JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pertemuan Tiga Adipati


__ADS_3

Situngkoro segera memerintahkan sisa prajuritnya yang belum masuk dalam perangkap celah sempit itu untuk mundur secepatnya dan kembali masuk ke dalam hutan di belakang mereka. Senopati itu cukup cerdas dan cepat mengambil tindakan dalam kondisi yang genting tersebut.


Situngkoro berfikir, bila mereka mundur melalui jalan yang sama dengan saat mereka berangkat tadi, maka pasukannya pasti akan menemui jebakan entah apapun bentuknya. Maka, masuk dan bertahan di dalam hutan adalah langkah paling tepat menurutnya. Musuh yang belum diketahui pasti jumlah dan kekuatannya akan berbahaya untuk dihadapi.


Sayangnya, tindakannya telah diantisipasi oleh Rambang Dangku yang memang piawai dalam strategi perang itu. Di dalam hutan yang seolah tidak terjamah itu telah disiapkan ribuan jebakan. Lebih banyak jumlahnya dari jumlah prajurit Lamahtang saat masih utuh sekalipun.


Maka, tak lama setelah seluruh pasukan Situngkoro memasuki hutan dan berpencar, jerit kematian yang menyayat terdengar di berbagai penjuru hutan. Sesekali terdengar ledakan di dalam hutan, menandakan bahwa para pendekar sakti dalam pasukan Lamahtang sedang berusaha menghancurkan jebakan yang dibuat, atau hanya sekedar menyelamatkan nyawa.


Kemudian terlihat tiga ekor burung besar melesat pergi dari dalam hutan. Ketiga hewan tersebut pergi meninggalkan hutan beserta para penunggang di atas badannya. Mereka adalah para Pendekar pengedali hewan buas prajurit Lamahtang dari kelompok Kelabang Hitam dan Kala Merah.


Tidak ada yang berusaha menghalangi atau mengejar ketiga orang itu kabur. Memang seperti itulah yang diinginkan oleh para Pendekar Bintang Harapan. Harus ada satu dua orang dari pasukan itu yang selamat untuk mengabarkan nasib mereka pada pimpinan tertinggi aliran Hitam di Lamahtang.


Setelah beberapa saat, suasana sekitar hutan itu menjadi hening. Hutan kembali sunyi. Namun bau amis darah segera menyebar dan mengundang hewan-hewan buas dari hutan sekitar berdatangan. Suara lolongan srigala, gonggongan anjing hutan, burung pemakan bangkai, geraman harimau, dan berbagai hewan lain semakin ramai terdengar setelah beberapa saat berlalu.


Walaupun mungkin ada yang berhasil selamat dari jebakan para pendekar Bintang Harapan, para prajurit itu harus menghadapi keganasan hewan buas yang datang semakin banyak ke dalam hutan itu. Benar-benar tragis!


Situngkoro sendiri berhasil keluar dari hutan tersebut bersama kelima komandan bawahannya. Hanya mereka berenam yang terlihat keluar dari hutan tersebut setelah tiga burung besar pergi mendahului. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan. Terdapat banyak luka robekan dan hangus terbakar pada tubuh mereka.


Ketika mereka berenam baru saja mencapai sisi lain dari ujung hutan tersebut, sebuah ledakan diikuti kilatan cahaya menyilaukan menyambut mereka. Cahaya putih menyilaukan itu menyapu tubuh mereka berenam dan mengubahnya menjadi abu. Hanya dalam hitungan kurang dari dua detik!


Bukan hanya tubuh mereka, bahkan pepohonan dan semak belukar disekitarnya juga berubah menjadi abu setelah dilewati cahaya misterius tersebut.


Seorang perempuan paruh baya berambut putih keperakan sewarna jubahnya muncul dari sisa-sisa kepulan asap diakibatkan kilatan cahaya menyilaukan itu. Perempuan itu hanya tersenyum sesaat sebelum kembali menghilang ke balik bebatuan di tepi hutan tersebut.

__ADS_1


Rupanya, sekalipun membiarkan tiga orang penunggang burung besar tadi lolos, aliansi Bintang Harapan menempatkan pendekar-pendekar hebat pada beberapa titik hutan untuk mencegah yang lainnya bisa lolos.


+++ +++ ++++ ++++ +++ +++ ++++ ++++ ++++


Jauh dari lokasi ‘pembantaian’ hampir dua ribu pasukan Lamahtang tersebut, keempat pimpinan masing-masing divisi dalam aliansi Bintang Harapan sedang berkumpul. Mereka berkumpul di pendopo Kadipaten Tulang Mesuji. Hadir dalam pertemuan bersama keempat ketua divisi itu adalah tiga adipati yang merasa nyawanya kini terancam oleh rencana serangan dari Kerajaan Lamahtang.


Berita hancurnya pasukan Lamahtang yang hendak menyerang Kadipaten Tulang Mesuji itu langsung terdengar di telinga para pendekar aliran putih berkat kemampuan unik pendekar Kelelawar Hitam. Kabar suksesnya rencana pertama mereka berhasil memantik semangat perlawanan dalam dada para pendekar. Selain itu, juga memunculkan harapan bagi tiga adipati yang hadir untuk lolos dari kehancuran.


Memang semua itu hanyalah awal. Masih ada beberapa langkah yang harus mereka matangkan saat ini juga sehingga keempat pimpinan tersebut merasa perlu untuk berdiskusi dengan tiga adipati.


“Kita tidak bisa membiarkan mereka mempersiapkan pasukan yang lebih besar dan menyerang kita. Sebaiknya kita bergerak mendahului mereka selagi mereka belum menyadari bahwa aliansi kami ada di belakang semua kekalahan Lamahtang.” Pendekar Indung Imau membuka pembicaraan dalam pertemuan tersebut.


“Benar. Sebaiknya kita segera melanjutkan rencana kita. Kita akan menyerbu ibukota. Aku fikir, saat ini jumlah prajurit mereka tidak akan lebih banyak dari gabungan tiga Kadipaten. Bukankah, banyak prajurit asli Lamahtang yang telah mengundurkan diri atau terbunuh saat Ibukota diduduki aliran Hitam?” Pendekar Indung Imau melanjutkan kalimatnya.


“Maafkan saya, Ketua. Menurut data yang saya peroleh, prajurit asli Malahtang yang tidak mengundurkan diri saat ini masih lebih dari 3000an orang. Mereka sebagian besar adalah prajurit di bawah Pangeran Ke tiga, maksud saya Tulung Selangit. Seluruh Komandan para prajurit itu saat ini adalah murni kaki tangan Karang Setan atau perwakilan masing-masing kelompok mereka. Bila ditambah jumlah seluruh pendekar aliansi aliran hitam, maka jumlah total mereka tak kurang dari 7000an orang, ketua.” Benduriang menyampaikan hasil pengamatannya.


“Itu Arttinya, jumlah gabungan seluruh prajurit dari tiga kadipaten sekalipun, jumlah kita hanya akan sedikit lebih banyak?” kata adipati Bayang Keling.


Saat ini ketiga adipati telah sepakat untuk bersatu berjuang melawan kelompok aliran hitam. Setelah itu, rencananya masing-masing mereka akan membentuk pemerintahan baru. Apakah sebagai satu negara atau berdiri sendiri, belum ditentukan. Namun yang jelas, mereka sepakat bahwa mengalahkan dan mengusir para pendekar aliran hitam dari kursi kekuasaan adalah mutlak jika ingin kehidupan kembali normal.


Saat ini, baru sekitar tiga bulan lamanya kerajaan dikuasai kelompok aliran hitam, namun kondisi rakyat jatuh pada taraf sangat memprihatinkan. Paceklik dan gagal panen terjadi di seluruh penjuru negeri. Ditambah dengan tidak adanya bantuan dari pemerintah membuat banyak keluarga tidak lagi dapat bertahan di tengah kemiskinan yang menghimpit. para petani kehilangan pendapatan dan rakyat kekurangan bahan pangan. Belum lagi kenaikan pajak yang tinggi membuat para pengusaha terpaksa gulung tikar karena harus menanggung kerugian besar akibat penghasilan tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.


Munculnya pengemis yang semakin banyak di kota-kota pelabuhan menjadi pemandangan biasa saat ini. Bahkan ibukota kerajaan saat ini kondisinya menjadi sangat kumuh.

__ADS_1


Anehnya, justru perjudian dan pelacuran semakin menjamur di saat krisis seperti ini. Banyak tempat-tempat perjudian dan pelacuran baru yang dibuka karena berjudi, minuman keras, dan bermain perempuan menjadi kegemaran dan kebiasaan baru bagi para prajurit di Lamahtang. Para pengelola tempat-tempat tersebut adalah para bangsawan keluarga dan pendukung Tulung Selangit.


Ternyata, kewajiban mengirimkan pemuda dan pemudi terbaik dari setiap desa dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tempat maksiat tersebut. Namun kedok yang digunakan sangat mulia, yaitu menjadi prajurit untuk melindungi negeri dan pelayanan kebutuhan prajurit. Para kepala desa yang menyadari ini biasanya akan memilih mengungsikan para pemuda terbaiknya ke padepokan dan perguruan silat terdekat. Kemudian mengirim orang-orang yang menjadi biang masalah di desa sebagai gantinya.


Memanfaatkan celah dan kondisi itulah, Aliansi Bintang Harapan menyusun rencana.


Para Pendekar dalam aliansi seluruhnya akan bergerak ke ibukota dengan menyamar sebagai para pengungsi. Saat ini memang gelombang pengungsi dari desa menuju kota-kota termasuk ibukota Lamahtang sendiri cukup lazim ditemui karena kondisi yang serba susah dialami seluruh rakyat. Selebihnya, para pendekar inti dari tiga kadipaten akan menyusup juga dengan menyamar sebagai pekerja bangunan. Dengan demikian, seharusnya penyamaran ini tidak akan menemui kendala berarti.


Sedangkan para prajurit pasukan dari tiga kadipaten akan bergerak melalui hutan-hutan dan singgah di desa terdekat dari benteng kerajaan. Masing-masing mereka akan masuk pada titik-titik yang telah ditandai dalam peta penyerbuan. Sama sekali tidak akan melewati gerbang utama.


Waktu mereka untuk menyusup masuk dan mengepung kerajaan tidak lebih dari seminggu. Mereka akan menyerbu tepat ketika pasukan kedua yang dikirim untuk menumpas tiga adipati telah diberangkatkan.


Menurut perkiraan Benduriang dan Rambang Dangku, pasukan gelombang ke dua Lamahtang ini akan berjumlah lebih besar dan akan dipimpin oleh para tokoh utama aliansi aliran hitam. Jika beruntung, barangkali Karang Setan dan Mpu Jangger sendiri yang akan turun tangan memimpin pasukan ini sehingga dengan begitu istana akan bisa dikuasai dengan lebih mudah.


****Terimakasih atas dukungannya kepada karya ini. Baik berupa like, komen, apalagi Vote-nya 😅


Untuk yang udah ngevote, semoga dilimpahkan rejekinya, dilapangkan jalan usahanya.


Yang belum sempat kasih vote, semoga dilebarkan pintu hati dan dadanya.. wkwkwkwk...


Enggak kok.


Terimakasih buat kalian semua.

__ADS_1


Bahkan untuk yang sekedar mampir trus promo novelnya, terimakasih sudah mampir dan percaya ruang komen karya saya ini sebagai tempat promo. Bangga juga saya**..


__ADS_2