JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Anjani


__ADS_3

Gentayu dan lainnya terus berbincang-bincang hingga matahari benar-benar terbenam.


Malam itu, kepala rombong benar-benar menjamu Gentayu dan lainnya dengan suguhan makanan dan minuman istimewa yang bisa mereka hidangkan. Masakan mereka jelas jauh berbeda bila dibandingkan makanan yang dijumpai di kalangan pejabat kerajaan atau yang biasa ditemui dalam jamuan antar ketua perguruan. Tapi tetap saja, makanan yang terlihat sederhana karena terbatasnya variasi cara memasak tersebut terkesan istimewa. Bahkan bagi Gentayu yang terbiasa makan jamuan ala pejabat kerajaan sekalipun.


“Tuan dan nona, silakan beristirahat jika sudah mengantuk. Kami sudah sediakan kamar ala kadarnya untuk istirahat tuan dan nona sekalian. Mungkin tidak semegah kamar Marga Api, tapi kami harap tuan dan nona berkenan..” Joh Kaiman berkata dengan sedikit sungkan. Rumahnya tentu saja tidak mungkin disejajarkan dengan istana Marga Api yang menurutnya terlalu megah.


Joh Kaiman memang pernah sekali mengunjungi Marga Api. Dan memang kemegahannya sulit untuk tidak dikagumi.


Marga Api, demikian mereka dikenal, adalah nama klan pendekar yang merupakan keturunan ataupun murid dewa api. Mereka mendiami sebuah gunung api dengan api abadi di beberapa bagian puncaknya.


Setelah berlalu ratusan tahun lamanya, markas klan tersebut berkembang menjadi sebuah kota yang maju dan megah.


Malam itu, Gentayu, Hao Lim dan Anjani bermalam di rombong Dajau yang dipimpin Joh Kaiman. Joh Kaiman sendiri, malam itu pamit kepada ketiganya dan istrinya untuk pergi kerumah salah satu warga yang anaknya meninggal dunia tadi siang. Mereka harus mengadakan upacara mala mini di rumah duka.


Gentayu memilih untuk medatangi Anjani. Semakin banyak informasi diterima di dunia ini, semakin membuatnya bingung dan tak mengerti. Namun dia sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamar gadis itu yang telah tertutup.


“Masuk saja!” Suara Anjani dari dalam kamar mengejutkan Gentayu.


‘Gadis ini tahu aku berada di luar kamarnya?’ Gentayu memeriksa sejenak dinding dan pintu kamar yang terbuat sepenuhnya dari lapisan-lapisan kayu ditipiskan itu. Tak ada celah untuk mengintip, bahkan cahaya dari dalam kamar juga tidak ada yang tersorot keluar sebagai penanda dinding berlubang.


Dengan ragu, dibukanya pelan pintu tersebut. Jantungnya berdegup semakin kencang setelah pintu kamar terbuka.


Seorang dewi dengan kecantikan tiada cela dijumpainya di dalam kamar Anjani berada. Bibir tipis yang merah merekah, kulit seputih giok yang menggoda dibalut sutra putih. Menambah kecantikannya, dagu lancip yang membelah menghias wajah oval dan imut sang dewi. Dan yang tak mungkin bisa Gentayu abaikan, tentu saja rambut hitam Panjang tergerai yang menambah keanggunan sang dewi di dalam temaramnya penerangan kamar tersebut.


Gentayu terpaku ditempatnya selama beberapa detik. Mulutnya tanpa sadar terbuka dan liurnya sempat menetes menyaksikan pemandangan di hadapannya. Matanya tak berkedip, seolah tak mempercayai bahwa sosok di hadapannya adalah Anjani.


“Ngilernya ditunda dulu.. sebaiknya cepat katakan ada apa mencariku malam-malam begini..?”


Gentayu masih terbengong-bengong melihat pemandangan di hadapannya, sebelum suara ketus dari pemilik kecantikan menyadarkannya. Sekarang, Gentayu baru yakin bahwa wanita di hadapannya ini memang Anjani, bukan dewi seperti yang sering didengarnya dalam dongeng. Hanya saja, kecantikan Anjani terlihat puluhan kali lebih mempesona malam itu.


Karena gugup, alih-alih segera mengatakan tujuannya mendatangi Anjani, Gentayu malah melangkah keluar dari kamar.

__ADS_1


“Hei..! Kenapa mencariku malam-malam?!” kali ini suara Anjani lebih tinggi. Menghentikan Langkah Gentayu yang sudah berada di depan pintu lagi.


“Ti.. tidak jadi… besok saja..” Gentayu buru-buru keluar, dengan jantung yang semakin kencang berdetak. Ini adalah pertamakali dia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Rasa gugup, gembira, entah apalagi bercampur menjadi satu saat meninggalkan kamar Anjani dan kembali ke kamarnya.


“Huh! Laki-laki aneh!” Anjani mendengus kesal memandang punggung Gentayu yang telah menghilang di balik pintu kamarnya. Tadinya, dirinya baru saja hendak bermeditasi Ketika menyadari Gentayu berdiri di depan kamarnya. Dan sekarang, setelah Anjani membatalkan meditasinya, Gentayu justru pergi begitu saja tanpa jelas apa tujuannya dating ke kamarnya malam-malam begini.


Di kamarnya, Gentayu justru tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya sangat Lelah, namun matanya benar-benar tidak mau dipejamkan. Setiap matanya terpejam, bayangan Anjani yang baru saja dilihatnya kembali hadir.


‘Aaaah..! Mengganggu saja!’


Gentayu yang tak bisa mengusir bayangan kecantikan Anjani memilih meninggalkan kamarnya dan melangkah keluar dari rumah Joh Kaiman. Ternyata, di luar bulan purnama bersinar terang.


Di bawah pohon kecapi yang tumbuh di pelataran rumah Joh Kaiman, Gentayu merebahkan punggungnya beralaskan rerumputan yang terasa bagaikan permadani itu.


Matanya memandang kearah bulan purnama yang beranjak naik menuju ke atas kepala. Bau harum bunga dari buah kecapi menambah nyaman suasana hatinya.


‘Ah.. rasa damai ini..’ Batin Gentayu seraya menghela nafas dalam-dalam. Meresapi perasaan damai dan tenang yang hampir tak pernah dirasakannya lagi selama beberapa tahun terakhir.


‘Kalau difikir-fikir, hidup ini kadang terasa lucu! Bagaimana aku berakhir seperti saat ini? Tiba-tiba harus kembali ke garis terbawah, titik terendah, saat diriku merasa telah berada di puncak.. Hidup memang benar-benar lucu.. lalu, apa artinya semua yang kuperjuangkan selama ini?’


Gentayu mulai merenungi perjalanan hidupnya selama ini. Terlalu banyak yang telah dilalui dan dia merasa justru melupakan hal prinsip dalam hidupnya. Untuk apa dia hidup dan kenapa dia harus melakukan yang selama ini dilakukannya?


Sambil memejamkan matanya, pemuda itu mulai memikirkan banyak hal yang terlewatkan dari hidupnya. Masa kanak-kanak yang dihabiskan dengan berlatih lebih keras dari yang lain di padepokan Pedang Tunggal, menjadi bagian dari prajurit lamahtang dan menghabiskan masa remaja sebagai punggawa istana, lalu kini berakhir di dunia antah berantah ini.


Saat sedang merenungi perjalanan hidupnya yang tidak ada manis-manisnya itu, bayangan Anjani kembali melintas di matanya. Senyumnya yang menawan kembali membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Gentayu segera membuka matanya karena ingin mengusir bayangan gadis itu.


Namun, bukannya menghilang, justru bayangan itu semakin jelas. Senyum itu… rambut hitam yang tergerai itu. Bahkan, kini harum tubuh gadis itu ikut tercium oleh hidungnya.


“Malam yang indah, bukan?” Suara yang sangat dekat di telinganya itu berhsil membuat Gentayu beringsut.


“Kau..?” Gentayu hampir melompat dari tempat duduknya Ketika suara itu menyapanya.

__ADS_1


“Kenapa? Apa aku mengganggumu?”


“Ti.. tidak.. iya.. tentu saja… tidak..”


“Kenapa dengan dirimu? Apa ada yang salah denganku? Kuperhatikan, sejak tadi kau melihatku dengan cara yang aneh.. Jangan katakan kalau kau.. “ Anjani berkata sambal telunjuknya bergoyang di depan hidung.


“Aku apa?” Gentayu yang gugup menimpali kalimat Anjani yang menggantung.


“Kau mabuk karena tuak rampasan dari Karang Setan yang diberikan Yumiko dan Sakuza padamu..!” Anjani berkata dengan yakin. Matanya bahkan melotot seperti sikap seorang ibu memarahi anaknya.


“kau ini.. mengganggu saja! Mana ada aku mabuk tuak, heh?” Gentayu jelas saja membantah tuduhan Anjani.


‘Mabuk tuak? Yang benar saja..!’ mungkin begitulah Gentayu mengumpat.


“lalu, kenapa sikapmu begitu aneh malam ini?”


Gentayu terdiam. Alih-alih menjawab Anjani, dia justru kembali larut memandangi wajah Anjani yang terlihat makin cantik di bawah sinar bulan. Mata mereka beradu untuk beberapa saat, lalu Anjani terlihat memiringkan kepalanya. Berjalan mendekat dan..


‘PLAK!’


Sebuah tamparan punggung tangan kembali diterima Gentayu. Kali ini mendarat sempurna di mulutnya yang menganga tanpa disadarinya.


“KEnapa memukulku?! Kasar sekali jadi wanita..” Protes Gentayu.


“Siapa yang memukulmu? Aku memukul lalat yang mulai berkumpul di dekat mulutmu yang terbuka itu..” Jawab Anjani sekenanya dan tak peduli protes Gentayu. Jelas saja dia ‘ngarang, karena tak ada satupun lalat di sana.


“Hei! Kalian berisik! Ini sudah malam! Waktunya warga tidur! Bertengkarnya besok saja!” Kali ini, suara Hao Lim yang muncul di antara keduanya dengan wajah kesal.


Di malam yang sunyi seperti di rombong ini, suara mereka berdua bahkan bisa di dengar sampai beberapa puluh meter jauhnya.


Gentayu dan Anjani sama-sama menoleh dan memperhatikan sekitarnya. Hao Lim benar. Beberapa warga tampak keluar dari pintu rumahnya seolah protes dengan kegaduhan tengah malam yang mereka ciptakan.

__ADS_1


__ADS_2