani baru berhenti mengomel setelah mulutnya terasa kering. Dia memang berhenti sejenak, minum air dari kantong kulit di pinggangnya. Dan melanjutkan omelannya lagi. Sepertinya, stamina Anjani untuk mengomel jauh di atas Hao Lim.


Sementara itu, Gentayu melayang turun ke bagian bawah jurang menggunakan tenaga dalamnya.


Jurang itu terasa sangat dalam, bahkan setelah melayang beberapa lama, Gentayu belum merasakan tanda-tanda akan mencapai dasar dari jurang ini.


Gentayu menjadi sedikit cemas karena menyadari, jurang ini seperti tiada berujung. Dia telah melayang begitu lama, namun tak kunjung bertemu dasar jurang. Bahkan tenaga dalam yang digunakannya untuk melayang terasa lebih cepat terkuras.

__ADS_1


Gentayu sedikit panik, namun tetap berusaha tenang. Terlintas fikiran untuk kembali naik ke atas tapi ternyata upayanya untuk naik ke atas serasa sepuluh kali lebih berat daripada harus terus melanjutkan turun ke dasar jurang. Benar-benar tarikan gravitasi seolah berlipat gnda di jurang itu.


Setelah beberapa lama berlalu, perlahan kabut yang menyelimuti seisi penjuru jurang terlihat semakin tipis seiring telah terlihatnya dasar jurang. Gentayu akhirnya mendarat mulus di dasar jurang yang ternyata tak seperti dugaannya seja awal.


Dasar jurang itu tidaklah seram sebagaimana penampakannya dari atas tebing di sana. Terhampar di hadapannya, lembah hijau yang sangat luas. Bunga berwarna warni yang indah menghiasi seisi lembah. Bahkan, terlihat burung-burung kecil dan kupu-kupu beterbangan dengan bebasnya.


Tidak hanya sebatas itu, mata Gentayu juga dimanjakan dengan kehadiran hewan berkaki empat berupa rusa, kijang, kambing gunung, dan terlihat juga olehnya banyak hewan berkaki empat lain yang tak pernah dilihatnya sebelum ini. Rasanya , itu adalah taman bunga alami yang paling megah pernah dijumpainya.


‘Ah, aku hampir melupakan tujuanku kemari..’ Gentayu yang tengah asyik menikmati suguhan keindahan surgawi di hadapannya segera teringat tujuannya berada di tempat ini. Mencari sumber suara aneh.


Tapi, bukankah di sini terlalu banyak suara hewan liar? Bukankah bisa saja suara yang didengarnya berasal dari hewan-hewan itu? Toh, saat ini di tempat dirinya berada, suara itu tak lagi terdengar?


Kini, Gentayu sibuk dengan fikirannya sendiri, tapi dia juga tidak menafikan keyakinannya bahwa suara yang didengarnya bukanlah berasal dari salah satu hewan penghuni lembah yang dilihatnya saat ini.


Gentayu segera berkeliling untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya. Saking fokusnya, pemuda itu bahkan tidak menyadari bahwa tempat itu tidak tersentuh sinar matahari sama sekali. Tepatnya, sinar matahari tak bisa menjangkau lembah itu karena atmosfir di atasnya sepenuhnya tertutup kabut abadi yang tebal.


Ketika berkeliling itulah, suara yang membuatnya penasaran kembali terdengar. Kali ini lebih jelas.


‘Itu, suara raungan? Atau lolongan? Atau.. jeritan?’ Gentayu harus menajamkan telinganya sekali lagi guna menemukan arah suara dengan bentuk yang tidak jelas itu berasal. Setelah yakin bahwa suara itu bersumber dari arah kirinya, pemuda itu bergegas untuk mendatanginya.


Awalnya, Gentayu hanya berjalan sedikit cepat saja setelah suara itu kembali terdengar. Namun, merasa bahwa suara itu kini semakin lama semakin jelas, Gentayu memilih untuk berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.


Nyatanya, butuh waktu yang tidak sebentar baginya untuk akhirnya berhenti di sebuah mulut goa. Dia tidak menyangka, bahwa lembah yang dijelajahinya begitu luas. Saat ini, tenaga dalamnya hanya tersisa kurang dari tiga puluh persen saja dari kondisi primanya semula.


‘Ah, ini tidak bagus!’ Gentayu menggelengkan kepalanya ketika dilihatnya dari dalam goa, api secara berkala menyembur keluar dari kegelapan goa. Setiap kali api itu terlihat, suara aneh itu terdengar membahana di seisi lembah. Yang membuatnya berfikir kondisinya tidak bagus adalah tenaga dalamnya yang kini tersisa tidak banyak lagi.

__ADS_1


‘Aku harus masuk..’ gumamnya. Entah kenapa, dorongan itu begitu kuat muncul dari dalam dirinya meskipun kondisinya tidak terlalu menguntungkan andaikan ada bahaya mengancam di balik api yang terus menerus menyembur keluar goa itu.


__ADS_2