JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sepakat


__ADS_3

Bukan hanya Mamoto yang terkejut, Ryutaro juga ternyata sama terkejutnya.


“Eh, Bukannya kau sudah pernah melihatnya saat pertamakali aku mendapatkannya?” Gentayu jadi keheranan mendengar suara ‘Hah?..’ terkejut dari Ryutaro.


Tentu saja dia terheran-heran karena Ryutaro selalu bersamanya, termasuk saat dirinya mendapatkan pedang ini dari Tunggulwaru.


‘Apa kau tak tahu? Orang yang kau panggil guru itu membuat seluruh roh dalam radius sepuluh kilometer persegi kehilangan kemampuannya? Bahkan indera mereka juga mati saat berada dalam jarak tersebut? Dan aku salah satunya!


Barulah ketika dia mengizinkanku bicara dan muncul, aku kembali normal. Itupun aku tak tahu apa yang terjadi sebelumnya!’ Ryutaro berbicara dengan ekspresi penuh ketakutan. Suaranya terdengar gemetar.


Ah, sepertinya guru Manik Baya begitu menakutkan. Bahkan roh pun ketakutan.


“Terserah.. tapi yang jelas, andai tubuhmu kutemukan. Pedang naga api ini milikku..” Kata Gentayu.


Dia segera menutup mulutnya karena melihat Mamoto kebingungan karenanya.


“Paman.. “ Gentayu kembali memfokuskan perhatiannya pada Mamoto. “Informasimu menarik sekali, paman.


Lalu, apa bantuan yang engkau inginkan sebagai ganti dari informasimu? Dan satu lagi, kenapa kau ingin aku mengetahui informasi ini?” Tanya Gentayu. Dia cukup mengerti bahwa pria di hadapannya menceritakan semua itu bukan tanpa maksud.

__ADS_1


“Aku hanya ingin perlindungan untuk desa ini” Kata Mamoto singkat.


“Kau tahu?, Hideki, telah kehilangan kesaktiannya karena menghadapi pemberontak bersenjata aneh. Dengan kemampuan aslinya, seharusnya desa ini bisa lebih aman. Tapi.. kini dia sangat lemah..” tutup Mamoto.


“Apakah Kaisar dan keluarganya berada di desa ini?” Pertanyaan Gentayu membuat Mamoto mundur sekali lagi.


Selama ini, tak ada yang mengetahui hal rahasia tersebut. Bahkan, prajurit kekaisaran era kudeta sekarang juga tidak mampu mengendus keberadaan Kaisar di tempat ini.


Mamoto tidak menjawab. Keraguan kini tampak di wajahnya. Bagaimanapun, Gentayu adalah pemuda yang segalanya berada di luar dugaannya.


“Lupakan saja! Anggap aku tak pernah mengatakannya..” kata Mamoto, seolah mencari cara untuk tidak menyinggung mengenai keberadaan Kaisar.


‘Cringk!’


Tiba-tiba, Mamoto menghunuskan pedangnya.


“Apakah kau mata-mata Akimura?!” Mamoto langsung menodongkan pedangnya ke tubuh Gentayu.


Gentayu yang kaget dengan perubahan sikap yang tiba-tiba dari Mamoto hanya menggelengkan kepala. Bukan membantah, melainkan tak habis fikir bagaimana dirinya bisa menjadi tertuduh mata-mata.

__ADS_1


‘Apa? Mata-mata?? Bukankah ini terlalu ngawur?’ batin Gentayu.


“Paman, dengan kekuatanku sekarang.. membunuh Paman dan paman hideki beserta Kaisar bukanlah hal sulit. Tapi, apakah paman sadar bahwa aku ada kaitannya dengan sang panglima yang paman maksud artefak hidup itu?


Aku jaminkan, bahwa aku bisa menjadikan panglima itu sebagai pelindung desa ini dan juga kaisarmu!” Kata Gentayu seraya menyingkirkan pedang Mamoto dari tubuhnya dengan dua jarinya.


‘ hei Kau tidak sopan! Anak gadis saja dimainta pendapat sebelum dijodohkan! Dan kau menjadikanku pelindung mereka tanpa persetujuanku??’ Ryutaro protes keras. Tapi tentu saja, hanya Gentayu yang mendengarkan suara Ryu.


“Aku memang tak punya pilihan. Bahkan, aku juga telah putus asa akan nasib kekaisaran ini sekarang..” Mamoto menjatuhkan pedangnya ke lantai. Lalu duduk dengan posisi bersimpuh tegak.


“Tenanglah, paman.. Aku akan mengurus Akimura setelah ini. Paman tunjukkan saja, di mana letaknya artefak hidup itu berada.. sebagai gantinya, desa dan kaisar akan memiliki pelindung. Dan kepala Akimura siapa itu, akan ada di depan kaisar besoknya!” ucap Gentayu meyakinkan.


“Baiklah. Pagi-pagi sekali, kita ke jurang kematian sebelum kelompok penjahat lainnya datang..”


Dengan demikian, telah terjadi kesepakatan antara Gentayu dan Mamoto.


Nb. Dikerjakan sambil ngantuk😁


Sambung lagi esok yah..

__ADS_1


__ADS_2