
Sosok yang baru membentuk tubuh itu terkejut ketika menyadari bahwa tubuh yang baru selesai dibentuknya ternyata hanya berupa tulang belulang tengkorak, dengan sedikit daging di beberapa bagian saja.
Wajahnya sepenuhnya hanya tulang tanpa daging, namun memiliki otot-otot wajah yang lengkap. Tanpa kulit wajah. Bahkan tanpa daun telinga.
Matanya melotot keluar karena tak memiliki lapisan pelindung kulit berupa kelopak mata. Membuatnya terlihat seram.
Demikian juga dengan bagian tubuh lainnya. Hanya memiliki otot penggerak, tanpa daging dan kulit.
Jadilah makhluk itu terlihat seperti tengkorak darah!
Bahkan, seluruh organ dalamnya belum terbentuk sempurna, kecuali jantungnya saja yang berdetak sempurna.
"Tidaaaaaak...!! Apa yang telah kalian lakukan?!! Bedebah! kalian harus membayarnya dengan nyawa kalian..!!" Raung sosok itu dengan marah dari angkasa.
Dia tak terima dibangkitkan kembali dengan kondisinya sekarang ini. Bukan hanya fisiknya yang tak sempurna, kekuatan iblisnya juga menurun jauh dari kekuatan sebenarnya.
Semua terjadi, karena selama proses penyatuan dirinya, Mislan Katili terus menerus menerima serangan dahsyat dari keempat pendekar di hadapannya.
Hancurnya satu dari tujuh bola sembilan arwah yang terkumpul menyebabkan segalanya menjadi di luar perkiraannya.
Wajah tanpa dagingnya menyiratkan kemarahan sekaligus kekecewaan yang memuncak.
Matanya mendelik, seolah ingin melompat keluar dari rongga kepalanya.
Dengan hasrat membunuh yang bergejolak, sosok yang tak lain adalah Sang Iblis Legendaris Mislan Katili melepaskan aura pekat kuasa kegelapan.
Kekuatan itu dengan cepat meliputi seluruh tempat itu. Membuat semua yang merasakannya menjadi bergidik dan bulu kuduk berdiri.
Udara bergolak. Awan hitam tiba-tiba berarak dari berbagai penjuru langit dan berkumpul, menutupi langit malam itu.
Bulan purnama yang semula bersinar terang, seketika tidak berdaya ketika sinarnya tertutup awan gelap berlapis-lapis.
Dari balik awan hitam yang bersusun dan berlapis-lapis itu, kilatan petir mulai terbentuk. Suara gelegar guntur mulai terdengar. Suasana berubah mencekam.
Jauh di bagian bawah pada lembah pegunungan itu, dua ribuan pendekar dari Dipantara yang semula tertawan menjadi panik.
Hawa dingin pegunungan bersalju itu terasa bertambah dingin dengan cepat. Api unggun yang mereka buat sejak pagi tadi menggunakan puluhan ribu tanaman perdu kering dari hutan telah padam, bersamaan dengan hembusan hawa dingin mengiringi kemunculan iblis Mislan Katili.
Udara juga semakin tipis, menyebabkan mereka semua kesulitan bernafas. Tak sedikit di antara mereka yang jatuh pingsan dengan darah keluar dari hidung, mulut, mata dan telinga karena kondisi tersebut.
Sebagian kecil bahkan harus kehilangan nyawa mereka.
Para pendekar yang berhasil bertahan dari teror ini tidak lebih dari seratus orang sekarang.
Mereka adalah para pendekar sakti yang mampu menggunakan tenaga dalam dengan jumlah besar. Tenaga dalam itu, berguna untuk membuat tubuh mereka tetap hangat dan sekaligus mempertahankan kesadaran mereka.
Suasana benar-benar mencekam saat ini.
Di bagian atas menuju puncak pegunungan, sosok 'gasing' hijau yang baru saja tiba segera melayang, merapat menuju Xin Long, Lou Shisan dan Dana Setra berkumpul. Wajah mereka nampak tegang.
__ADS_1
Sosok hijau yang barusan datang tak lain adalah Gola Ijo, sang iblis rawa.
"Terimalah salam hormat saya, guru Xin.. " Gola Ijo segera menyampaikan penghormatan dengan menangkupkan kedua tangan di depan tubuhnya, sedikit membungkuk ke arah Xin Long.
“Sabrang, apakah ini waktunya berbasa-basi seperti ini?" Xin Long mengacuhkan Gola Ijo, dan tetap memfokuskan perhatian pada sosok Mislan Katili yang masih melayang di uadara di atas mereka.
Di atas sana, dalam posisi melayang di udara, Mislan Katili melepaskan aura pekat kekuatan puncak kegelapan.
Aura itu begitu mengintimidasi.
Terlihat seperti Mislan Katili tengah memanggil bala tentaranya, namun yang sebenarnya terjadi adalah dia tengah berusaha memanggil dua Bola Sembilan Arwah lainnya.
Petir terus bergemuruh mengiringi angin kencang yang bertiup.
Pekatnya hawa kegelapan benar-benar membuat dunia seolah memasuki masa-masa kehancurannya sesaat lagi.
Di kejauhan, awan hitam aneh mulai berdatangan dari segala penjuru. Itu bukanlah awan biasa, melainkan sesuatu yang lain. Itu adalah para pasukan setan dan iblis yang menerima panggilan Mislan Katili, walau yang dipanggilnya sebenarnya adalah dua bola sembilan arwah, bagian dirinya yang lain.
Xin Long yang terkuat di antara mereka dan telah mencapai level puncak pendekar suci , bahkan berkeringat dingin dibuatnya.
Sedangkan Dana Setra dan Lou Shisan yang berada di level awal Pendekar suci , merasakan beban berat menekan tubuh mereka.
Sekalipun aura itu saat ini tidak membahayakan mereka, namun akan menyulitkan ketiganya saat harus bertarung.
Sedangkan Montawiraba, belum juga sadarkan diri dari pingsannya.
Udara di sekitar wilayah itu semakin tidak stabil. Bahkan, angin topan mulai terbentuk menyusul awan gelap yang semakin pekat. Semuanya berpusat di sekitar tubuh Mislan Katili.
Suara raungan, tangisan, tawa, geraman, auman, dan suara-suara menakutkan lainnya.
"Guru Xin, apa yang harus kita lakukan? Kita tak akan menang melawannya..!" Gola Ijo berkata demikian bukan karena panik, namun bersikap realistis.
Bagaimanapun, kekuatan mereka digabungkan tidak akan mampu menghadapi Mislan Katili.
"Kekuatan kita mungkin tidak akan cukup untuk melawannya. Tapi kita juga tidak boleh menyerah. Setidaknya, aku harus menguji mainan-mainanku dulu.. " Xin Long menjawab dengan tenang.
Pria tua itu mengeluarkan tiga kantong terbuat dari kain dari balik jubahnya. Lalu menyarahkan masing-masing kantong kepada Gola Ijo, Dana Setra dan Lou Shisan.
"Apa ini, guru?" Lou Shisan bertanya.
Dia cukup memahami karakter gurunya yang tidak mudah menyerah, namun berusaha melawan sosok iblis ini menggunakan bola-bola obat kecil di dalam kantong itu menurutnya sebuah lelucon.
Benar, isi kantong yang mereka terima adalah bola-bola kecil seukuran genggaman tangan berbau menyengat.
Gola Ijo justru bersikap sebaliknya. Wajahnya yang menyeramkan dengan tubuhnya yang berlendir terlihat tersenyum. Sekalipun senyumnya itu justru membuatnya terlihat sangat menakutkan.
Bagaimana tidak, saat tersenyum itulah deretan ratusan gigi kecil dan tajam terlihat.
Xin Long tidak menjawab. Dia segera menghilang dari pandangan dan kembali muncul di belakang Mislan Katili.
__ADS_1
Pusaran topan yang terbentuk di sekitar Mislan Katili membuat tubuh Xin Long seolah akan diterbangkan dengan mudah kapan saja.
Lelaki berjubah putih itu menepak kantong yang dibawanya. Segera, dalam tempo satu tarikan nafas kemudian beberapa bola-bola kecil meluncur keluar dari kantong itu dan melesat cepat menuju Mislan Katili.
Bola-bola beraroma menyengat itu menembus pusaran topan yang dibuat Mislan Katili tanpa kesulitan.
Mislan Katili bukan tak menyadari kehadiran Xin Long, tapi dia mengacuhkannya begitu saja. Tengkorak darah itu masih fokus untuk memanggil dua bola sembilan arwah lainnya.
"Ingin memanggil bagian jiwamu yang lain?? Bermimpilah!! " seru Xin Long lantang, dan bersamaan dengan itu bola bola kecil yang mengitari Mislan Katili meledak hampir bersamaan.
DAM!!
DAM!!
DAM!!
DAM!!
DAM!!
DAM!!
Mislan Katili kaget setengah mati mendengar suara ledakan yg dihasilkan bola-bola hitam itu.
Bukan hanya dirinya, Dana Setra, Lou Shisan, Gola Ijo, bahkan para pendekar yang masih bertahan di lembah bagian bawah gunung itu juga merasakan keterkejutan yang luar biasa karena kerasnya suara ledakan.
Suara ledakan itu puluhan kali lebih keras daripada suara petir terkuat. Apalagi ledakan demi ledakan ini terjadi hampir bersamaan.
Mislan Katili yang semula meremehkan bola-bola kecil itu harus membayar mahal kecerobohannya.
Tubuhnya terhempas, dan terlihat ceceran daging tubuhnya meninggalkannya saat dirinya meluncur jatuh dari ketinggian.
Angin topan yang semula berpusar ganas berhenti seketika bersamaan dengan jatuhnya tubuh Mislan Katili, menghempaskan kembali benda apapun yang sempat dibawanya dalam pusarannya.
Awan hitam di langit juga bergolak karenanya, namun tak banyak perubahan di atas sana.
Xin Long tidak membiarkan peluang yang telah terbuka itu menjadi sia-sia. Dia segera berteleportasi kecil untuk mengejar ke arah jatuhnya tubuh Mislan Katili. Demikian juga dengan Lou Shisan, Gola Ijo dan Dana Setra.
Ketiganya segera tersadar dari keterkejutan akibat kerasnya suara ledakan itu dan mengikuti Xin Long mengejar ke arah jatuhnya tubuh Mislan Katili.
DAM!
DAM!
DAM!
DAM!
DAM!
__ADS_1
DAM!
Suara ledakan dahsyat kembali terdengar secara beruntun. Tampaknya, Xin Long telah kembali menghujani Mislan Katili dengan bola-bola hitamnya.