JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sayembara V


__ADS_3

“Putri Cendrawani! Aku, Tunggulwaru dari Loh Jati, calon suamimu akan segera mengambil cincin itu sebagai hadiah untukmu! Tunggulah kakandamu datang..!” lelaki brewok itu berteriak lantang penuh sesumbar.


Membusungkan dada penuh kebanggan sembari mengamati seluruh hadirin, dia memandang satu persatu para pesaing dalam sayembara ini yang kini memandangnya dengan tatapan kesal. Kesal karena telah gagal dan dikalahkan.


Tatapannya lalu berhenti di salah satu sudut alun-alun, di mana pemuda bermuka bersih tengah mendapat perawatan dari tiga orang berpakaian sama dengannya.


Itu adalah putra adipati Loh Jati, junjungannya yang sebenarnya mengikuti sayembara ini, namun telah dikalahkan. Dengan izinnya, Tunggulwaru akhirnya ikut serta sebagai peserta. Status Tunggulwaru sebenarnya adalah kepala pengawal bagi bangsawan tersebut.


Pandangannya dan sang putra adipati beradu, lalu sang putra adipati memberi anggukan pelan kepadanya.


Tunggulwaru kembali mengedarkan pandangannya menyapu ke beberapa bagian dari alun-alun dan panggung kehormatan sekali lagi untuk memastikan tak ada lagi lawan yang akan menghalanginya.


Tanpa berkata lagi, dengan penuh keyakinan dan tidak mengurangi kewaspadaan, Tunggulwaru melesat menuju puncak kepala dari patung leluhur Prabu Jayadilaga. Hanya butuh waktu kurang dari tiga detik untuknya mencapai bagian atas kepala patung.


Tunggulwaru melayang di atas kepala patung di mana cincin sayembara berada. Matanya akhirnya menemukan cincin sayembara yang diincar seluruh peserta itu berada terselip di antara batuan ukir membentuk mahkota.


Sambil tersenyum penuh kemenangan, dihampirinya cincin itu. Cincin yang awalnya tampak biasa-biasa saja itu tiba-tiba bersinar terang. Sinarnya sangat terang menyilaukan, hingga membuat Tunggulwaru harus melindungi matanya agar tidak mengalami kebutaan sementara.


Tepat saat itulah, Tunggulwaru merasakan seolah patung itu bergerak.


Lelaki brewok itu segera mundur selangkah dan memperhatikan sekeliling, mengira dirinya mengalami pusing akibat pengaruh cahaya cincin pada matanya.

__ADS_1


Tapi sekelilingnya tampak normal. Terlihat wajah penonton di bawah lebih tegang saat ini, menyaksikan dirinya di atas kepala patung.


Suara batuan berderak gemerotak menyadarkan Tunggulwaru, membuatnya yakin bahwa patung itu benar-benar bergerak.


Begitu menyadari ketidakberesan situasinya, Tunggulwaru yang mampu berfikir cepat segera bertindak. Dalam sekejap mata, dirinya telah melesat sangat cepat dan menyambar cincin di kepala sang patung.


Tapi ketika tangannya sepertinya berhasil menyentuh cincin itu, energi kejut dilepaskan patung tersebut melemparkan tubuhnya ratusan meter ke udara.


‘Buzzz..!!’


Tunggulwaru benar-benar yakin bahwa dia telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia cukup mewaspadai segala perubahan di sekitarnya. Namun kini dia dibuat tak berkutik saat tubuhnya terlempar begitu saja.


Sebenarnya bukan hanya Tunggulwaru yang tak percaya dirinya terhempas, para penonton di bawah juga terkejut ketika tiba-tiba pria brewok itu terlempar jauh ke udara.


Tunggulwaru sendiri segera bisa menguasai dirinya. Menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh dari ketinggian. Lalu melesat kembali untuk meraih cincin itu.


Tubuhnya berkelebat, berubah menjadi cahaya berwarna ungu seperti pakaiannya ketika melesat saking cepatnya.


‘BAM!!’


Sebuah ledakan terjadi, suaranya yang dahsyat mengagetkan seluruh penonton, peserta dan perwakilan utusan di alun-alun tersebut.

__ADS_1


Tak banyak mata yang bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Namun, bersamaan dengan suara ledakan itu, tubuh Tunggulwaru kembali terhempas, namun kali ini jatuh ke tanah.


Hempasan yang sangat kuat itu menimbulkan suara ‘bedebum!’, diikuti getaran pada tanah sekitarnya seolah ada gempa kecil terjadi.


Debu tanah dan kerikil kecil menghambur ke udara saat tubuh kepala pengawal dari Loh Jati itu menghantam tanah.


Bersamaan dengan itu, suasana alun-alun berubah menjadi kacau. Para penonton segera berlarian menjauhi patung raksasa tersebut. Para utusan yang masih berada di panggung segera berhamburan menjemput peserta mereka masing-masing untuk segera menjauhi alun-alun.


Patung raksasa itu menggeliat. Menggerakkan lehernya, seolah melepas pegal.


Kemudian meregangkan tangan dan kakinya, seolah dirinya adalah tawanan yang baru terbebas dari belenggu.


Para pendekar senior dari seluruh utusan, bahkan para pengawal bergerak serentak. Bersiap melakukan perlawanan dan menghancurkan patung tersebut.


Saat itulah sang raja, prabu Jayadilaga bertitah: “Apakah kalian akan mengacaukan sayembara kami?! Patung leluhur kami itu juga bagian dari sayembara ini. Dan sayembara ini, baru saja dimulai!”


Suara prabu Jayadilaga terdengar hingga ke sudut-sudut kota. Menggunakan ilmu sejenis auman singa, meskipun pemilik suara tidak terlalu keras berteriak namun suaranya akan menjangkau wilayah yang jauh dari sumber suara.


Mendengar ini, para pendekar senior beringsut menyingkir.


Para peserta yang terluka dan semula berada di sekitar alun-alun juga telah diungsikan. Para penonton juga telah berada pada lokasi aman. Memastikan mereka selamat dari bahaya akibat pertempuran selanjutnya yang pasti akan berlangsung. Atau tidak?

__ADS_1


Di arena, pada alun-alun itu kini hanya ada tiga sosok tertinggal. Patung raksasa sendiri, Tunggulwaru yang entah bagaimana kondisinya karena masih terselimuti debu tebal dan menghalangi pandangan, dan terakhir Gentayu yang tak memiliki siapapun untuk mengungsikannya ke tempat aman seperti yang lain.


__ADS_2