
Gentayu telah menguasai jurus ‘Tinju Naga Api’ dari Ryu, sang roh harimau sebelumnya. Tinju Naga Api adalah salah satu jurus andalannya dalam banyak pertarungan.
Barangkali, itulah sebabnya ‘Pedang Naga Api’ itu bereaksi saat bersentuhan dengan tangan Gentayu. Mereka berjodoh!
Padahal di tangan Karangwangge yang telah memiliki senjata itu selama ini, pedang tersebut tidak menunjukkan kekuatan apapun selain kemampuannya menembus kulit pendekar di level manapun yang dihadapinya.
Bahkan ayahnya, Raja Mangkalayang saat ini, pernah merobohkan seorang pendekar suci dalam peperangan menaklukkan salah satu raja bawahannya yang berniat memberontak puluhan tahun lalu.
Namun, pedang itu hanya menunjukkan sisi ketajamannya, bukan kekuatannya seperti saat di tangan Gentayu sekarang ini.
Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap karena awan hitam berkumpul dan memadat di sekitar alun-alun. Membuat bentuk gambar kepala naga makin jelas terlihat dalam siluet api tersebut. Kepala sang naga tergambar di antara awan hitam dengan mulut terbuka lebar, sementara ekornya sebagai pilar cahaya api menyatu dengan tubuh Gentayu di tanah.
Gentayu masih dalam posisi berlutut setengah berdiri. Melepaskan cahaya api itu dari tubuhnya.
Perhatian semua orang yang berada di alun-alun kerajaan itu terpecah menjadi dua.
Sebagian orang kembali menyaksikan dahsyatnya pertempuran dua orang pendekar langit di dalam arena sayembara, sebagian lagi tak bisa tidak tertarik dengan fenomena langka yang tengah terjadi pada Gentayu.
“Mungkinkah makhluk tunggangan dewa itu benar-benar akan muncul di sini?”
“Ah, tidak mungkin. Naga api itu hanya mitos. Mungkin, itu hanya trik ilusi semata”
Beberapa orang terdengar mulai berdiskusi. Beragam tanggapan bermunculan, baik dari kalangan pendekar maupun rakyat biasa.
Para pendekar umunya terlihat lebih tertarik terhadap kejadian yang menimpa Gentayu, karena pertarungan di arena sayembara sudah bisa ditebak hasilnya. Jika tidak ada peserta tambahan berikutnya, hampir dipastikan sang lelaki brewok akan tampil memenangkan sayembara.
Sementara fenomena tubuh Gentayu yang terus memancarkan cahaya berbentuk pilar cahaya api ke langit sangat jarang terjadi.
__ADS_1
Bahkan, para pendekar senior di panggung kehormatan yang memiliki beragam jabatan dari berbagai kerajaan, Kelompok beladiri dan paguyuban besar juga tak kalah antusias mengamati fenomena yang terjadi pada Gentayu.
Utusan dari Mangkalayang, bahkan hendak melompat untuk ‘mengambil alih’ kembali kekuatan Naga Api yang mereka yakini berasal dari pusaka milik pangeran mereka, Karangwangge.
Tapi niat orang-orang Mangkalayang itu tak bisa terlaksana karena tubuh mereka tiba-tiba terkunci di tempatnya. Tak bisa bergerak semenjak kemunculan wujud naga api di langit.
Lonjakan kekuatan di tubuh Gentayu belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Energi yang merasukinya bahkan semakin membesar dari waktu ke waktu.
Setelah mendobrak batas level pendekar bumi dan menembus level pendekar langit, kekuatan itu tidak berhenti begejolak. Kekuatan itu terus memuncak hingga menembus level pertengahan pendekar langit, dan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Seluruh otot tubuhnya menegang. Badannya bahkan terlihat membesar. Sepertinya, jika tidak dihentikan, kekuatan itu akan mengancurkannya bahkan membuat tubuhnya meldak .
Gentayu hanya meraung kesakitan di tempatnya. Darah mulai keluar dari lubang hidung dan mulut nya. Bahkan rembesan darah juga mulai terlihat di sudut matanya. Setiap ujung kuku tangan dan kakinya juga mengeluarkan darah.
Hawa panas juga memancar dari tubuhnya hingga radius lebih dari seratus meter. Membuat para penonton di sekitarnya menyingkir menjauhinya.
Nyaris kehilangan kesadarannya, Gentayu tiba-tiba merasakan energi yang mendinginkan suhu tubuhnya dengan cepat merambat dari tanah di bawahnya.
Energi itu menjalar dari arah panggung kehormatan, namun Gentayu sudah tidak mampu lagi untuk memeriksa sumber energi tersebut berasal.
Energi yang mendinginkannya itu dengan cepat menjalari tubuhnya. Menghentikan daya rusak energi Pedang Naga Api di dalam dirinya sekaligus mengunci kekuatan tersebut dalam dirinya.
Lukisan wujud kepala naga api di langit segera menghilang bersamaan dengan lenyapnya pilar cahaya dari tubuh Gentayu. Awan hitam yang menyelimuti langit juga perlahan memudar beberapa saat kemudian.
Pandangan keheranan semua orang kini tertuju pada Gentayu. Sementra Gentayu masih dalam kondisi terpejam. Diam tak bergerak. Suasana berubah hening.
Dari dalam arena pertarungan, suara pertempuran antara Karangwangge dan lelaki brewok kembali berlanjut. Perhatian semua orang kembali terarah kepada dua lelaki perkasa yang tengah berjibaku memperebutkan puteri Cendrawani tersebut.
__ADS_1
Karangwangge terlihat mulai terdesak.
Senjata kipasnya terlempar saat sebuah pukulan telak bersarang di dadanya. Pria itu tersungkur jatuh, tapi segera berdiri saat senjata rantai bermata celurit nyaris menebas lehernya.
Tapi kondisinya tidak berubah menjadi lebih baik. Sekalipun berhasil menyelamatkan lehernya dari senjata milik lelaki brewok itu, Karangwangge masih kalah cepat mengangkat kakinya ketika serangan berikutnya secara beruntun menyasar bagian bawah tubuhnya.
‘Crash!’
Ujung rantai yang berupa celurit itu berhasil menebas kaki Karangwangge. Pangeran mahkota itu menjerit kesakitan ketika potongan kakinya terbang melayang ke arah sudut arena.
Sekalipun bisa dipulihkan dan kaki baru bisa ditumbuhkan kembali dengan kemampuan sumberdaya kerajaan ayahnya, tapi pasti akan memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Itupun jika dia berhasil menyelamatkan nyawanya dalam pertarungan ini, karena pria brewok itu sepertinya tak akan berhenti sebelum lawannya terbunuh.
Karangwangge meringis menahan sakit, tapi dia tak punya waktu untuk mengeluh. Sebuah kilatan mengarah ke lehernya sekali lagi, tapi tepat saat kilatan dingin itu hampir saja menyentuh ulit lehernya, sebuah kilatan hitam yang lebih cepat menabrak dari arah berlawanan.
‘Crink!’
Kilatan yang mengarah ke leher Karangwangge adalah sisi lain rantai dengan ujung celurit, terlempar menjauh dari lehernya disertai percikan api dan energi kejut cukup kuat ketika sebuah cakram hitam menabrak senjata si brewok itu dari arah panggung kehormatan.
“Cukup! Pangeran kami mengaku kalah!”
Seorang perempuan memakai topeng perak menutupi sebagian wajahnya, telah berada di antara Karangwangge yang nyaris terbunuh dan lawannya, si brewok.
Si Brewok menarik kembali senjatanya dan membiarkan Karangwangge dipapah keluar arena. Senyum kemenangan yang terkesan mengejek tersungging di bibirnya.
Nb. Proses update masih berlanjut..
__ADS_1
Jangan Lupa dukung terus yaaa..