
Melihat Junti Jatuh dengan kaki terputus dari tubuhnya, ditambah ketakutan luar biasa karena bahkan tak bisa melihat senjata yang digunakan untuk membuntungi kaki rekannya, Satang Palang memilih untuk melarikan diri selagi bisa.
Sayangnya, pemikirannya untuk melarikan diri tak bisa menyelamatkan nyawanya. Tidak untuk saat ini.
Tepat ketika kakinya bergerak cepat untuk meninggalkan tempat tersebut, sebuah cahaya berbentuk bulan sabit melesat cepat dari angkasa. Seolah muncul dari balik awan tinggi di atas langit.
Mata manusia biasa tidak akan mampu melihat kilatan cahaya berbentuk bulan sabit tersebut.
Satang Palang hanya bisa melotot tak percaya ketika secepat kedipan mata, kilatan cahaya tersebut melewati lehernya. Rasa dingin dan disusul nyeri menyelimuti lehernya. Tangan Satang Palang mencoba meraba lehernya…
Tapi, tangan itu kini tidak lagi bisa digerakkan. Pengawal Centini ini telah kehilangan kontrol atas seluruh tubuhnya. Sedetik kemudian, kepalanya menggelinding begitu saja meninggalkan tubuhnya. Masih dengan mata melotot tak percaya.
Lokajaya, tubuh bocah itu makin gemetar di tempatnya berdiri. Menyaksikan dua tubuh tergeletak tak jauh darinya. Bedanya, tubuh Junti masih bernafas dan masih dalam kondisi sadar, sehingga wanita itu terpekik ngeri melihat rekannya tewas mengenaskan.
“Setan Alas!! Keluar Kau! Hadapi A….” Junti tidak sempat menyelesaikan sumpah serapahnya.
Wanita itu memang mencoba untuk bangkit ketika melihat kepala rekannya menggelinding ke arahnya, sayangnya, sebelum lutut kirinya mampu menopang tubuhnya dengan sempurna, tiba-tiba batuan di belakang tubuhnya menggeliat dan membentuk formasi seperti tombak seolah memiliki nyawa.
Batu berbentuk tombak tajam itu bergerak cepat menusuk punggung Junti, menembus tubuhnya dan keluar dari dadanya.
Remahan batuan dan tanah yang menghunjam tubuhnya membuat darah yang keluar dari tubuh Junti tak sepenuhnya berwarna merah, melainkan terlihat kehitaman.
Wanita itu, mati dengan posisi terduduk, kepalanya menunduk, memandangi batuan tajam yang mencuat keluar dari dadanya membentuk sebuah lubang lebar.
Di atas awan, dua sosok yang terlihat muda tengah melayang tanpa beban. Memandangi kematian sangat cepat yang berlangsung di bawahnya.
“Senior, ini salah..! aku bisa dihukum karena hal ini!” Montawiraba setengah protes kepada seniornya, Dana Setra.
Kematian kedua pendekar pengawal Centini dari Telegu Merah barusan memang akibat serangannya. Tapi, semua harus dilakukan karena perintah langsung dari dana Setra.
__ADS_1
“Alaah.. Kau terlalu khawatir.. Tidak akan ada hukuman untukmu. Aku bisa jamin itu!” Dana Setra menjawab dengan malas nada protes Montawiraba.
Bahkan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Montawiraba, Ksatria Inti Naga Gunung itu melayang turun menghampiri Lokajaya yang wajahnya terlihat lebih pucat.
“Hei, nak.. Tenanglah.. Paman bukan orang jahat. Paman datang untuk menolongmu. Maafkan paman terlambat sehingga tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka..” Dana Setra segera meraih bahu Lokajaya dan mendekapnya. Berusaha menenangkan emosi bocah tersebut.
“Tenanglah.. Paman akan melindungimu dari orang-orang jahat.. kamu aman sekarang“lanjutnya.
Namun, bahkan dengan sikapnya yang sangat lembut tersebut, Lokajaya tetap tak bisa menahan diri untuk tidak menangis ketakutan.
Dana Setra tidak lagi berusaha membujuk bocah itu untuk mempercayainya. Yang bisa dilakukan saat ini adalah memberi rasa aman kepada anak itu. Memeluknya erat, lalu menggendongnya dan segera meninggalkan tempat itu.
Dana Setra kembali melesat ke Angkasa dan menemui Montawiraba. Loka Jaya yang semula menangis sesenggukan dalam dekapan Dana Setra langsung terdiam ketika mereka berada di ketinggian. Di atas awan.
Kelak, pengalamannya terbang setinggi ini adalah motivasi utamanya untuk menjadi lebih kuat.
“Tapi, Senior?!” Montawiraba hendak mengajukan keberatan sekali lagi, tapi melihat mata Dana Setra yang berubah menjadi buruk membuatnya bergidik ngeri.
Bagaimanapun, Danasetra adalah peringkat ke delapan dari Ksatria Inti. Membantahnya, sama dengan melakukan pembangkangan sebagai junior.
Hal itu, bukan hanya akan mengakhiri mimpi Montawiraba untuk menjadi bagian dari Ksatria Inti di masa mendatang, tapi juga membuatnya harus menjalani hukuman dari klannya. Belum lagi, kemarahan Danasetra yang sejak ratusan tahun lalu tingkat keusilannya belum ada yang bisa menandingi di generasinya.
“Sepertinya, sepulangnya ke Marga nanti, aku harus mendisiplinkan Generasi Muda lagi! Kalian terlalu banyak bertanya tanpa mampu berfikir sedikit cerdas!” Kata-kata ini diucapkan Danasetra sambil mengetuk kepala Montawiraba berkali-kali dengan jitakan.
“Fikirkan lagi! Apakah bertentangan dengan dharma sebagai Ksatria jika kau menoong seorang anak kecil tak berdaya yang nyaris terbunuh? Apa kau butuh sebuah persetujuan ataupun perintah dari Reksabumi untuk melakukannya??” Kata-kata itu meluncur deras dari mulut Dana Setra. Montawiraba hanya menggeleng sambil menunduk.
“Dan Hal terpentingnya, Prinsip KSatria Naga Gunung adalah menyelesaikan setiap tugas tanpa gagal. Menghancurkan setiap penghalang hingga tuntas adalah bagian dari kewajiban itu sendiri! Jngan lupa, kau ditugaskan untuk menyampaikan pesan Reksa Bumi kepadaku. Dan, aku belum akan membuka pesan itu sebelum hama-hama telegu merah ini dimusnahkan! Artinya, kau belum menyelesaikan tugasmu sebelum menyingkirkan orang-orang telegu merah yang membuatku belum bisa membuka pesan Reksa Bumi!” Kali ini, tiba-tiba tangan Dana Setra mengabil gulungan pesan yang sebelumnya diserahkan Montawiraba kepadanya.
Yang kemudian dilakukan Danasetra adalah melemparkan gulungan pesan itu ke sebuah titik di bawah sana, tak jauh dari bekas padepokan yang hancur. Gulungan itu jatuh tepat di kaki salah satu pengawal Centini.
__ADS_1
Mata Montawiraba terbelalak tak percaya melihat Dana Setra melemparkan gulungan pesan itu ke arah Centini dan dua pengawalnya. Kepalanya tiba-tiba menjadi sakit. Lalu, tanpa berfikir lebih jauh segera meluncur mengejar gulungan pesan itu.
Kini, dia mengerti ungkapan yang didengarnya dari para Ksatria Tanda, bahwa semakin tinggi kemampuan para Ksatria Naga Gunung, tingkah dan cara berfikir mereka akan semakin aneh dan sulit difahami.
Tak mau menambah kesulitannya, Montawiraba segera melesat, mengejar untuk merebut gulungan pesan tersebut.
Pandak Lima, terkejut mendapati sebuah gulungan pesan bersegel jatuh dari langit. Bukan hanya itu, jatuhnya gulungan pesan bersegel itu ke atas tanah bebatuan juga menyebabkan bebatuan itu hancur menjadi kerikil kecil yang menyebar ke segala arah.
Kaki Pandak Lima sekalipun tak lolos dari tertusuk kerikil yang meluncur laksana peluru menembus kulit kakinya.
“Aaaahk!!” Teriaknya tertahan.
Kerikil biasa seharusnya tak mampu melukainya. Tapi, kecepatan luncur kerikil akibat terhempas gulungan pesan bersegel itu benar-benar di luar nalar. Seandainya gulungan itu mengenai tubuh manusia, hampir pasti manusia itu akan kehilangan nyawa karenanya.
Berbeda dengan Pandak Lima yang meringis kesakitan dan meloncat menjauh, mata pengawal dengan tato bulan di keningnya justru sumringah.
Lelaki itu berfikir, bahwa gulungan itu adalah harta karun yang baru saja terjatuh dari langit. Tak mungkin dilewatkannya begitu saja. Pendekar berotot itu sama sekali mengabaikan ekspresi kesakitan dari rekannya, pandak Lima.
Centini, gadis bercadar merah itu bersikap sebaliknya. Dia menjadi waspada, tengkuknya seketika menjadi dingin dan merasakan bahaya mendekat.
Insting Centini ternyata cukup baik terlepas dari usianya yang masih sangat muda.
Tepat saat tangan pengawalnya, lelaki dengan tato bulan di keningnya itu maju hendak meraih gulungan pesan itu, sebuah sinar berbentuk bulan sabit melesat melewati lengan kanannya.
Sang pemilik lengan segera menarik Lengan itu dengan cepat, mengurungkan niat untuk meraih gulungan bersegel, namun terlambat!
‘Crash!’
Cahaya bebrbentuk bulan sabit itu telah lebih dulu menyentuh dan meninggalkan tanda garis merah di lengan kanannya. Darah menetes dari garis warna merah itu, dan ketika digerakkan, lengan itu jatuh meninggalkan tubuh pengawal bertato bulan sabit.
__ADS_1