
Gentayu berlari kencang di antara tetumbuhan rawa yang kadang menjebaknya ke dalam lumpur dalam. Matanya nampak memerah menahan kesedihan mendalam akibat kembali harus merasakan kehilangan orang yang disayangi dan dihormatinya, panglima Wiratama. Orang tua inilah yang menemukannya dan membawanya ke padepokan Pedang Tunggal. Selain karena kemampuannya yang mumpuni, tak dipungkiri bahwa berkat peran panglima Wiratama juga, raja berkenan menerima Gentayu menjadi prajurit dengan pangkat Kapten.
Gentayu disambut oleh pemandangan puluhan pendekar aliansi aliran hitam yang sedang membantai sisa prajurit pendukung Raja Prabu Menang. Perlawanan para prajurit itu jelas sangat tidak berarti dihadapan para pendekar aliran hitam yang dibawa Mpu Jangger dan ketiga pentolan lainnya yang telah tewas tersebut. Gentayu yang menyaksikan hal tersebut langsung mengamuk tanpa mampu dibendung.
Sepuluh pendekar aliran hitam yang mencoba menghadangnya segera kehilangan nyawa dalam beberapa gebrakan saja. Mereka menderita luka hangus terbakar di bagian-bagian vital tubuh mereka akibat pukulan sapuan matahari. Jurus yang memang diciptakan dan sangat cocok digunakan untuk menghadapi banyak musuh sekaligus dan tidak menguras tenaga dalam karena lawan yang berada dua hingga tiga tingkat di bawahnya.
Sekitar dua puluh orang lainnya bersiap menghadang langkah Gentayu, namun mereka menjadi gentar setelah melihat sepuluh rekannya mati bahkan nyaris tanpa perlawanan. Mereka seperti melihat banteng yang mengamuk di kandang ayam, bahkan lebih ganas. Melihat kelompok kedua yang terlihat ragu-ragu menghadapinya, Gentayu segera memanfaatkan kesempatan tidak siapnya mereka dengan melepaskan ketiga monster barunya.
"Tadi kalian batal makan, sekarang berpestalah..!" Gentayu berteriak sambil membuat gerakan seolah melemparkan sesuatu dari bahu kirinya.
Kedua puluh orang yang awalnya mengira Gentayu menyerang mereka dengan senjata rahasia tersebut mengarahkan tameng mereka untuk menangkis. Namun dugaan mereka meleset terlalu jauh. Tidak ada senjata rahasia yang dilemparkan. Justru mereka merasakan hawa dingin yang tiba-tiba..
'Roooaaarrrrrrrh...!!' Hawa dingin tersebut diakibatkan oleh munculnya Sandu di tengah mereka.
Belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba sepasang cakar telah mengoyak tubuh lima orang di sisi kiri dan kobaran api muncul mengurung tiga orang di barisan belakang. Cakar itu tentu saja milik Konga Baye yang tanpa basa basi mencabik, menerkam dan menghabisi orang terdekatnya. Sedangkan api itu adalah milik Lembu Ekor Api yang tak kalah ganas menyeruduk lawannya tanpa ampun. Sedangkan Sandu telah membekukan sisanya.
Gentayu ternyata telah menghilang dari tempat tersebut dan meluncur dengan tepat ke arah sosok seorang laki-laki tua berjubah hitam bergaris merah. Dialah Mpu Jangger sang pertapa sesat dari Senggoro Geni.
__ADS_1
Mpu Jangger barusan membunuh seorang lelaki yang telah terduduk lemah tak berdaya bersama istri dan seorang anaknya yang kini menangis keras di samping jasad kedua orang tuanya. Sang Istri bahkan bernasib lebih buruk. Pada tubuhnya yang mulai kaku itu, terlihat bekas-bekas pemerkosaan. Artinya, wanita itu diperkosa dengan disaksikan suaminya sebelum dibunuh. Iya, mereka adalah keluarga Raja Prabu Menang.
Mpu Jangger kembali hendak menebas leher anak kecil yang menangisi jasad ayahnya. Namun pedangnya tiba-tiba terlempar saat sesuatu menghantam tangan kanannya yang menggenggam pedang tersebut.
"Kurang Ajar! Jiancuk!" Lelaki itu mengumpat sambil memegangi punggung telapak tangannya yang kini telah tertancap sebilah belati. Dia menoleh ke sisi kanan tubuhnya dan menemukan seorang pemuda, Gentayu yang kini sedang menghajar para pengikutnya.
Dengan Geram, pertapa sesat itu meraih sebilah tombak milik pendekar di dekatnya dan melontarkannya dengan kecepatan yang sulit diikuti mata ke arah Gentayu.
Tombak itu melesat cepat dan berhasil menancap di dada sasarannya. Sayangnya, sasaran tersebut bukanlah Gentayu melainkan anak buahnya sendiri yang dijadikan tameng hidup oleh Gentayu. Saking kuatnya lemparan tersebut, bahkan tombk itupun tidak berhenti setelah menembus tubuh pendekar aliran hitam tersebut.
Menyadari Mpu Jangger ingin mengambil alih pertarungan, sekitar 60an lebih pendekar aliran hitam itu memilih menyingkir. Namun para pendekar pemanah tetap bersiaga mengarahkan panahnya kearah Gentayu.
Mpu Jangger sendiri sekarang menatapnya dengan tersenyum sinis. Tampaknya, kematian tiga rekannya belum terdengar olehnya sehingga Mpu Jangger masih memandang remeh Gentayu. Mereka berhadap-hadapan dengan tatapan mata tajam. Mpu Jangger menyadari bahwa anak kecil yang gagal dibunuhnya barusan adalah sesuatu yang menjadi alasan gentayu menghadapinya. Namun tetap saja, Mpu Jangger memandang rendah Gentayu.
Gentayu melepaskan puluhan pisau perak beracun kearah para pendekar hitam yang mengelilingi mereka dengan gerakan nyaris tak terlihat. Sasaran utamanya adalah para pemanah yang seolah ingin mencari kesempatan menikam dari belakang. Sontak karena serangan mendadak tersebut, belasan orang roboh tak bergerak karena tidak siap dengan serangan tiba-tiba dan tak pernah diperhitungkan tersebut.
“Bukankah tidak pantas, manusia yang sudah bau tanah sepertimu membunuh orang-orang yang dalam kondisi tak berdaya??” Gentayu berucap sambal menunjuk kea rah mayat raja, permaisuri dan Lokajaya yang masih menangis.
__ADS_1
“Bocah tengik! Kalau begitu, kau saja yang jadi pelengkap supaya ada yang melawan!” Bentak Mpu jangger seraya melompat, mendahului menyerang dengan sebuah serangan tapak.
Gentayu menyambut serangan tersebut dengan berkelit setengah kayang hingga punggungnya nyaris menyentuh tanah. Serangan Tapak Mpu Jangger Jangger menghajar permukaan tanah di belakang Gentayu, menimbulkan suara ledakan kecil. Tampaknya itu adalah pukulan berenergi api yang tidak bisa diremehkan.
Serangan tapak mpu Jangger memang berhasil dihindarinya, tetapi rupanya kaki pertapa tua sesat itu mampu menggamit bagian atas tubuh Gentayu, memitingnya dan seketika dengan reflek Gentayu melakukan split guna melepaskan diri.
Ketika Mpu jangger yang merasa berhasil mengunci bagian atas dari tubuh Gentayu dan kembali hendak menyerang bagian kepala Gentayu, Mpu Jangger kaget bukan kepalang.
"Aaaaaakhhh..... Lepaskan...!! Aaaaakh....!!" Mpu jangger menjerit histeris. Kedua pahanya yang masih berada di bahu Gentayu menendang-nendang berusaha melepaskan diri.
Ternyata, dalam kontak fisik tersebut Gentayu menggunakan jurus "Bulan menarik Samudra". Jurus ini akan menyerap energi dan kekuatan lawan, tak peduli apakah lawan tersebut lebih kuat terlebih jika lebih lemah.
Mpu Jangger berhasil melepaskan diri dari jurus bulan menarik Samudra karena Gentayu tiba-tiba melihat Mahapatih yang sedang kewalahan menghadapi dua orang pendekar lainnya.
Gentayu meninggalkan begitu saja Mpu Jangger yang telag pucat wajahnya. Namun lelaki tua ini terlihat tidak terlalu parah. Mungkin sebentar lagi kekuatannya akan pulih setelah mengkonsumsi obat penyembuh tingkat tinggi tentu saja.
Ketika melesat meninggalkab arena, Gentayu masih sempat membunuh beberapa orang pendekar aliran hitam di sekitar Lokajaya dan membawa bocah tersebut menjauh dari tempat tersebut.
__ADS_1