
Butuh waktu lebih dari sepuluh menit berikutnya sebelum Gentayu tiba-tiba bangkit dari posisinya berlutut. Pemuda itu terlihat bangkit dengan bantuan sebilah keris yang ditancapkan ke tanah sebagai tumpuannya.
Sebagian penonton saat itu telah mulai meninggalkan alun-alun karena bosan menunggu.
Bahkan, beberapa peserta dan rombongan mereka telah berpamitan kepada prabu Jayadilaga untuk kembali ke tempat masing-masing.
Ketika Gentayu bangkit, sebagian orang beranggapan bahwa kalaupun maju dan bertarung melawan patung raksasa demi cincin itu, dirinya tidak akan bertahan lebih lama daripada Tunggulwaru. Memang, kekuatan yang dipancarkan Gentayu terlihat lebih lemah daripada putra adipati Loh Jati itu.
“Bahkan, untuk bangkitpun dia harus dibantu dan bertopang pada kerisnya. Kasihan sekali..” celetuk seorang penonton kepada rekannya. Hanya menoleh sesaat, namun terus berlalu pergi dari alun alun.
“Iya, sepertinya sekali pukul dia akan roboh. Bahkan melawan pemuda dari Loh Jati itu saja dia tak berdaya..” sahut rekan di sebelahnya. Sama sekali tidak menaruh minat.
Suara lain terdengar.
“Tapi, barangkali karena mampu mengeluarkan sosok naga api tadi, patung itu akan tunduk! Bukankah naga api itu salah satu hewan tunggangan dewa?”
Bermacam komentar meluncur dari mulut para penonton dan sebagian bangsawan. Rata-rata mereka meragukan Gentayu akan mampu bertahan jika harus bertarung.
Para penonton yang semula telah mulai membubarkan diri hanya menoleh sesaat ke arah Gentayu sebelum tetap berlalu. Mereka sudah tidak lagi tertarik menyaksikan pertarungan Gentayu.
Saat bangkit, mata Gentayu masih dalam kondisi tertutup. Tapi tak ada yang benar-benar memperhatikannya saat itu.
Luka diperutnya telah pulih, menutup sempurna seperti tak pernah terluka sebelumnya. Hanya pakainnya yang penuh bercak darah kering yang menunjukkan bahwa dirinya memang pernah terluka sebelumnya .
Setelah mencapai level pendekar langit, seorang pendekar memang akan mengalami peningkatan regenerasi dalam sel-sel tubuhnya. Itulah sebabnya, setelah terluka parah, kemungkinan bertahan hidup pendekar di level pendekar langit akan lebih besar daripada saat mereka masih berada di level pendekar bumi.
Tapi Gentayu tidak langsung berdiri untuk menyerang sebagaimana dugaan orang-orang.
Dia justru menoleh ke arah panggung kehormatan, matanya terbuka dengan kilatan api di dalamnya. Menatap putri Cendrawani dari kejauhan.
Lalu pandangannya terpaku pada Manik Baya, lelaki tua botak yang menyeretnya sejauh ini dalam sayembara.
__ADS_1
Bukannya bergerak menyerang, gentayu justru melangkah menjauh dari alun-alun. Pemuda itu masih tidak berminat mengikuti sayembara. Toh tujuannya keluar dari goa Gola Ijo hanya untuk mendapatkan dorongan guna menembus level Pendekar Langit saja. Dan, dia telah berhasil melakukannya.
“Bocah tengik! Mau kemana kau? Apa kau tidak tertarik sama sekali dengan wanita cantik? Tidak tertarik menjadi lebih kuat? Dengan harta kerajaan, kau bisa mencapai puncak kekuatan tanpa kesulitan!”
Sebuah suara bergema di telinga Gentayu. Dia menoleh. Tak ada siapapun. Sepertinya, hanya dirinya saja yang bisa mendengar suara itu. Itu suara cempreng Manik Baya.
“Aku bisa meraihnya tanpa harus terikat dengan banyak aturan hidup istana!” jawabnya ketus dan tetap berlalu.
“Alaaaaah.. bilang saja kau takut melawan patung batu itu! Kau lemah! Cengeng! Impoten, pantas saja kau tak tertarik wanita cantik!” Suara sumpah serapah terdengar. Telinga Gentayu menjadi merah mendengarnya.
Gentayu menahan diri untuk tidak balas mengumpati Manik Baya yang menyumpahinya lewat telepati. Pemuda itu berbalik dengan muka merah padam. Ditancapkannya sekali lagi kerisnya ke tanah.
“Aku akan bertarung!”
Gentayu menghentakkan kakinya ke tanah. Keris Mpu Jangkung di tanah bergetar. Energi ilusi segera menyebar dari bilah keris tersebut dan melingkupi seluruh alun-alun.
Keris Mpu Jangkung memang memiliki kekuatan manipulasi fikiran dan membentuk ilusi. Gentayu sengaja mempergunakan kesempatan dalam sayembara ini untuk menguji kemampuan sebenarnya keris tersebut.
Orang lain akan melihat Gentayu berubah menjadi sepuluh orang. Bahkan Prabu Jayadilaga juga demikian.
Hanya Manik Baya yang tak terpengaruh sama sekali. Tersenyum bangga, juga puas karena berhasil memanas-manasi pemuda itu dengan mudah.
“Darah muda memang penuh gejolak. Hanya perlu sedikit dibakar agar nyalanya bisa menerangi malam..”
Gentayu tengah berjalan mendekati panggung, menuju putri Cendrawani yang tengah sibuk mengendalikan patungnya untuk menghadapi sepuluh tubuh ilusi Gentayu. Wajahnya terlihat lebih tegang daripada saat menghadapi Tunggulwaru.
Sekalipun hanya menggunakan fikirannya, namun putri Cendrawani terlihat serius dan terlalu fokus hingga tidak menyadari Gentayu mendekatinya.
Selain membuat ilusi membagi tubuhnya menjadi sepuluh, Gentayu juga menyamarkan tubuh aslinya agar tak ikut dihancurkan saat triknya terpecahkan. Itulah sebabnya, tidak ada yang melihatnya mendekati putri cendrawani.
Sepuluh sosok Gentayu bertarung sengit melawan patung raksasa. Suara ledakan keras terdengar berkali-kali dalam jeda waktu kurang dari tiga detik setiap ledakan.
__ADS_1
Orang-orang yang semula meremehkan Gentayu mulai antusias menyaksikan jalannya pertarungan sepuluh Gentayu melawan patung raksasa.
Berkali-kali tubuh-tubuh Gentayu itu terpental, meledak, hancur. Namun setiap kali tubuh mereka dihancurkan, akan segera muncul Gentayu-Gentayu lainnya dengan kekuatan yang tidak berkurang.
Salah satu tubuh Gentayu yang baru muncul kembali setelah dihancurkan terpelanting jauh ketika kepalan tangan raksasa itu menerjang tubuhnya. Tapi, salah satu tubuh Gentayu yang lainnya dengan cepat melesat ke atas kepala patung raksasa itu berusaha meraih cincin di atas mahkotanya.
Seperti yang terjadi dengan Tunggulwaru, tubuh Gentayu yang satu ini juga terpental ke udara. Tampaknya, bagian kepala patung tersebut diselimuti energi penghalang dengan daya hempas sangat kuat.
Cendrawani harus membagi fokusnya pada tiga tempat. Tiga dari sepuluh tubuh Gentayu bergerak menyerang bagian kaki sang patung raksasa. Tiga lainnya berusaha menghancurkan bagian perut dan empat sisanya masih berjibaku menyerang bagian kepala, berusaha merebut cincin Sayembara.
Tiba-tiba, patung itu terlihat tidak terkendali. Gerakannya semakin kaku. Dan lebih banyak serangan dari Gentayu yang berhasil mendarat di tubuh patung tersebut.
Di sisi panggung, Gentayu yang telah meminta izin dengan isyarat kepada Manik Baya telah berhasil melancarkan aksinya sesuai rencana. Rencana Gentayu sederhana, mengejutkan putri tersebut dengan kemunculannya sehingga akan kehilangan kontrol sejenak terhadap patungnya.
Benar saja, Gentayu yang tiba-tiba muncul dan wajahnya berada dalam jarak hanya sepuluh sentimeter dari Cendrawani sukses mengacaukan kontrol Cendrawani terhadap patung tersebut.
Nyaris saja putri kesayangan prabu Jayadilaga itu jatuh terjengkang andai Gentayu tak menghentikan kursi yang didudukinya.
Sementara itu, tepat ketika momen tersebut terjadi, salah satu tubuh Gentayu yang tengah berusaha merebut cincin berhasil menerobos perisai energi di bagian mahkota yang melindungi cincin sayembara.
Tubuh Gentayu itu langsung hancur menjadi asap, tapi cincin itu berhasil diselamatkan tubuh gentayu lainnya. Kemudian, muncul tubuh Gentayu baru lainnya menggantikan tubuh yang musnah barusan.
Saat sang putri kembali berhasil menguasai dirinya dari keterkejutan, Gentayu telah memegang lengan kanan Cendrawani dan meletakkan cincin yang diambil salah satu tubuh ilusinya di telapak tangannya.
Tentu saja Cendrawani sangat syok ketika melihat cincin yang sedetik lalu direbut salah satu dari sepuluh tubuh Gentayu di atas sana kini telah berada di telapak tangnnya sendiri.
Gadis cantik itu sampai tak bisa berkata walau sekedar ingin mengumpati Gentayu yang mengejutkannya. Melongo. Seolah kesadarannya meninggalkan tubuhnya.
Bersamaan dengan cincin tersebut diletakkan di telapak tangan Cendrawani, kesepuluh tubuh Gentayu di sekitar patung raksasa lenyap menjadi asap.
Gentayu telah memenangkan sayembara itu tanpa terluka.
__ADS_1
Nb. Maaf baru bisa update.
Semoga bisa lanjut lagi malam ini.