
Sementara itu di salah satu bagian lain dari wilayah kerajaan Lamahtang, tepatnya di kaki bukit Seguntang, tampak seorang laki-laki berjubah hitam dengan rambut yang memutih terlihat gelisah. Berkali-kali dia mondar-mandir di aula padepokan.
Dia adalah Mpu Jangger, seorang yang disebut sebagai pertapa sesat dan beberapa hari lalu memimpin sekitar sembilan ratusan orang pendekar koalisi aliran hitam untuk menyerang Perguruan Matahari Emas. Mpu Jangger adalah pendekar sakti yang berasal dari pulau Padi Perak, sebuah pulau lain dari gugusan kepulauan Dipantara.
Pertapa sesat ini sendiri adalah salah satu sesepuh paling kuat dari padepokan Segoro Geni di Pulau Padi Perak. Dia datang dengan membawa sekitar tiga ratusan orang pendekar dari padepokan Segoro Geni ke pulau Emas Besar ini dari total sekitar seribu lebih murid dan guru warga padepokan aliran hitam itu. Kedatangannya tentu atas perintah sang pemimpin padepokan, Ki Bonto Geni.
Saat ini lelaki tua ini sedang berada di Padepokan Rambut Iblis, salah satu kelompok aliran hitam anggota koalisi yang ikut terlibat dalam serangan terhadap padepokan Matahari Emas. Rambut Iblis termasuk perguruan aliran hitam terkuat dan paling misterius yang diketahui sejauh ini di wilayah pulau Emas Besar. Jumlah mereka sebenarnya tidak banyak, hanya sekitar dua ratus pendekar saja. Jumlah itu sudah mencakup para guru, sesepuh dan murid-murid di dalamnya. Namun dalam dunia persilatan, terkadang jumlah tidaklah terlalu penting.
Padepokan kecil dan misterius ini sangat ditakuti bahkan oleh pihak kerajaan sekalipun. Bentrok antara Prajurit Kerajaan dan Pendekar dari Rambut Iblis seringkali terjadi karena mereka selalu mendalangi berbagai kejahatan dan pembunuhan. Namun, kekalahan selalu ada di pihak prajurit kerajaan ketika terjadi bentrok fisik. Salah satu senopati kerajaan bahkan pernah gugur di tangan kelompok ini. Namun sejauh ini, pihak kerajaan tidak berani mengambil tindakan tegas untuk menumpasnya.
Mpu Jangger sedang menanti datangnya seorang utusan. Namun hari itu, bukan utusan yang ditunggunya yang datang melainkan sosok lelaki tua dengan rambut putih namun bertubuh kekar.
Lelaki tua itu nampak berjalan terhuyung setelah kakinya mendarat di halaman aula padepokan, menenteng sebuah pedang dengan bilah berwarna hitam. Ternyata, dialah Karang Setan. Pedang yang dibawanya tak lain adalah pedang Satam milik Gentayu. Karang Setan langsung roboh begitu tiba di pintu masuk menuju aula. Hal ini mengejutkan bagi Mpu Jangger yang mengenali Karang Setan sebagai legenda hidup aliran hitam karena di seantero pulau Emas Besar dia seharusnya tak terkalahkan.
“Hah? Apa yang terjadi denganmu, paman Karang?” Mpu Jangger segera melompat untuk menangkap tubuh Karang Setan sebelum jatuh menyentuh tanah.
__ADS_1
Karang Setan tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat dengan kibasan tangannya untuk dibiarkan duduk saja di lantai aula itu. Tepatnya, dibantu duduk karena kondisinya tidak memungkinkannya berdiri.
Tak lama kemudian, para pendekar lainnya dari pasukan aliansi dan para sesepuh Rambut Iblis segera berdatangan. Mereka kaget, tidak menyangka sosok sekuat Karang Setan kembali dengan kondisi mengenaskan.
Tidak banyak yang tahu, bahkan di antara para pendekar hitam anggota koalisi sendiri bahwa Karang Setan bagian dari padepokan Rambut Iblis. Bahkan dia merupakan salah satu sesepuh tertua dan terkuat di perguruan Rambut Iblis ini. Bahkan Isu menyebutkan bahwa Karang Setan sendirilah yang mendirikan perguruan sesat ini setelah menghilangnya dirinya dari dunia persilatan dan dianggap telah mati. Tapi tentu saja isu ini tidaklah benar, karena usia padepokan Rambut Iblis sendiri jauh lebih tua dari Karang Setan.
Mata Mpu Jangger dan beberapa pendekar di aula itu segera tertuju pada pedang yang di bawa Karang Setan.Sepertinya, pedang itu tidak asing baginya.
“Apakah.. apakah ini pedang milik si tua Brajawana?” Mpu Jangger bertanya dengan penuh penasaran, mewakili para pendekar lainnya yang ada di tempat itu.
“Seorang bocah??”
Kekagetan semua pendekar tampak terlihat di wajah mereka. Mulut mereka melongo karena tak percaya dengan apa yang didengar. Jika hanya berhadapan dengan murid Ki Brajawana sang Pendekar Matahari Emas, bukankah kekuatan Karang Setan jauh lebih tinggi bahkan dibanding sang Pendekar Matahari Emas sendiri?
“Aku meremehkannya..” Karang Setan menjawab singkat keheranan semua pendekar di sana. Namun jawaban itu tampaknya belum cukup memuaskan bagi mereka.
__ADS_1
“Bukankah, seharusnya paman guru....” Seorang pendekar lain berusia sekitar 50an tahun yang sepertinya adalah orang penting di padepokan tersebut hendak menanyakan sesuatu, namun dia segera mengurungkan niatnya saat melihat ekspresi tidak senang dari lelaki tua yang kini duduk selonjoran dengan punggung bersandar pada dinding bambu bulat di aula itu.
Paman guru adalah sebutan beberapa sesepuh Rambut Iblis bagi Karang Setan. Beberapa sesepuh padepokan memang mantan murid Karang Setan sebelumnya, sehingga mereka tetap menyebutnya guru. Hanya ada dua orang dari enam sesepuh yang bukan murid Karang Setan. Usia Karang Setan yang diperkirakan sudah lebih dari 200 tahun tentu saja membuatnya menjadi pendekar tertua di tempat ini.
“Iya. Aku memang pergi untuk mengejar segel yang hilang itu. Awalnya, aku yakin pancaran energinya berada di sekitar Kota Sei Asin. Aku ke sana, dan menemukan bahwa orang yang kukira sebagai pembawa segel sedang terluka. Aku mencarinya di setiap sudut kota itu, dan menemukan dia dirawat oleh seorang tabib dari bangsa Huang juga. Sayangnya, aku kehilangan dia. Kemudian aku justru bertemu dengan orang yang kukira pembawa segel itu di desa kecil bernama Air Ketuan, tapi pancaran energi segel itu tidak ada padanya. Dia sudah kubunuh dan benar-benar bukan dia pembawa segel itu. Sepertinya, informasi yang kita terima salah!” Karang Setan menjelaskan perjalanannya. Tentu sosok yang dimaksud sebagai ‘terduga’ pembawa segel adalah Xie Shou, sang tetua dari Naga Merah.
Karang Setan sama sekali tidak menyinggung mengenai pertempurannya dengan Gentayu. Dia menganggap hal itu tidak penting diceritakan. Baginya, Gentayu hanya kebetulan pengganggu kecil dalam perjalanan usahanya menemukan segel dimaksud. Satu-satunya hal penting dari Gentayu adalah dia ,emjadi orang pertama yang berhasil melukai Karang Setan di pulau Emas Besar ini. Selebihnya tidaklah penting. Apalagi Karang Setan sendiri mengira saat ini Gentayu telah tewas.
“Tiga murid kita yang sedang memanen di desa Air Katuan tewas di desa itu. Mereka tewas di tangan orang-orang Bambu Hijau. Selain itu, pasukan yang sudah terbentuk juga berhasil dimusnahkan oleh Bambu Hijau. Rupanya kelompok lemah itu mulai ingin menunjukkan taringnya. Sayang sekali aku gagal membunuh dua orang sesepuh mereka karena lukaku ini..” Karang Setan kembali bercerita.
Tiga murid yang dimaksud adalah para pengendali ‘hantu’ yang berhasil dilumpuhkan di desa Karang Ketuan oleh Gentayu, Kardak dan Winamar. Mereka bertiga sedang melaksanakan misi ‘memanen’, sebuah istilah untuk pembunuhan yang bermaksud menciptakan pasukan mayat hidup. Sungguh benar-benar sesat!
Tak lama setelah beberapa diskusi tentang beberapa perguruan aliran putih lain yang dianggap sebagai ancaman, seorang penunggang kuda berpakaian layaknya seorang terpelajar terlihat dari kejauhan dan perlahan mendekat. Rupanya, dialah utusan yang ditunggu-tunggu oleh Mpu Jangger. Utusan ini terlihat mengeryitkan dahi saat mendapati aula yang cukup ramai tersebut. Dia berhenti sesaat di halaman aula. Setelah Mpu Jangger menemuinya, barulah utusan ini memasuki aula padepokan.
Begitu utusan ini hendak memasuki aula, Mpu jangger memberikan isyarat kepada seluruh pendekar yang berada di aula untuk meninggalkan mereka berdua, kecuali Karang Setan dan seorang berpakaian hitam bergambar kala merah di punggungnya.
__ADS_1
Utusan itu masuk dan memberi hormat kepada ketiganya. Karena karang Setan duduk di lantai dengan punggung yang bersandar di dinding bambu, maka akhirnya utusan tersebut, Mpu Jangger dan wakil Kala merah ikut juga duduk di lantai. Mereka mengambil posisi duduk melingkar. Utusan itu lalu mengeluarkan sebuah gulungan daun lontar dari balik bajunya, beserta lima buah kantong atau pundi berisi kepingan emas dalam jumlah banyak di dalamnya.