JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
ARC III : Adipati Gunung Padang


__ADS_3

Manik Baya


“Ah, Guru Manik.. Selamat datang di Giri Kencana… kenapa tidak memberi kabar, guru..? setidaknya kami menyiapkan penyambutan guru di pintu gerbang..” Pria dengan pengawalan belasan prajurit itu membungkuk hormat di hadapan kakek cempreng. Ternyata dugaan Gentayu benar, kakek cempreng ini bernama Manik Baya.


“Ah, nanda Adipati Girinata tak perlu sungkan. Aku dan muridku ini berencana menghadap Baginda Prabu esok hari. Bisakah nanda mengatur pertemuanku dengan Yang Mulia esok hari?” Manik Baya menepuk punggung tangan adipati Girinata yang menunduk dan mencium tangan lelaki tua itu penuh hormat.


“Murid guru? Apakah ini adalah Adipati Gunung Padang yang terkenal itu?” Gentayu sedikit mengerutkan kening ketika dirinya dikenali oleh adipati Girinata sebagai seorang adipati. Jelas dirinya tak menyangka bahwa saat ini dirinya tengah diserupakan oleh kakek Manik Baya sebagai adipati Gunung Padang.


perasaan Gentayu menjadi kurang nyaman. Tapi dia segera menutupinya dengan cerdas. “Ah, tuan adipati Girinata terlalu memuji. Seterkenal itukah aku?” katanya seraya maju dan menyalami adipati Girinata.


Pengalamannya sebelumnya sebagai punggawa Lamahtang ternyata sangat membantunya menyesuaikan diri dalam kondisi tak terduga seperti ini.


Melihat kepiawaian Gentayu, manik Baya segera menepuk-nepuk bahu Gentayu. Hantinya benar-benar memuji kecepatan berfikir pemuda di hadapannya tersebut.


“Nanda adipati, sepertinya basa-basinya bisa kita tunda. Bagaimana kalau engkau mengundang kami makan di rumah makan di sudut jalan itu? Aku dengar, asinan dan gulai kuda di sana nikmat sekali, nanda..” ucap Manik Baya kemudian.


Demikianlah. Akhirnya sejak saat itu Gentayu harus mengikuti Manik Baya dengan identitas barunya sebagai Adipati Gunung Padang.


Tak ada informasi apapun sebagai bekal Gentayu dalam memainkan peran sebagai adipati Gunung Padang ini. Yang dia tahu adalah, Manik Baya akan menyelamatkannya ketika segala sesuatunya berubah memburuk atau membahayakan.


Mereka bertiga, dengan dikawal para prajurit akhirnya makan bersama di sebuah kedai makan cukup mewah di sekitar tempat itu. Benar saja, sesuai ucapan Manik Baya, rumah makan itu memang menyediakan anea makanan dan minuman berkelas khas para bangsawan.


Ini adalah kali pertama Gentayu kembali menyantap makanan enak setelah perang antara aliran hitam dan aliran putih di Lamahtang sebelumnya. Rasanya, sudah sangat lama dirinya tidak hidup layanya manusia berperadaban.


Setelah kenyang dengan santapan lezat dan kudapan serta minuman yang dihidangkan, sesuatu menjengkelkan lainnya dilakukan oleh Manik baya.


“Nak..” Katanya sembari menepuk bahu Gentayu “Jangan lupa, kali ini kamu yang bayar makanan ini. Guru tidak membawa banyak bekal..”


Gentayu hampir tersedak tulang ikan yang tengah disantapnya.


Membayar biaya makan mereka? Sepeserpun dia tidak memiliki uang saat ini, bagaimana kakek sialan ini tidak berhenti membuatnya terlibat dalam masalah?

__ADS_1


“Oh, tidak perlu repot, guru. Sudah kewajiban kami selaku tuan rumah yang menjamu guru dan adipati Gunung Padang..” Untungnya, Adipati Girinata segera mengambil alih pembicaraan.


Cukup membuat tenang Gentayu, sekaligus dia berharap bahwa adipati ini tidak menyadari perubahan ekspresinya barusan.


“Ah, bukan masalah siapa tamu dan siapa tuan rumah. Muridku ini, tadi saat dijalanan berhasil menghancurkan markas perampok dan menyita cukup banyak emas mereka. Sepertinya, dia juga ingin berbagi…” Manik Baya seolah ingin menguji batas kesabaran Gentayu. Tapi, kemudian Gentayu menyadari sesuatu.


Pada kantung bajunya yang berupa rompi itu rasanya bertambah berat. Gentayu merabanya dan menemukan banyak kepingan uang di dalamnya. Wajah Gentayu menjadi merah dan serba salah. Lalu menoleh ke arah Manik Baya, seolah meminta penjelasan. Tapi, tentu tak akan ada penjeasan apapun yang bisa diperolehnya.


“Sudah, bayar sana..!” perintah Manik Baya selanjutnya. Tak menunggu lama, Gentayu segera beranjak untuk membayar tagihan makan mereka.


Sejak itu, Gentayu tidak lagi meragukan Manik baya si Kakek Cempreng tersebut. Identitasnya terlalu misterius baginya.


++++++++


Kerajaan Giri Kencana, sebuah kerajaan besar di tatar Sunda Besar.


Kerajaan ini dipimpin oleh raja yang sangat cakap dalam memimpin serta menguasai beragam bidang keilmuan, berna Raja Jayadilaga.


Tak sedikit di antara para raja di tatar Sunda Besar ini yang kemudian berusaha menjalin hubungan lebih erat dengan Giri Kencana. Baik melalui usaha dagang, kerjasama militer maupun pernikahan.


Raja Jayadilaga memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Luh Cendrawani. Kecantikannya tak berbanding dengan gadis bangsawan manapun di seluruh kerajaan. Bahkan, jika harus dibandingkan dengan seluruh wilayah tatar sunda besar sekalipun, tak banyak yang mampu menyaingi kecantikannya.


Kecantikan putri raja yang tersohor itu kemudian menarik minat para pangeran untuk datang meminang sang putri. Sebagian memang tulus karena jatuh cinta saat melihat sang putri dalam beberapa kesempatan. Namun sebagain besar jelas bermotif politik.


Maka, di usia sang putri yang memasuki umur sembilan belas tahun ini sang raja membuka sebuah sayembara perjodohan.


Sayembara ini sendiri dipercayakan kepada seorang begawan suci dari Gunung Padang. Gunung padang dianggap sebagai salah satu tempat suci dan sejak ratusan tahun lalu telah berdiri sebuah kuil sebagai pusat kegiatan pemujaan kepada para dewa.


Kepala kuil itu sendiri dikenal orang sebagai Begawan Manik Baya, yang diperkirakan telah berumur ratusan tahun.


Tak banyak orang yang pernah berjumpa dengan sang Begawan . Bahkan, utusan raja sekalipun hanya diterima oleh klona sang resi yang terwujud dari air.

__ADS_1


Sang Begawan mewasiatkan, bahwa dia sendiri akan datang ke kerajaan bersama salah satu muridnya yang dikenalkan sebagai seorang adipati.


Utusan itu adalah adipati Girinata, yang memerintah wilayah kotaraja dan sekitarnya.


Adipati Girinata akhirnya Pulang dengan linglung, karena memahami betul bahwa seharusnya Gunung Padang berada di wilayah kadipaten Darmaraja, sebuah wilayah bawahan dari Giri Kencana sebagaimana kadipaten lainnya. Tidak berdiri sendiri sebagai kadipaten.


Sang raja Jayadilaga tidak mempermasalahkan keberadaan kadipaten Gunung Padang yang diklaim sang Begawan. Bahkan beliau mempercayakan sepenuhnya rangkaian penyelenggaraan sayembara tersebut kepada sang begawan saat sang begawan menemuinya di istana.


Sayembara telah dilaksanakan.


Dan seharusnya, dalam waktu dua minggu bertepatan dengan hari ini, adalah waktu bagi sang begawan untuk menyampaikan hasil pelaksanaan sayembara tersebut.


+++++++++++


Balai Paseban Agung hari ini dipenuhi oleh para pembesar istana. Terlihat juga utusan dan perwakilan para raja dan bangsawan negeri tetangga yang mengikuti sayembara.


Mereka menunggu keputusan hasil pelaksanaan sayembara. Di antara mereka, sebuah aula khusus telah disediakan sebagai tempat para pangeran yang sebelumnya mengikuti sayembara.


Wajah para pembesar istana dan para utusan negara sahabat nampak penasaran menunggu hasil keputusan yang akan disampaikan oleh sang begawan di hadapan raja. Sementara, wajah para pangeran semuanya muram ketika melihat suasana balai paseban begitu ramai, dengan wajah penuh antusias para pejabat yang hadir.


Bunyi gong ditabuh tiga kali. Seluruh hadirin bangkit berdiri, sementara seluruh abdi dalem duduk berlutut.


“Yang Mulia, Prabu Jayadilaga dan permaisuri memasuki ruangan..!” sebuah pengumuman kemudian bergema di dalam ruangan tersebut, bersamaan dengan raja, permaisuri, berikut para dayang dan pengawal bhayangkari memasuki ruangan pertemuan.


Tak lama setelah raja menyapa para hadirin dan mempersilakan mereka duduk, Manik Baya dan Gentayu yang berpakaian ala adipati itu memasuki ruangan.


Semua mata segera terarah kepada mereka.


Tampak beberapa tatapan meremehkan dan mencemooh terarah pada keduanya. Tapi Manik Baya terlihat tak peduli.


Berbeda dengan Manik Baya yang langsung menuju ke hadapan raja, Gentayu segera berhenti dan berbelok arah, lalu mengambil tempat duduk tak jauh dari para menteri. Berkumpul bersama para Adipati dan raja bawahan lainnya.

__ADS_1


Sungguh keganjilan dalam protokoler istana, saat raja telah hadir justru ada orang lain yang terlambat. Namun itulah yang terjadi di hadapan para hadirin di balai paseban agung hari ini.


__ADS_2