
“Manusia! Beraninya kau memanggil petir-petir yang telah kukumpulkan!!” Suara raungan penuh kemarahan terdengar ketika sesosok tubuh kera hitam besar muncul dari balik pepohonan.
Tubuh kera ini tertutupi bulu hitam sempurna, namun di antara bulu-bulu hitam ini orang akan melihat dengan jelas riak-riak petir sesekali keluar dari tubuhnya. Jelas bahwa makhluk ini memiliki unsur petir yang kuat.
“Petir yang kau kumpulkan?” Gentayu berhenti melangkah dan bertanya diiringi kerutan di dahinya, tak memahami maksud si kera besar.
“Aku sudah bersiap untuk makan siang! Namun kau mengacaukan makan siangku! Sebagai gantinya, aku akan memakanmu!” Kera besar itu meraung marah.
Tanpa menunggu pembelaan diri maupun tanggapan Gentayu, kera besar itu merangsek maju dan mengayunkan kepalan tangannya menyerang kepala Gentayu.
Desingan angin diiringi sedikit suara guntur terdengar saat kera itu melayangkan serangan mendadaknya.
Menyadari serangan tanpa ampun kera besar itu, Gentayu tidak berani untuk memblokirnya.
Dia memilih menghindar dengan cara melompat mundur. Gentayu secara acak tahu, bahwa level kera besar itu sudah jauh melampaui dirinya.
'DRAKK..!'
Pukulan tangan kera besar itu menghantam bagian terluar dari goa batu yang menyatu dengan tebing di sisi luarnya. Tepat di posisi Gentayu berada sebelumnya.
Suara batuan runtuh baru terdengar dua detik kemudian, saat tubuh kera itu menghilang dan muncul kembali di belakang tubuh Gentayu yang kebali bersiap untuk melarikan diri.
Sepuluh pukulan jab dan kombinasi swing diluncurkan kera besar itu ke tubuh Gentayu hanya dalam waktu satu detik.
Gentayu sekali lagi tidak berusaha menerima serangan itu dan terus membuang tubuhnya ke kiri dan ke kanan menghindari rentetan serangan di belakang punggungnya.
Gerakan dan pukulan kera itu terhitung sangat cepat walaupun ukuran tubuhnya yang besar. Sepertinya besarnya ukuran tubuhnya tidak menghalangi kecepatannya.
Namun kecepatan seperti itu tidak membuat Gentayu kewalahan. Satu-satunya hal yang menakutinya dari pukulan kasar kera ini adalah daya hancur dari level kekuatannya.
Walaupun menggunakan perisai Naga Api yang kini telah diperkuat puluhan kali jika dibandingkan saat pertama menguasainya dahulu, hanya angin dari pukulan kera itu saja sudah membuat daging di bawah kulit tubuhnya merasakan tekanan.
Orang lain di level yang sama dengannya sudah dipastikan akan terluka hanya karena terkena angin pukulan ini saja.
Kera itu semakin marah saat menyadari sepuluh pukulannya tidak satupun berhasil mendarat di tubuh Gentayu.
Matanya memerah. Nafasnya menjadi kasar. Otot tubuhnya tampak sedikit membesar di balik bulu-bulu hitamnya.
Sementara sang kera sedang tertegun dan marah, Gentayu memanfaatkan jeda itu untuk sekali lagi mengambil jarak. Menjauh dari kera itu.
__ADS_1
Gentayu baru saja akan mengaktifkan ilmu Langkah Anginnya untuk melarikan diri ketika disadarinya bahwa auranya telah terkunci oleh kera itu.
Melarikan diri akan sia-sia. Tapi bertarung dengan kera besar gila ini juga sama saja bunuh diri!
"Aarggh.. !!"
Kera itu meraung keras sebelum tubuhnya berubah menjadi cahaya hitam dan menabrak tubuh Gentayu yang telah berjarak dua puluhan depa jauhnya.
Gentayu lagi-lagi dipaksa melentingkan tubuhnya ke samping menghindari serangan kera yang terasa semakin cepat ini.
Dua cakar hitam nyaris menghancurkan wajah Gentayu andaikan sedikit saja dia terlambat mundur.
Namun, ketika bahkan angin dari dua cakar tersebut belum menghilang, kedua cakar yang sama telah menyasar dada dan perutnya.
Gentayu benar-benar kewalahan dibuatnya.
Namun, ini bukan pertama kalinya dia bertempur melawan orang dengan kekuatan lebih tinggi darinya.
Kera ini mungkin lebih kuat dan sangat cepat, namun butuh lebih dari itu untuk menghancurkan Gentayu.
Setidaknya, kera ini tidak secerdas manusia.
Gentayu, memang berhasil selamat sejauh ini. Namub tidak dengan areal hutan di sekitar mereka. Tak kurang dari lima belas pohon berukuran sedang hingga besar telah roboh. Semuanya dengan bagian tengah batang yang remuk terkena pukulan si kera besar.
"Heh.. heh.. heh! Manusia kecil! Aku, Hiru! tidak disebut Iron Bone Knight (Ksatria tulang Besi) karena permainan seperti ini.. Sekarang, aku akan lebih serius!"
Setelah mengatakan ini, kera besar yang menyebut dirinya sebagai Hiru sang Ksatria Tulang Besi itu tiba-tiba meletuskan pancaran aura mematikan yang ganas dan kuat dari tubuhnya.
Detik berikutnya setelah auranya meletus, bulu-bulu tubuhnya yang hiyam berubah menjadi keperakan, dan kilatan petir kecil menari-nari di antara bulu-bulu perak itu.
Perubahan mendadak itu menciutkan nyali Gentayu seketika.
Aura yang menindas dari kera besar itu benar -benar memberi tekanan pada tubuh Gentayu. Aliran energi di tubuhnya berubah menjadi lambat dan agak sulit dikendalikan. Andai dipaksakan untuk bertarung, jelas dia pasti binasa seketika.
"Bukankah ini berlebihan, tuan Hiru? Kau menyerangku tanpa aku tahu letak kesalahanku. Belum lagi fakta bahwa kekuatanmu jauh di atasku.
Apalagi, tuan Hiru jelas berasal dari generasi yang jauh di atasku. Bukankah itu penindasan senior terhadap junior, namanya?
Apakah bangsa Magical Beast sudah benar-benar kehilangan harga diri dan kehormatannya untuk membiarkan gelar Ksatria pada orang seperti itu?"
__ADS_1
Gentayu mulai memainkan salah satu keahlian lainnya, silat lidah.
Tentu saja dia tidak benar-benar yakin bangsa Magical Beast akan memiki apa yang disebut harga diri. Karena nyatanya, di dunia ini makhluk-makhluk Magical Beast ini juga mendapatkan namanya yang lain, yaitu binatang Siluman.
Strata yang menujukkan kejahatan melebihi hewan buas biasa.
"Jangan mencoba mengulur waktu! Kami tidak mengenal apa itu harga diri! Harga diri kami, adalah nyawa kami. Selama nyawa kami bertahan, itulah saat harga diri kami ada! Jangan berfikir kami akan berfikir sama bodohnya seperti bangsa manusia berfikir!!"
Kera besar itu mendengus tak senang dan memaki Gentayu.
Genatayu hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Hiru, si kera besar.
"Benar! Kalian memang tidak akan bisa berfikir sama bodohnya seperti kami. Karena tingkat kebodohan kalian jauh melebihi kami!"
"Kau mencari mati!!" Kera besar itu semakin marah mendengar kata-katanya dikembalikan kepadanya dengan penghinaan.
Lengan besaenya mengayun ke arah Gentayu.
Suara geledek terdengar, tanah retak, dan benda apapun di atasnya berhamburan tebang terpisah ketika ledakan energi pukulan menghantam kearah dada Gentayu.
Kali ini Gentayu tak lagi sempat mengelak.
Dengan nekad, disilangkannya kedua tangannya untuk memblokir serangan itu.
'BRAK..!!'
Suara seperti kayu yang pecah dihantam benda besar dan keras terdengar di udara ketika kontak antara energi pukulan kera besar dan tubuh Gentayu terjadi.
Hasilnya sesuai yang diperkirakan.
Tubuh Gentayu dikirim terbang mundur ke belakang, mirip layang-layang yang talinya putus.
Saat tubuh Gentayu masih dalam posisi diterbangkan di udara oleh pukulan pertama Hiru, pukulan berikutnya kembali mendarat tepat menghantam dada, membantingnya kembali ke tanah.
'BUM !!'
Tubuh Gentayu mengantam tanah dengan keras. Suara retakan tanah terdengar menyusul suara tulang patah dan daging yang remuk.
Debu mengepul di sekitar titik jatuhnya tubuh Gentayu. Tanah itu sendiri, amblas cukup dalam.
__ADS_1