JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kau...


__ADS_3

Gentayu tidak bisa segera melanjutkan perburuannya. Kekuatannya memang bertambah hampir tiga kali lipat dari sebelumnya setelah menyerap seluruh kekuatan kedua siluman belalang, namun kekuatan yang diterimanya memmbebani tubuhnya.


Kekuatan di dalam diri Gentayu harus diselaraskan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perburuan, atau tubuhnya akan meledak karena kekuatan besar itu belum sepenuhnya stabil dalam dirinya. Untuk itu, Gentayu memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk melakukan meditasi.


Tibalah ia di sebuah goa kecil yang cukup tersembunyi, tak jauh dari anak sungai kecil berair deras. Tempat itu, hanya berjarak tak lebih dari sembilan puluh depa dari lokasi pertarungannya dengan kedua belalang.


Daging kedua belalang hasil buruan pertamanya lalu diserahkan kepada Sempati untuk disantapnya. Anak garuda itu nampak bersemangat memakan dua gundukan besar daging belalang itu. Tak butuh waktu lama, daging kedua belalang itu telah lenyap, berpindah ke dalam perut kecil si anak garuda.


Gentayu hanya bisa menggelengkan kepala sembari tersenyum kecut. Bagaimana mungkin hewan dengan perut yang saat ini tak mungkin lebih besar dari perutnya bisa makan daging sebanyak itu?


Gentayu tak ingin memikirkannya, bahkan pura-pura tak peduli saat burung itu mengendus-enduskan paruhnya di kakinya, menandakan masih ingin makan lebih banyak daging.


“Kau boleh berburu di sekitar tempat ini kalau masih lapar. Aku, harus bermeditasi agar bisa mencarikanmu makanan lebih banyak…” Gentayu berkata sembari mengelus-elus kepala Sempati.


Anakan garuda yang belum sempurna tumbuh bulunya itu segera melompat-lompat pergi menjauhi mulut goa menuju area hutan yang lebih luar guna berburu hewan-hewan biasa. Sementara Gentayu, segera memasuki goa dan mengambil sikap lotus untuk segera mulai penyelarasan kekuatan barunya.


+++++

__ADS_1


Di sudut lain kerajaan Sindur Kuntala, seorang lelaki terlihat berambut putih namun berbadan kekar nampak keluar dari penginapan.


Lelaki yang terlihat seperti paruh baya itu adalah Datuk Rajo Narako atau di dunia ini dikenal sebagai Datuk Alehah.


Setelah hampir sebulan melakukan pengamatan, akhirnya lelaki tua itu memuuskan tidak akan kembali ke Marga Api. Tidak untuk saat ini.


“Separah itu ternyata kondisinya..” gumam lelaki itu sesaat setelah meninggalkan gerbang perbatasan kota Lawang Geni, menuju ke wilayah selatan, ke arah sebaliknya dari Marga Api.


Tujuan awalnya memang menuju ke Marga Api, tempat asal leluhur dan kaumnya berada untuk memeriksa Nadi hidup cucunya, Gentayu di pohon kehidupan Klan. Tapi, selama hampir tiga minggu belakangan, sesuatu yang aneh terjadi pada liontin di tangannya.


Saat ini, liontin itu terus menerus bersinar siang dan malam sekalipun sinarnya sangat redup. Datuk Alehah sendiri hampir tidak menyadarinya, karena selama ini liontin itu hanya disimpannya di salah satu saku jubahnya saja. Berfikir bahwa liontin itu sudah tidak lagi memiliki hubungan dengan Anjani.


Baru dua hari terakhir, datuk Alehah menyadarinya, dan liontin itu justru bersinar semakin terang dari hari ke hari. Sinarnya bertambah kuat saat Datuk Alehah mengarahkan perjalanannya menuju selatan.


‘Bocah itu, apa mungkin dia berhasil kembali ke dunia ini dan membebaskan diri dari segel trisula emas? Dengan kekuatan apa dia bisa menembus alam danyang ini, sedangkan aku butuh ratusan tahun memulihkan kekuatanku untuk bisa kembali?’ Datuk Alehah semakin larut dalam fikirannya.


‘Ke arah selatan, bukankah di sana Marga Tanah berada? Coba kulihat sebentar..’ Rajo Narako menghentikan langkahnya. Lalu mengalirkan sedikit energi Dath di tangannya dan mengalirkannya pada liontin biru itu.

__ADS_1


Mengejutkan!


Liontin itu memancarkan sinar lurus ke satu titik yang sangat jauh ketika menerima aliran energi dari Rajo Narako. Rajo Narako memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan terbang mengikuti sinar cahaya lurus yang ditunjukkan oleh liontin itu.


Terbang selama dua hari dua malam tanpa berhenti, namun sinar cahaya itu belum juga terlihat ujungnya. Sinar itu kini mengarah ke sebuah gunung dari pegunungan yang berbaris sepanjang mata memandang.


Datuk Rajo Narako tidak terlihat gembira sekalipun sinar itu tampak berhenti di sana, sebab dua hari yang lalu sinar ini juga berhenti di sebuah gunung, namun ternyata tidak benar-benar berhenti di sana melainkan menembusnya.


Butuh waktu lebih dari satu jam dalam posisi terbang untuk mencapai pegunungan yang ditunjuk oleh liontin tersebut. Tapi, kini Rajo Narako sedikit ragu karena sinar itu tidak lagi terlihat menembus gunung, namun benar-benar berhenti di salah satu bagian dari sebuah gunung!


‘Apakah ini ujungnya?’


Datuk Rajo Narako melayang turun tepat pada titik di mana sinar itu berujung. Pada mulut sebuah goa. Sekeliling goa itu, terlihat hamparan bermacam tanaman obat dengan deretan pohon pinang membatasinya di kejauhan.


Sesosok bayangan seorang perempuan tua tampak melayang keluar dari balik rerimbunan perkebunan tanaman obat. Dia hendak menuju ke dalam goa miliknya, namun terkejut ketika menyadari ada orang asing berdiri tak jauh dari mulut goanya.


“Eh!” serunya dan dengan sangat tiba-tiba menghentikan laju melayangnya. Wanita tua itu mematung di udara.

__ADS_1


__ADS_2