
Di Pusat kerajaan Lamahtang.
Pagi itu, Mpu Jangger di kediamannya tampak gelisah. Berkali-kali pendekar bergelar pertapa sesat ini tampak mondar mandir di halaman kediamannya. Beberapa prajurit yang menyapanya saat melintas sempat menjadi sasaran kemarahan Mahapatih tersebut.
Ini adalah hari ke sebelas dari hari dikirimkannya tiga teliksandi wanita untuk mengumpulkan informasi dari Kadipaten Tulang Mesuji. Namun, mereka tak juga kunjung kembali membawa berita. Bahkan sepuluh prajurit pilihan yang mengawalnya juga tak kunjung kembali di hari ke sepuluh seperti yang diperintahkan.
Tak lama kemudian, seorang pria tampan bermata sipit terlihat memasuki gerbang kepatihan. Para penjaga gerbang yang melihatnya menunduk hormat, menujukkan bahwa pemuda tampan tersebut memiliki kedudukan yang tidak biasa. Dialah Qiao Shen, senopati termuda yang membawahi urusan teliksandi kerajaan Lamahtang saat ini.
Murid kesayangan Karang Setan bergelar ‘Setan Tanpa Wajah’ itu menunduk hormat di hadapan Mpu Jangger yang memang telah menunggunya. Mahapatih itu ingin mendengarkan kabar baik dari senopatinya tersebut.
“Bagaimana, Shen? Apakah sudah ada kabar dari anak buahmu?” Mpu Jangger langsung pada pokok permasalahan. Tanpa basa basi membuat pemuda di depannya sedikit menelan ludah. Namun akhirnya pemuda itu memberanikan diri bersuara.
“Ampun, Gusti. Hingga saat ini, belum ada kabar apapun dari mereka..” jawab Qiao Shen sedikit takut karena hafal betul dengan karakter pemarah atasannya ini. Bersiap dengan kemungkinan terburuk yang akan diterimanya.
Hawa di ruangan itu tiba-tiba menjadi menghangat. Lalu perlahan-lahan menjadi panas, dan semakin panas. Qiao Shen memahami bahwa Mahapatih di hadapannya sedang sangat marah.
Bersiap dengan amukan amarah yang bakal diterimanya, Qiao Shen bermaksud mempersiapkan perisai energi untuk mempertahankan diri. Namun hal itu diurungkannya mengingat pria paruh baya dihadapannya ini adalah atasannya. Melawannya hanya akan membuatnya berada dalam masalah yang lebih besar.
Akhirnya yang ditakutkan benar-benar terjadi.
Tanpa aba-aba, Mpu Jangger menghantam tubuh senopati muda dihadapannya.
‘BLAR!!’
Qiao Shen terlempar dari tempatnya berdiri dan menabrak dinding salah satu sudut ruangan dan jebol!
__ADS_1
Lelaki itu jatuh dengan kasar di pelataran kepatihan. Kini terdapat sebuah lubang besar di dinding bangunan yang dilewati tubuhnya barusan. Sambil memegangi dadanya yang sesak, Qiao Shen mencoba bangkit. Darah kental memenuhi mulutnya dan merembes mengalir dari sudut bibirnya. Darah itu bukan berasal dari bibirnya yang pecah, namun dari bagian dalam tubuhnya. Senopati muda itu terbatuk, lalu disekanya darah itu dengan lengan bajunya.
“Aku tidak pernah menyukai berita kegagalan! Kau dengar itu??!” Kata Mpu Jangger sambil tangan kanannya mencekik leher Qiao Shen dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tampaknya lelaki itu tak ingin melepaskannya.
“Hkk.. hampunhk..hehhkkk.. Gus.. htihk..” Kata-kata yang tak sempurna akibat tercekik keluar dari kerongkongan senopati muda itu.
“Ingat! Kalau bukan karena kau adalah murid kesayangan Paman Karang, nyawamu mungkin tak akan selamat!” Katanya seraya melemparkan tubuh Qiao Shen ke tengah pelataran.
‘Brugh!’
Tubuhnya terhempas ke atas tanah. Lelaki tampan itu muntah darah tak lama kemudian. Nafasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Tentu saja karena Mahapatih itu memang menghantamnya dengan salah satu pukuan tenaga dalamnya. Walaupun bukan pukulan terbaiknya, tapi Qiao Shen menerimanya tanpa mempersiapkan dirinya.
“Panggil Seluruh Ketua Perguruan dan Guru Besar. Temui aku di sini nanti sore!” Perintahnya kepada senopati yang telah bangkit kembali dengan terhuyung-huyung itu. Mpu Jangger tak mempedulikan lagi keadaan Qiao Shen dan segera berlalu. Komplek Istana Utama adalah tujuannya. Dia ingin membicarakan sesuatu kepada Karang Setan, orang yang sebenarnya lebih berkuasa dibanding Raja Tulung Selangit yang sekedar boneka bagi mereka.
+++ +++ ++ ++ ++ +++
Mereka telah berjalan hampir seharian. Perut mereka belum sama sekali terisi. Mereka terus berjalan meskipun meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang mengejar mereka saat ini hingga akhirnya mereka harus berhenti di tepi sebuah sungai besar yang tak mungkin diseberangi tanpa perahu.
“Kita istirahat dulu. Berjalan tanpa tujuan seperti ini menyebalkan sekali!” Kata Panunggul Sewu.
Pemuda berjubah perak berumur dua lima tahunan itu memandang muka air sungai yang luas membentang. Tepi sungai di seberang sana nyaris tak terlihat. Hari sudah sore saat mereka berhenti.
Sementara adiknya, Pandan Wungu tak bicara apapun. Wajahnya yang sebenarnya sangat cantik itu tampak menyiratkan kekesalan yang bertumpuk. Bibirnya cemberut, pipinya menggembung, nafasnya memburu karena dorongan rasa kesal dan kecewa.
“Semua ini gara-gara segel sialan itu!!” Umpatnya kesal sesaat kemudian.
__ADS_1
“Sudahlah.. kita terima nasib sajalah. Kita pulangpun percuma. Ayahanda tidak akan mengampuni kita kali ini...” Sang kakak tampak lelah di wajahnya. Lalu bersandar pada salah satu pohon di dekatnya. Wajahnya mendongak menatap langit.
“Saat ini, aku merindukan mendiang ibu, kakang..” Kata Pandan Wungu lirih. Matanya mulai berair.
“Seandainya ibu masih ada, beliau pasti tidak akan memaksaku menjadi seorang pendekar seperti sekarang.. hik..hik..” gadis itu kini mulai menangis. Duduk di lantai hutan yang dipenuhi dedaunan kering yang mulai membusuk sambil memegangi lututnya. Dalam kondisi mereka saat ini, orang yang melihatnya akan mengira bahwa mereka bukanlah pendekar.
“Sudahlah, adik. Kita jalani saja takdir kita saat ini. Menyesali diri dan meratapi nasib tidak ada gunanya. Kakang akan menjagamu menggantikan ibu kita. Tapi saat ini, kita tak akan bisa pulang sebelum membawa kembali segel terkutuk itu..” kata Panunggul sewu mencoba menguatkan adiknya.
“Tapi, kakang.. aku benar-benar tak ingin hidup seperti ini.. bertarung, membunuh, diperintah..” protes adiknya. Air mata telah sepenuhnya membanjiri pipinya.
Selama ini, gadis itu memang tidak pernah tertarik menjadi seorang pendekar. Gadis itu tidak menyukai dunia yang keras. Ibu kandungnya, Nyi Gandasih adalah seorang pendekar perempuan yang hatinya lembut. Watak ibunya inilah yang diwarisi oleh Panunggul Sewu dan Pandan Wungu.
Meskipun menjadi istri dari tokoh aliran hitam, sejatinya Nyi Gandasih adalah pendekar dari aliran putih. Demi menyelamatkan harta milik keluarga berupa sebuah kitab sakti sekaligus menyelamatkan penduduk desanya dari pembantaian, dirinya terpaksa menerima pinangan Ki Renggolo.
Anggota sembilan Iblis Darah awalnya bermaksud membumi hanguskan desanya untuk menemukan sebuah sumur keramat yang dipercaya menjadi tempat tersimpannya kitab sakti tersebut. Nyi Gandasih bertarung mati-matian untuk melawan upaya bumi hangus yang artinya pembantaian penduduk itu.
Melihat kecantikan Nyi Gandasih, hati Ki Renggolo akhirnya terpikat saat mereka berhadapan. Dengan iming-iming akan membebaskan warga desanya, akhirnya ki Renggolo berhasil mendapatkan Nyi Gandasih. Desa itu tetap aman hingga kini. Di desa itu pulalah Panunggul Sewu dan PandanWungu lahir dan dibesarkan.
Sebenarnya selama ini tanpa sepengetahuan Nyi Gandasih, upaya pencarian Kitab tersebut terus dilakukan di desa itu. Berbagai cara dan kesaktian telah dikerahkan, namun hasilnya tetap nihil. Hingga akhirnya Ki Renggolo dan kedelapan rekannya yang lain menyimpulkan bahwa keberadaan kitab itu di desa tersebut hanyalah mitos.
Nyi Gandasih membesarkan kedua anaknya dengan penuh kasih sayang. Sekalipun perkawinannya dengan Ki Renggolo sama sekali tanpa didasari cinta. Hingga pada diri anak-anaknya terbentuk karakter yang jauh berbeda dengan karakter pendekar dari aliran hitam.
Kedatangan Panunggul Sewu untuk pertamakali ke bekas Sekte Naga Merah beberapa waktu lalu juga didorong kasih sayangnya kepada adik satu-satunya tersebut. Pandan Wungu saat itu terpaksa harus dihukum karena dianggap lalai menjaga segel iblis. Panunggul Sewu lalu bertindak untuk merebut kembali segel tersebut dan membebaskan adiknya dari hukuman.
Kedatangannya yang kedua kali inipun dalam rangka menebus diri adiknya dari hukuman. Sebulan lalu Pandan Wungu melarikan diri dari padepokan Nyi Tapak Walik untuk mempelajari ilmu Rawa Rontek sebagai hukumannya. Sang Kakak terpaksa mengikuti adiknya, berusaha mendapatkan kembali segel dari sekte Naga Merah agar ayah mereka melepaskan Pandan Wungu dari hukuman.
__ADS_1
Mereka ingin kabur sepenuhnya dari ayah mereka, namun perasaan mereka sebagai anak mencegah mereka melakukannya.