
Berita tentang rencana penyerbuan kerajaan Lamahtang ke tiga kadipaten telah diketahui oleh aliansi Bintang Harapan hari itu juga. Semua berkat keberadaan sepasang pendekar dari padepokan Mata Elang. Kemampuan mereka berdua sangat unik.
Sang Lelaki berjuluk Kelelawar Hitam, karena kemampuan mendengarnya yang mampu menjangkau hingga puluhan kilometer. Sedangkan sang perempuan bergelar Paruh Emas, karena kemampuannya berbicara dan menerjemahkan bahasa burung.
Pendekar Paruh Emas melakukan penyamaran di sekitar istana dengan berpura-pura menjadi pelayan rumah makan. Setiap dua atau tiga jam sekali, dia akan menerima laporan dari beberapa burung kecil yang ditugaskan untuk mendengarkan pembicaraan para petinggi kerajaan, termasuk raja dan Mahapatih. Sebagai imbalan, burung-burung itu akan mendapatkan makanan berlimpah setiap diberangkatkan maupun saat menyampaikan laporannya.
Hasil mencuri dengar tersebut lalu disampaikan kepada Kelelawar Hitam yang berjarak puluhan kilometer dari gerbang kerajaan, sebagai informasi bagi aliansi dengan cara berbicara seperti biasa. Dari kelelawar Hitam, pesan disampaikan melalui surat lewat burung merpati khusus milik aliansi.
“Kita harus bergerak sebelum bentrokan terjadi antara kedua belah pihak. Saatnya menyatukan ketiga kadipaten. Biar aku saja yang berbicara kepada tiga adipati tersebut.” Rambang Dangku berbicara di hadapan para sesepuh pendekar Bintang Harapan dalam pertemuan mendadak membahas isi pesan dari tim Benduriang.
Rencananya kali ini adalah menyatukan kekuatan tiga kadipaten untuk menahan serangan pasukan Lamahtang di Kadipaten Tulang Mesuji. Kadipaten itu direncanakan oleh Mpu Jangger sebagai sasaran serangan pertama sebelum dua kadipaten lainnya karena yang paling dekat dari pusat kerajaan. Serangan ini akan dipimpin oleh Situngkoro, salah satu senopati yang dikenal cukup cerdas di antara para pendekar Segoro Geni lainnya. Dia adalah sosok penasehat Mpu Jangger selama di pulau Emas Besar ini.
Rambang Dangku berfikir bahwa dirinya perlu berbicara dengan ketiga adipati dan meyakinkan mereka untuk bersatu melawan Lamahtang yang kini dikuasai oleh aliran hitam. Sekalipun mungkin dalam kondisi normal sangat kecil kemungkinan mereka akan bersedia melakukan perlawanan, namun sepertinya saat ini mereka tak memiliki pilihan yang lebih baik.
Bersama dengan Pendekar Indung Imau, Rambang Dangku akhirnya pergi menuju ke kadipaten Tulang Mesuji untuk menemui Adipati Bayang Keling, lalu melanjutkan safarinya menuju dua kadipaten lain yang menjadi sasaran penyerangan berikutnya guna menggalang kekuatan.
Setelah ketiga Kadipaten ini mau angkat senjata, semoga dua kadipaten lainnya bersedia membantu. Begitulah harapan dari seluruh pendekar aliansi Bintang Harapan.
++++ ++++ ++++ ++++ +++\=
Sebulan kemudian, sepasukan prajurit Lamahtang tampak bergerak menuju Kadipaten Tulang Mesuji dalam misi menumpas pemberontakan. Sepanjang jalur yang dilalui, warga kota maupun desa tidak ada yang berani keluar rumah. Bahkan beberapa pasar yang seharusnya buka, mendadak sepi di hari pasukan itu melintas. Tentu saja karena para pedagang itu tak ingin barang dagangan mereka dijarah oleh para prajurit tersebut.
Situngkoro, sang senopati pemimpin pasukan berjumlah tak kurang dari dua ribuan orang itu sebenarnya menyadari ada yang salah dengan kondisi masyarakat sepanjang perjalanannya. Namun pendekar yang congkak dan penuh percaya diri itu tidak menggubrisnya. Dengan jumlah pasukan yang sedemikian besar itu, memang seharusnya tidak akan ada pengacau yang akan berani mengganggu sepanjang perjalanan mereka. Bersama sang senopati, lima orang komandan pasukan masing-masing membawahi pasukan pemanah, pasukan pedang, pendekar racun dan medis, pasukan mayat hidup dan pasukan pengendali hewan buas.
__ADS_1
Pasukan pendekar pengendali mayat hidup sepenuhnya merupakan anggota dari kelompok Rambut Iblis. Sedangkan Pasukan Pengendali Hewan Buas merupakan gabungan dari Kala Merah dan Kelabang Hitam yang memang terkenal akan keahliannya mengendalikan hewan liar sebagai senjata. Sisanya adalah pasukan Lamahtang yang berasal dari para penjahat dan perampok dari kelompok Bajing Kelat, namun posisi komandan mereka dipegang oleh pendekar dari Segoro Geni.
Debu mengepul di jalanan yang mereka lalui. Butuh waktu lebih dari tiga hari berkuda dari istana kerajaan Lamahtang menuju pusat kadipaten Tulang Mesuji. Sepanjang perjalanan terdapat tiga kabupaten yang semuanya termasuk wilayah Tulang Mesuji. Termasuk salah satu Kabupaten yang dilewati adalah Sei Asen dengan bupatinya Jalamandana.
Tidak ada sambutan dari ketiga bupati ketika pasukan ini memasuki wilayah mereka. Hal ini menandakan bahwa para bupati kemungkinan juga telah mendukung adipati mereka untuk membelot.
Karena menganggap para bupati itu berpihak pada adipati mereka, maka setiap memasuki ibukota dari kabupaten-kabupaten tersebut pasukan ini akan menuju pendopo kabupaten dan melakukan penjarahan.
Tentu kebencian dan kemarahan rakyat kepada mereka semakin bertambah. Berita kebengisan dan jahatnya pasukan kerajaan yang tadinya hanya terdengar kini mereka saksikan sendiri di depan mata.
Pasukan itu terus bergerak sembari melakukan perampokan dan pembakaran di tiap ibukota Kabupaten. Para penjaga kabupaten, mendadak menghilang sebelum pasukan ini tiba membuat aksi penjarahan mereka berjalan mulus tanpa hambatan sama sekali.
Namun ternyata kesenangan mereka melakukan perampasan dan penjarahan harus terhenti ketika memasuki sebuah celah sempit yang diapit oleh bukit di sisi kiri dan jurang dalam di sisi kanan. Jalur sempit itu hanya bisa dilewati tak lebih dari dua ekor kuda bersisian. Jaraknya dari pusat kadipaten sebenarnya hanya setengah hari perjalanan lagi.
“Ada apa, gusti senopati?” tanya salah satu komandan karena tidak melihat keanehan apapun pada jalur yang hendak mereka lewati. Dia adalah Kuro, salah satu pendekar terkuat setelah kalapati dari padepokan Kala Merah.
“Aku tadi seperti melihat ada orang berlari ke arah sana.. coba kau bawa beberapa orangmu dan periksa!” Perintahnya sembari menunjuk ke satu arah tak jauh dari mulut celah sempit itu.
“Baiklah! Ayo..” Kuro yang merupakan komandan pendekar pengendali hewan buas itu akhirnya melaksanakan perintah tersebut dengan perasaan sedikit malas. ‘Kenapa aku pula?’ batinnya.
Bersama lima orang anggotanya, Kuro memacu kudanya keluar dari rombongan menyisir sisi kanan seperti yang ditunjuk pemimpin mereka. Sisi kanan adalah bibir jurang yang cukup dalam. Dengan ilmu meringankan tubuhnya, tak sulit bagi kelimanya untuk memeriksa seisi jurang di bawahnya. Dengan lincah, mereka menuruni bibir jurang.
“Tidak ada apa-apa di sini..! Aman!” Teriak salah satu di antara lima pendekar yang menuruni sisi jurang berteriak tak lama kemudian.
__ADS_1
“Di sini juga aman!” teriak rekannya. Kira-kira hanya berjarak kurang dari lima puluhan meter.
“Di sini aman!” Teriak yang lain.
Mendengar itu, Situngkoro segera memerintahkan pasukannya untuk kembali bergerak.
Namun rombongan itu sama sekali tidak menyadari bahwa dua dari kelima rekan mereka yang lain bahkan tidak sempat sampai ke dasar jurang. Mereka dihadang dan segera dihabisi oleh para pendekar yang bertugas di bawah jurang. Bahkan, tiga orang yang menyatakan jurang itu amanpun tidak lagi kembali ke permukaan.
Situngkoro sendiri baru menyadari hal itu setelah lebih dari separuh jumlah pasukannya berada di celah sempit tersebut.
Saat itulah segalanya terlambat bagi sekitar seribu lebih pasukan yang telah berada di celah sempit itu. Tiba-tiba saja lantai batuan jalan setapak yang mereka lalui runtuh dan amblas ke dasar jurang. Menimbun separuh lebih jumlah mereka yang berada di lintasan sempit itu.
Sisanya yang tidak ikut terperosok dan tertimbun bernasib tak kalah buruk.
Dari atas kepala mereka, hujan batu besar berjatuhan nyaris tanpa jeda.
Bebrapa pendekar yang cukup kuat berhasil menghancurkan batu-batu yang meluncur ke arah mereka dan hendak mengubur mereka hidup-hidup itu. Namun mereka juga akhirnya meregang nyawa oleh api yang membakar seluruh celah sempit itu sesaat setelah jalanan tersisa itu diguyur cairan hitam.
Pekik kematian terdengar nyaring dan mengerikan. Aroma anyir darah segera menyeruak sebelum berganti aroma daging gosong.
Ribuan anak panah menyusul menghujani sisa pasukan tersebut sedetik kemudian, memastikan tidak ada satupun manusia dan hewan yang selamat di celah sempit tersebut.
Situngkoro segera memerintahkan sisa prajuritnya yang belum masuk dalam perangkap untuk mundur secepatnya dan kembali masuk ke dalam hutan di belakang mereka.
__ADS_1