JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Panggilan Penyatuan II


__ADS_3

“Hentikan serangan!”


Kali ini, Nyi Suntari juga tak tinggal diam. Dia segera menyusul muridnya, Anjani, melesat menghadang sosok yang masih terus berusaha untuk menyerang Rajo Narako.


Sosok yang sedang melesat menyerang itu dibuat terkejut oleh penghadangan pasangan guru dan murid itu. Sosok itu mengenakan seragam sebagai sesepuh pendekar Pinang Emas, sehingga dengan cepat mengenali Nyi Suntari walau tidak mengenali Anjani sebelumnya.


‘BRAK!’


Tabrakan dua energi serangan terjadi di udara.


Nyi Suntari telah melesakkan serangan energinya untuk menghadang serangan sejenis dari sesepuh Pinang Emas tersebut.


Tabib wanita itu terpaksa melepaskan serangan energi karena tidak menemukan cara lain untuk menghadang serangan yang terlanjur dilepaskan sang sesepuh.


Keduanya sama-sama terpental dan terbanting ke tanah dengan keras akibat ledakan energi yang bertabrakan itu.


Bukan hanya mereka berdua, Anjani juga terpaksa harus menciptakan perisai energi guna melindungi dirinya dan Rajo Narako yang tengah bermeditasi, berusaha menetralisir pengaruh Bola Arwah.


Kedua sesepuh dari dua balai berbeda kini sudah sama-sama bangkit.


Sang sesepuh penyerang sudah tidak lagi menunjukkan sikap bermusuhan ketika mengetahui Nyi Suntari justru melindungi orang yang dikiranya iblis itu.


Sesepuh yang baru saja menyerang adalah sang pedang awan pinang, bernama Aswan.


Dia segera mendekat ke arah pedangnya yang hancur. Lalu menghampiri Anjani dan Nyi Suntari penuh rasa ingin tahu.


“Siapa dia, Nyi?” tanyanya setelah memungut sisa serpihan pedangnya dan berada cukup dekat dengan Nyi Suntari.

__ADS_1


“Beliau salah satu leluhurku. Aku juga tidak terlalu mengerti, tapi beliau menyebut sesuatu tentang kebangkitan Mislan Katili. Beliau, telah menelan sesuatu berbentuk bulat dan berpijar yang bermaksud melarikan diri darinya. Aku tidak tahu pasti apa itu, tapi sepertinya sesuatu yang berbahaya jika sampai lepas.. ” Nyi Suntari yang tidak terlalu memahami seluruh kejadian di hadapannya mencoba menjelaskan.


“Mislan Katili?? Iblis itu??” Aswan, sang pedang Awan Pinang mengerutkan keningnya.


Pria itu sebagaimana para pendekar aliran putih lainnya, tentu pernah mendengar kisah tentang raja Iblis bernama Mislan Katili. Sosok yang membuat gempar dua dunia ratusan tahun silam.


Nyi Suntari hanya mengangguk. Pandangan ketiga orang itu kembali fokus menghadap pada Rajo Narako. Cahaya merah dari tubuhnya, semakin terlihat mulai meredup sekalipun sangat lambat dan nyaris hanya bisa disadari oleh yang mengamati.


“Itu Bola Sembilan Arwah. Kadang, orang menyebutnya Sembilan Bola Arwah karena memang jumlahnya sembilan buah. Dalam bola berjumlah sembilan itu, konon tersegel sosok raja iblis secara terpisah. Mislan Katili!” Anjani yang telah bersama dengan Rajo Narako lebih lama dari yang lain menjelaskan.


“Seharusnya, bola arwah itu tidak akan bereaksi. Kecuali..” Anjani menggantung kalimatnya. Sorot matanya menyiratkan kengerian akan sesuatu. Tegang dan cemas tergambar di roman mukanya.


“Kecuali?” Serentak Nyi Suntari dan Aswan membeo.


“Kecuali, setidaknya tujuh dari sembilan bola itu telah berhasil disatukan di sebuah tempat.. dan si Raja Iblis telah bangkit..”


Hawa panas berasal dari tubuh Rajo Narako membuat tubuh ketiganya berkeringat, tapi informasi Anjani tentang Mislan Katili membuat dua sesepuh justru menggigil.


++++++++


Di tempat lain, pada sebuah gunung bersalju di wilayah yang jauh dari Sindur Kuntala.


Tiga orang dengan warna kulit berbeda tengah bertemu dengan seorang lelaki tua berjubah putih. Rambut panjang lelaki tua itu juga putih. Bahkan, janggut dan alisnya juga telah memutih sepenuhnya. Keriput tanda penuaan tampak terlihat di wajahnya, tapi badannya tetap tegap dan kekar.


Dia adalah guru dari Lou Shisan, Xin Long sang Dewa Alkimia besar.


Lelaki tua itu memandang ke kejauhan, pada sebuah lembah di mana lebih dari dua ribuan orang pendekar telah dibebaskan dari penjara Kantong Buana sebelumnya.

__ADS_1


Bukan hanya telah membebaskan mereka dari tawanan, Lou Shisan juga telah berhasil melepaskan semua bibit kristal dari tubuh para pendekar tanpa membuat mereka kehilangan kekuatan sebelumnya. Semua membuktikan, bahwa gelar dewa obat yang disandangnya bukanlah main-main.


Adapun bibit kristal merah dari tubuh para pendekar itu, kini dikumpulkan tak jauh dari kaki sang Dewa Alkimia Besar, gurunya.


Xin Long, sejauh ini diketahui hanya mengangkat tiga orang murid yang semuanya adalah legenda. Lou Shisan adalah salah satunya.


Lou Shisan dan Dana Setra telah mengutarakan bahwa maksud kedatangan mereka berkaitan dengan kristal merah yang ditanam di dalam tubuh ribuan pendekar.


Lou Shisan sendiri menghadap sang guru dengan maksud meminta izin guna memaksa saudara seperguruannya menghentikan pembuatan buah kristal merah.


Saudara seperguruan yang dimaksudnya adalah jenius lain dalam bidang alkimia dan pengobatan. Pendekar tabib yang menjuluki dirinya sendiri sebagai ‘Iblis Pil’ karena kepiawaiannya dalam menciptakan bermacam obat aneh yang dipandang tidak berguna oleh kelompok aliran putih.


Sekalipun begitu, Iblis Pil sangat menyukai kehidupan mewah dan hampir tidak bisa lepas dari kebiasaan buruk bermain wanita. Bakatnya dalam alkimia, sepenuhnya ditujukan untuk kesenangan pribadinya. Itulah sebabnya, kemudian sang Iblis Pil lebih condong dan dekat dengan kelompok aliran hitam.


Bibit kristal merah yang dianggap sebagai buah segar tapi keras oleh Lou Shisan adalah salah satu ciptaan Iblis Pil. Sengaja dibuat sebagai bahan obat serbaguna untuk meningkatkan kekuatan seseorang secara instan, namun tentu saja dengan resiko tinggi. Semuanya, lagi-lagi karena kecintaannya dengan kekayaan.


‘Buah’ Kristal itu, di tangan Lou Shisan diramu menjadi minuman arak, tapi di tangan kelompok Telegu Merah justru diubah menjadi Kristal Kekuatan dengan ditanam pada tubuh makhluk hidup. Lalu dipanen dan dijual seharga kristal danyang dan kristal bhakta.


Sang Iblis Pil menolak tegas permintaan saudara seperguruannya, Lou Shisan, untuk menghentikan produksi bibit kristal merah. Tidak hanya itu, permintaan untuk berhenti menjuanya kepada Telegu Merah juga ditolak mentah-mentah.


“Guru, mohon izinkan murid untuk mengambil tindakan terhadap adik Ye. Dan maafkan murid karena terpaksa membangunkan guru dari meditasi..” Lou Shisan, bersama Dana Setra dan Montawiraba berlutut di hadapan sang Dewa Alkimia Besar.


“Jadi, sejauh itu bocah nakal itu telah tersesat..” Xin Long berkata pelan sembari mengelus janggut putihnya yang panjang. “Tapi sepertinya, bilapun aku mengizinkanmu menindaknya, engkau tidak akan mampu. Adikmu itu sudah jauh lebih kuat darimu..” Lelaki tua itu berkata sembari mengelus janggut panjangnya.


“Lebih dari itu, bukankah masalah dalam kantongmu yang lain lebih mendesak untuk diselesaikan?” kata Xin Long sembari menunjuk kantong yang tergantung di pinggang Lou Shisan. Kantong itu, adalah kantong berisi segel sembilan bola arwah dan beberapa segel iblis lainnya.


“Benar, guru. Dan memang waktu kita tidak banyak..” jawab Lou Shisan.

__ADS_1


“Jalan satu-satunya yang mungkin dan terfikirkan di kepalaku saat ini adalah menghancurkan segel-segel ini. Setidaknya, merusak proses penyatuan kembali..” Sang Guru berkata dengan tenang. Lalu mengeluarkan sebuah botol giok berwarna hijau seukuran dua kali telapak manusia.


__ADS_2