JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Lebah Beracun


__ADS_3

Mahapatih Rambang Dangku adalah sosok terkuat di antara seluruh kekuatan di Lamahtang. Dalam peristiwa penyerbuan istana beberapa waktu lalu, dirinya bahkan berhasil membunuh setidaknya empat orang komandan di antara duapuluh enam orang komandan pasukan aliansi aliran hitam.


Para komandan ini setidaknya berada di level Pendekar Sakti Mumpuni. Sedangkan pemimpin para komandan ini adalah para tetua kelompok aliran hitam yang semuanya berada di level pendekar Sakti Bergelar.


Mengalahkan empat orang di level sakti mumpuni jelas menunjukkan bahwa sang mahapatih sendiri telah berada di level setidaknya Pendekar Sakti Bergelar.


Sayangnya, para penyerbu itu telah mempersiapkan serangannya dengan baik.


Mahapatih yang tidak mengetahui bahwa Raja Prabu Menang telah mengungsi di bawah pengawalan Dandun menjadi panik saat melihat istana raja terbakar hebat dan terdengar pekik kematian.


Dengan terburu-buru dia akhirnya sampai di istana hanya untuk menemukan onggokan mayat dan bangunan yang runtuh. Rasa putus asa membuatnya kalap dan mengamuk sebelum akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan dirinya beserta sisa keluarganya yang berhasil diselamatkan.


Tak disangka, ternyata akhirnya mahapatih mengetahui bahwa sang Raja selamat saat dirinya berhasil lolos dari kepungan musuh.


Mahapatih kemudian berhasil bergabung dengan sisa kekuatan pendukung raja yang jumlahnya tidak sampai seratus orang itu dan mengungsi ke desa Air kati ini.


Kini, sang Mahapatih tengah kewalahan mengahadapi dua orang pengeroyoknya. Mereka adalah dua orang rekan Mpu Jangger dari perguruan Segoro Geni.


Kekuatan kedua lawannya tidak terlampau jauh di bawah Mpu Jangger, tapi dalam koalisi aliran hitam ini mereka hanya menjadi komandan saja sekalipun kekuatan mereka di atas beberapa tetua perguruan lain semisal Dewi Mawar Hitam maupun piyut.


Kendati begitu, kelompok Segoro geni ini tetap saja menjadi mayoritas dari mereka yang menjabat komandan karena tingginya kemampuan para pendekar tersebut.


Dari tujuh perguruan atau padepokan dan kelompok yang bergabung dalam aliansi aliran hitam yaitu Kelabang Hitam, Kala Merah, Rambut Iblis, Mawar Upas, Segoro Geni, Kelompok Perampok Bajing Kelat dan kelompok pembunuh bayaran Kait Malam, Segoro Geni adalah satu-satunya kelompok dengan jumlah pendekar sakti terbanyak.


Sehingga perwakilan dari Segoro Geni ini kemudian mendominasi sebagai pucuk-pucuk pimpinan pasukan. Dari sekitar 26 komandan yang melaksanakan tugas-tugas berbeda, Sembilan orang di antaranya berasal dari kekuatan Segoro Geni.


Setelah bertukar serangan ratusan jurus menghadapi dua orang ini, Mahapatih Rambang Dangku mulai banyak menerima pukulan dan goresan senjata dari kedua lawannya. Baju pusakanya yang biasanya mampu meredam serangan tenaga dalam dan senjata pusaka itu, kini tak lebih dari pakaian biasa. Robekan terlihat di sana sini.


Kehabisan tenaga dalam adalah penyebab tidak berfungsinya baju pusaka tersebut. Iya, Mahapatih itu telah bertarung mati-matian melawan Mpu jangger untuk melindungi raja dan keluarganya sebelum beberapa pendekar segoro geni lainnya mengambil alih pertarungan keduanya.


Awalnya, selepas bertarung hidup dan mati melawan Mpu Jangger tadi, Mahapatih kemudian masih harus menghadapi lima orang lainnya yang berkekuatan Pendekar Sakti Mumpuni.


Meskipun tiga orang di antaranya berhasil dikalahkannya, namun semua harus dibayar mahal dengan makin menipisnya tenaga dalam pada dirinya. Kini Mahapatih harus bertarung melawan sisa dari kelima lawannya yang ternyata cukup licik.


Kedua orang ini ternyata sengaja mengorbankan ketiga rekannya untuk menghemat tenaga mereka.


Barulah ketika melihat Mahapatih mulai melemah setelah membunuh tiga rekannya, mereka segera melancarkan serangan-serangan mematikan.


Dalam pertarungan yang berlangsung lebih dari sejam lamanya itu, Mahapatih terpecah konsentrasinya saat melihat para pasukan pengawal raja yang kini telah terbujur kaku tak bernyawa.


Fikirannya menjadi kacau karena memikirkan nasib raja dan keluarganya. Kini, prioritas utamanya adalah bagaimana caranya segera mengalahkan kedua lawannya untuk mencari keberadaan sang raja.

__ADS_1


Namun jangankan mengalahkan lawannya, Mahapatih justru menerima lebih banyak luka.


Luka-luka tersebut memang belum mengenai bagian vital tubuhnya. Namun beberapa luka menganga yang terus mengeluarkan darah tentu saja melemahkan fisiknya secara signifikan.


Pakaiannya kini telah sepenuhnya berwarna merah darah. Baik darah musuhnya, juga darahnya sendiri.


Wajahnya juga sangat sulit dikenali karena beberapa giginya telah rontok saat lawannya masih berjumlah lima orang sebelumnya.


Satu-satunya yang membuatnya dikenali sekaligus menjadi ciri khasnya hanyalah senjatanya. Sebuah pedang bergagang naga dengan bilah terbuat dari sejenis batuan giok yang berkilau indah. Itulah pedang Naga Kuwara, salah satu pusaka sakti yang cukup melegenda sebenarnya.


Tampaknya, hanya pedang itulah satu-satunya berkah yang masih membuat Mahapatih bisa bertahan dari gempuran-gempuran kedua lawannya hingga sejauh ini.


Sekali pedang tersebut menyabet ke arah lawannya, maka gelombang energi tebasannya akan tetap mengalir dan bisa melukai sekalipun pedang itu luput dari sasaran.


Dalam kondisi yang sudah sangat memprihatinkan itu, Mahapatih Rambang Dangku dibuat Kembali tersungkur karena sebuah tendangan lawannya berhasil menghajar bahu kanannya.


“Hah! Kudengar Mahapatih Dangku itu sakti Mandraguna. Ternyata sekarang terlihat tak lebih gagah dari dari tikus kecemplung got! Hahahaha…!” Salah satu pendekar dengan wajah penuh bopeng tertawa mengejek, saat melihat sang Mahapatih dengan susah payah berusaha bangkit berdiri dengan pedang Naga Kuwara sebagai penopang tubuhnya.


Temannya yang bermuka hitam sangar maju menghampiri sang Mahapatih tak lama kemudian. Tangan kanannya mencengkeram dagu Mahapatih dengan kasar, dan sedetik kemudian tangan kirinya meninju wajah mahapatih yang sudah penuh lebam itu.


Mahapatih yang sudah mencapai Batasan fisiknya benar-benar tak berdaya saat ini. Dia terhuyung ke belakang saat sebuah tendangan menyusul menghantam dadanya tanpa sempat mengelak ataupun menangkis. Darah kental keluar menyembur dari mulutnya.


Mahapatih Rambang Dangku terjatuh ke tanah dengan posisi terlentang. Pedangnya terlepas. Dia berfikir, mungkin inilah akhir dari perjalanannya hidup di dunia ini.


Sebelum matanya benar-benar gelap, dia merasakan ada tangan kekar yang menangkap tubuhnya dan mendudukkannya di atas rerumputan. Sesuatu yang terasa pahit dijejalkan ke mulutnya dan diiringi air segar yang mengalir ke dalam mulutnya memperlancar sesuatu yang pahit itu tertelan.


“Kau akan segera membaik, paman. Sebaiknya bawa Lokajaya pergi dari sini…” Hanya itu suara dari pemilik lengan kekar yang ternyata memberikannya obat untuk sekedar membantunya melewati masa kritis. Dia Adalah Gentayu.


“Tunggu aku di tepi desa, paman. Bila aku tak Kembali setelah matahari terbenam, paman pergilah dan selamatkan Lokajaya!” Gentayu Kembali mempertegas kalimatnya.


Mahapatih tak punya pilihan lain selain mengangguk dan melangkah pergi membawa Lokajaya.


Tak ada yang mengejarnya karena semua prajurit Lamahtang telah tewas ditangannya. Hanya dua pasang mata lawannya yang kini mengikuti kepergiannya dengan kesal di belakang punggung Gentayu.


“Sekarang, Kalian lawanku!!” Gentayu mendengus melepaskan kesedihan, kemarahan, dan kejengkelannya kepada kedua orang lawan dihadapannya.


Tanpa menunggu, dia segera mendahului menyerang. Menggunakan pedang Naga Kuwara milik Mahapatih yang tertinggal tentu saja.


Kekuatan Gentayu terasa berkali lipat lebih hebat karena kemarahannya.


Pemuda itu mengamuk dengan jurus pedang tunggal yang dikuasainya sebagai jurus dasar. Dia tak sudi membunuh kedua lawannya ini menggunakan jurus-jurus tingkat tinggi miliknya. Terlalu terhormat, fikirnya.

__ADS_1


Jurus-jurus pedang yang sebenarnya jurus biasa yang mudah terbaca menjadi sangat mematikan saat Gentayu yang memainkannya. Ditambah dengan menggunakan pedang pusaka tingkat tinggi, tebasannya benar-benar membawa aroma kematian yang mengancam bagi lawannya.


Kedua Pendekar Segoro Geni yang semula merasa telah di atas angin menjadi terkejut.


Informasi tentang sosok Gentayu tidak dilaporkan dan tidak diketahui keduanya. Mereka, bahkan Mpu Jangger sendiri mengira bahwa orang terkuat di antara pengawal raja adalah Mahapatih saja. Ternyata laporan tersebut tidaklah tepat.


Sambil mengumpat dalam hati, kedua pendekar dari Segoro Geni berusaha menghindar, menangkis, dan memberikan serangan balasan kepada Gentayu.


Sayangnya, Gentayu memang sedang tak ingin memberikan celah bagi keduanya yang bersenjata aneh tersebut.


Si Muka bopeng mengenakan sarung tangan baja dengan ujung-unjung pada kepalan tangannya membentuk tiga mata pedang ditambah sepatu baja yang juga memiliki mata pedang di antas penutup lututnya.


Baja itu terlihat sangat ringan baginya, sehingga gerakannya tetap lincah namun mematikan. Si Muka Hitammenggunakan piringan baja dengan gerigi-gerigi membentuk mata pisau. Meskipun begitu, kombinasi serangan keduanya nyatanya tidak mampu mengimbangi amukan Gentayu.


‘Trank!’


‘Tingk!’


‘Tnang!’


Ratusan kali suara dentingan beradunya dua jenis senjata terdengar. Namun, pada kali ke sekian, si


Muka Bopeng tiba-tiba melompat mundur dengan panik.


Kedua sarung tangan bajanya berikut sepatu bajanya terbelah!


“Diamput!!” Makinya dengan kesal. Kedua senjata uniknya itu bukanlah barang biasa, melainkan pusaka yang diperolehnya dari para perompak dengan membayarnya mahal. Seluruh tabungannya ludes untuk itu. Dan kini, senjata berharganya terbelah begitu saja setelah melewati puluhan pertarungan.


Berbeda dengan si Bopeng, Si Muka Hitam justru meradang karena gerakan mundur yang tiba-tiba dilakukan temannya itu membuatnya menjadi satu-satunya sasaran pedang Gentayu saat ini. Muka Hitam merasa Pedang Gentayu terasa makin cepat gerakannya. Beberapa kali dia telat menangkis serangan pemuda itu. Akibatnya, luka-luka goresan mulai menghiasi tubuhnya.


Gentayu tiba-tiba menghentikan serangan dan melompat mundur. Kurang dari sedetik kemudian, terjawablah kenapa Gentayu tiba-tiba justru mundur dengan kecepatan tak terlihat mata.


‘Jleb!’


‘Jleb!’


‘Jleb’


Puluhan anak panah dan pisau terbang menghunjam ke arahnya. Sedetik saja telat menghindar, pisau-pisau itu akan mampir di tubuhnya. Tentu dia tidak akan terluka berkat ilmu perisai Naga Apinya. Namun, asap hitam keunguan yang muncul setelah puluhan senjata tersebut menancap di tanah jelas bisa membunuhnya.


“Ingin menyerangku dengan senjata beracun? Kalau kalian fikir bisa membunuhku dengan mainan itu… Uhuk! Uhuk.. Uhuk..!” Gentayu tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

__ADS_1


Kepalanya tiba-tiba merasakan pusing. Tenggorokannya terasa panas. Dia mengedarkan pandangannya ke sekililing dan akhirnya berhenti di bagian depan jubahnya. Seekor lebah beracun! Sejak kapan hewan itu ada di situ??


__ADS_2