
Alih-alih menyerang Nyi Pemayung yang menghadangnya dengan sikap siap bertarung, Satang Palang justru melesat mengejar Nyi Mendahara yang bergerak cepat bersama Lokajaya.
Nyi Mendahara dan Lokajaya hanya berjarak kurang dari lima puluh meter dari lorong terlarang, sebuah lorong rahasia yang dipercaya akan bisa menyelamatkan siapapun dalam pelarian. Sejauh ini, memang belum ada yang benar-benar mencoba menggunakan atau menjelajahi lorong rahasia ini.
Melihat Setan Merah bertubuh jangkung tidak menghiraukannya, dan justru melayang ke arah Nyi Mendahara membuat Nyi Pemayung cemas. Bagaimanapun, misi mereka adalah menyelamatkan pangeran Lokajaya, tak peduli apapun taruhannya.
Dengan cepat, Nyi Pemayung menyusul Satang Palang.
Ketika Nyi Pemayung bergerak untuk mencapai tempat di mana Nyi Mendahara berada, Satang Palang ternyata telah dalam posisi mencekik leher rekannya tersebut. Di belakang keduanya, Lokajaya tampak berdiri ketakutan.
Bocah itu saat ini telah berumur tujuh tahun. Telah terlalu banyak darah tertumpah dan nyawa melayang di hadapannya selama ini, membuatnya terlalu cemas setiap kali mendengar suara hardikan.
Bahkan, saat lengan kanannya tengah mencekik Nyi Mendahara, tangan kiri Satang Palang bahkan masih sempat mengarahkan sebuah pukulan jarak jauh dengan santainya ke arah Nyi Pemayung.
Wanita itu tengah berlari cepat, setengah melayang di atas rerumputan ke arah Satang Palang. Jaraknya dengan Satang palang hanya kurang dari lima meter ketika sebuah kilatan cahaya meluncur cepat ke arahnya dari telapak tangan kiri Satang Palang.
Kilatan cahaya itu terlalu cepat bagi Nyi Pemayung untuk bisa dihindari.
‘BAM!!’
Kilatan cahaya itu tepat menghantam dadanya.
Terdengar suara ledakan, diikuti suara tulang dada yang patah sebelum wanita itu jatuh terpental ke belakang.
Darah menyembur ke udara dari mulutnya, mengiringi jatuhnya yang kasar ke atas tanah.
Pendekar Wanita itu terluka parah, namun tetap berusaha bangkit .
Di tengah usahanya untuk berdiri kembali, tangannya berusaha meraih sesuatu dari balik lengan jubahnya.
__ADS_1
‘BUZZ..!’
Asap hitam meledak memenuhi udara di sekitar mereka berempat. Menyelimuti tempat itu hingga radius lima puluh meter dari pusat ledakan awal dalam waktu kurang dari dua tarikan nafas.
Satang Palang yang tak sempat mengantisipasi kejutan dari dua pendekar wanita itu hanya terbengong ketika menyadari salah satu wanita dan bocah kecil yang diincarnya telah berhasil melarikan diri memanfaatkan momentum peledakan asap hitam itu.
Akhirnya, dengan kesal ditekannya tjemari tangan yang tengah mencengkeram leher Nyi Mendahara dengan keras. Suara leher patah terdengar, dan darah kental menyembur dari robekan leher pendekar perempuan malang tersebut.
Wanita itu mati seketika dengan leher hancur, nyaris terpenggal oleh cekikan.
Tanpa membuang waktu, dengan kemampuannya mendeteksi aura, Satang Palang segera melakukan pengejaran.
Nyi Pemayung tinggal lima langkah lagi mencapai lorong terlarang ketika sesuatu menjerat lehernya.
Jerat pada leher itu rupanya adalah selendang milik pengawal Centini lainnya. Seorang wanita berpenampilan laki-laki.
Satang Palang memang bertindak sebagai pembawa logistik bagi kelompok kecil Centini.
“Kau terlalu sibuk bermain-main! Tuan putri memerlukanmu..!” Dengus wanita berpenampilan layaknya pria itu sedikit kesal pada rekannya.
Pengawal wanita itu bernama Junti, seorang pendekar yang kekuatannya tak terlalu jauh dari Satang Palang, namun dengan usia jauh di atasnya.
Junti menghentakkan selendang yang menjerat leher Nyi Pemayung dari belakang dengan keras.
Kembali, Nyi Pemayung yang pada dasarnya tengah terluka parah itu terhempas jatuh ke tanah.
Darah kental menyembur dari mulutnya, hidung, bahkan telinganya. Saat tubuhnya jatuh tak jauh dari kaki Junti, pengawal wanita itu menginjak lehernya dengan keras, mengakhiri hidup pendekar wanita tersebut saat itu juga.
“Tangkap bocah itu! Sepertinya, bocah itu orang penting!” Seru Satang palang, sembari menunjuk Lokajaya yang berdiri di mulut lorong terlarang.
__ADS_1
Lorong itu tampak biasa. Tapi, mata Junti yang tajam dapat melihat bahwa ada sesuatu yang tak biasa pada lorong yang hanya serupa lubang kecil menembus bukit berbatu di depan mereka.
Sebenarnya, lorong itu tertutup oleh sebuah batu besar, tapi, beberapa detik sebelumnya Nyi Pemayung berhasil membuka lorong untuk mereka melarikan diri. Seharusnya, dua detik setelah dimasuki lorong itu akan menutup dengan sendirinya.Tapi karena tak sempat dimasuki, akhirnya lorong itu terbuka dan tersingkap di hadapan dua pengawal Centini.
Junti mengikuti arahan Satang Palang. Dirinya bergerak ke depan, bermaksud menangkap Lokajaya.
Tapi, baru dua langkah dirinya dengan santai maju mendekati bocah itu, sebuah rasa perih dan dingin tiba-tiba terasa di pahanya.
Pengawal wanita itu menunduk, memeriksa pahanya yang sekarang malah mati rasa.
Kaget!
Pengawal wanita itu terbelalak marah, diliputi rasa panik ketika menemukan kaki kanannya, dimulai dari pahanya yang terasa nyeri, perih dan dingin sebelumnya, telah putus!
Darah menetes dari bekas tebasan yang bahkan tidak mereka sadari. Bahkan, Satang Palangpun tidak menyadari kaki rekannya telah putus.
Satang Palang baru menyadari ketika rekan wanitanya sesama pengawal itu menjerit histeris, dan kaki kanannya jatuh begitu saja ke rerumputan.
“Tidaaaaaaa..aaaak...!!!”
Palang Setan yang terkejut segera menjadi waspada. Matanya segera menjadi liar memeriksa sekeliling, namun tak menemukan sesuatu.
Bahkan, tak terlihat bekas senjata atau suara apapun yang membuatnya harus mewaspadai sebuah serangan. Tapi, dengan melihat kaki yang putus dari tubuh bagian kanan rekannya, akan menjadi terlihat bodoh baginya jika tidak menyadari bahwa mereka sedang diserang.
Ini adalah pertamakalinya sejak dua tahun terakhir mereka berada di dunia ini mengalami serangan mematikan.
Wajah tegang dan panik menyelimuti keduanya. Perasaan krisis antara hidup dan mati segera memenuhi hati kedua pengawal itu.
Bahkan, tubuh Junti kini gemetaran sebelum roboh ke tanah. Pengawal Centini itu, belum terbiasa untuk berdiri dengan satu kaki. Selain itu, jiwanya benar-benar terguncang karena kehilangan satu kakinya.
__ADS_1