JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pedang Kembar Hancur


__ADS_3

‘Auuuuuuuu’!


‘Auuuuuuuuuuuu!’


‘Grrrr….’!


Suara ribut para srigala terdengar.


Mereka menyeringai ke arah Gentayu, memamerkan deretan gigi mereka yang tajam dengan liur menetes.


Gentayu merasa mati langkah. Tak mungkin lagi baginya untuk melarikan diri. Tapi, bertarung juga sudah bisa ditebak hasilnya. Maka, Gentayu hanya semakin erat menggenggam kedua pedang kembarnya.


Sempati telah lebih dahulu dikirim ke dimensi dunia tepi danau sebelum para srigala menampakkan diri.


Salah satu dari gerombolan serigala itu maju untuk menghampiri Gentayu yang mulai berkeringat dingin. Tidak ada rasa takut sedikitpun di hatinya, namun perasaan krisis antara hidup dan mati kini dirasakannya semakin dekat.


Sang serigala yang mendekat itu ternyata lebih besar dari yang terlihat. Entah karena jarak ataukah memang makhluk itu memang membesar, tapi ukurannya yang tak kurang dari seekor anak sapi jelas membuat ciut nyali. Apalagi dengan jumlah puluhan seperti saat ini.


Serigala itu mengangkat kaki depannya menampakkan cakar-cakar berkilauan, dan dalam kecepatan kilat melakukan gerakan seperti menampar ke arah Gentayu.


Gentayu yang telah bersiap dengan waspada sejak awal, berhasil menangkis gerakan serigala tersebut menggunakan pedang kembarnya yang disilangkan di depan tubuhnya.


Terdengar bunyi retakan logam saat cakar dari serigala kaki perak itu menyentuh permukaan pedang Gentayu. Energi Ryu yang menjadi roh pedang nampak bergejolak untuk menahan serangan cakar tunggal tersebut.


Sayangnya, kekuatan keduanya yang tidak berimbang membuat Gentayu terdorong mundur puluhan meter ke belakang. Kedua kakinya menyeret lapisan tanah dan dedaunan bersamanya, meciptakan dua garis memanjang seukuran telapak kakinya.

__ADS_1


Gentayu segera menyimpan kedua pedang kembarnya kembali ke gelang gerobok. Tepat saat pedang itu lenyap, serigala lawannya telah berdiri di hadapannya dalam sekali lompat.


Tanpa menunggu, serigala itu segera menerkam Gentayu. Gentayu menyambut serangan itu dengan sebuah pukulan kepalan tangan ke arah moncong serigala tersebut. Sayang sekali, meskipun pukulannya tepat mengarah dan mengenai sasaran, ternyata efeknya tidak seperti harapan.


Mulut serigala itu telah berada di lengan Gentayu. Mencengkeramnya dengan gigi-gigi tajamnya. MEnancap, dan siap meremukkan lengan kanannya tersebut.


Saat itulah, secara reflek tangan kanannya menusuk tajam ke arah bola mata serigala yang berada tepat di depan wajahnya.


Serigala itu mengaing kesakitan. Lolongan pilu terdengar bersamaan dengan darah muncrat dari bola mata kanannya.


Melompat mundur dengan kesakitan, Serigala itu menggeram marah. Kawanan di belakangnya seperti terkejut menlihat rekannya terluka dan melolong kesakitan.


Momentum melompatnya serigala tersebut ke belakang karena terkejut dan kesakitan dimanfaatkan Gentayu untuk melarikan diri. Jarak mereka berdua dengan kawanan serigala memang terpaut lebih dari lima puluh meter sehingga Gentayu bisa segera menghilang dari pandangan.


Namun, Getayu mungkin melupakan fakta bahwa Serigala adalah hewan yang mengandalkan penciuman sebagai indera unggulannya.


Gentayu sendiri menggunakan jurus andalannya untuk melarikan diri, Jurus Langkah Angin. Dipadukan dengan energi dath yang dimiliki, kecepatannya empat kali lebih cepat daripada ketika dia menggunakan tenaga dalam sebelumnya.


Tapi, serigala yang memburunya jelas bukan hewan biasa. Kecepatan mereka juga jauh berkali lipat di atas kecepatan hewan biasa. Ditambah dengan kecerdasan yang mereka miliki, sepertinya peluang Gentayu untuk lolos sangat tipis.


Suara berisik berisik segera mengisi area hutan yang semula sunyi. Suara geraman dan lolongan terdengar bergantian dari kawanan serigala yang tengah memburu Gentayu, seolah mereka tengah berdebat.


Anehnya, setelah lebih dari setengah jam para serigala itu mengepung dan mengacak-ngacak seluruh hutan, mereka gagal menemukan Gentayu. Penciuman tajam mereka bahkan tidak bisa mendeteksi keberadaan pemuda itu.


Sementara itu, di atas sebuah dahan dan tertutup oleh anggrek raksasa berdaun lebar, Gentayu menyembunyikan diri. Aura kekuatannya yang masih sangat lemah membuatnya tidak terdeteksi. Akan lain ceritanya, jika saat ini kekuatan Gentayu lebih tinggi, maka aura kekuatannya akan lebih mudah dideteksi kawanan serigala di bawahnya.

__ADS_1


Penciuman serigala bahkan gagal menemukan posisi Gentayu karena ternyata secara kebetulan Gentayu bersembunyi di dalah satu dahan pohon ‘minyak umbil’ atau pohon barus (kamper) raksasa tidak terlalu jauh dari lokasi pertarungan sebelumnya.


Para serigala itu sendiri, telah berjarak lebih dari satu kilometer di depannya karena mengira Gentayu telah berlari sangat cepat hingga mereka tidak mampu mengendus baunya. Mereka jelas tidak menyadari keberadaan pohon kamper raksasa ini karena memang terlalu dekat dengan lokasi pertempuran.


Gentayu masih menunggu dengan cemas. Nafasnya telah diaturnya agar tidak tercium di udara. Setelah lebih dua jam menunggu, dan yakin gerombolan serigala itu telah pergi barulah Gentayu memberanikan dirinya untuk turun.


Tak lupa, sebelum turun dia menggores kulit pohon tersebut untuk diambil getahnya. Ini adalah caranya menutupi bau tubuhnya dari hewan buas sejenis, yang mengandalkan penciuman untuk berburu.


Hari sudah sore menjelang senja ketika Gentayu akhirnya kembali menapak tanah dengan lega. Rencananya untuk mendapatkan hewan buruan hari itu nyaris gagal seandainya matanya tidak melihat keberadaan seekor kelelawar aneh yang tengah bergantungan di atas dahan lainnya. Letaknya cukup tinggi, namun masih pada pohon kamper raksasa yang menyelamatkan hidupnya.


Gentayu melompat lincah di antara ranting dan dahan kamper untuk mencapai ketinggian di mana kelelawar aneh itu berada. Kelelawar itu menyadari Gentayu yang mendekatinya. Matanya terbuka, bersiap untuk melarikan diri saat kedua sayapnya telah tertembus empat pisau dan menancap di dahan tempatnya bergelantungan.


Menatap marah ke arah Gentayu, Kelelawar itu membuka mulutnya. Suara sonar yang sangat kuat dilepaskan kelelawar tersebut, membuat udara di sekitarnya seolah terdistorsi dan menjadi sebuah serangan gelombang suara yang menghancurkan.


Gentayu yang tengah dalam posisi melayang nyaris kehilangan keseimbangan karena serangan gelombang suara tersebut. Kulit pohon yang dilewati gelombang suara tersebut terkelupas dan terbang ke arahnya.


Berkat kesigapannya, Gentayu berhasil bertahan dengan berlindung di balik batang besar pohon kamper itu. Sayangnya, akibatnya sungguh di luar perkiraan. Serangan gelombang suara yang mengarah kepadanya menghancurkan batang pohon tersebut. Serat-seratnya hancur seperti ditumbuk halus. Pohon raksasa itu tumbang, dengan meninggalkan batang pohon bagian bawah tetap berdiri.


Salah satu ranting di atas tubuh Gentayu yang menyambarnya saat hendak jatuh terhempas ke tanah bersama batang atas pohon.


Gentayu gagal menghindar, ranting itu menghantam pundaknya dan membawanya serta menghempas tanah. Sekalipun berhasil menyeimbangkan diri, namun Gentayu gagal untuk mendarat dengan selamat. Bersama ranting pohon tersebut, dirinya mendarat kasar di tanah dengan punggung mendahului.


Sementara, kelelawar aneh berwarna biru itu berhasil melepaskan diri dari pisau Gentayu.


Empat lubang di sayap besarnya akibat luka tertusuk pisau perlahan mulai menutup. Tapi, sebelum sempurna menutup, luka-luka itu tiba-tiba mengeluarkan api dan membakar sayap kelelawar itu.

__ADS_1


Itu adalah ulah Ryu.


Empat pisau yang dilemparkan Gentayu sebenarnya adalah pecahan dari pedang kembarnya. Pedang itu benar-benar telah hancur akibat benturan dengan cakar serigala berkaki perak!


__ADS_2