JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana XIII


__ADS_3

Beberapa saat lalu, tepat ketika Karang Setan menemui ajalnya di tangan Gentayu, sesuatu terjadi pada tubuh Hao Lim.


Berbarengan dengan detik kematian pendekar legendaris itu, tubuh sang mantan matriark Naga Merah mengalami perubahan. Tubuhnya diliputi cahaya kehitaman yang pekat. Cahaya kehitaman itu keluar dari tubuhnya, mirip seperti asap yang keluar dari pembakaran sekam.


Cahaya kehitaman itu muncul selama beberapa saat saja. Tidak lebih dari sepuluh detik. Lalu cahaya itu perlahan memudar seolah menguap. Begitu cahaya tersebut telah menghilang sepenuhnya, tubuh Hao Lim langsung terjatuh dalam posisi berlutut. Nafasnya tampak ngos-ngosan. Keringat membanjiri tubuhnya.


Sakuza dan Yumiko yang menyaksikan akhir dari peristiwa ganjil itu hampir saja terpekik tidak percaya.


Wajah Hao Lim tampak berubah sama sekali. Tidak ada lagi kerutan dan rambut yang memutih. Kerutan di wajah dan kulit tubuhnya yang menandakan usia tuanya, menghilang digantikan kulit kencang dan mulus. Rambutnya yang telah memutih karena uban, sepenuhnya telah berubah menjadi hitam. Wajah dan tubuh wanita itu, sepenuhnya menunjukkan tubuh seorang gadis yang masih muda. Sama sekali berbeda jauh dengan Hao Lim yang mereka kenal sebelumnya.


Namun, rasa takjub sekaligus keheranan mereka segera hilang lenyap begitu saja dari fikiran mereka saat melihat Gentayu roboh ke atas bebatuan sungai yang hitam.


Udara tiba-tiba menjadi gelap. Entah dari mana datangnya, awan hitam tebal tampak memayungi langit di atas mereka, menutup cahaya sinar matahari pagi yang hangat.


Tak jauh dari tubuh Gentayu yang terus menggelepar, asap hitam yang muncul dan keluar dari segel iblis telah mewujud menjadi sosok tinggi besar. Namun masih dalam bentuk asap hitam. Sedang segel iblis berupa permata hitam berbentuk pentagram itu kini berada di tangan Gentayu.


Udara tiba-tiba menjadi sangat dingin. Angin kencang berhembus, seolah badai akan datang. Sementara awan hitam di langit bertambah tebal dan meluas menciptakan pagi yang berubah gelap seolah malam kembali datang.


Para pendekar anggota aliansi Bintang Harapan segera berlompatan menuju ke tempat tubuh Gentayu yang sedang menggelepar. Mereka bermaksud menolong pemuda yang telah berjasa melenyapkan musuh terbesar dan terkuat aliran putih, Karang Setan.


Semua pendekar tersebut terlihat tegang sekaligus cemas melihat kondisi Gentayu. Kondisinya, mirip dengan ikan yang diangkat ke daratan oleh nelayan. Namun yang paling terlihat cemas adalah rekan seperjalanan Gentayu, yaitu Yumiko dan Sakuza yang menyaksikan semuanya dari sisi hulu sungai sejak semalam.


Hao Lim sendiri sepertinya butuh waktu untuk bisa bangkit dari posisinya berlutut saat ini. Entah apa yang terjadi pada wanita itu, tapi sepertinya menolong Gentayu lebih penting dan mendesak untuk dilakukan saat ini daripada mempertanyakan kondisi Hao Lim.


Yumiko dan Sakuza segera beranjak dari tempat tersebut. Bermaksud hendak ikut serta melompat dan memberikan pertolongan kepada Gentayu, namun tangan Hao Lim mencengkram bahu mereka berdua. Mencegah untuk tidak ikut-ikutan mendekati Gentayu.


“Bahaya..” hanya itu yang dikatakan Hao Lim. Masih dengan posisinya berlutut dan wajah yang terlihat sedikit pucat.


Yumiko dan Sakuza bermaksud untuk protes dengan menepis tangan Hao Lim. Keduanya ingin mempertanyakan sikap Hao Lim, namun pertanyaan itu hanya sampai di tenggorokan dan tak sempat diucapkan karena kemudian terdengar suara ledakan diiringi teriakan-teriakan dan jeritan di sekitar tubuh Gentayu terbaring.


‘BUM!!’

__ADS_1


Lima pendekar anggota aliansi Bintang Harapan yang mendahului anggota lainnya tiba-tiba terpental ketika jarak mereka dengan Gentayu hanya kurang dari lima meter lagi. Sebuah ledakan menghempaskan mereka kembali ke tempat asal, bahkan salah satu di antara mereka terpelanting membentur tebing di tepi sungai dan jatuh tercebur ke dalam air.


Melihat rekannya terpental semua, belasan pendekar lainnya langsung menghentikan langkah mereka. Pendekar di barisan depan mereka bahkan segera membentuk perisai energi saat melihat sebuah kilatan cahaya menyasar ke arah mereka.


“Awas!!” teriak mereka bertiga serentak.


‘BRAK!’


Terdengar suara keras benturan. Tiga orang pendekar yang telah membuat perisai energi sebagai antisipasi itu mengalami nasib tak jauh berbeda dengan kelima rekan mereka yang pertama. Tubuh mereka terlempar ke belakang, walaupun tidak lebih dari lima depa saja karena benturan tersebut.


Sebelas yang lain segera membentuk perisai energi berikutnya ketika kilatan cahaya lain kembali mengarah kepada mereka juga.


‘ZHUUUUUSSS...’


Suara berdesing terdengar saat kilatan cahaya tersebut mendatangi mereka.


‘BRAK!’


‘BRAGH!’


Suara benturan kembali terdengar. Kali ini, benturan terdengar lebih keras dan terjadi beberapa kali. Namun nasib mereka tetap sama. Enam orang kembali terpental. Tiga orang terlempar menabrak pepohonan di tepi hutan, sedangkan tiga lainnya mendarat mulus menghempas tubuh rekan mereka di belakangnya.


“Semuanya..! Pergi dari sini...!!!” terdengar suara seorang wanita.


Matriark Lim berteriak lantang dari tempatnya berdiam bersama dua rekannya. Suaranya melengking terdengar ke seluruh penjuru lembah.


Para pendekar aliansi Bintang Harapan sebenranya terkejut dan sama sekali tidak mengenali suara orang yang memperingatkan mereka. Namun menyadari kondisi yang tidak menguntungkan tersebut, mereka segera menuruti teriakan tersebut tanpa sempat mempertanyakan atau memikirkan siapa wanita yang berani meneriaki mereka.


Tungkal Anom memimpin para pendekar itu melesat dan menepi menjauhi tubuh Gentayu dan sosok hitam yang kini telah berdiri sempurna. Dalam pergerakan menepi tersebut, mereka sempat menoleh ke arah sumber suara.


Tampak oleh para pendekar tersebut, sosok perempuan bergaun sutra merah melayang menghampiri tubuh Gentayu.

__ADS_1


Wanita itupun tak luput dari serangan berupa kilatan cahaya yang berasal dari tubuh Gentayu. Namun tampaknya, wanita itu tidak terpengaruh. Hanya memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Sesekali membungkuk atau mencondongkan tubuh sedikit ke belakang untuk menghindar. Tampak tenang dan anggun.


Semua mata yang melihat berdecak kagum karena tak satupun serangan kilatan cahaya aneh bisa menyentuh sosok wanita tersebut. Sementara sosok wanta yang tak lain adalah Hao Lim itu kini telah mendarat di dekat kepala Gentayu.


Sosok hitam yang mewujud dari asap hitam segel iblis terlihat bereaksi.


Sosok itu perlahan memudar dan kembali menjadi asap hitam, menyelimuti tubuh Hao Lim. Wanita itu tampak tenang sekalipun asap hitam kini benar-benar telah menutupinya.


Tubuh Hao Lim, sang mantan matriark Naga Merah memancarkan sinar cahaya keemasan. Cahaya itu menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Bahkan, para pendekar sekelas Tungkal anom harus memalingkan matanya karena tak mampu lagi menatap cahaya tersebut.


Kemudian, bumi bergoncang. Goncangan itu terasa semakin kasar seiring cahaya keemasan yang makin membesar. Membentuk seperti bulatan telur melingkupi tubuh Hao Lim. Udara mulai terasa panas, menggantikan hawa dingin yang semula melingkupi tempat itu.


Suhu udara di sekitarnya perlahan mulai naik. Angin kencang yang semula bersuhu dingin, kini semakin kencang namun dengan suhu lebih hangat.


Cahaya keemasan makin membesar, lalu terlihat jelas asap hitam yang menyelimuti tubuh Hao Lim buyar kembali. Membentuk lagi sosok hitam, tinggi dan besar. Namun kali ini, terlihat ada percikan api yang tampak pada tubuh sosok tersebut.


Sosok Hitam tersebut memiliki mata merah menyala. Ada bagian tubuhnya yang masih terhubung dengan permata hitam segel iblis yang berada di tangan Gentayu. Itulah sebabnya, Iblis itu terlihat sangat lemah karena memang belum ‘terlahir’ seutuhnya kembali.


Bagian terkuat pada diri iblis itu masih berada di dalam segel. Dan Gentayu dengan segenap kekuatannya berusaha menahan agar segel iblis tersebut tertutup kembali. Padahal jelas, kekuatannya jelas tidak mungkin sanggup mengunci kembali segel iblis itu sendirian.


Tungkal Anom, Ratna Mangali, dan Pendekar bergelar Tali Jiwa segera melesat kembali untuk menyelamatkan Gentayu ketika melihat Hao Lim sepertinya hanya mampu untuk sementara waktu menahan sosok iblis tersebut berbuat lebih jauh pada Gentayu.


**Nb. Tetap dukung Jaga Buana yaa...


Jangan lupa like, kritik/saran dan rate bintang 5 nya..


Akan sangat membahagiakan bila dibantu untuk vote juga sih, hehehehe...


Saya mohon maaf, baru bisa update selarut ini.


Semoga besok bisa lebih awal yaa**..

__ADS_1


Jangan lupa, tetap jaga kesehatan.


Tetap bahagia dan jangan lupa senyum sekalipun pake masker🤗😁**


__ADS_2