
Seharusnya, perjalanan dari desa Air Ketuan menuju pedalaman lembah Kaling di mana Sekte Naga Merah bermarkas memerlukan waktu tempuh dua hari dengan berlari cepat menggunakan ilmu ‘Langkah Angin’. Tapi berkat peningkatan kekuatan yang dimiliki Gentayu, perjalanan itu hanya memerlukan waktu sehari dua malam tanpa istirahat.
Hutan yang pernah disebutkan oleh roh harimau sahabatnya, Ryu, sebagai hutan pemisah antara wilayah Sekte Naga Merah dengan wilayah lembah Kaling mulai terlihat saat fajar belum menyingsing. Artinya, Gentayu akan melintasi hutan itu saat fajar terbit dan bila tak ada halangan akan sampai di Sekte tujuannya itu sebelum matahari naik ke atas kepala.
Gentayu memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya sebentar sebelum memasuki hutan tersebut. Sekalipun sepanjang perjalanannya Gentayu telah beberapa kali keluar dan masuk hutan, namun memasuki hutan wilayah sebuah sekte akan berbeda ceritanya.
Terlebih, sekte ini tergolong misterius. Tentu akan ada banyak hambatan saat memasuki dan menjelajahi hutan tersebut. Maka, tak ada salahnya bagi Gentayu mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi sebelum memasuki hutan.
‘Menurut Ryu, Sungai di mana jembatan Naga Merah sebagai pintu gerbang yang terdapat dalam peta batu kubusku terletak di dalam hutan ini. Ah, kenapa Ryu justru belum menampakkan tanda-tanda akan bangun, sih?’ Gentayu bergumam sendiri, menyayangkan sahabatnya yang sepertinya belum bisa dibangunkan setelah terkna dampak dari serangan Karang Setan beberapa hari lalu.
‘Apa boleh buat, aku harus mencari lokasi sekte ini sendiri..’ Gentayu kembali berdiri setelah merasa cukup beristirahat dan mengisi perut sekedarnya dengan makanan yang dibawanya dari goa batu pemberian Pendekar Jari Petir. Memulai perjalan di pagi hari selalu lebih menyenangkan daripada saat matahari terik, fikirnya.
Gentayu kembali melesat dari dahan ke dahan memasuki hutan yang terlihat tak pernah dijamah manusia itu. Sinar matahari hampir tidak mampu mencapai lantai hutan karena tertutupi oleh lebatnya dedaunan dari pepohonan hutan. Dengan lincahnya, Gentayu berlompatan di antara dahan dan ranting kecil pada pucuk-pucuk pohon. Mengagetkan kawanan monyet dan burung-burung yang sedang beraktivitas di pepohonan, kocar-kacir melarikan diri. Gentayu menyipitkan matanya saat telinganya mendengar gemericik air sungai mengalir di tengah hutan tersebut.
‘ Ah! Itu mungkin sungai yang dimaksud! Bukankah untuk menuju sekte itu artinya aku hanya harus menyusuri sungai tersebut ke hulu atau kehilir hingga menemukan jembatan Merah itu melintang?’ Gentayu menjadi sangat bersemangat.
Sekejap saja dia telah tiba di tepi sungai berair jernih tersebut. Sungai yang benar-benar jernih. Bahkan, dasar sungai yang sebenarnya cukup dalam di beberapa titik itu masih bisa terlihat dari permukaan. Lengkap dengan ikan-ikan dan hewan lain yang berenang di dalamnya.
Mengikuti instingnya, Gentayu memilih menyusuri sungai tersebut ke arah hulu.
Langkahnya sangat cepat menapak di antara rerumputan dan tumbuhan perdu di sepanjang jalur sungai tanpa ada yang terinjak. Ya, Gentayu memang tidak menginjak rerumputan tersebut karena lari cepatnya dengan ilmu ‘Langkah Angin’ lebih mirip melayang daripada berlari dalam arti sebenarnya. Namun, belum jauh dia berjalan, tiba-tiba puluhan anak panah melesat ke arahnya.
Gentayu berjumpalitan di udara menghindari anak panah-anak panah tersebut. Dia mendarat sejenak, sebelum kembali harus berlompatan untuk menghindari lebih banyak anak panah lainnya.
“Tunggu! Berhenti menyerang!” Gentayu berusaha untuk berbicara dengan entah siapapun kelompok yang menyerangnya. Namun, kembali hanya dijawab dengan puluhan anak panah lainnya yang kembali mengarah kepadanya.
Kali ini, Gentayu tidak lagi menghindarinya.
‘Trak! Trak! Trak! Trak! Trak!...’
__ADS_1
Puluhan anak panah itu langsung terpental saat menyentuh kulit Gentayu. Sebagian besar bahkan dengan kondisi patah-mematah.
Aksi Gentayu tersebut ternyata efektif membuat pihak yang menyerangnya berhenti meluncurkan anak panah berikutnya. Tak lama, dari balik pepohonan dan bahkan dari puncak-puncaknya, bermunculan sekitar lima belasan orang yang terlihat membawa busur bersama mereka. Mereka tidak memakai pakaian seragam yang menunjukkan identitas mereka. ‘Apakah mereka ini pemburu?’ pikir Gentayu.
“Maaf, Tuan-tuan. Siapa sebenarnya tuan-tuan ini?” Gentayu menanyakan identitas penyerangnya.
Seorang laki-laki muda yang kurang lebih seumuran dengan Gentayu melompat turun dari salah satu dahan menghampiri Gentayu. Tampaknya, pemuda bermata sipit ini adalah pemimpin dari kelompok tersebut. Dialah satu-satunya di antara rekan-rekannya yang tidak memakai penutup wajah.
“Bukankah seharusnya, kami yang bertanya demikian, Ki sanak?” Pemuda itu menatap Gentayu penuh selidik. “ Apa tujuan ki Sanak berkeliaran di hutan ini?”
Mendengar itu, fahamlah Gentayu akan posisinya.
“Oh, kalau begitu maafkan kelancanganku telah memasuki hutan ini tanpa izin. Apakah aku sedang berhadapan dengan anggota Sekte Naga Merah?” Gentayu yang tengah berusaha mencerna situasinya kemudian mencoba menebak identitas kelompok di hadapannya ini.
“Kau cukup cerdas, kisanak! Benar, kami adalah anggota Sekte Naga Merah.Sekarang jelaskan kepada kami, apa maksud ki sanak berkeliaran di hutan ini? Apakah engkau bermaksud memata-matai kami?” Pemuda itu menjawab masih dengan kewaspadaan tinggi. Terlihat bahwa tangannya masih berada digagang pedangnya walaupun busur panahnya telah disampirkannya di belakang punggung.
Wajah Gentayu langsung terlihat sumringah mendengar tebakannya ternyata tidak meleset.
Mendengar nama tetua Shou disebut sebagai alasan kedatangan Gentayu ke tempat itu, seluruh anggota sekte Naga Merah itu kemudian turun dan mengelilingi Gentayu, namun tetap dengan kewaspadaan tinggi. Tangan mereka tidak lepas dari senjata masing-masing.
“Apa ki sanak bilang? Kisanak datang membawa pesan tetua Shou?? Apa buktinya bahwa kisanak benar-benar bertemu dengan guru kami?” tanya seorang laki-laki lainnya yang terlihat lebih senior dari wajahnya. Sepertinya dia mewakili rekan-rekannya sebagai murid Tetua Shou. Dia adalah orang kedua yang membuka kain penutup wajahnya.
“Ini!” Gentayu menunjukkan sebuah lencana pengenal yang diserahkan oleh tetua Shou saat di rumah Tabib Mo.
“Apa?? Ini.....ini..ini adalah...” Laki-laki yang semula bertanya langsung melotot saat melihat lencana yang tentu saja dikenalinya tersebut.
“Ini benar-benar lencana guru!” ucapnya setengah berteriak kepada rekan-rekannya yang segera saja lebih mendekat kepada mereka.
“Lalu, di mana guru sekarang? Apa yang terjadi padanya? Katakan!” Wajah murid-murid tetua Shou yang berjumlah sekitar enam orang dari semua anggota sekte itu berubah menjadi penuh kecemasan. Mereka tentu saja menduga, bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada gurunya.
__ADS_1
“Untuk itulah aku kemari. Bisakah kalian bawa aku bertemu dengan Patriark atau apalah namanya, pimpinan kalian? Tetua Shou memintaku hanya menyampaikan pesannya kepada beliau... bagaimana?” Gentayu sekali lagi meinta dipertemukan dengan pemimpin sekte mereka. Memang begitulah amanat dari tetua Shou saat memintanya pada Gentayu.
Kelima belas orang itu kemudian saling pandang.
Mereka menganggukkan kepala kepada pemuda yang sepertinya adalah pemimpin kelompok tersebut. “Baiklah!” Ujarnya singkat.
“Tuan, siapa tadi?” Pemuda itu tampaknya tidak berhasil mengingat nama Gentayu saat diperkenalkan tadi.
“Gentayu”.. Jawab Gentayu singkat.
“Baiklah Tuan Gentayu. Maafkan sikap kami yang tidak sopan sebelumnya” Pemuda pemimpin kelompok itu memberikan penghormatan kepada Gentayu sebagai tanda permohonan maafnya.
“Ahahaha.. kufikir, itu sikap yang wajar Saudara...... “
“Lin Huo, tuan” pemuda itu segera menyambung ucapan menggantung Gentayu dengan menyebut namanya karena sebelumnya dia memang tidak memperkenalkan namanya.
“Iya, saudara Huo. Menurutku sikap kalian wajar saja sebagai sikap waspada. Terlebih, aku mendengar bahwa kelompok-kelompok aliran hitam kini sedang mulai bergerak. Jadi, aku memakluminya. Tidak masalah” Ucap Gentayu sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada kepada semua yang hadir di tempat itu.
Gentayu sengaja menyebutkan secuil informasi tentang pergerakan Kelompok aliran hitam, namun tidak secara mendetail karena seharusnya informasi itu harus disampaikan langsung oleh Matriark mereka sendiri. (Walau Gentayu sendiri mengira awalnya, bahwa Sekte Naga Merah dipimpin oleh laki-laki sebagaimana lazimnya sebuah perguruan dan sekte lainnya di pulau Emas Besar ini). Namun, secuil informasi itu segera mampu membuat wajah mereka yang ada di sana menjadi tampak khawatir dan lebih waspada.
“Saudari Mei, tolong antarkan tamu kita ini menghadap Matriark. Jangan lupa segera bergabung kembali setelah Matriark berkenan menemui tuan Gentayu..” Lin Huo memberikan arahan kepada salah satu anggotanya.
Orang yang dipanggil Saudari Mei oleh Lin Huo ternyata adalah seorang gadis muda bertubuh langsing. Dengan memakai penutup wajah yang tidak berbeda dengan pria serta pakaian yang sama sekali bukan pakaian untuk seorang gadis, orang asing tidak akan menyadari bahwa ‘Mei yang dimaksud adalah seorang gadis.
Gentayu segera mengikuti Gadis itu ke arah hulu sungai. Menyusuri tepian sungai tersebut dengan berjalan biasa, tidak menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Letak Jembatan Naga Merah yang disebut-sebut sebagai pintu gerbang Sekte ternyata tidak terlalu jauh letaknya dari tempat Gentayu disambut dengan hujan panah. Gadis muda yang diminta menjadi penunjuk jalan itu ternyata tidak menuju jembatan Naga Merah yang diduga Gentayu akan mereka lewati namun justru berbelok memasuki sisi lain hutan sebelum lokasi jembatan itu berada.
Gadis itu berhenti di depan sebuah sumur mati berbentuk persegi empat berukuran lebar sekitar tiga depa tiap sisinya . Disebut sumur mati karena sumur itu bukan sumur yang digunakan sebagai sumber air. Gadis muda itu kemudian berjalan ke salah satu sisi lain dari sumur yang berbentuk persegi empat itu. Tiba-tiba, dari dalam sumur perlahan-lahan muncul naik ke permukaan sesuatu berbentuk persegi empat seukuran mulut sumur. Sesuatu itu ternyata adalah kepingan lempeng baja.
__ADS_1
Gadis bernama Mei (marganya belum diketahui) itu segera melangkahkan kakinya di atas permukaan lempengan baja dan meminta Gentayu mengikutinya. Setelah keduanya berdiri di atas lempeng baja tersebut, lempengan baja itupun perlahan-lahan kembali turun dan masuk ke dalam sumur. Ternyata, sumur itu adalah pintu masuk dan mungkin juga pintu keluar dari lokasi sekte yang entah ada di mana.