
Dua anak panah lain kembali melesat dan lagi-lagi, berhasil menancap di tubuh Mpu Jangger tanpa halangan. Tanpa sempat dihindari.
Satu anak panah menembus bagian belakang lututnya kaki kanannya, membuat goyah posisi berdirinya. Satu lagi menancap di paha kaki kiri bagian belakang. Namun lelaki itu tidak sampai jatuh.
Mpu Jangger segera memutar kepalanya dan membalikkan tubuhnya. Matanya yang tajam menangkap bayangan seorang pendekar tampak melesat berpindah-pindah di antara rimbunnya dedaunan puncak-puncak pohon tinggi di hutan itu.
‘Setan alas! Hanya satu orang..!’ Mendengus kesal, Mpu Jangger mengeratkan gigi-giginya.
Rahangnya mengeras setelah mengetahui hanya satu pendekar saja yang berhasil melukainya di antara orang-orang yang menyerang pasukannya.
Dalam gelapnya malam, tubuh Mpu Jangger tiba-tiba menyala terang, mengeluarkan kobaran api berwarna jingga kemerahan. Pertapa sesat itu kini berubah menjadi manusia yang tubuhnya diselimuti api. Sepertinya, ini adalah puncak dari kemampuan yang dimilikinya.
Tiga anak panah yang semula menancap di tubuhnya segera terlepas. Terpental keluar dari posisinya menancap dan berjatuhan ke tanah.
Mpu Jangger meraung keras sebelum melompat ke udara dan memutar tubuhnya. Tangannya mengepal dan mengarah kepada pohon yang dihinggapi pendekar bersenjata panah .
‘Desss... DHAR!!’
Empat buah bola api berkecapatan tinggi dengan kekuatan yang dahsyat meluncur dari kepalan tangan Mpu Jangger ke arah sebuah pohon besar. Bola-bola api itu tepat menghantam pohon tersebut secara beruntun dan membuatnya terbakar menjadi abu. Sementara pendekar yang menjadi sasarannya menghindarinya dengan susah payah, melompat ke tanah kemudian berguling menyembunyikan diri di antara semak yang rimbun.
Selang satu detik selanjutnya, bola-bola api lainnya dari Mpu Jangger menghajar semak dan dahan-dahan di sekitar bekas perkemahan yang masih terbakar. Benduriang dan yang lainnya masih sempat menyelamatkan diri walau nyaris saja mereka kehilangan kesempatan.
Pada titik api hasil serangan Mpu Jangger, kini terlihat bayangan para pendekar berjumlah sekitar dua puluhan orang. Jumlah yang cukup untuk membunuh Mpu Jangger sekalipun kemampuannya secara individu jelas di atas dua puluh orang tersebut.
Mereka segera melancarkan serangan kembali kepada Mpu Jangger dari jarak jauh. Desingan pisau terbang, sumpit, tombak, dan energi tenaga dalam semuanya diterima Mpu Jangger dengan kedua tangannya.
Mpu Jangger berhasil menangkap satu dari sekitar lima pisau yang melesat ke arahnya. Lalu secepat kilat segera mengembalikan pisau itu sebagai serangan balik dengan kecepatan dua kali lebih cepat. Namun saat pisau itu meninggalkan tangannya, serangan sumpit yang nyaris tak terlihat mengarah ke mata, leher dan jantungnya. Mpu Jangger menghindarinya dengan bersalto di udara.
Saat itulah, belum sempat dirinya kembali menapak tanah, sebuah mata tombak kembali mengarah ke tubuhnya. Tak sempat lagi menghindar, Mpu Jangger menangkis tombak itu dengan pergelangan tangannya bermaksud mematahkannya.
Namun ternyata hal itu adalah kesalahan fatal. Tombak itu jelas bukan tombak biasa. Ketika tangannya membentur batang tombak tersebut, tangannya seketika menjadi mati rasa akibat terjadinya ledakan dalam benturan tersebut.
__ADS_1
Tak berhenti sampai di situ, ledakan itu juga membuatnya terhempas ke belakang dan jatuh dengan kasar ke atas rumpun bambu tak jauh dari sana.
Nyala api di tubuhnya segera padam seketika.
Tombak yang ditangkisnya kini menancap di tanah, lalu bergetar dan secepat kedipan mata melesat kembali ke pemiliknya, seorang pemuda dengan postur tubuh jangkung. Padahal, Mpu Jangger berkeinginan mengambil tombak tersebut.
Dari tempatnya, Benduriang bersiul kencang sebagai isyarat seluruh pendekar untuk mundur dan meninggalkan tempat itu secepatnya. Awalnya, beberapa pendekar ingin mempertanyakan sikap ketua mereka. Namun, ketika mendengar derap puluhan kaki kuda mendekat ke arah pertarungan mereka segera mengerti.
Segera saja mereka menghilang dari tempat itu. Sekalipun gagal membunuh Mpu Jangger, setidaknya lelaki itu kehilangan seluruh pasukannya. Dan hal penting lainnya, Mpu Jangger dalam kondisi terluka. Kemungkinan memang masih ada pendekar yang tidak terbakar dan terbunuh di antara pasukan tersebut, namun menghancurkan pasukan sebanyak itu saja sudah prestasi besar bagi dua puluh orang tersebut.
Mpu Jangger memang tidak berusaha mengejar mereka. Tepatnya tidak sanggup. Pendekar dari Pulau Padi Perak itu kebal senjata. Anak panah yang berhasil menembus kulitnya, tentu saja karena menggunakan permata siluman di ujung mata panahnya. Darah terus mengucur dari tiga lukanya, membuat posisi berdirinya semakin goyah hingga akhirnya jatuh berlutut.
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda yang membuat Benduriang terpaksa menarik mundur anggotanya semakin dekat dan semakin jelas.
Tampak pasukan berkuda berpakaian prajurit Lamahtang datang mendekat. Mereka adalah pasukan yang awalnya diminta memisahkan diri siang tadi guna mencari jalur lain menyusuri sungai. Ternyata, mereka bertemu dengan jurang yang menganga lebar. Tak berani mengambil resiko, mereka segera kembali untuk melaporkan hasil perjalannya.
Pasukan itu berjumlah tiga ratusan orang, dipimpin oleh Qiao Shen. Salah satu senopati muda terbaik yang mereka miliki.
“Gusti..!” Qiao Shen segera melompat dari kuda saat melihat atasannya yang jatuh berlutut.
Panglima tersebut masih dalam kondisi sadar. Bahkan terlihat masih sangat kuat meskipun tubuhnya telah terluka.
“Gusti, apakah tidak sebaiknya kita kembali saja dulu ke kerajaan? Prajurit kita tidak akan mencukupi untuk menggempur Tulang Mesuji. Lagipula, luka-luka gusti perlu perawatan...” Usul Qiao Shen setelah melihat kondisi sekelilingnya.
“Baiklah. Kufikir juga.. begituhh..” Mpu Jangger menjawab sambil menahan rasa sakit yang mulai menjalar.
Sebenarnya, dia sudah menggunakan tenaga dalamnya untuk menghentikan pendarahan sekaligus memulihkan luka-lukanya, namun ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Panah dan busur yang digunakan penyerang tadi jelas adalah jenis senjata pusaka tingkat tinggi. Ilmu kebalnya saja masih bisa tembus, sementara bekas lukanya tidak bisa disembuhkan dengan cara biasa.
Rombongan sisa pasukan Lamahtang itu akhirnya meninggalkan tempat pembantaian malam itu juga. Mereka tidak berusaha untuk mengejar para penyerang yang diyakini tidak lebih dari dua puluhan orang tersebut karena mengkhawatirkan adanya jebakan lain yang telah disiapkan. Setidaknya, begitulah naluri Qiao Shen sebagai ahli teliksandi aliran hitam itu berkata.
Memang demikianlah adanya. Andaikan mereka melanjutkan perjalanan, di depan mereka telah disiapkan jebakan lainnya. Para pendekar Bintang Harapan sengaja menyiapkannya untuk mengantisipasi jika rencana mereka di tempat ini gagal. Nyatanya, umpan mereka dimakan mentah-mentah.
__ADS_1
Lahan tanah lapang yang sebenarnya telah mereka siapkan memang nampak menggiurkan untuk beristirahat. Namun, di balik kenyamanan, biasanya justru tersimpan bahaya yang tidak diduga. Begitulah yang terjadi pada prajurit Lamahtang saat ini.
Karena hanya membawa sedikit pasukan ditambah dengan kondisi Mpu Jangger yang mulai melemah, Qiao Shen memacu kudanya dengan sangat cepat. Pasukan di belakangnya kini jauh tertinggal di belakang kuda Qiao Shen. Saat menjelang fajar, mereka telah mencapai perbatasan kotaraja, berupa sebuah desa yang memiliki pasar desa pekanan.
“Bertahanlah, Gusti. Kita akan tiba di kerajaan saat fajar...” Qiao Shen semakin cemas melihat junjungannya kini mulai terlihat lemah.
Kehilangan terlalu banyak darah membuat Mpu Jangger mulai kehilangan kesadaran. Nampaknya, status pendekar sakti pada seseorang tidak ada gunanya saat darahnya terus ‘terkuras’ keluar. Pasti akan melemah. Begitulah kondisi Mpu Jangger saat ini.
Seluruh jubahnya kini telah basah oleh darahnya. Darah akibat panah pusaka itu sama sekali tidak bisa dibekukan menggunakan teknik tenaga dalam Mpu Jangger maupun Qiao Shen walau hanya sekedar untuk menghentikannya terus keluar sekalipun.
Kira-kira tiga lima mil menjelang kerajaan, terdengar suara raungan yang menakutkan..
‘GROOOAAAAARRRRRRRRR...!’
Tak lama kemudian, di ufuk langit sumber suara menyeramkan itu berasal, tampak rona merah membara, dan kemudian sebuah sinar tampak terlempar setelah suara raungan keras tersebut.
“Apa itu??!!” Mpu Jangger memaksa Qiao Shen menghentikan kudanya karena terkejut.
Suara asing itu begitu menakutkan, bahkan bagi pendekar aliran hitam seperti mereka.
“Sepertinya sesuatu yang dahsyat sedang terjadi, Gusti..” hanya itu jawaban Qiao Shen. Jelas diapun tidak akan tahu apa yang tengah terjadi malam itu.
Keduanya segera kembali melanjutkan perjalanan dengan terburu-buru, tanpa mempedulikan sisa pasukan yang belum juga nampak menyusul mereka sejauh ini. Dan tanpa tahu, bahwa nasib kerajaan yang mereka kuasai telah sepenuhnya di luar kendali mereka.
**Nb. Terimakasih atas dukungan para pembaca hingga sejauh ini.
Untuk para Voters yang telah menyumbangkan poinnya hingga posisi ranking JBBK saat ini bisa tembus 200 besar, penulis sampaikan apresiasi sebesar-besarnya. Semoga tidak bosan mendukung JBBK sampai tamat nantinya.
Juga untuk dukungan like dan komen dari seluruh pembaca semua, penulis ucapkan terimakasih.
Saya tidak biasa promo spam di kolom komentar penulis lainnya. Jadi, biarkanlah berjalan alami, saat rating dan rangking JBBK bisa naik, saat itulah pembaca akan tahu dan mudah-mudahan tertarik membaca.
__ADS_1
Kalaupun JBBK ratingnya jeblok nanti karena minim pembaca, itu artinya karya saya kurang menarik. Dan itu bagus, karena saya juga bisa evaluasi diri.
Terakhir, pesan saya: tetap jaga kesehatan. Jauhi stres, dan tetaplah bahagia**