JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sekte Tujuh Tirai


__ADS_3

Gentayu merasakan tubuhnya terhisap ke dalam sebuah Lorong cahaya dengan kecepatan yang tidak masuk akal membuatnya kesulitan untuk bernafas. DIa merasakan, seolah-olah darahnya tertinggal dibelakang tubuhnya yang melaju sangat cepat dalam Lorong cahaya tersebut. Saat kesadarannya hampir hilang karena kesulitan bernafas dan darah yang seolah tidak lagi mengaliri setiap selnya, tiba-tiba Gentayu merasakan tubuhnya dilemparkan begitu saja menuju ujung Lorong cahaya tersebut.


‘Brugh!’


Tubuhnya terhempas dan mendarat kasar di atas semak-semak. Gentayu berfikir dirinya mungkin sudah tewas, sebelum sebuah suara menyapanya


“Syukurlah, kau selamat” Suara seorang wanita menyapanya dekat sekali dengan telinganya.


Gentayu menoleh dengan sangat kaget sampai dia beringsut mundur dalam posisi duduk saat melihat wajah seorang wanita yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya.


“Kagetnya biasa saja! Jangan melihatku seolah melihat hantu begitu!” protes pemilik suara itu melihat ekspresi Gentayu saat melihatnya. Bagaimanapun, perempuan itu pernah menjadi gadis tercantik di masa mudanya di sekte tersebut.


“Oh, Nona Lim.. Maaf..” hanya itu kata yang berhasil keluar dari mulut Gentayu untuk menutupi gugupnya.


“Cepat, kalian bereskan pusaka itu sebelum digunakan oleh para penyerang untuk menemukan tempat ini!” Perintahnya kepada kedua tetua dan beberapa pendekar senior di sekitar tempat tersebut.


Dengan sigap, salah satu pendekar yang berada tak jauh dari pusaka tersebut melakukan perintah matriark mereka. Tidak sesulit sewaktu mempersiapkannya, proses merapihkan dan mengemas pusaka itu bahkan sepertinya bisa dilakukan oleh manusia biasa. Pendekar tersebut hanya perlu mengambil ‘Pasagi Kubuk’ milik Gentayu yang terpasang pada salah satu bagian dari cermin, lalu cahaya kecil pada pusaka milik Gentayu itu di arahkan pada cermin. Cermin itu. Secara ajaib, cermin itu segera menyusut mengecil kemudian seperti terhisap dan masuk ke dalam ‘pasagi kubuk’. Sedangkan Plasma Rakurai sendiri yang sepertinya menjadi bahan bakar dari pusaka cermin seketika meredup cahayanya dan padam dengan sendirinya. Hanya asap putih yang masih mengepul dari pusaka berbentuk cahaya tersebut, menandakan betapa panasnya suhu pada pusaka tersebut sebelumnya. Rerumputan berikut tanah disekitarnya telah gosong hingga radius lebih dari tiga meter. Tetua berjanggut putih segera mengambil alih penanganan terhadap plasma Rakurai tersebut. Pendekar senior tersebut mengeluarkan hawa dingin yang membekukan udara di sekitarnya sebelum mengambl pesagi kubuk dan lagi-lagi, keajaiaban terjadi. Pasagi Kubuk tersebut seolah menghisap plasma Rakurai berikut tabungnya dan segera lenyap seolah tak pernah ada.


Setelah itu, Pasagi Kubuk diserahkannya kepada matriark Lim.


Gentayu memperhatikan sekelilingnya. Sejauh mata memandang, terhampar padang rumput yang menghijau. Para anggota sekte Naga merah Sebagian besar sedang bergerombol Bersama rekan atau keluarga mereka. Tidak ada yang bersuara. Semua diam menunggu instruksi selanjutnya dari matriark mereka. Tempat yang sangat indah, sebenarnya. Sebuah lembah hijau berpagar pegunungan yang terlihat berwarna biru dari kejauhan. Tak jauh dari tempat mereka berkumpul, sebuah sungai dengan air yang sangat jernih mengalir cukup tenang menembus bebatuan yang menciptakan riak-riak kecil disela-selanya.


“Tuan Gentayu, terimakasih atas pertolongannya. Ini, pusaka anda kami kembalikan..” Suara matriark Lim membuyarkan lamunan Gentayu yang sedang asyik menyaksikan suasana sekelilingnya. Dia bahkan tengah berangan-angan untuk tinggal di tempat tersebut Bersama seluruh anggota sekte Naga Merah.


“Oh.. Nona Lim.. bukankah seharusnya pusaka ini milik kalian?” Gentayu justru kaget mengetahui matriark Lim bermaksud mengembalikan pusakanya. Sedangkan sebelumnya, matriark Lim menyatakan bahwa pusaka di tangannya adalah bagian dari Pusaka Cermin yang mereka miliki.

__ADS_1


“Mmmm.. sebenarnya begini, tuan Gentayu. Aku akan menceritakan sebuah kebenaran, tepatnya sebuah rahasia dari sekte kami, Naga Merah..” Matriark Lim mengajak Gentayu menyingkir dari tempat tersebut menuju sebatang pohon yang cukup rindang tak jauh dari situ. Dua orang anggota sekte yang sepertinya baru saja duduk di bawah pohon tersebut segera beranjak menyingkir setelah mendapatkan isyarat dari pemimpin mereka untuk meninggalkan tempat tersebut.


Setelah tiba di bawah pohon rindang tersebut, ekspresi matriark Lim berubah menjadi sangat serius. Sepertinya hal yang ingin disampaikan adalah sesuatu yang sangat penting.


“Pusaka cermin berikut Plasma Rakurai tersebut adalah titipan dari leluhur kami untuk seorang pewaris yang diramalkan akan datang dengan membawa ‘pasagi Kubuk’. Engkaulah pewaris itu, Tuan Gentayu..”Matriark Lim menjelaskan singkat.


“Tapi, mana mungkin aku pewaris pusaka ini?”


“Kedatanganmu dengan Pasagi Kubuk lengkap dengan kuncinya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikannya” Matriark Lim menjawab seadanya. Sepertinya kelelahan membuatnya malas berkata-kata lebih banyak lagi.


“Tapi, tapi.. Nona, bagaimana kalau seandainya aku bukanlah orang yang dimaksud sebagai pewaris itu? Bukankah bisa saja seseorang mendapatkan Pasagi kubuk ini..” Gentayu tak sempat menyelesaikan kalimatnya karena dipotong oleh matriark Lim.


“Kalau bukan pewaris, pasti tubuhmu sudah meleleh saat ini…” Matriark Lim mengambil Pasagi Kubuk dari tangan Gentayu dan melemparkannya ke rerumputan. Sedetik kemudian radius dua meter dari tempat jatuhnya benda tersebut sudah hangus.


“Tuan fikir, siapa orangnya yang cukup gila untuk menggendong Plasma itu sendirian? Awalnya, aku sendiri berfikir bahwa akan dibutuhkan tiga orang lebih untuk memindahkannya. Dua orang harus mengangkatnya dan satu orang harus mendinginkannya, dan aku berfikir awalnya tetua Yuan yang akan melakukannya…” Matriark berkata sambal melangkah mendekati pasagi yang dia lemparkan barusan.


Wanita itu segera berbalik meninggalkan Gentayu. Berjalan beberapa Langkah kemudian berhenti dan menoleh.


“Terimakasih sekali lagi atas bantuanmu kepada Sekte kami. Oh ya, dengan pasagi itu, kau bahkan tidak perlu repot mengeluarkan cermin besar itu dari dalam benda tersebut. Cukup alirkan sedikit tenaga dalam, lalu saat sudah bersinar segera sebutkan tempat yang ingin kau tuju. Kesanalah engkau akan dihantarkan. Tapi, itu hanya bisa dilakukan tiga kali dalam setahun. Selanjutnya, kau harus menunggu tahun berikutnya untuk bisa menggunakannya. Tapi, fungsinya sebagai senjata tetap bisa digunakan selamanya...” Matriark Lim menutup penjelasannya sambil melangkah pergi meninggalkan Gentayu yang kini hanya terpaku sambil melongo menyadari banyak hal yang kini seolah menjadi anugerah sekaligus tanggungjawab baru baginya.


“Tunggu, Nona...!” Gentayu baru beranjak setelah Matriark Lim beserta seluruh anggota sektenya mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut.


Tentu saja Matriark Lim tidak mendengar panggilannya karena jarak mereka yang telah sangat jauh. Akhirnya Gentayu menyusul rombongan besar tersebut dengan setengah berlari. Gentayu akhirnya berhasil menyusul matriark Lim setelah rombongan tersebut menyeberangi sungai.


“ Kukira, kau sudah buru-buru akan pergi..” Tetua Dewu menepuk pundak Gentayu yang baru saja sampai di barisan depan rombongan tersebut.

__ADS_1


“Maafkan saya tetua, tapi tetua masih memiliki hutang beberapa penjelasan kepada saya..” Jawab Gentayu dengan sopan sambil tersenyum.


“Jadi, apa kau berniat tinggal beberapa hari bersama kami? Kami butuh beberapa hari untuk membangun gubuk-gubuk untuk markas sementara sekte kami..” tetua Yuan, sang tetua berjanggut putih menyambung pembicaraan tak lama kemudian.


“Kufikir begitu, kalau kalian tidak keberatan..” Gentayu meminta persetujuan.


“Tentu saja kami tidak keberatan, tuan. Kami akan sangat merasa senang jika tuan bersedia tinggal lebih lama di tempat kami. Kami justru khwatair kondisi kami yang sekarang justru akan menghambat perjalananmu..” Matriark Lim yang menyimak sedari tadi menjawab. Barangkali maksudnya untuk mewakili seluruh anggota sektenya.


“Ehem.. baiklah. Terimakasih sudah menerimaku. Bolehkah aku minta, kalian tidak memanggilku ‘tuan’ lagi? Jujur saja, aku merasa risih. Kenapa kalian tidak memanggil namaku saja. Genta?!” Gentayu akhirnya menyuarakan ketidaknyamanannya dengan panggilan yang diterimanya dari para petinggi sekte.


Tetua Yuan, Tetua Wu dan Matriark Lim saling pandang sebelum mereka mengangguk setuju.


Perjalanan rombongan itu akhirnya berhenti menjelang sore. Mereka memutuskan membangun ulang sekte mereka di sebuah pedalaman hutan yang dikelilingi tebing-tebing tinggi dan curam. Tepat di tengah-tengah lokasi mereka membangun sekte tersebut, terdapat sebuah danau yang airnya berasal dari beberapa sungai kecil disekitar hutan tersebut dan membentuk tujuh air terjun beragam ukuran di sisi-sisi tebing.


“Kita, akan membangun kembali sekte kita di sini! Kita hilangkan identitas lama kita, Naga Merah! Mulai hari ini, sekte kita akan dikenal sebagai ‘Sekte Tujuh Tirai” Matriark Lim berseru kepada seluruh anggota sektenya sebelum mereka beristirahat malam itu.


Mulai saat itu, sekte Naga Merah berubah nama dan identitas.


Sekte ini terbilang sekte kecil yang diburu oleh banyak kelompok aliran hitam karena sepak terjangnya semenjak didirikan beberapa ratus tahun lalu. Sebuah kelompok yang sangat aktif memerangi kelompok-kelompok aliran hitam yang mengacau dunia dan menebarkan kesesatan.


Sayangnya, dalam beberapa puluh tahun terakhir kondisi sekte ini terus menurun. Diawali dengan pengkhianatan beberapa senior sekte yang ternyata adalah mata-mata musuh dan sekarang menjadi kaki tangan pejabat korup di kerajaan. Merekalah otak sebenarnya di balik dijadikannya sekte Naga Merah sebagai sasaran penyerangan. Seluruh anggota aliansi kelompok aliran hitam sebenarnya tidak mengetahui keberadaan dan kiprah sekte ini, sampai bocornya informasi-informasi penting terkait sekte ini terkuak keluar.


Akhirnya, kelompok aliran hitam menyadari, bahwa kelompok Naga Merah selama ini bergerak di bawah tanah dan dicurigai menjadi sebab hancurnya banyak kelompok aliran hitam selama ini tanpa mereka sadari.


**Nb. Mohon maaf baru bisa rilis update lagi. Selama seminggu ini, sedang lumayan banyak yang harus diselesaikan segera. Mudah-mudahan setelah ini bisa kembali normal rilis updatenya.

__ADS_1


Tetap dukung dengan kasih Like, kritik dan sarannya yaa. ..


semoga, kita semua tetap sehat dan bisa melalui masa-masa kritis ini dengan selamat**


__ADS_2