JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Senopati Benduriang


__ADS_3

“Bukankah.. Kau Gentayu?! Putra angkat Panglima!?” Nampak berbinar wajah pendekar bercaping saat menyadari pendekar hebat yang telah membantunya.


“Benar, paman. Kalau mata hamba tidak salah, pasti yang di hadapan saya ini adalah Paman Benduriang...?!” Gentayu memberi hormatnya kepada lelaki yang dikenalinya sebagai Senopati Benduriang. Mantan atasannya sewaktu masih aktif sebagai bagian militer kerajaan sekitar empat tahun yang lalu.


“Ahhh.. iya,iya.. Syukurlah kita masih bisa bertemu, anakku..” Senopati Benduriang segera membuka kedua tangannya dan memeluk mantan anak buahnya tersebut.


Gentayu adalah salah satu kapten dalam divisi teliksandi. Bawahan langsung dari Senopati Benduriang. Hubungan keduanya cukup dekat mengingat usia Gentayu yang seumuran dengan anak sang Senopati sendiri. Gentayu menjadi Kapten di divisi teliksandi termuda di usia kurang dari 16 tahun bukan karena dirinya adalah putra angkat panglima, namun karena kemampuan dan loyalitasnya yang tinggi dalam menjalankan setiap tugas. Hal itulah yang membuat sang senopati menjadi sangat sayang kepadanya seperti anaknya sendiri. Dulu, bahkan sang senopati berfikir bahwa Gentayu akan mampu mencapai karier setinggi ayah angkatnya. Namun, hanya sekitar tiga tahun saja Gentayu menjadi bagian militer kerajaan sebelum mengundurkan diri untuk memulai pengembaraan sebagai pendekar.


Cukup lama mereka berpelukan. Senopati Benduriang bersyukur bertemu dengan salah satu prajurit terbaiknya tersebut. Namun, dia juga sadar bahwa Gentayu kini bukan lagi bawahannya. Tapi keduanya tetap bersikap sebagai selayaknya keponakan dan paman. Senopati yang rendah hati ini memang lebih menganggap Gentayu sebagai anak daripada bawahan, sama seperti Panglima Wiratama.


“Paman.. Kenapa paman berada di sini tanpa pengawalan? Kemana teman-teman? Dan.. siapa anak ini?” Gentayu mengambil posisi jongkok di hadapan bocah kecil tersebut seraya mengacak rambutnya yang panjang sebahu itu.


“Dia baru berumur setahun sewaktu engkau meninggalkan Istana, nak. Maka wajar engkau tidak mengenalinya sekarang. Dia adalah Pangeran Lokajaya...” Senopati menggantung kalimatnya. Sengaja tidak melanjutkan karena ingin melihat reaksi Gentayu.


“Pangeran Lokajaya? Mak.. mak.. maksud paman.. dia, dia Pangeran Lokajaya Putra paduka Prabu Menang? Sang Putra Mahkota??” Gentayu terbelalak mengetahui identitas bocah di depannya.


“Benar!” Hanya itu kata yang keluar sebagai jawaban dari sang senopati.


Jawaban tersebut justru membuat wajah Gentayu menjadi buruk.

__ADS_1


“Lalu.. lalu.. kenapa paman dan pangeran mahkota bisa sampai berada di sini? Tanpa pengawalan??” pertanyaan Gentayu menunjukkan kekhawatirannya.


“Nak, sudah berapa lama engkau berada di wilayah Kerajaan Lambah Barapi ini?” Tidak langsung menjawab, sang senopati justru bertanya.


“Kurang lebih sebulan, paman.. Apakah, apakah ada hal besar yang terjadi selama sebulan ini di kerajaan??” Jawab Gentayu


“Mari kita lanjutkan perjalanan. Aku akan menceritakan semuanya sambil kita berjalan. Di sini tidak aman..” Senopati Benduriang buru-buru menggamit tangan Gentayu dan menggendong pangeran Lokajaya agar segera meninggalkan tempat tersebut.


Sesuai janjinya, Senopati Benduriang bercerita tentang situasi yang sedang berlangsung saat ini.


Bahwa dia dan Pangeran Lokajaya sedang dalam pelarian dari istana kerajaan Lamahtang.


Sepintas, dari cerita senopati Benduriang ini, Gentayu dapat memahami dan mencerna situasinya. Kelompok aliran hitam selama ini aktif bergerak menghancurkan kelompok-kelompok dan perguruan aliran putih ternyata dalam rangka melemahkan kekuatan pendukung raja Prabu Menang. Sedangkan di dalam istana sendiri, persekongkolan telah terbentuk antara Pangeran Ketiga dengan banyak pejabat istana. Yang paling berpengaruh adalah bhupati Talang Tengah dan Adipati Batang Asai. Keduanya nyata-nyata mengirimkan dan memimpin pasukannya secara langsung. Dua orang ini adalah dua orang penguasa wilayah dengan jumlah prajurit terbanyak dan terkuat di antara seluruh kepala wilayah di kerajaan.


Sedangkan di lingkungan militer kerajaan sendiri, dari 8 senopati kerajaan 7 diantaranya dibunuh sehari sebelum penyerangan sehingga menimbulkan kekacauan pasukan. Dengan licik, Pangeran Ketiga menentang upaya penggantian para senopati dengan berbagai dalih. Padahal intinya, Pangeran Selangit hanya ingin para prajurit tidak siap saat penyerangan esok hari. Hanya Senopati Bendurianglah yang selamat dari pembunuhan karena telah jauh-jauh hari mengantisipasi dan mengamati pergerakan tidak wajar di tengah pasukan kerajaan.


Panglima Wiratama yang juga telah menyadari kejanggalan kehidupan di luar dan dalam istana dengan tanggap mengungsikan seluruh keluarga raja pada malam harinya. Dandun, rekan Gentayu sekaligus teliksandi yang berhasil menyusup ke dalam markas Kelompok Rambut Iblis itu ditugaskan memimpin pasukan bhayangkara untuk pengawalan. Rombongan ini berhasil selamat karena keluar dari istana dengan menyamar sebagai pedagang ternak yang hendak kembali ke kampungnya. Hanya hewan ternak mereka saja yang dirampas para perampok bagian dari penyerang. Kelompok perampok ini mulai bergerak saat belum tengah malam, mendahului kelompok dari para sekte dan perguruan aliran hitam lainnya.


Senopati ditugaskan khusus oleh Panglima Wiratama untuk menjemput Putra Mahkota yang saat itu sedang berguru pada Ki Sabrang Giri di perguruan Lentera Suci. Selain itu, dia juga diminta mengamankan beberapa pusaka kerajaan, termasuk tombak yang dibawanya saat ini.

__ADS_1


Akhirnya, istana jatuh dalam pertempuran berdarah malam tersebut.


Panglima Wiratama diketahui selamat bersama Mahapatih. Keduanya telah bergabung bersama rombongan keluarga istana dan sedang bersembunyi karena pasukan pemberontak tetap memburu mereka. Bahkan Para pemberontak itu menjanjikan hadiah besar bagi yang memberikan informasi keberadaan mereka.


Untungnya, hingga saat ini rakyat tidak bersedia mengkhianati rajanya dan tidak pula sudi menyerahkan masa depan negara pada kelompok kriminal dan penjahat aliran hitam tersebut. Maka, dalam pelariannya raja juga sedang berupaya menggalang kekuatan perlawanan yang dimotori oleh para ksatria dan pendekar berbagai perguruan yang masih setia dan bertahan.


“Jadi.. Ayahku masih hidup? Syukurlah kalau begitu.. Paman, apakah Raja dan keluarga istana masih berada di wilayah Lamahtang ataukah mengungsi keluar dari Lamahtang?” Gentayu bertanya saat Senopati itu menyelesaikan ceritanya.


“Beliau aman. Masih di wilayah kerajaan Lamahtang. Kita akan ke sana, tentu jika engkau mau bergabung bersama kami..” Senopati Benduriang mengajukan penawaran atau permintaan secara terselubung. Bagaimanapun Gentayu saat ini bukanlah bagian dari militer istana. Dia adalah pribadi bebas dan merdeka. Senopati itu jelas tidak ingin menggantungkan harapan namun juga berharap seandainya Gentayu bisa bergabung sebagai bagian pasukan perlawanan.


“Paman, kalau saat berkuasa saja Raja tidak mampu menahan serangan tersebut. Lalu bagaimana akan merebut kembali saat musuh semakin kuat?” Sebuah pertanyaan kritis Gentayu berhasil membuyarkan harapan senopati Lamahtang.


Diakui ataupun tidak, ucapan Gentayu adalah sebuah kebenaran. Dan itu hanya memiliki satu makna, Gentayu menganggap sang raja memang tidak cakap memimpin kerajaan.


Senopati Benduriang tidak berusaha membantah ucapan Gentayu. Dalam hati diapun membenarkan pendapat anak muda di sampingnya. Bahkan, keluarnya Gentayu dari kemiliteran juga kelihatannya karena ketidakmampuan raja mengendalikan militernya sendiri.


Gentayu dalam sebuah misi, pernah mengingatkan raja melalui senopati Benduriang bahwa bebasnya para kepala wilayah memiliki dan merekrut sendiri prajuritnya akan menjadi masalah besar suatu hari nanti. Namun, karena pendapat ini disampaikan oleh senopati dan merupakan pemikiran dari seorang Kapten, raja saat itu langsung menuduh bahwa divisi teliksandi hanya terlalu kuatir. Belum lagi dalam banyak kesempatan, raja sering membantah pendapat ayah angkatnya, salah satunya saran Panglima wiratama agar dilakukan pembatasan masa menjabat bagi kepala wilayah sekaligus sebagai sarana penyegaran dalam jabatan. Saat itu, raja mengatakan bahwa Panglima tidak seharusnya mengurusi urusan politik. Dan banyak hal lain yang membuat Gentayu tidak nyaman sebelum memutuskan meninggalkan istana.


**Nb. Mohon tidak sungkan memberikan kritik dan saran untuk tulisan ini ya..

__ADS_1


Terimakasih untuk tetap mendukung "Jaga Buana" dengan like, love, dan komen.. semoga selalu sehat wal afiat**


__ADS_2