
Para peserta diberikan waktu selama sepekan untuk melakukan persiapan.
Sesuai permintaan sang raja, maka sayembara kedua ini dilakukan di alun-alun istana.
Para punggawa kerajaan hilir mudik bergantian menemui Manik Baya untuk menanyakan kebutuhan dan keperluan lelaki tua itu berkaitan dengan sayembara. Tapi alih-alih meminta perlengkapan dan sejenisnya sesuai dugaan mereka, ternyata Manik Baya hanya meminta disediakan pemain musik kecapi di ruangannya menginap.
Para calon peserta sendiri tengah sibuk melatih diri. Meskipun mereka sama sekali belum mengetahui tantangan seperti apa yang akan mereka hadapi dalam sayembara ulang ini, namun mereka meyakini bahwa tantangan apapun itu pasti akan melibatkan kekuatan sebagai pendekar.
Adapun Gentayu, selama masa menunggu tersebut dimanfaatkan untuk bermeditasi di malam hari dan menerima petunjuk dari Manik Baya di siang hari.
Manik Baya yang telah mengakui Gentayu sebagai muridnya mau tidak mau berkepentingan atas keunggulan Gentayu dalam sayembara ini. Namanya yang mahsyur saat ini dipertaruhkan melalui Gentayu.
Sekalipun sebenarnya Manik Baya tidak membutuhkan ketenaran dan nama besar itu, tapi pada dasarnya Manik Baya memang tertarik dengan karakter Gentayu. Maka, setiap hari Gentayu menerima banyak petuah dan wawasan keilmuan dari Manik Baya.
Tanpa Gentayu sadari, petuah dan wawasan keilmuan yang diterimanya dari Manik Baya adalah keilmuan-keilmuan tingkat tinggi dan sangat langka. Dengan demikian, Manik Baya saat ini adalah guru resmi pertamanya selama dirinya terdampar di dunia para danyang ini.
++++++++
Di komplek kaputren, seorang gadis muda dengan kecantikan tidak manusiawi terlihat mondar-mandir dengan gelisah.
Seorang wanita paruh baya beserta dayang-dayang istana kaputren menghampirinya. Dua orang dayang-dayang meletakkan bejana berisi air ramuan rempah-rempah untuk merendam kaki sang putri, sementara sang wanita paruh baya berdiri di belakang tempat duduk sang putri. Merapikan rambut momongannya.
Rambutnya yang hitam dan panjang tergerai sepanjang punggungnya, didukung tubuh ramping dan tinggi semampai serta kulit putih bersih tiada bernoda menjadikannya layak diperebutkan seluruh lelaki yang melihatnya.
Dialah putri Cendrawani, sang bidadari yang tengah diperebutkan dalam sayembara, dua hari lagi.
Sehari sebelum pertemuan di balai paseban agung digelar, putri Cendrawani sebenarnya telah bernafas lega. Kakaknya, pangeran Jatilaga menginformasikan kepadanya bahwa tidak satupun di antara peserta yang berhasil melalui tantangan sayembara.
Tanpa ada yang mengetahui, saat sayembara digelar, hati Cendrawani telah jatuh cinta kepada seorang pemuda asing. Sayangnya, pemuda asing tersebut bukanlah salah satu pangeran peserta sayembara yang akan digelar. Bahkan dirinya belum pernah berjumpa dengan sosok asli pemuda tersebut.
Pemuda yang telah membuatnya jatuh cinta itu adalah sosok yang hadir dalam mimpinya selama lima malam berturut-turut, dua bulan yang lalu. Saat satu persatu pelamar datang, dia selalu mengamati wajah mereka hanya untuk kecewa karena sang pemuda tidak termasuk dalam deretan peserta yang melamarnya.
Ketika mendengar ada pemuda asing bukan peserta yang berhasil melewati rintangan, Cendrawani berharap bahwa itu adalah pemuda dalam mimpinya.
__ADS_1
Sayangnya, saat melihat sosok Gentayu sekilas, dia harus kecewa sekali lagi karena Gentayu, sang Adipati Gunung Padang juga bukan pemuda yang telah membuatnya merindu tidak jelas.
“Apakah tidak ada di antara pelamar itu yang mampu menarik hatimu, nduk..” kata emban (pengasuh) Cendrawani sembari menata rambut anak asuhnya itu. Sang emban adalah sosok wanita paruh baya berambut putih yang telah mendampingi cendrawani sejak bayi.
Cendrawani hanya menggeleng pelan dengan kepala menunduk. Air matanya melelehdi pipinya yang halus bak pualam tanpa bisa dibendung ketika membayangkan harus berakhir menjadi istri orang yang tidak dicintainya. Siapapun pemenangnya.
+++++++
Hari pelaksanaan sayembara telah tiba. Alun-alun telah dipenuhi oleh rakyat yang hendak menonton jalannya adu kemampuan para calon menantu kerajaan. Sebuah panggung megah telah berdiri di pinggir alun-alun. Tapi, selain panggung kebesaran tersebut, tidak ada apapun di sana.
“Apa-apaan ini? Kenapa tidak ada apapun selain patung itu di alun-alun? Tidak ada arena, tidak ada tantangan yang disiapkan?”
Pertanyaan ini adalah pertanyaan hampir seluruh hadirin.
Mereka berfikir bahwa sebuah sayembara semestinya dilakukan dengan persiapan yang cukup matang, dengan peralatan dan seabrek gambreng segala sesuatu yang lengkap.
Namun mereka semua tidk menemukan sesuatu yang berubah sama sekali dengan alun-alun yang direncanakan menjadi tempat pelaksanaan sayembara.
Semua punggawa yang dipanggil menjawab dengan jawaban yang seragam. Bahwa Manik Baya sejauhini memang tidak meminta apapun pada mereka. Bahkan, mereka diinta untuk mengurusi hal lain.
Mendengar hal ini, patih Mangkubumi hanya bisa cemberut.
Fikirannya menjadi kusut.
Mungkinkah begawan Manik Baya tengah mempermainkan mereka. Jika benar, maka apapun resikonya Manik Baya harus dihukum berat!
Patih mangkubumi akhirnya beringsut pergi dan menemui sang raja untuk melaporkan temuannya. Sang raja yang menerima laporan itu hanya tersenyum penuh arti.
“Kau belum juga menyadarinya, paman patih?” ucap sang raja, membuat sang patih Mangkubumi kebingungan.
‘Apakah ada hal yang kulewatkan?’ fikirnya. Namun dia tidak berani mengutarakannya di hadapan rajanya.
“Mohon maafkan hamba gusti prabu. Hamba kurang wawasan. Mohon berkenan memberi petunjuk..” patih Mangkubumi bermaksud meminta kepada sang raja untuk menjelaskan maksud ucapannya secara halus.
__ADS_1
“Ah, nanti kau juga akan mengetahuinya.. hahahaha...” sang raja justru tertawa melihat kebingungan di wajah patih Mangkubumi. “sudahlah, mari kita berangkat menuju alun-alun. Kasihan rakyat menunggu kita terlalu lama..” sang raja bangkit berdiri dari stempat duduknya. Menggandeng permaisuri menuju kereta kencana. Bersiap menuju lokasi pelaksanaan sayembara.
Mengiring di belakang kereta sang raja adalah patih mangkubumi dan prajurit khusus pengawal raja. Juga satu kereta khusus bagi putri cendrawani dan putra mahkota Jatilaga.
Rombongan iring-iringan kecil raja itu segera bertolak menuju alun-alun dan disambut oleh rakyat yang telah berbaris rapi memenuhi alun-alun kerajaan.
++++++
“Yang Mulia Prabu Jayadilaga beserta Yang Mulia Permaisuri memasuki panggung kehormatan..!!” suara pengumuman diiringi pukulan gong tiga kali mengiringi langkah kaki raja dan keluarganya naik ke atas panggung.
Yang menyambut mereka pertamakali adalah Manik Baya selaku tokoh sentral dalam sayembara ini.
Lelaki itu sama sekali tidak menundukkan kepala atau membungkukkan badan sebagaimana lazimya sikap seseorang terhadap raja. Membuat banyak orang merasa heran akan sikapnya.
Sebaliknya, raja justru terlihat sangat menghormatinya.
Hal yang jarang ditemukan dan dilihat pada diri raja Jayadilaga, bahkan sikap ini tidak terlihat saat sang raja bertemu dengan begawan dan rsi serta pendeta tertinggi kerajaan.
Sang raja menyapa rakyat yang memenuhi tepian alun-alun berpanas-panasan dan para hadirin sebentar sebelum duduk di singgasana yang disediakan.
Raja lalu meminta sayembara segera dimulai, dengan sebuah isyarat kepada Manik Baya.
Manik Baya menganggukkan kepala ke arah sang raja sebagai permintaan izin memulai sayembara. Lalu tanpa menunggu izin diberikan, lelaki tua itu telah melesat ke arah patung pahlawan di tengah alun-alun dan berdiri melayang di atasnya.
Tidak ada yang bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukannya di atas kepala sang patung pahlawan karena teriknya cahaya matahari menyilaukan dan membutakan mata semua orang saat itu.
Tentu tidak ada yang menyadari, bahwa sensasi silau tersebut diciptakan sendiri oleh Manik Baya. Matahari belum terlalu tingi saat itu untuk cahayanya mampu menyilaukan mata semua orang.
Nb.
Terimakasih yg udah kasih vote.
Tetap dukung karya ini agar tetap dalam lingkaran ranking system.
__ADS_1