JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Obat Untuk Orang Biasa


__ADS_3

Anjani akhirnya bernafas lega setelah memastikan keberadaannya tidak terendus Hang Kelana. Namun, kekhawatiran lainnya muncul di wajahnya.


Saat ini, nafas Gentayu terlihat semakin lemah, ditambah denyut nadinya yang sesekali menghilang. Tampaknya, lelaki di hadapannya ini benar-benar terluka parah dan mengancam nyawa.


Rasa khawatir itu berubah menjadi panik saat Anjani menyadari, bahwa dia sama sekali tidak memiliki pemahaman apapun tentang pengobatan.


Tak mau membuang waktu, Anjani segera menggendong kembali Gentayu.


Dia bahkan sudah tak peduli lagi andai dia akan bertemu dengan Hang kelana lagi, yang terpenting saat ini adalah segera menemukan kota terdekat dan mencarikannya tabib.


Sebelum melesat, Anjani mengaktifkan gelang gerobok di tangan Gentayu. Tanpa ragu, diambilnya beberapa obat yang diberikan oleh Ki Sabrang Giri sebelumnya dari gelang gerobok Gentayu dan memasukkan obat-obatan itu ke mulut Gentayu.


Selesai membantu Gentayu yang nafasnya semakin lama semakin jauh jarak jedanya agar menelan obat yang didapatnya, Anjani tak lagi mempedulikan apapun. Dengan Gentayu di punggungnya, dia segera melesat ke sisi atas tebing. Tujuannya adalah menemukan tabib!


+++++++


Kota Pasir Barat adalah sebuah kota yang cukup ramai di selatan wilayah Kerajaan Sindur Kuntala. Kota itu, berikut delapan kota lainnya adalah wilayah dari Marga Tanah. Orang-orang marga tanah tampil sebagai pemimpin-pemimpin yang disegani. Walikota dari kota Pasir Barat sendiri dijabat oleh putra keempat dari kepala Marga tanah bernama Lemahbang.


Kota berpenduduk lebih dari dua ratus ribuan orang itu cukup sibuk di siang hari. Aktivitas perdagangan dan jasa mendominasi keseharian penduduknya. Para petani sering terlihat menjual langsung hasil buminya karena memang walikota tidak memberlakukan pengenaan pajak terhadap petani yang menjual langsung dagangannya sendiri.


Di salah satu sudut kota, terdapat sebuah bangunan cukup besar namun tetap terkesan sedehana. Sedari pagi, banyak warga yang dating ke tempat tersebut dengan diantar oleh rekan ataupun keluarganya. Itu adalah sebuah balai pengobatan milik padepokan bunga tanjung merah.


Pengunjung datang dan pergi. Namun semuanya harus melewati satu pintu yang sama. Juga harus melewati sebuah meja batu di mana dua orang wanita dengan seragam warna biru bergambar bunga tunjung merah terlukis di lengan masing masing. Mereka berdua menjalankan tugas sebagai semacam tenaga adminitrasi balai pengobatan.

__ADS_1


Tiga orang sedang mengantri di depan meja batu tersebut saat seorang wanita cantik mencoba menerobos antrian mereka. Seorang lelaki tampak terkulai lemah di punggungnya. Dia adalah Anjani yang membawa Gentayu ke tempat ini untuk mendapatkan pengobatan.


Energi Anjani telah terkuras habis untuk menuju ke tempat ini. Sementara nafas Gentayu, semakin lama semakin lama terjeda. Tentu saja Anjani sangat panik karenanya. Dalam kondisi tersebut, Anjani berharap bahwa Gentayu akan bisa diprioritaskan untuk mendapatkan pertolongan sehingga dirinya nekad menerobos antrian dua orang di depannya.


Sayangnya, respon yang diterima tidak seperti harapannya.


“Hei, Nona! Silakan mengantri di belakang!” sergah salah satu dari wanita yang bertugas menunggui di meja batu. Ketus dan kasar.


“Tapi no…” jawab Anjani berusaha menjelaskan. Kalimatnya terputus tak berlanjut karena wanita lainnya langsung memotong pembicaraannya. Masih dengan ketus dan kasar.


“Antri dan kami layani! Atau silakan tinggalkan tempat ini!” katanya sambal sedikit melotot. Wajahnya sama tidak ramahnya seperti rekan di sebelahnya.


Kedua wanita ini kembali sibuk melayani dua orang di hadapan mereka tanpa mau sedikitpun memberi perhatian kepada Anjani yang semakin cemas. Rasa kesal berkecamuk di hati Anjani menerima perlakuan kasar kedua wanita pelayan tersebut, namun ia tak punya pilihan apa-apa selain menurut. Apalagi yang bisa dilakukannya?


“Nona gina dan nona marni. Apakah tabib Sima ada di dalam?” Tanya lelaki itu, sama sekali tidak mempedulikan orang lain. Tiga pengawalnya bahkan dengan arogan mengambil alih tempat kedua orang yang tengah menunggu di depan Anjani.


“Oh, iya! ada tuan. Silakan langsung masuk, kebetulan pasien terakhir barusan keluar..” kata wanita bernama Marni, sangat sopan dan sedikit menunduk. Ini menjelaskan bahwa orang yang dihadapinya memiliki posisi penting di kota ini.


Kedongkolan mulai berkumpul di hati Anjani melihat perbedaan perlakuan yang diterimanya.


Saat itulah, sebuah tangan menepuk bahunya. Sedikit kaget, Anjani menoleh ke arah pemilik tangan yang telah menepuk bahunya.


“Maaf, nona. Sepertinya rekan anda ini dalam kondisi luka parah. Jika tidak segera ditangani, aku takut dia tidak akan tertolong…” seorang wanita paruh baya berkata saat dirinya menoleh. “Ayo, ikut denganku..”kata wanita tua itu melanjutkan.

__ADS_1


Tidak terlalu memahami maksud ‘ikut denganku’ dari ucapan wanita itu, namun Anjani segera mengikuti wanita itu keluar dari balai pengobatan tersebut.


Di luar balai, wanita tua itu memegang bahu Anjani.


Saat itulah Anjani merasakan hawa hangat mengalir dari telapak tangan wanita tua itu sebelum tiba-tiba matanya menyipit karena di depannya cahaya menyilaukan mata tiba-tiba bersinar sangat terang.


‘Blap!’


Ketika cahaya itu menghilang, Anjani mendapati dirinya dan Gentayu telah berada di sebuah ruangan berbatu. Sepertinya, itu adalah sebuah goa.


Di tengah ruangan, terdapat sebuah batu berwarna hijau di tengahnya, hitam bening di sisi-sisinya yang membentuk pola aneh, dan batuan putih serupa susu di lapisan bawahnya. Batu tersebut berwujud datar memanjang, seukuran Panjang tubuh manusia umumnya. Sepertinya, itu adalah sebuah pembaringan atau sejenisnya.


“Letakkan temanmu atau suamimu atau siapapun itu yang kau gendong ke atas permukaan batu giok itu. Aku akan meracik obat untuk membantumu. Sementara ini, balurkan ramuan ini ke seluruh badannya.” wanita itu berkata, tanpa basa basi. Menyerahkan sesuatu mirip tanduk yang memiliki tutup di atasnya. Itu adalah tanduk hewan yang difungsikan sebagai botol wadah ramuan semi cair yang segera diterima Anjani.


Wanita tua itu segera mengeluarkan bermacam tumbuhan obat dari ruang hampa dan mulai meraciknya.


Cara meracik obat wanita ini sungguh unik. Bila dalam kitab pengobatan peninggalan guru Gentayu, Bulan Perak maupun praktek sehari-hari tabib di dunia lamanya adalah tumbuhan obat itu hanya ditumbuk, atau di rebus saja. Namun wanita ini menggunakan Teknik meracik obat yang unik dan belum pernah dilihat sebelumnya oleh Anjani.


Wanita itu memasukkan beberapa tanaman obat yang dipilihnya ke dalam sebuah wadah. Setelah dipilah, sebagain dihancurkan setelah dibakar menggunakan api dari tangannya dan menjadi bubuk obat. Sementara yang lainnya di masukkan ke dalam sesuatu serupa tungku yang memiliki tutup di atasnya. Selang beberapa lama kemudian, ketika tungku mengeluarkan suara aneh, tutup batu dibuka dan cairan obat dari tumbuhan segera mengental menjadi butiran obat berwarna hijau transparan.


Cara unik wanita tua ini mengolah tanaman obat cukup menarik perhatian Anjani, tapi tetap saja kecemasan memikirkan Gentayu menggayut di wajahnya.


“Nona..” kata wanita tua itu ketika telah berada di sisi Anjani “Suami atau teman atau siapapunmu ini, apakah dia orang biasa? Kenapa aku sama sekali tak merasakan aliran energi dath dalam nadinya..” wanita tua itu keheranan namun memaklumi setelah memeriksa sejenak kondisi Gentayu. Dia sebenarnya tidak membutuhkan jawaban dari Anjani karena kemampuannya mendeteksi energi di tubuh Gentayu telah menjelaskan banyak hal padanya.

__ADS_1


“Balai pengobatan itu, tidak akan menerima pasien orang biasa. Mereka hanya akan menerima pasien minimal pendekar level bumi. Kata orang, itu karena memang produksi pil mereka diciptakan untuk kalangan pendekar saja, bukan orang biasa..” wanita itu menjelaskan.


__ADS_2