
"Hanya karena Wanadri tuan kalian dekat dengan keluarga bhupati, bukan berarti kalian bisa berbuat seenaknya! Main geledah barang orang hanya karena Putri tuan kalian kehilangan barang berharganya?! Bahkan, prajurit istanapun punya prosedur dalam menggeledah orang!" Seorang pria tua nampak kesal dan memarahi tiga orang berseragam hijau dengan ikat kepala bergambar bintang merah yang menghalangi jalannya. Sepertinya, pria ini bukan penduduk asli pulau ini. Wajahnya lebih mirip orang-orang dari kekaisaran Huang.
"Hei pak tua! Jangan menceramahiku! Aku bisa berbuat kasar! Kau harus tahu batasanmu. Jangan karena menguasai satu-dua jurus ilmu beladiri lantas kau merasa jumawa berani menentang Bintang Merah! Ini wilayah kami dan kami tidak segan menghukum dan menghabisi siapa saja yang menghalangi pekerjaan kami! Tak peduli siapapun Kau pak tua, harus kami geledah!" Seorang pria hitam dengan brewok lebat pada wajahnya yang memang seram diantara ketiga anggota
Bintang Merah mendengus kesal.
"Hohoho... begitu rupanya. Sepertinya hukum di kota ini sudah lenyap.. Lalu Bagaimana bila aku menolak?!" tantang lelaki tua itu tak juga mau tunduk membuat ketiga orang di depannya naik pitam.
" Maka kami akan memaksamu!" Jawab pria brewok dengan kesal!
Selama ini jarang sekali mereka bertemu orang yang berani mempermasalahkan ataupun menentang tindakan sewenang-wenang kelompok tersebut di kota Sei Asin ini. Kejadian sore Ini sungguh menyinggung kebesaran nama Bintang Merah sebagai kelompok besar yang ditakuti. Benar-benar kelompok arogan.
Pria brewok tersebut segera maju untuk mejalankan niatnya menggeledah paksa pria tua tersebut. Namun pria tua itu tak membiarkan dirinya digeledah. Dia tahu bahwa tujian mereka lebih dari sekedar menggeledah untuk mencari barang milik tuan putri mereka yang hilang. Namun ada keserakahan terlihat dalam sorot mata ketiganya.
Akibatnya, tak lama kemudian segera pecah pertarungan antara keduanya. Dua orang rekan pria brewok segera ikut maju menyerang begitu si pria brewok dan lelaki paruh baya bertukar jurus sesaat kemudian. Namun, belum sempat kedua rekannya melakukan serangan, pria brewok itu telah terlempar puluhan meter akibat tendangan pria tua tersebut yang tak sempat diantisipasinya.
Pria brewok itu mencoba bangkit setelah tubuhnya menghempas tembok pagar penginapan di seberang jalan dan memuntahkan darah segar. Dengan terhuyung, akhirnya dia bisa bangkit. Namun baru saja dia mampu bangkit dengan susah payah, tubuhnya kembali harus roboh ke tanah setelah kedua orang temannya juga terlempar ke arahnya dan mengenainya terkena pukulan lelaki tua itu. Tubuh mereka bertiga bertumpuk di tepi jalan dengan kondisi luka dalam akibat pukulan pria tua yang kini berbalik dan melanjutkan jalannya menuju penginapan dengan santainya.
Gentayu yang menyaksikan pertarungan singkat itu geleng-geleng kepala melihat tragisnya nasib ketiga orang anggota Bintang Merah tersebut.
__ADS_1
'Kesombongan selalu membawa bencana' fikirnya.
Diapun segera berlalu dari tempat itu dan tak ambil peduli atas kejadian barusan. Yang jelas, saat ini dia butuh istirahat dan makan untuk mempersiapkan perjalanannya besok menemukan jembatan Naga Merah. Setelah mendapatkan kamarnya dan memesan makan malamnya, Gentayu segera bergegas menuju kamar dengan diantar oleh seorang pelayan. Ternyata kamarnya berada di lantai dua bangunan penginapan itu.
Tak lama setelah mandi, pelayan mengantarkan makan malam ke kamarnya. Setelah makan malam, tak menunggu lama Gentayu segera pulas tertidur. Namun, belum lama dia terlelap, keributan yang lain kembali pecah di luar penginapan mengganggunya, disusul pintunya ditendang paksa dari luar.
"Keluar!!"
BRAK!!
pintu kamarnya jebol dan dua orang berseragam mirip dua orang yang terlibat pertarungan tadi sore memasuki kamarnya tanpa permisi. Tak lama, suara dobrakan lainnya juga terdengar dari pintu para tamu yang lain di penginapan ini. Rupanya kelompok Bintang Merah ini memang sangat arogan sehingga sesukanya mendobrak kamar-kamar penginapan ini tanpa mempedulikan bahwa para penghuninya akan tersinggung. Mereka mungkin berfikir, di penginapan murah ini tak mungkin ada orang penting yang harus mereka mereka waspadai. Orang kaya akan memilih penginapan lain yang lebih mewah. Sementara orang-orang penting pasti akan menjadi tamu bhupati.
Namun, Gentayu yang sudah terlanjur dibuat kesal oleh ulah kedua orang tak beradab itu tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Dibukanya portal dari gelang gerobok dan dengan kecepatan yang hampir tak terlihat, ditariknya kedua orang itu ke dalam dimensi gelang Grobok.
'ZAP!'
Gentayu teringat akan ucapan gurunya bahwa dimensi dalam Gelang Grobok tidak cocok umtuk hewan dan manusia. Namun dia justru penasaran, apa jadinya bila hewan atau manusia masuk ke dalamnya.
Kedua tubuh anggota Bintang Merah itu lenyap begitu saja seperti lenyap ke dalam ruang hampa. Tentu saja Ryu yang menyaksikan apa yang dilakukan Gentayu cukup keheranan karena dia sama sekali tidak mengetahui tentang Gelang Grobok pemberian gurunya tersebut.
__ADS_1
"Genta, apa yang kau lakukan pada mereka?"
Ryu tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya karena penasaran.
"Lihat sajalah.. Pasti menarik!" jawabnya sekenanya.
'Hmm.. sejauh ini tidak terjadi apa-apa' gentayu membatin.Dia bermaksud menguji coba pusaka tersebut untuk melihat apa yang akan terjadi pada pusaka itu apabila hewan atau manusia dimasukkan ke dalamnya, dan apa jadinya manusia atau hewan yang memasuki dimensi tersebut.
Penggeledahan kamar-kamar tamu penginapan tetap berlanjut dan para anggota Bintang Merah itu pasti tidak menyadari ada dua anggotanya yang hilang saat itu.
Tak lama berselang, di ujung deretan kamar di depan kamar Gentayu terdengar suara pertarungan yang pecah. Terdemgar suara benda-benda berat menghantam tembok serta suara bagian bangunan yang jebol tak lama kemudian.
Namun, Gentayu memilih tak ambil pusing. Dia bermaksud untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu. Tapi sebelumnya, dia tentu saja ingin melihat hasil percobaamnya terhadap dua anggota Bintang Merah.
Maka, tak menunggu lebih dari sepuluh menit kemudian, Gentayu memeriksa kondisi dimensi dalam Gelang Geroboknya. Dia takjub mendapati bahwa tubuh kedua anggota Bintang Merah perlahan-lahan menghilang karena dicerna sebagai asupan energi di dalam dimensi tersbut.
'Begitu rupanya. Berarti dalam kondisi mendesak gelang ini bisa menjadi senjata. Makhluk bernyawa yang dimasukkan akan kehilangan udara dan tidak bisa bernafas. Dimensi ini juga menyerap energi kehidupannya, lalu mengurai jasadnya. Tapi dimensi ini tidak mencerna tumbuhan yang dimasukkan guruku. Ini menarik!' gumam Gentayu.
Ryu sendiri yang menyaksikan proses tersebut bergidik ngeri. Dia berfikir bahwa ternyata tuan barunya bukan orang sembarangan karena memiliki pusaka berharga yang bahkan jumlahnya tidak banyak di dunia ini. Darimana dan bagaimana dia mendapatkannya? Mungkin itulah yang difikirkan makhluk berwujud roh tersebut.
__ADS_1