
Dalam waktu lima tarikan nafas, cahaya yang melesat cepat itu telah mencapai tempat Abul Ardh berdiri.
Cahaya tersebut mencapai tanah di hadapannya. Menyebabkan sedikit getaran.
Sesosok rupa tampan milik seorang pemuda seumuran dengan Abul Ardh terlihat setelah cahaya itu menghilang. Pemuda asing itu membungkuk hormat kepada Abul Ardh. pakaiannya berupa jubah hitam bergambar pegunungan batu di bagian belakang, menunjukkan bahwa dia adalah pemuda dari Marga Tanah.
“Ksatria Muda dari Naga Gunung, Montawiraba, memberi hormat kepada senior, Sang Ksatria Inti Naga Gunung Ke Delapan, Dana Setra sang Abul Ardh” Pemuda itu berlutut dengan salah satu kaki menyentuh tanah memperkenalkan diri.
Dalam struktur Marga Tanah, Ksatria Naga Gunung adalah pasukan elit terkuat yang dimiliki selain para pelindung Dharma (Sebutan bagi para pendekar sepuh terkuat yang tidak lagi mengurusi kehidupan anggota Marga dan Klan di bawahnya).
Ksatria Naga Gunung sendiri terdiri dari beberapa lapis.
Lapis utama, adalah kelompok elit sesungguhnya. Mereka disebut sebagai Ksatria Inti. Terdiri dari dua puluh lima orang setiap generasi. Mereka merupakan perwakilan pemuda terkuat dari setiap klan. Biasanya, selepas pensiun dari menjadi anggota Ksatria Inti Naga Gunung, mereka akan menjadi para petinggi elit masing-masing klan.
Kelompok ini, dilatih secara khusus oleh para pelindung dharma untuk mempelajari seluruh ilmu tingkat tinggi marga. Termasuk ilmu-ilmu dan pengetahuan terbaru yang diperoleh Marga.
Sebutan Ksatria Naga Gunung Ke Delapan, menunjukkan urutan tingkat kekuatan Abul Ardh dalam Kelompok Ksatria Naga Gunung saat meninggalkan Marganya.
Lapisan kedua adalah murid-murid dari Kstaria Inti Generasi sebelumnya. Dengan kata lain, mereka dibina oleh para mantan Ksatria Inti yang saat ini tengah menjabat sebagai petinggi dan tokoh elit Marga Tanah generasi saat ini.
Mereka adalah kader yang disiapkan untuk menggantikan para Ksatria Inti pada saatnya. Mereka dikenal sebagai Ksatria Tanda. Jumlah Ksatria Tanda bisa lebih dari dua puluh lima orang. Namun, hanya ada dua puluh lima di antaranya yang akan terpilih menjadi Ksatria Inti nantinya.
Di bawah Kstaria Tanda, adalah lapisan ketiga yaitu Ksatria Muda. Mereka adalah para terpilih dari setiap klan dengan kemampuan terbaik. Mereka direkrut khusus melalui sebuah seleksi oleh para Ksatria Inti sebagai calon penerusnya kelak.
Adapun pemuda di hadapan Abul Ardh, adalah Ksatria Muda yang telah menjalani pelatihan khusus di bawah bimbingan Ksatria Inti Generasi Abul Ardh. Meskipun hampir tidak pernah bertatap muka secara langsung, namun prestasi dan pencapaian Dana Setra sendiri membuat namanya menjadi legenda bagi generasi muda Marga Tanah.
__ADS_1
Nama Abul Ardh, adalah gelar yang diberikan oleh manusia gurun di wilayah barat Daratan Benua Tengah. Kehebatannya menghalau pasukan Mislan Katili bersama Tujuh Penjaga Gerbang, bahkan membuatnya dipuja sebagai dewa di wilayah gurun.
“Montawiraba.. Bukankah kau yang waktu itu...?” Dana Setra, sang Abul Ardh nampak mengingat sesuatu.
“Betul, senior!” Jawab Montawiraba tanpa menunggu Dana Setra menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya tertunduk, namun pipinya yang putih bersemu merah. Matanya jelas menunjukkan rasa malu sehingga tidak berani menatap seniornya. Sepertinya ada hal memalukan pada suatu momen yang hendak disebut oleh Dana Setra.
“Sudahlah.. toh gadis itu juga tidak terlalu cantik, bukan?! Dan, hukumanku padamu juga tidak ada yang tahu... Hahahahahaha...” Dana Setra tertawa terbahak-bahak, sementara Montawiraba di hadapannya hanya tertunduk semakin dalam.
“Oh, iya. Ada berita apa, adik? Kenapa penyampaian berita dilakukan oleh seorang Ksatria Naga Gunung? Apakah penghargaan dan rasa hormat terhadap kita sudah demikian merosot? Hah?” Dana Setra segera mengalihkan topik pembicaraan.
Montawiraba segera bangkit dan menyodorkan sebuah gulungan. Ada segel bergambar gunung batu di atasnya, dan hanya bisa dibuka oleh orang yang dituju.
“Hmm.. Apa kau tahu, apa isinya?” Dana Setra tidak langsung membuka gulungan itu.
“Maafkan saya, Senior. Saya tidak tahu apa isinya. Tapi sepertinya itu berkaitan dengan kabar pengangkatan senior sebagai Wakil Kepala Klan Gurun Hitam..” Montawiraba menjawab sesuai perkiraannya saja.
“Baiklah. Ikut aku..!” Tiga kata diucapkan Dana Setra membuat rasa cemas sang junior bertambah kuat.
Tanpa menunggu jawaban Juniornya, Dana Setra segera melesat menuju Selatan. Tak punya pilihan lain, Montawiraba terpaksa mnegikuti keinginan seniornya itu, terbang menuju selatan.
Keduanya segera berubah menjadi dua cahaya putih di kejauhan.
+++++ ++++ +++
Sementara itu, Centini dan Empat pengawalnya baru saja menghancurkan sebuah padepokan kecil. Padepokan tersebut berada di daerah pedalaman bernama Jabung.
__ADS_1
Dua di antara puluhan pendekar di padepokan tersebut berhasil melarikan diri.
Berita mengenai Empat Setan Merah yang berkekuatan tak tertandingi dan melakukan penangkapan besar-besaran terhadap para pendekar telah sampai di telinga keduanya jauh hari sebelumnya.
Karenanya, mereka memilih melarikan diri guna menyelamatkan seorang anak kecil ketika melihat sendiri, bahwa perlawanan dari rekan-rekannya sangat tak berarti di hadapan Empat Setan Merah tersebut.
Dua orang pendekar yang tengah melarikan diri tersebut adalah Nyi Mendahara dan Nyi Pemayung. Keduanya, adalah dua pendekar wanita anggota Bintang Harapan yang sebelunya diberi tugas untuk merawat pangeran Lokajaya, putra mahkota pewaris tahta kerajaan Lamahtang.
Sayangnya, upaya keduanya telah diketahui oleh salah satu pengawal Centini.
Dia adalah pengawal Centini berbadan jangkung dengan luka bekas cakaran di wajahnya. Kekuatannya telah berada pada puncak pendekar Bumi, tinggal selangkah lagi untuk mencapai level pendekar langit.
Melayang tenang, lelaki jangkung berjanggut putih itu tertawa mengejek ketika berhasil menyusul Nyi Mendahara dan Nyi Pemayung, jauh di luar wilayah bukit Jabung.
Kedua pendekar wanita itu menyadari, bahwa tidak akan ada harapan bagi keduanya untuk bisa sekedar bertahan dari orang yang tengah menghadang langkah mereka ini. Tapi, jalan pendekar adalah tentang membela diri, tak peduli kalah ataupun menang,
Nyi Pemayung memberi isyarat pada Nyi Mendahara untuk melanjutkan perjalanan bersama Lokajaya.
Seharusnya, tak lebih dari lima ratus meter di hadapan mereka, lorong terlarang akan bisa menyembunyikan mereka dari para Setan Merah ini. Bahkan jika mereka memiliki mata sakti sekalipun.
“Hah! Manusia rendahan! Apa yang membuatmu percaya untuk bisa menghadapiku sendirian? Hah?! Kalian berdua bergabung sekaliguspun, tidak akan mampu menghadapiku! Hahahahaha....!” Satang Palang, nama pendekar jangkung itu, tertawa terbahak memandangi Nyi Mendahara yang bergegas pergi bersama Lokajaya.
Mata Satang Palang memandang lekat kepada sosok Lokajaya.
Lelaki ini telah hidup tak kurang dari dua ratus tahu, tentu bisa menangkap maksud dari tindakan kedua buruannya tersebut.
__ADS_1
Instingnya menyatakan bahwa anak kecil yang bersama Nyi Mendahara adalah sosok penting untuk dilindungi sehingga salah satu dari kedua wanita itu bermaksud mengorbankan diri.