JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pelita yang Menyala


__ADS_3

Gentayu segera melompat menuju puncak pohon tertinggi di dekatnya untuk melihat keadaan di sekelilingnya. Dia berfikir, walaupun makhluk yang baru saja menangkapnya memiliki tubuh yang transparan sehingga sulit dibedakan dari lingkungan sekitar, namun badan makhluk besar itu pasti akan membuat pepohonan maupun semak-semak yang dilewatinya bergerak dan tersibak. hal itu tidak akan sulit dilihat dari ketinggiannya saat ini.


"Kemana makhluk itu? bagaimana dia bisa menghilang begitu saja?" Gentayu bergumam kebingungan mendapati kenyataan makhluk besar itu dapat menghilang begitu saja bahkan tanpa jejak.


"Ah, kufikir dia tidak pergi jauh. Barangkali di sekitar sini ada goa atau sesuatu yang menjadi sarangnya sehingga engkau tidak mungkin bisa meacaknya dengan cara begini.." Suara Ryu menyadarkan kebuntuan dalam benak Gentayu.


"Ah, kenapa tidak terfikirkan olehku?" Gentayu segera meloncat turun menyadari ucapan Ryu kemungkinan ada benarnya.


"Halaah, kau memang dasar lambat mikir!" Ryu mengejek Gentayu namun tidak direspon. Sepertinya pemuda itu mememang membenarkan bahwa dirinya agak terlambat menyadari banyak hal, setidaknya kalah cepat dari makhluk berwujud roh tersebut.


Gentayu berjalan cepat menggunakan kemampuan meringankan tubuhnya untuk segera menemukan petunjuk mengenai tempat atau sesuatu yang mungkin dijadikan sebagai persembunyian makhluk tersebut. Dia ingin sesegera mungkin menemukan makhluk tersebut karena mengkhawatirkan keselamatan tabib Mo di tangan makhluk itu. Namun hingga beberapa lama kemudian, tidak satupun petunjuk berhasil ditemukan.


"Apa menurutmu, ada yang terlewat?" Gentayu menghentikan langkah cepatnya yang hampir seperti pelari tercepat tersebut dan meminta pendapat rekannya, Ryu.


"Aku juga heran. Bagaimana makhluk itu bisa menghilang secepat ini?" Bukan jawaban dan pencerahan yang didapatkan Gentayu dari Ryu, namun hanya sebuah kebingungan yang sama dengannya.


'Tidak ada cara lain..' Gentayu membatin, lalu segera duduk bersila di salah satu pohon di dekatnya.


Pemuda itu segera melakukan meditasi untuk menenangkan fikirannya. Berharap dengan fikiran yang lebih tenang, sebuah ide akan muncul. Ternyata benar, sesaat setelah memuli meditasnya, Gentayu mendapatkan sebuah ide untuk bisa menemukan makhluk tersebut.


"Makhluk ini mungkin tidak bisa terlacak keberadaan fisiknya dengan cara biasa. Tapi jejak energinya, pasti bisa dilacak. Bukankah setiap makhluk hidup memiliki energinya masing-masing dan menggunakannya untuk hidup termasuk bergerak?" Gentayu berkata kepada sahabatnya setelah membuka mata menyelesaikan meditasinya.


"Serahkan padaku..!" Ryu kemudian menjawab dengan semangat. Benar, sebagai makhluk roh, seharusnya dia memiliki kepekaan tinggi terhadap energi dan perubahan bentuk energi tersebut. Bahkan bisa merasakan aliran energi, karena Roh itu sendiri pada hakekatnya adalah bagian dari energi semesta yang memiliki kesadaran sendiri.

__ADS_1


"Ke sana!" Ryu berseru memberi petunjuk kepada Gentayu, sedangkan Gentayu yang diberi petunjuk justru mematung bingung. "Ah... aku lupa. Engkau tidak bisa melihat arah yang kutunjukkan karena akupun tak bisa kau lihat,..hahaha...." Makhluk roh tersebut justru tertawa terbahak menyadari kekonyolannya.


"Ke Arah timur. Menuju pohon besar yang terlihat berdaun merah itu" Akhirnya gentayu bergerak menuju arah yang ditunjuk oleh Ryu.


Sebenarnya, bagi setiap pendekar di atas level pendekar ahli, tidak akan sulit melakukan seperti yang dilakukan Ryu, yaitu melacak jejak energi. Namun dari sisi keakuratan dan ketajaman, tentu makhluk roh itu tidak akan dapat ditandigi oleh manusia biasa.


Jejak energi yang terlacak oleh Ryu itu berhenti tepat di bawah pohon berdaun merah yang ternyata adalah sejenis pohon flamboyan raksasa. Gentayu kembali mengedarkan pandangannya menyapu setiap inchi are sekitar pohon tersebut. Namun lagi-lagi, nihil. Tidak ada apapun.


Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah batu berbentuk unik yang menyembul di antara semak belukar di tempat itu. Setelah diperiksa dengan teliti, ternyata batu tersebut adalah sebuah batu bertulis penanda sebuah makam. Namun entah makam siapa tidak diketahui, karena hanya ada batu tersebut dan bekas gundukan tanah yang ditahan susunan bebatuan kecil di sekelilingnya. Bentuk pasti tulisan di batu itupun tidak jelas terbaca karena telah mengalami pelapukan oleh lumut dan cuaca. hanya sebaris kalimat yang masih bisa dibaca dengan cukup jelas:


"Mata melihat saat pelita menyala"


Sebaris kalimat yang bahkan tidak diketahui maknanya.


Mungkinkah ini hanya bait-bait syair untuk mengenang penghuni makam ini?


Bagaimana makhluk raksasa aneh itu menghilang tanpa jejak seolah asap yang menguap begitu saja di tempat ini?


"Mata melihat, Pelita Menyala. Karena pelita menyala, mata dapat melihat. Pelita menyingkirkan kegelapan. Pelita dibutuhkan dalam gelap..." Gentayu terus mencoba memecahkan maksud dari penggalan kalimat yang tertulis di atas batu nisan tersebut.


Jelas tulisan yang tersisa ini dibuat dengan goresan yang lebih dalam dari tiga baris yang lain. Tulisan ini berbeda dari tiga baris yang lain. Seolah-olah memang memiliki maksud untuk dibaca.


"Pelita itu cahaya. Dihasilkan dari api..."

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Gentau seperti mendapatkan pencerahan lainnya. Segera dia berlutut dan memberi hormatnya kepada penghuni makam. Lalu, telapak tangannya di arahkan ke arah batu bertulis itu dengan ibu jari, jari manis dan kelingking menekuk sehingga hanya dua jari saja yang tetap mengarah ke batu makam. sesaat kemudian, dari kedua jari tersebut muncul api kecil dan meluncur ke arah batu makam tersebut.


'BLAPP!'


Api itu menyala dan membakar salah satu bagian dari batu tersebut. Hanya bagian kecil di tengah, sementara bagian lainnya tidak terbakar. Api itu kemudian merembet ke bagian bawah, dan terus menjalar hingga menyentuh tanah. Tak berhenti sampai di sana, bahkan api itu terus menjalar ke bagian tengah makam seperti mengikuti alur tertentu dan berhenti menjalar tepat di titik tengah makam.


Api itu membesar dengan sendirinya di bagian tengah makam tersebut. Gentayu cukup terkejut dibuatnya. Seperti ada sumber bahan bakar besar di tengah-tengah makam tersebut. Setelah api makin membesar dan mencapai setinggi orang dewasa, tiba-tiba sebuah pilar kecil cahaya terpancar dari dalam makam ke angkasa. Pilar cahaya berwarna merah kebiruan itu memancar beberapa saat sebelum sosok manusia mewujud dari ruang hampa, lalu pilar cahaya itu meredup dan padam.


Sosok yang muncul adalah sosok lelaki tua berjubah putih dengan rambut dan janggut yang sudah memutih. Lelaki itu menatap Gentayu dengan lembut.


"Anak Muda.. Maafkan peliharaanku sudah mengusikmu..." Bersamaan dengan ucapan lelaki tua itu, sosok makhluk transparan yang menangkapnya beberapa saat lalu muncul dan melepaskan tabib Mo di sisi lain makam.


Gentayu melirik sebentar ke arah tabib Mo memastikan tabib tua tersebut masih hidup, namun dia tidak berani mengalihkan perhatiannya dari lelaki tua berjubah putih misterius.


"Aku adalah Samhuri. Orang mengenaliku sebagai Pendekar Syair Kematian. Aku sudah menunggu penerusku selama lebih 300 tahun untuk menurunkan ilmuku. Tak kusangka, hari ini akhirnya datang juga..." Lelaki tua misterius tersebut menjelaskan.


"Tidak, maaf tuan.. Aku.. aku.. " Gentayu bermaksud menolak menjadi murid lelaki ini. Tentu saja alasannya adalah Ilmu Syair Kematian termasuk kelompok ilmu hitam di matanya.


"Apakah kau ingin mengujiku, anak muda? Tak ada manusia yang bisa hidup setelah melihatku sejak kematianku dan masa penantianku di sini! Apa kau menolak menjadi muridku hanya karena kau merasa sebagai orang aliran putih?" Suara lelaki itu menggelegar. Ada nada marah dalam suaranya walau tidak berbentuk bentakan.


Udara di sekitarnya tiba-tiba menjadi terasa sangat berat. Gentayu kesulitan bernafas. Tubuhnya tak mampu dikuasainya. Dia tertunduk, lalu jatuh berlutut. Dadanya menjadi sesak. Dia melirik ke arah tabib Mo yang tergeletak tak jauh darinya. Kondisi tabib itu tampak makin buruk.


"Pilihanmu ada dua, anak muda! Pertama ,Terima ilmuku atau lelaki itu akan mati! " Samhuri berkata dengan menunjuk tabib Mo. "Pilihan kedua, terima ilmuku atau kalian berdua mati!... HAHAHAHAHAHA....!" Sebuah tawa menutup ancaman lelaki tersebut.

__ADS_1


Dua pilihan yang keduanya jelas bukan pilihan bagi Gentayu.


Masih dalam posisi berlutut, seberkas sinar kehijauan meluncur dari mulut Samhuri yang terbuka dan membentuk huruf 'O' ke arah mulut Gentayu yang terbuka karena tengah berusaha mngambil nafas. Lehernya yang serasa tercekik membuatnya membuka mulut. Saat itulah sinar itu masuk begitu saja ke dalam mulutnya. Hawa panas segera mengisi mulut dan kerongkongannya sebelum dia roboh berguling-guling di tanah. Kesaktiannya sungguh tidak berguna. Bahkan, Ryu pun terkena dampak dari kehadiran lelaki berjubah putih itu. Terdengar suaranya mengerang kesakitan..


__ADS_2