JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Mpu Jangkung


__ADS_3

Gentayu menoleh ke arah bagian lain hutan.


Kebakaran hebat tengah berkecamuk, menghanguskan areal seluas lebih dari seratus hektar persegi dari hutan itu.


Beruntung, dampak kebakaran itu terlokalisir oleh dua aliran sungai yang bersisian membentuk delta, sehingga tidak meluas terlalu jauh. Dua sungai yang saling bertemu itu memang membentuk delta berupa dataran gambut yang sekarang tengah terbakar hebat.


Seluruh hewan telah menyeberang sungai guna menyelamatkan diri agar tidak berakhir menjadi daging bakar.


Sepertinya, hanya telur-telur mereka saja yang terpaksa tidak selamat.


Aliran sungai itu tidak terlalu besar sehingga memungkinkan hampir semua hewan untuk menyeberanginya dan menyelamatkan diri.


Adapun para kadal raksasa, mereka segera menuju ke arah Gentayu. Panasnya api yang membakar hutan itu sama sekali tidak berpengaruh kepada mereka. Mereka kehilangan dua anggota kawanan dalam masa perburuan mereka selama beberapa waktu belakangan. Namun, sejauh ini perkembangan kemampuan mereka terlihat meningkat pesar sekalipun belum mencapai level Pendekar Bumi.


Gentayu segera memasukkan mereka kembali ke dalam dunia tepi danau.


Retakan yang ditimbulkan dari pergolakan Bola Arwah pada batu hitam yang menjadi gerbang dunia tepi danau itu terlihat jelas, tapi tidak mempengaruhi fungsinya sebagai gerbang.


Setelah selesai mengurus hewan-hewannya, Gentayu segera melayang di atas kobaran api yang belum menunjukkan tanda-tanda akan padam dalam waktu dekat. Bagaimanapun, wilayah itu adalah wilayah bergambut, sehingga api dipastikan akan bertahan lama.


Gentayu bermaksud kembali ke goa bawah tanah tempat pertama kali Gola Ijo membawanya. Dia harus segera menyelaraskan kekuatan besar yang saat ini membebani tubuhnya. Bila terpaksa menyerap sedikit lagi energi api, dipastikan tubuhnya akan meledak.


Bahkan, andaikan tubuhnya bukan tubuh dewa api, maka saat menyerap kekuatan Jayud tubuhnya sudah pasti tidak mampu menampung besarnya energi banaspati tersebut.


Saat tengah melayang itulah, mata Gentayu melihat sesuatu berkilauan di tengah kobaran api. Awalnya Gentayu mengabaikannya, namun kilauan aneh itu bersinar semakin terang, bahkan sekarang memancar ke udara menembus langit malam. Mengalahkan nyala merah dari api kebakaran yang menerangi suasana malam purnama itu.


Sinar terang berwarna kebiruan itu begitu menarik bagi Gentayu, membuatnya segera berbalik dan turun di samping benda yang menjadi sumber kilauan dan cahaya memancar itu.


Ternyata, benda tersebut adalah sebuah keris!


Keris itu, menancap di atas sebuah puncak batu berbentuk pepunden berundak.


Tempat di sekitar pepunden berundak itu sendiri telah hangus terbakar habis. Beberapa bagian dari struktur batu itu juga mengalami kerusakan akibat termakan api. Namun, pada batang keris itu sendiri tak terlihat jilatan api.

__ADS_1


Gentayu menjulurkan tangannya, meraih gagang keris tersebut.


Saat tangannya menyentuh gagang keris, dunia di sekitar Gentayu tiba-tiba berubah.


Tak ada lagi hutan yang terbakar. Tak ada lagi langit malam. Bahkan, tanah di bawah kakinya juga lenyap, berganti menjadi sebuah perairan.


Gentayu, entah bagaimana caranya kini telah berdiri di atas perairan luas. Lautan? Bukan!


Ini bukan lautan, sekalipun ujung dari perairan itu nyaris tak terlihat. Ini adalah sebuah danau raksasa. Dan, dirinya benar-benar berdiri di atas air danau yang dingin. Tanpa tenggelam.


“Tempat apa ini?” Gentayu bertanya, tapi hanya telinganya sendiri yang mendengarnya.


Keris di tangannya telah tercabut. Cahayanya juga telah padam.


“Selamat datang di danau Mazandara, anak muda!” sebuah suara terdengar di belakang Gentayu.


Gentayu menoleh, dan menemukan seorang lelaki tua, dengan pakaian terbuat dari anyaman tumbuhan danau. Bersamanya duduk seorang gadis kecil, keduanya berada di atas sebuah perahu kecil.


“Naiklah ke perahu ini, nak. Akan aku ceritakan sesuatu..” Lelaki tua itu mendayung perahunya mendekati Gentayu yang keheranan. Sementara gadis kecil di bagian belakang perahu nampak tersipu malu.


Saat itu, terlihat sebagai siang hari. Tapi Gentayu gagal menemukan posisi tepatnya matahari karena langit berkabut tebal.


Sedikit ragu, Gentayu akhirnya naik ke atas perahu. Masih dengan keris di tangannya.


“Simpan dulu senjatamu, anak muda. Kau bisa menakuti cucuku..hehehe..” lelaki tua itu segera mendayung perahunya menuju suatu arah sambil terkekeh.


Gentayu tak bisa memastikan ke arah mana dirinya akan di bawa, namun dia menuruti lelaki tua itu untuk menyimpan kerisnya dan duduk di belakang lelaki tua tersebut, di depan sang gadis kecil.


“Aku ucapkan selamat, karena engkau telah terpilih menjadi tuan baru bagi Megandaru. Keris di tanganmu itu , bernama Megandaru..” Lelaki tua itu memperkenalkan nama keris di tangan gentayu. Membuat Gentayu mengerutkan kening.


“Megandaru??”


“Iya. Perkenalkan, aku adalah Mpu Jangkung, pencipta keris itu. Aku seharusnya sudah lama mangkat. Yang saat ini berbicara kepadamu, hanyalah kenangan, kesadaran yang kusimpan dalam keris ini. Yang engkau lihat ini, semuanya adalah ilusi. Tidak nyata.

__ADS_1


Aku, hanya ingin menyampaikan kepadamu satu hal. Engkau telah berjodoh dengan Megandaru. Langit telah menunjukkan jalannya. Jagalah dia. Jangan sampai jatuh ke tangan Pendekar berwatak jahat...” mendengar kalimat terakhir ini, Gentayu seolah mengingat-ingat sesuatu.


“Kenapa? Apakah engkau tidak asing dengan kalimat terakhirku? Hehehe.. sudahlah, tak perlu difikirkan. Aku hanya ingin menyampaikan, bahwa ilusi ini adalah salah satu kemampuan dari Megandaru.


Kemampuan dan kekuatanmu akan menentukan seberapa luas jangkauan ilusi itu mempengaruhi lawanmu.


Dengan kemampuanmu sekarang, seharusnya dalam radius sepuluh meter keris ini akan bekerja terhadap musuhmu. Semakin tinggi kekuatanmu, semakin luas jangkauannya.


Mengenai kemampuan lainnya, bisa engkau cari tahu sendiri. Sering-seringlah berbincang dengan dia.. Karena dia adalah aku sendiri” Mpu Jangkung, menunjuk gagang keris yang tersembul di balik baju Gentayu.


Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, Mpu Jangkung, berikut gadis di belakang Gentayu beserta lautan dan langit berkabut itu berubah menjadi asap, lalu lenyap seolah tak pernah ada.


Gentayu kembali menemukan dirinya masih berada di hutan yang terbakar, di atas puncak punden berundak.


Dalam posisi duduk bersila.


Gentayu celingukan sendiri di tempatnya.


Lalu, dikeluarkannya kembali keris yang baru saja didapatkannya. Keris itu tanpa warangka.


Lama, gentayu memandangi keris tersebut.


“Megandaru..” katanya lirih menggumamkan nama yang diberikan Mpu Jangkung pada keris tersebut.


Tak disangka, keris itu bergetar seolah menyahuti namanya dipanggil. Gentayu yang terkejut segera melepaskan keris itu tanpa sengaja.


Aneh, keris itu tidak jatuh ke tanah. Melainkan tetap melayang di udara. Dengan suara menderu..


Melihat itu, Gentayu segera kembali meraih gagang keris tersebut, tanpa berkata apapun.


Dia lalu buru-buru menyimpan keris tersebut ke dalam gelang geroboknya.


Sesaat kemudian, dia segera melesat menuju tujuan awalnya, yaitu Goa milik Gola Ijo untuk bermeditasi. Menyelaraskan kekuatan baru dengan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2