JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pertarungan di Kedai Pindang II


__ADS_3

Orang-orang pendukung Krio Dableh yang semula mengeroyok dua pemuda tersebut mundur menepi melihat kedatangan para prajurit Lamahtang itu. Ada wajah senang di antara mereka karena mengira kedatangan para prajurit itu hendak menangkap para perusuh seperti kedua lelaki tersebut.


Pemimpin rombongan prajurit itu melompat turun dari pelana kudanya dan melayang kearah kedai. Mengabaikan begitu saja orang-orang Krio Dableh yang sebagian masih mencoba bangkit berdiri setelah terpelanting ke segala arah.


Dia adalah sosok prajurit dengan ikat kepala yang menandakan sebagai bagian dari kelompok Kala Merah. Pemimpin prajurit itu mendarat sekitar sepuluh kaki saja dari kedai yang kini hanya terisi tiga orang pelanggan.


“Siapa diantara kalian yang menggunakan senjata panah?” pemimpin prajurit itu berkata kea rah tiga orang yang sedang makan di dalam kedai. Nada bicaranya sedikit kasar untuk ukuran orang bertanya pada umumnya.


Mendengar itu, Putik Embun berhenti makan dan membalikkan badan menghadap pimpinan prajurit yang menanyakannya. Tetap dalam posisi duduk.


“Aku… Kenapa? Apakah Lamahtang membutuhkan pendekar pemanah?” Jawabnya santai setelah sejenak menatap wajah pimpinan prajurit itu. Putik Embun jelas mengetahui bahwa para prajurit itu tengah memburunya dan mengetahui yang terjadi terhadap tiga rekannya, para teliksandi.


“Jadi, kau yang telah menghabisi teliksandi kami?” Kata pimpinan prajurit itu, kali ini dengan kedua tangannya bersedekap di depan dada. Seolah menunjukkan posisi mendominasi di hadapan lawannya.


“Teliksandi?? Oh, tiga perempuan sundal yang tadi…” Kata Putik Embun menjawab sekenanya. Seolah tidak tahu identitas asli ketiga wanita yang dihabisinya.


Pada saat itu, Diah Rangi sudah berhenti makan. Demikian juga dengan pemuda tampan yang duduk tak jauh dari sisi mereka. Namun mereka berdua tidak menunjukkan reaksi apapun.


Sebaliknya, pak tua pemilik kedai dan istrinya kini telah keluar dari kedai. Ketakutan Nampak di wajah mereka. Sang suami memeluk istrinya erat di pelataran belakang kedainya.


Pemimpin prajurit itu mundur tiga Langkah saat putik Embun dan Diah Rangi berdiri bersamaan. Keduanya berjalan keluar dari kedai menuju pelataran. Sementara sang pemuda tetap duduk di tempatnya, namun dalam posisi menghadap kea rah pelataran. Tangannya sibuk membersihkan sisa makanan di sela giginya.


“Jadi, sekarang apa yang mau kalian lakukan??” Kata Diah Rangi menantang.


Pemimpin prajurit itu mengeratkan genggaman tangannya. Giginya gemeretuk marah. Dan dengan aba-abanya, lima dari sepuluh prajurit di belakangnya kini mengepung kedua pendekar perempuan itu.


Lima orang Prajurit dengan ikat kepala berlainan yang menunjukkan keanggotaan mereka berasal dari kelompok-kelompok aliansi aliran hitam itu segera menyerang dua pendekar wanita tersebut. Mula-mula serangan dilakukan dengan tangan kosong.


Sebuah serangan tapak berhasil dihindari Diah Rangi. Disusul dengan tendangan beruntun dari dua orang yang mengeroyoknya sekaligus. Sedangkan Putik Embun sebagai tersangka utama harus menghadapi tiga orang lawan sekaligus.


Dari pertukaran singkat berbagai pukulan, tendangan dan tangkisan tersebut, kedua pendekar wanita itu dapat menyimpulkan bahwa para prajurit yang mereka hadapi setidaknya telah berada pada tingkat akhir pendekar Ahli atau mungkin malah telah berada di tingkat awal Pendekar Sakti.


Tiga Pendekar Ahli itu cukup merepotkan untuk dihadapi seorang diri. Perbedaan kemampuan mereka hanya satu tingkat, belum lagi ditambah berbagai trik di balik pakaian para pendekar aliran hitam ini.


Putik Embun bertarung sengit melawan tiga lawannya. Meskipun pada dasarnya, putik embun adalah pendekar yang terbiasa bertarung dalam jarak jauh, kali ini dia terpaksa harus bertarung dalam jarak sangat dekat dan ketat.


Pendekar wanita ini benar-benar tidak terbiasa dalam pertarungan jarak dekat. Saat Putik Embun tengah menahan tendangan dari salah satu lawannya, dua lawan lainnya berhasil mengunci pergerakan Putik Embun.

__ADS_1


Setiap gerakan Putik Embun Sama sekali tidak bisa digunakan untuk menyerang. Dipaksa bertahan. Menahan setiap serangan yang seolah tiada berhenti berusaha mendarat di tubuhnya. Benar-benar hanya bisa bertahan karena sempitnya ruang yang diberikan.


Kendati begitu ternyata ketiga lawan yang telah mengunci gerakan Putik Embun itu masih tidak mampu menyarangkan satupun pukulan beracun mereka ke tubuh perempuan itu.


Hingga tanpa disadarinya, saat dirinya terfokus untuk melepaskan diri dari kepungan musuhnya, pemimpin prajurit itu diam-diam melompat tinggi dan meluncur kearah Putik Embun dengan tubuh berputar seperti peluru.


Pemimpin para prajurit ini melepaskan serangan tapak dari atas kepala wanita tersebut dalam kecepatan tinggi yang sepertinya tidak mungkin untuk dihindari.


Wanita itu sempat melirik ke atas kepalanya dan melihat sebuah serangan sangat cepat ke arahnya. Saat itu tangan dan kakinya sedang disibukkan menahan serangan ketiga lawan yang masih mengepungnya dengan ketat. Tak mungkin baginya lolos dari serangan itu.


‘Whuzzz…!’


Desiran angin dari pukulan yang dilepaskan oleh pemimpin prajurit itu membuat rambut Panjang perempuan yang sedang berkutat dengan tiga lawannya itu tergerai. Kuatnya energi pukulan itu juga dirasakan oleh anak buahnya yang mengepung. Namun hingga dua detik kemudian pukulan itu belum juga mencapai sasarannya.


Ke empat orang itu serentak mendongak ke atas dan tidak lagi menemukan pemimpin prajurit itu di sana.


Bahkan pemandangan menakjubkan justru terlihat di atas awang-awang, tepat di atas kepala mereka. Nampak oleh mereka seorang pemuda melayang di bekas tempat pemimpin pasukan tadi berada.


Sontak pertarungan keempat orang tersebut berhenti. Mereka berempat mundur saling menjauhi.


Para prajurit Lamahtang itu baru saja dikejutkan oleh menghilangnya pemimpin mereka dan keberadaan sosok pemuda pelanggan kedai yang saat ini masih berada di awang-awang. Kini wajah mereka berubah menjadi buruk saat melihat Putik Embun telah merentangkan busur panahnya. Mereka seolah melihat hantu kematian di depan mata mereka. Mereka ingin kabur dari tempat itu, namun terlambat.


Bahkan, pertarungan Diah Rangi melawan dua lawannyapun berhenti. Para prajurit itu menyadari pemimpinnya telah hilang dan saat ini bahaya lebih besar mengancam di depan mata.


“Panah itu..!” teriak salah satu prajurit yang belum sempat terlibat dalam pertempuran dari sisi luar pelataran.


Dalam waktu kurang dari satu detik, tampak ribuan anak panah meluncur dari udara kearah para prajurit Lamahtang yang segera berusaha melarikan diri. Namun upaya mereka sia-sia.


Anak panah-anak panah itu seolah memiliki fikiran dan matanya sendiri. Mereka mengejar setiap musuh yang berlari. Tak terkecuali mereka yang menggunakan teleportasi dengan menghilang dan muncul di tempat yang agak jauh sekalipun tidak berhasil lolos.


Kurang dari dua detik setelah tubuh mereka tertancap anak panah, api membakar habis tubuh mereka. Menyisakan senjata-senjata mereka yang terlepas dari genggaman.


Pemuda yang masih di atas awang-awang itu melayang turun perlahan sambil berdecak kagum. Sepuluh prajurit dengan kemampuan pendekar Ahli itu langsung tewas dalam waktu kurang dari lima detik!


Melihat kematian para prajurit Lamahtang yang tragis dan sangat singkat itu, orang-orang Krio Dableh menjadi gemetar dan jatuh berlutut tanpa mereka kehendaki. Tulang lutut mereka serasa lemas. Mereka jelas-jelas menunjukkan keberpihakan pada para prajurit Lamahtang, dan kini mereka tinggal menunggu nasib.


“Terimakasih atas bantuanmu, anak muda. Mungkin aku sudah tewas jika tanpa bantuanmu..” Putik Embun membungkuk memberi hormat pada sosok pemuda penolongnya itu sebagai rasa terimakasih.

__ADS_1


Sosok pemuda ini sangat asing bagi mereka berdua. Tak nampak sama sekali dari penampilannya bahwa pemuda ini adalah seorang pendekar hebat. Bahkan, tenaga dalamnya pun tidak bisa dirasakan pancarannya. Tapi bagaimanapun, Putik Embun merasa berhutang nyawa padanya.


“Tidak perlu sungkan, nyonya. Tadi hanya kebetulan saja. ..” Jawab pemuda itu sambil melangkah kembali masuk ke dalam kedai yang ternyata telah berantakan bagian depannya.


Pemuda itu merapikan kembali kursi panjang yang terguling lalu duduk lagi di sana. Dua pendekar wanita itu menyusulnya.


“Kalau boleh tahu, kemana tujuan tuan pendekar muda?” Diah Rangi bertanya karena penasaran dengan kemunculan sosok pemuda itu yang tiba-tiba. Kalimat ‘hanya kebetulan” yang disampaikan pemuda itu serasa janggal.


“Saya sebenarnya sedang terpisah dari dua rekan saya. Dan sekarang sedang mencari mereka.. “ jawab pemuda itu singkat.


Tak lama kemudian, pemilik kedai datang dengan wajah pucat. Ketakutan karena kematian sepuluh prajurit kerajaan terjadi di kedainya.


“mm.. mmaaf.. tuan dan.. nyo.. nyonya.. kalau.. kalau boleh…” belum sempat pak tua itu menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu sudah meraih tangannya.


“Ini, bapak cari lokasi lain saja kalau bapak takut. 20 keping emas di dalam kantong ini cukup khan untuk membuka kedai baru di kota?” katanya sembari menyerahkan kantong berisi sekitar 20 keping emas. Jumlah yang cukup untuk hidup selama beberapa bulan tanpa bekerja.


Bukan hanya pemilik kedai, bahkan Diah Rangi dan Putik Embunpun melongo dibuatnya. ‘Pemuda yang tak banyak bicara’ fikir mereka.


Pemilik kedai segera bersujud di kaki pemuda itu sambal berkali-kali mengucapkan terima kasih.


Awalnya, dia memang khawatir karena setelah ini dia harus segera pindah bila tak ingin berurusan dengan pihak kerajaan. Sayangnya, untuk pindah dan memulai usaha di tempat baru tidaklah mudah bagi mereka. Kini suami istri itu justru berterimakasih. 20 Keping Emas bahkan jauh lebih banyak dari penghasilannya selama lima bulanan.


Di pelataran, orang-orangnya Krio Dableh masih berlutut menunggu nasib. Mereka tidak berani mencoba kabur setelah melihat nasib para prajurit.


“Nyonya berdua, senang bertemu dengan kalian. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu. Aku harus pamit melanjutkan perjalanan. Mereka yang diluar, saya serahkan pada nyonya berdua...” Pemuda itu bermaksud meninggalkan kedai tersebut setelah dirasa urusannya dengan pemilik kedai selesai.


“Tunggu!” Kata Diah Rangi “ lalu, kemana perginya pemimpin prajurit tadi?”


“Mau melihatnya? Ini..” jawab pemuda itu singkat sambal mengibaskan tangannya.


‘Brugh!’


Seonggok mayat jatuh seperti dari ruang hampa mengejutkan pemilik kedai yang masih berlutu. Lelaki tua iitu beserta istrinya Kembali masuk ke dalam kamar kecil di kedainya. Sementara kedua pendekar wanita itu melongo. Tubuh pimpinan prajurit itu jadi kering tanpa cairan. Mirip mumi.agak bergidik kedua wanita itu melihat mayat yang tiba-tiba muncul begitu saja.


“Apa.. apa yang kau lakukan pada pemimpin prajurit ini?” Tanya Putik Embun sembari menahan nafas.


“Tidak ada. Hanya memasukkannya ke sini..” Jawab pemuda itu ringan sambil menunjuk ke gelang yang melingkar di lengan kirinya.

__ADS_1


__ADS_2