
Gentayu terpental membentur sebatang pohon kelapa tak jauh dari pertarungan tersebut. Benturan keras tersebut membuat pohon kelapa itu terguncang dan menjatuhkan buah-buahnya ke bawah, ke arah Gentayu. Pemuda itu langsung berdiri setelah benturan keras tersebut dan menyambut runtuhan buah-buah kelapa dengan menendangnya ke arah Gandos yang dilindungi ketiga siluman.
Tentu saja serangan buah-buah kelapa itu tidak berbahaya sehingga Gandos membiarkan dirinya sendiri yang menyambut kelapa-kelapa tersebut dengan tangannya. Buah-buah kelapa yang datang dengan kecepatan sangat tinggi itu hanya disambut dengan kepalan tangan saja. Dan buah-buah kelapa itupun langsung pecah menumpahkan airnya yang menyegarkan saat berbenturan dengan kepalan tangan Pendekar sakti dari padepokan Rambut Iblis tersebut. Itupun dilakukan dengan santainya oleh Gandos yang sebenarnya tengah terluka lumayan parah. Hanya pakaiannya saja yang kemudian basah seetiap kali memecahkan buah kelapa yang terus meluncur ke arahnya.
Satu, dua, tiga, sepuluh, belasan buah terus meluncur ke arah Gandos yang masih saja disambut dengan tangkisan kepalan tangannya. Masih dengan sangat santainya karena memang kelapa-kelapa itu sama sekali tidak membahayakan. Gandos bahkan berfikir bahwa Gentayu saat ini sedang putus asa menghadapi ketiga monsternya. Namun ternyata dugaannya keliru.
Saat tangannya kembali menyambut buah kelapa yang ke dua puluh satu, dia segera menarik tangannya namun terlambat!
Tratak!
Tratak!
Tratak!
BLAR!! BLAR!! BLAR!!
Ledakan energi petir berkekuatan dahsyat terjadi saat tangannya bertemu dengan buah kelapa terakhir. Cahaya terang menyilaukan disertai gelombang kejut yang menghempaskan benda apapun dalam radius tak kurang seratus meter dari ledakan. Benduriang yang sedang menolong Panglima Wiratama pun tak luput ikut terhempas terkena gelombang kejut dahsyat tersebut. Sementara tubuh Gandos tetap mematung di tempatnya. Namun dalam kondisi hangus. Gosong. Menyisakan asap pekat yang menghantarkan bau daging terbakar.
Ternyata, dalam buah kelapa terakhir tersebut Gentayu menyelipkan salah satu Karambuik Halilintarnya yang yang merupakan segel energi petir. Kerambit satunya lagi, sebagai pemanggil petir berada di tangan kirinya. Karambuik halilintar itu melayang setelah meledakkan lawannya dan kembali ke tangan kanan Gentayu.
Ketiga siluman, Sandu, Konga Baye, dan Lembu Ekor Api ternyata juga mengalami dampak ledakan. Tubuh raksasa ketiganya terhempas belasan depa ke segala arah. Ketika berdiri, nampak kepulan asap menghiasi tubuh mereka bertiga. Namun mereka terlihat baik-baik saja.
Gentayu menyiagakan kedua senjata karambit kembarnya. Dia berfikir untuk tidak lagi main-main menghadapi musuhnya karena ternyata menghadapi Sandu sendiri saja merepotkannya sejauh ini. Niatannya untuk menaklukkan ketiganya telah lenyap saat dirinya berhasil dihajar dan terhempas beberapa saat lalu.
Namun yang terjadi justru di luar dugaan. Ketiga makhluk siluman dengan wujud anehnya itu kini malah jatuh dan berlutut dihadapan Gentayu.
“Kami takluk, tuan!” Hanya kata itu yang keluar dari mulut ketiganya serentak. Namun itupun cukup mengejutkan Gentayu.
“Apa?? Kalian bisa bicara?” Gentayu sebenarnya terkejut bukan karena mengetahui mereka bisa bicara. Namun lebih karena tiba-tiba mereka menyatakan takluk. Tapi tentu dia tak boleh menampakkan kegembiraan dan keterkejutannya tersebut.
Ketiganya tidak menjawab pertanyaan Gentayu. Gentayupun sebenarnya tak perlu jawaban karena telah mendengar sendiri ketiganya memang bisa bicara.
“Kenapa kalian tiba-tiba menyatakan takluk padaku? Padahal, awalnya aku ingin mengambil mustika siluman kalian!” Gentayu tentu saja hanya menggertak.
“karena itu sudah menjadi kontrak kami. Bahwa kami hadir ke dunia ini untuk mengabdi kepada siapapun yang mengalahkan tuan kami. Kami akan musnah bila tuan tidak menerima kami sebagai budak..” Konga Baye, makhluk bermoncong buaya memberi sedikit penjelasan dengan penuh harap.
__ADS_1
“Kenapa aku harus menerima kalian? Merepotkan saja. Makan kalian pasti banyak..” Gentayu Berakting seolah-olah tidak menginginkan ketiganya.
Hal itu ternyata membuat ketiga siluman semakin ketakutan.
“Tuan, terima kami! Kami tidak akan merepotkan! Kami akan melaksanakan semua perintah tuan. Kami Janji! Dan yang pasti, kekuatan kami dapat diandalkan! Kami hanya akan makan dari musuh-musuh tuan! Tuan akan beruntung memiliki kami sebagai pengawal!” Lembu ekor api membujuk.
“Berjanjilah bahwa kalian akan hanya berpihak kepada kebenarandan keadilan serta menentang segala kejahatan sepeninggalku. Baru aku akan menerima kalian!” Gentayu memberi syaratnya.
“Tapi, tapi.. kami ditakdirkan untuk hanya mengabdi dan tunduk pada yang akan mengalahkan tuan kami.. tidak peduli dia, dia baik atau jahat..” Kembali Konga Baye memberi alasan.
“Aku akan menghapus takdir itu dari kalian dan kalian akan bebas sepeninggalku. Dengan syarat kalian setia kepadaku, dan berpihak hanya kebenaran. Sebagai jaminannya, kalian mengikat kontrak mati kepadaku..” Gentayu mempertegas syaratnya.
“Kontrak mati?” Mereka bertiga saling berpandangan.
Kontrak mati adalah istilah yang digunakan untuk ikatan kontrak antara manusia dan makhluk sejenis siluman, demon/iblis dan sejenisnya termasuk beberapa jenis hewan yang dianggap hewan dewa atau hewan suci dimana makhluk-makhluk tersebut akan ikut mati saat manusia yang mengikat kontrak dengan mereka mati terbunuh. Sebaliknya, manusia yang memiliki kontrak dengan makhluk tersebut dapat dengan mudah memusnahkan makhluk tersebut, bahkan hanya melalui fikiran sekalipun. Dengan begitu, para makhluk tersebut akan menjaga tuannya sebagaimana menjaga nyawa mereka sendiri.
Ketiga siluman tersebut tentu saja memahami makna kontrak mati tersebut. Dan serentak mereka menganggukkan kepala sebelum masing-masing menggores bagian tubuh mereka dengan cakar, belati dan taring untuk mendapatkan setetes darah murni mereka. Darah ketiga makhluk ini ternyata memiliki warna dan bentuk yang unik. Sama sekali berbeda dengan darah hewan. Konga Baye memiliki darah kental berwarna hijau sekental agar-agar yang agak cair. Sandu justru darahnya lebih mirip cairan getah pohon karet yang putih, kental dan sedikit berminyak. Sedangkan Lembu Ekor Api darahnya tetap berwarna merah, namun bentuknya hanya berupa asap yang segera menghilang bila terkena udara dalam waktu tertentu. Ketiganya tidak berbau amis seperti darah umumnya.
Setelah menyerap darah ketiganya, Gentayu merasakan ledakan energi dalam dirinya. Diapun merasakan otot-ototnya seperti mengalami pertambahan massa, serta tulangnya yang semakin kokoh. Luka-luka lama yang masih tersisa, semua menghilang begitu saja. Ternyata darah salah satu dari ketiganya memiliki efek regenerasi yang baik.
“Paman, apa yang terjadi?” Gentayu menjadi sedikit panik melihat ayah angkatnya terkulai lemas di pangkuan Benduriang.
Rupanya, luka yang diterima Wiratama dari ketiga lawannya cukup parah. Sangat parah bahkan, karena sampai membuat panglima perkasa itu pingsan dan tak mampu menggerakkan badannya. Nafasnya juga terus melemah.
“Nak.. kejar.. kejar.. tolonglah.. raja..” Wiratama memberi petunjuk kepada Gentayu dengan nafas yang tinggal satu-satu.
Tentu saja Gentayu menolak.
Dia bersikeras untuk tetap mendampingi dan akan berusaha memulihkan ayah angkatnya. Namun saat dia hendak menyalurkan hawa murni ke tubuh ayah angkatnya tersebut, wajah Gentayu dan Benduriang menjadi lebih panik dari sebelumnya.
“Tuan Panglima.. Bangun Tuan Panglima..!!” Benduriang berusaha menggoncang-goncangkan tubuh atasannya tersebut.
“Ayah.. bertahanlah ayah! Aku pasti menyembuhkanmu!” Gentayu, meskipun dengan putus asa menyadari nafas ayah angkatnya yang sudah mulai berhenti, perlahan menyalurkan hawa murninya ke tubuh ayah angkatnya.
Namun sia-sia, panglima perkasa itu telah wafat. Beberapa bekas luka di tubuhnya nampak menimbulkan bekas membiru kehijauan, tanda bahwa semua luka tersebut mengandung racun. Sebagian luka tersebut bahkan telah menghitam dan mulai membusuk.
__ADS_1
“Tidaaaaak...!! Ayaaaah...!!” Kini Gentayu yang histeris menggoncang-goncangkan tubuh ayah angkatnya. Namun pemilik tubuh itu nyata telah tiada.
“Jenazah tuan panglima biarkan aku yang mengurusnya. Kau selamatkanlah raja dan keluarganya. Seseorang bernama Mpu Jangger mengejar mereka ke arah hutan rawa..” Benduriang mengingatkan Gentayu bahwa ada orang lain tak kalah penting untuk diselamatkan.
Hari ini, Lamahtang kehilangan satu lagi pahlawan yang telah membaktikan diri dengan sepenuh hati hingga akhir hayatnya. Kematian yang bahkan jauh dari hiruk-pikuk penghormatan layaknya pahlawan perang.
Gentayu bangkit berdiri, menajamkan indera pendengarannya untuk mendengarkan suara pertarungan. Tidak, tepatnya itu adalah suara pembantaian yang terdengar olehnya di didi delatan kampung raja ini.
*Nb. *Maafkan saya yang baru bisa update lagi.
Ada gelaran event nasional di tempat kerja yang mengharuskan saya lembur sebagai ketua pelaksananya hingga terlewat untuk update.
Tanpa mengurangi penghargaanku terhadap para pembaca sekalian, saya ucapkan terima kasih atas Vote, like, komen dan rate -5- nya.
Minggu ini, Jaga Buana untuk pertamakalinya mampu bertengger di ranking pada angka 100 besar jumlah vote yang masuk. Sayangnya, sampai skrg terus merosot. Gak masalah sih yaa..
Mari kita nikmati saja novel ini apa adanya.
Tanpa pusing ranking, vote, dan embel2 lain sekalipun tiap penulis pasti mengharapkannya.
kalau mau vote, terimakasih.
gak vote, Juga terimaskasih krn sudah mampir.
yg like terimakasih.
yg sekedar komen spam iklan, terimakasih juga
yg vote, itu penyemangat tambahan saya 😁
Tapi, menulis itu hobby.
Ranking Vote itu rezeky
Yang Setuju, like..😂**
__ADS_1