JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kelompok Kelabang Hitam


__ADS_3

"Terimakasih, tuan.. terimakasih.." gadis itu bersujud sambil terus mengucap terimakasih kepada Gentayu.


Dia terlalu senang dapat merasakan hidup lagi setelah dua bulan lebih menjadi 'bunga kasur' dengan perasaan hancur melihat adiknya kelaparan setiap hari tiada yang mengurus. Adiknya saat ini baru berumur 5 tahunan, terlalu kecil untuk bisa mengurus dirinya sendiri. Mereka hanya tinggal berdua sejak empat tahun silam. Ayah mereka meninggal dunia ketika ibu mereka tengah mengandung adiknya ini karena sebuah kecelakaan. Ayah mereka dahulunya adalah seorang pekerja pada juragan perajin batu gamping. Tugasnya menambang batuan gamping utk diolah dan dipasarkan ke kota. Saat menambang itulah kecelakaan menimpanya. Tambang batu gamping yang berupa tebing dengan ketinggian lebih dari seratus meter itu runtuh dan menimbun beberapa pekerja, termasuk ayah mereka.


Ibunya menyusul meninggal dunia setahun kemudian, saat adiknya belum genap berumur 1 tahun. Kematian ibunya diduga karena penyakit yang sama dengan yang gadis ini alami. Namun, mereka dan penduduk bahkan tabib yang dahulu menangani pengobatan ibunya tidak mengetahui bahwa ibunya dan gadis ini bukan sakit biasa, tapi sakit karena terkena racun.


Saat ini, gadis tersebut masih terus bersujud dihadapan Gentayu, demikian juga dengan adiknya yang ikut-ikutan bersujud sambil mulutnya tak berhenti terus mengunyah makanannya. Gentayu yang merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut segera membantu Gadis ini untuk bangun.


"Bangunlah.. sudah, sudah.. kamu belum sepenuhnya pulih. Kamu masih harus banyak istirahat. Setidaknya sampai tiga hari mendatang. Aku janji akan mengurusmu sampai sembuh. Oh ya, siapa namamu?" Gentayu akhirnya berhasil membuat gadis itu kembali ke pembaringannya, tapi gadis itu menolak untuk dipapah.


"Namaku Lestini. Dan adikku ini, andai tuan belum tahu namanya, dia bernama Jasri..." gadis itu akhirnya memperkenalkan dirinya dan adiknya sembari kembali ke pembaringannya.


Tubuhnya masih sangat lemah, namun yang membuatnya yakin bahwa dirinya sembuh adalah rasa nyeri yang menyerang telapak tangan dan telapak kaki, siku hingga dada, seluruh kepala hingga leher, kedua lutut hingga pangkal paha dan betis, serta seluruh sendi yang kehilangan tenaga sekarang sudah pulih kembali. Tubuhnya yang lemas adalah akibat dirinya tidak mendapatkan asupan makanan sama sekali selama lebih dari dua minggu terakhir. Memang, selama dua bulan terakhir tidak ada tetangga ataupun kerabat yang menjenguk dan mempedulikan keadaan mereka. Entah apa yang terjadi.


"Desa ini sedang diteror. Itulah sebabnya dirimu seperti tidak ada yang mempedulikan. Para penduduk desa sedang ketakutan.." Gentayu sepertinya memahami perasaan gadis cilik di hadapannya.


Lalu ia menyampaikan informasi tentang kondisi desa mereka akhir-akhir ini yang diterimanya dari para penjaga gerbang desa. Tentu dia tidak menceritakan bahwa dia telah melumpuhkan jagoan terkuat di antara para penjaga itu.


"Jadi, tidak perlu bersedih.." ucapnya menutup pembicaraan sambil mengusap kepala gadis tersebut dan adiknya bergantian.


Ada titik-titik air yang mengalir makin deras dari kedua sudut mata gadis tersebut. Rasanya, sudah sangat lama sejak terakhir kali ada yang memperhatikan dan mempedulikan kondisi mereka berdua di gubuk reyot ini. Dalam hatinya, gadis ini sangat bersyukur ternyata masih ada orang baik yang sudi menolongnya, padahal bahkan mereka sama sekali tidak saling mengenal. Gadis itu berjanji dalam hatinya, bahwa dia akan membalas kebaikan pemuda di hadapannya suatu hari nanti. Bahkan walau itu harus dengan mengorbankan nyawanya.


"Tuan,... apa boleh aku.. aku mengetahui nama tuan?" Lestini, gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya identitas orang yang telah menolongnya. Rasanya tidak sopan ketika ada orang yang sudah ditolong , tapi malah tidak mengenali sang penolong itu sendiri.


"Gentayu. Kalian boleh memanggilku Kak Gentayu. Panggilan paman seperti yang adikmu tadi memanggilku membuatku merasa sudah tua, hehehe.." Gentayu meminta Lestini untuk tidak ikut adiknya memanggilnya dengan panggilan paman.

__ADS_1


"Kukira, umur kita juga tidak terlalu jauh. Jadi, aku akan menjadi kakak kalian mulai hari ini. Kita keluarga. Bagaimana?" kata Gentayu dengan senyum ramahnya.


Ada rasa hangat di dada Lestini saat Gentayu menyebut dirinya akan menjadi kakak bagi mereka. Ada rasa bahagia, tapi juga rasa ragu dan khawatir. Bagaimanapun, Gentayu bagi mereka adalah orang asing yang baru mereka kenal. Melihat kemampuannya, jelas bahwa Gentayu bukan orang sembarangan. Bagaimana mungkin pemuda ini mau mengangkat dia dan adiknya sebagai keluarga? Bukankah kehadiran mereka akan menjadi beban bagi Gentayu? Pikiran itu berkecamuk di dalam kepala Lestini. Sementara adiknya, Jasri kini sudah keluar entah ke mana dengan makanan yang masih tersisa di tangan.


"Kenapa diam? Apa kau dan tidak bersedia menjadi adikku?" Gentayu melihat raut wajah Lestini berubah menjadi sedih setelah sesaat lalu terlihat senyum cerah di wajahnya.


"Oh.. tidak. Tidak.. bukan begitu, Tu.. maksudku kak. Kami, kami bersedia!" Lestini menggelengkan kepalanya.


Tentu ia tak ingin Gentayu menjadi salah faham. "Hanya saja,... aku takut kehadiran kami hanya akan membebani kakak.." Lestini akhirnya berkata dengan jujur menyuarakan fikirannya.


"Hahahaha..." Gentayu malah tertawa.


"Tidak ada adik yang akan menjadi beban bagi kakaknya.. justru sang kakak akan measa terbebani saat melihat adiknya sedih. Sudah, tidak perlu dipersoalkan lagi. Sekarang istirahatlah. Ini makanan untuk kalian sore ini" Gentayu kembali mengeluarkan bungkusan-bungkusan makanan dan beberapa tanaman obat seolah dari ruang hampa ke dekat perapian yang digunakan sebagai dapur.


"Engkau bisa kembali melatih tubuhmu bergerak dengan cara beraktivitas ringan dulu. Kukira, memasak makanan tidak termasuk ringan. Makanya kusiapkan makanan siap santap ini. Kamu bisa memasak air untuk menyeduh tanaman obat ini. Lalu yang ini, ini madu sialang, bisa dicampurkan ke dalam obat. Nanti, makanlah dulu bersama Jasri. Tak usah menungguku. Aku akan keluar sebentar. Mungkin aku baru akan pulang menjelang malam larutโ€ Gentayu berpesan.


Tempat yang dituju Gentayu ternyata adalah sebuah warung makan agak jauh dari bekas pasar desa ini. Menurutnya, warung makan adalah tempat paling tepat untuk mendengar dan mengetahui banyak hal. Setidaknya, begitulah pengalamannya sebagai teliksandi kerajaan.


+++++++++++++++++++++++


"Menyebar!" perintah salah satu di antara kelima orang berpakaian hitam-hitam memberi perintah dengan telunjuk kiri dan kanannya menunjuk ke atas.


Empat rekannya segera melesat ke atas pohon-pohon di sekitar dan berlompatan di antara dahan-dahannya dengan gesit. Mereka telah cukup lama berputar-putar di sekitar hutan pinggiran desa ini karena mereka kehilangan jejak kedua orang buruannya.


Mereka meyakini bahwa kedua orang yang dicari tidak akan menuju desa karena justru akan membuat mereka mudah dikenali. Ya, mereka akan mudah dikenali karena penampilan mereka berbeda dari masyarakat di pulau Emas Besar maupun pulau Padi.

__ADS_1


Masyarakat kedua pulau memang cukup dekat dalam berinteraksi terutama di sektor perdagangan dan kerjasama lainnya, sehingga kehadiran kedua wanita yang mereka kejar akan terlihat mencolok saat berada di tengah-tengah penduduk. Keduanya memang bukan berasal dari salah satu pulau dalam gugus kepulauan Dipantara, melainkan dari Benua Tengah.


Mereka berkulit lebih putih dan bersih, dengan kedua mata sipit. Pakaian mereka juga berbeda, baik bahan maupun penampilannya. Tentu muncul di tengah keramaian desa bukanlah ide yang baik bagi seorang yang sedang bersembunyi.


Pemimpin kelompok pemburu itu adalah Sundari. Seorang kepercayaan dari sang Nini Wisa, salah satu sesepuh Kelabang Hitam yang memimpin divisi Kelabang Hantu ini.


Kelima orang ini memang anggota dari divisi Kelabang Hantu, salah satu kelompok elit Kelabang Hitam yang memiliki jumlah anggota 50 orang pendekar level Sakti Mumpuni dan beberapa lainnya berada di level Pendekar Sakti bergelar.


Kelabang Hitam sendiri memiliki beberapa divisi atau bagian dengan tugas yang berbeda-beda. Mereka bahkan memiliki kelompok pengumpul dana, yang terdiri dari para pendekar pemula dan paling tinggi adalah pendekar tingkat Madya. Biasanya mereka melakukan berbagai kejahatan untuk mendapatkan keping emas dan harta yang dibutuhkan Kelabang Hitam, mulai dari para merampok, begal sampai menjadi pembunuh bayaran.


Sundari sedang mencoba menemukan buruannya dengan kembali ke tepi sungai sementara keempat rekannya masih fokus di dalam hutan. Tiba-tiba, menjelang matahari terbenam tersebut dia mendengar suara jeritan dari seorang wanita tak jauh dari tempatnya berada. Menyadari kemungkinan bahwa itu adalah suara wanita yang sedang dikejarnya, Sundari tidak menunggu lagi dan segera melesat menuju sumber suara. Tidak jauh dari tepi sungai, dia melihat kedua wanita yang dikejarnya sedang menghadapi ribuan lebah beracun yang menyerang.


Ternyata, selama ini mereka bersembunyi tidak jauh dari sarang lebah beracun itu. Lebah-lebah itu terusik saat tanpa sengaja salah satu wanita itu terperosok ke dalam lubang tertutup rerumputan yang ternyata adalah sarang lebah. Karena letak sarang itu tidak jauh dari sungai, keduanya segera melompat ke dalam sungai pada bagian yang cukup dalam untuk menyelamatkan diri. Suara teriakan mereka saat melompat itulah yang terdengar oleh Sundari.


Sialnya, berbeda dengan lebah biasa yang takut terhadap air, lebah ini justru tidak segera pergi setelah korbannya masuk ke dalam air. Lebah itu baru beranjak pergi setelah lama menunggu dan kedua wanita itu tak kunjung muncul ke permukaan. Tentu saja, saat muncul keduanya dalam kondisi lemas karena terlalu lama menahan nafas di dalam air.


Kondisi ini sangat menguntungkan bagi Sundari. Tapi dia tidak ingin mengambil resiko dengan meringkus keduanya seorang diri. Bagaimanapun, kedua wanita yang sedang berada di dalam air juga pendekar-pendekar yang hebat. Mereka bisa terdesak dan terpaksa berlari dari kejaran Kelabang Hantu hanya setelah dikeroyok berlima. Kekuatan individu mereka memang berada dalam level yang sama, yaitu level Pendekar Sakti. Hanya pengalaman yang membuat jarak kemampuan mereka jadi terlihat.


Menyadari dirinya sendiri tidak akan mampu menghadapi keduanya, Sundari segera melepaskan sebuah sinyal berupa lontaran bola-bola ke angkasa. Bola-bola itu dilepaskan oleh sebuah alat khusus serupa panah kecil. Bola-bola itu sendiri langsung meledak membuyarkan serbuk warna putih ke angkasa dan menimbulkan bunyi khusus sebagai tanda lermintaan bantuan kepada anggota kelompok yang lain.


DUM..! TAR!.! ... DUM.. TAR! ...DUM..! TAR!..


Suara yang keras itu menyadarkan kedua orang wanita yang baru saja keluar dari air bahwa bahaya sedang mengancam. Mereka tak mungkin lagi bisa kabur dan bersembunyi. Sudah terlambat. Satu-satunya jalan adalah menyerang orang yang menyalakan peringatan tersebut sebelum bantuan yang diundang mulai berdatangan.


**Nb. Mohon maaf atas segala ketidaksempurnaan dalam penulisan novel ini. Semoga para pembaca senang dengan karya perdana saya ini, yaaaa...๐Ÿ˜…

__ADS_1


Ucapan terimakasih dan penghargaan kepada para pembaca yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan support kepada penulis berupa Like, komen dan kritik yang membangun, maupun Vote.


Stay healthy semuanya**..


__ADS_2