JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana V


__ADS_3

Saat sembilan pendekar tersebut memasuki ruangan balai paseban atau aula pertemuan raja, mereka disambut pemandangan mengerikan. Ratusan mayat hidup tampak sedang membunuh semua orang di dalam bangunan istana dengan sadis!


Ratusan mayat hidup tersebut ternyata adalah pelaku pembantaian para prajurit, termasuk semua pelayan dan keluarga raja di dalam istana. Bukan para pendekar aliansi Bintang Harapan sebagaimana perkiraan mereka sebelumnya.


Mereka membunuh dengan berbagai macam cara. Yang paling sadis yaitu dengan gigitan dan cakar mereka yang tajam seperti belati beracun.


Hal mengerikan lain dari mayat hidup ini, seluruh prajurit dan orang-orang yang telah mereka bunuh itu kemudian menjadi bagian dari mereka, kelompok mayat hidup!


“Apa ini?? Celaka..! Keluar.. semuanya keluar..!” Seru pemimpin dari Sembilan orang tersebut, seorang pendekar muda bernama Bujang Juaro kepada rekan-rekannya.


Dia memerintahkan agar mereka secepat mungkin keluar dari ruangan luas itu karena menyadari bahaya mengintai mereka di depan mata.


Sepuluh pendekar itu mundur kembali menuju pelataran istana sembari mengarahkan bermacam pukulan jarak jauh dan senjata kepada kerumunan mayat hidup yang mulai bergerak menyerang mereka. Namun, semua senjata yang berhasil menancap atau memenggal kepala mereka sekalipun sama sekali tidak menghentikan Langkah para mayat hidup itu.


Beberapa yang terpental terkena pukulan jarak jauh juga segera bangkit. walaupun beberapa bagian tubuh mereka terlepas, hancur, dan ada yang masih menyisakan api menyala membakar tubuhnya. Tampaknya, mereka tidak lagi memiliki rasa sakit, bahkan juga mungkin tidak lagi akan bisa dibunuh sebagaimana manusia biasa.


Yang semakin membingungkan para pendekar itu, di antara mayat hidup tersebut tampak salah satu sosok yang memimpin mereka. Seorang dengan wajah yang sudah tak memiliki daging, namun berpakaian mewah dan memiliki mahkota di kepalanya.


“Tulung Selangit??!” Kata para pendekar itu serentak. Mereka belum pernah bertemu dengan raja tersebut, namun dari ciri-ciri fisik yang disampaikan, seharusnya mayat hidup bermahkota raja itu adalah Tulung Selangit.


“Apa yang terjadi dengan mayat-mayat hidup itu? Kenapa mereka justru membantai para prajurit dan pendekar aliran hitam? Lalu, kenapa pula Tulung Selangit justru menjadi mayat hidup dan memimpin mereka?” Tanya Salek Panji, pendekar paling muda selain Bujang Juaro.


“Mana kami tahu??” Jawab kesembilan rekannya serentak sambil melotot ke arahnya.


“Apa yang harus kita lakukan? Melawan mereka, atau kita pergi saja? Toh Tulung Selangit sudah mati..” tanya Maheswara kepada pimpinan regunya. Dia berniat untuk pergi saja dari tempat itu ketimbang harus berhadapan dengan monster sebanyak itu.


“Mereka akan sangat berbahaya jika sampai keluar dari istana dan menjadikan penduduk sebagai target. Bisa-bisa, seluruh negeri ini akan menjadi kerajaan mayat hidup” Bujang Juaro memberikan pendapat sekaligus sikap kelompok yang harus diambil.


Mereka semuanya mengangguk setuju dengan pemikiran sang ketua regu. “Bakar mereka semua hingga menjadi debu! Jangan biarkan satupun lolos!” Kata nya melanjutkan.


Tiga pendekar yang memiliki kemampuan dengan teknik dasar api maju menghadapi mayat hidup itu. Mereka melakukan gerakan masing-masing sebelum terbentuk serangan api yang menghantam rombongan mayat hidup.

__ADS_1


Mayat-mayat hidup itu keluar dari bangunan dengan cara melompat, mirip seperti monyet atau harimau hendak menerkam mangsa, menyerang sepuluh pendekar Bintang Harapan di pelataran.


Kedatangan mereka disambut dengan api besar yang mengepung dan mabakar tubuh mereka. Api itu berasal dari kekuatan tiga pendekar Bintang Harapan. Sedangkan tujuh pendekar lainnya mengawasi dan bersiaga. Berjaga-jaga bila ada mayat hidup yang mencoba meloloskan diri.


Api segera membesardan terus semakin besar saat bangunan istana mulai ikut terbakar. Terdengar teriakan dan geraman dari dalam api di antara suara gemerotak bahan bangunan yang terbakar.


Tiba-tiba, dari dalam api yang berkobar itu muncul ratusan mayat hidup dengan tubuh penuh dengan kobaran api. Tapi mayat mayat itu gagal mencapai posisi para pendekar, karena mereka langsung roboh saat organ dalam mereka mulai terbakar.


Begitulah, dari balik api yang berkobar terus menerus terlihat mayat-mayat yang mencoba menerobos api. Sebagian dari mereka berhasil keluar dari jilatan api, tapi segera ambruk tak lama kemudian dengan tubuh habis terbakar.


“Cepatlaah..Kami tidak bisa bertahan lebih lama! Tenaga dalam kami mulai berkurang!” Teriak Argageni, salah satu dari tiga pendekar yang mengerahkan kekuatan api untuk membakar istana berikut mayat-mayat di dalamnya.


“Tenanglah! Api sudah membesar! Istirahatlah.. dan pulihkan diri kalian. kami akan mengawasi mereka dari sini..” Kata Bujang Juaro menyahuti. Matanya tak lepas dari kobaran api yang kini telah sepenuhnya murni api biasa setelah tiga pendekar itu memilih istirahat.


Dengan api yang berasal dari tenaga dalam, sebagian besar mayat hidup itu akan hancur tubuhnya sebelum keluar dari api. Namun dengan api biasa ini, para mayat hidup masih mampu bergerak sedikit setelah berada di luar kobaran api.


Suara Geraman, teriakan, bahkan rintihan terus menerus terdengar seiring mayat-mayat hidup yang terus mencoba menerobos keluar dari api. Mereka yang berhasil keluar dari api segera dimusnahkan oleh para pendekar lain yang berjaga dengan bermacam senjata yang mampu meledakkan tubuh para mayat hidup


Pada sisi lain dari kerajaan, senopati yang ditugaskan menangani keamanan benteng terkejut saat menerima laporan bahwa benteng mereka telah diserang. Prajurit yang melapor langsung roboh, karena saat melapor dirinya memang menderita luka tertusuk panah di area dekat jantung dan satu anak panah di punggung.


Upang Jenglot nama Senopati itu, merupakan sedikit yang tersisa dari perguruan Kelabang Hitam saat ini. Begitu dia keluar dari kediamannya, sekitar lima ratus prajurit telah berbaris menunggu perintah. Prajurit-prajurit tersebut langsung berkumpul begitu kentongan dan lonceng dibunyikan.


“Kita hadang perusuh itu! Hancurkan mereka jangan sampai lolos! Berikan mereka kematian yang paling menyakitkan karena telah berani mengusik kita! Kalian berdua, perketat pengamanan sayap timur dan barat!” Perintah Upang Jenglot pada dua punggawanya.


Masing-masing punggawa yang ditunjuk segera memisahkan diri membawa seratusan prajurit menuju sayap timur dan barat sesuai perintah.


Upang Jenglot sendiri kemudian Bersama delapan orang punggawa segera memacu kudanya menuju gerbang benteng yang dilaporkan sudah dijebol. Di belakang mereka, para prajurit segera mengikuti pimpinan merea bergerak menuju gerbang benteng bagian depan. Masing-masing punggawa atau kapten pasukan itu membawahi lebih dari lima puluh orang prajurit.


Kuda-kuda para punggawa itu melaju mengikuti Upang Jenglot. Sementara para prajurit di belakang menyusul mereka dengan berlari.


Ketika tiba di depan tembok benteng, Upang Jenglot segera melompat dari kudanya menerjang ke depan, ke arah gerbang benteng saat puluhan anak panah melesat ke arahnya.

__ADS_1


Tangannya dengan lincah dan gesit menangkap puluhan anak panah yang di alamatkan kepadanya. Sementara kudanya telah roboh karena lehernya tertembus dua anak panah. Delapan Punggawa atau kapten dibelakangnya juga segera melompat dari kuda dan seperti berlari di udara menuju gerbang benteng.


Di bawah kaki-kaki mereka yang seperti berjalan di udara itu, puluhan anak panah melesat dijadikan seperti pijakan. Delapan orang itu mendarat tak jauh dari sisi sang senopati. Saat itu, anak-anak panah tidak lagi menyerang mereka.


Sebagai gantinya, justru ratusan batu pijar melenting dari balik kegelapan.


Kesembilan petinggi prajurit itu serentak melompat menghindar. Batu-batu pijar itu menabrak pohon, dinding, dan menembus tubuh kuda-kuda mereka.


Kuda-kuda itu langsung roboh. Sedangkan Pohon dan bangunan yang terkena batu pijar itu segera terbakar.


Tiba-tiba, para penyerang menghentikan serangannya saat melihat sepasukan prajurit tiba di depan gerbang tak lama kemudian.


Mereka terlihat mundur dengan terburu-buru. Dalam kegelapan malam, hanya obor-obor mereka yang terlihat berlari menjauh dari tembok istana menuju ke dalam hutan tak jauh dari benteng.


“Mau lari setelah mengacau? Jangan harap! Jangan panggil namaku Upang Jenglot jika tak berhasil menangkap kalian..! Prajurit.. Seraaaang dan hancurkan perusuh itu…!!!” Upang Jenglot tampaknya sangat marah setelah melihat kondisi gerbang yang menjadi tanggungjawabnya telah hancur berantakan. Kesabarannya benar-benar di ambang batas setelah menerima serangan-serangan secara langsung, namun belum sempat membalas dan penyerang itu kabur.


Empat ratusan prajurit di belakang Upang Jenglot segera maju menerjang musuh yang terlihat bergerak mundur secara teratur itu.


Mereka mengejar para penyerang itu hingga masuk ke dalam hutan. Sama sekali tidak mengetahui, bahwa ratusan obor-obor itu dibawa hanya oleh beberapa orang. Masing-masing mereka membawa paling sedikit lima puluh obor diikat dengan kayu-kayu secara berjajar. Pada malam hari, pergerakan obor yang banyak itu akan dikira sebagai musuh yang jumlahnya ratusan.


'BHUM!!'


Terdengar suara keras ledakan di atas langit. Langit malam itu menjadi terang benderang selama beberapa saat oleh bola api raksasa membentuk cendawan.


Secara samar karena jauhnya jarak, mereka menyaksikan lima sosok manusia melayang di angkasa mengitari seseorang.


"Apa itu??" Seru prajurit di samping salah satu kapten pasukan.


"Aaaah...!! gobl*k! Urusan kita mengejar musuh-musuh itu! Di dalam istana banyak yang lain yang mengurusi! Cepat!!" bentak sang kapten seraya menendang bokong prajurit yabg berkomentar barusan.


Namun, sang kapten sendiri menyempatkan menoleh sekali lagi ke arah asal ledakan sebelum menyusul anak buahnya mengejar musuh yang melarikan diri.

__ADS_1


__ADS_2