
Sosok jubah hitam itu berhasil menghindari tendangan super cepat dari Gentayu. Bahkan, satu tangan jubah hitam itu dengan tak kalah cepat melayangkan pukulan menusuk ke arah dada. Gentayu mengelak dengan merebahkan tubuhnya hingga punggungnya hampir menyentuh tanah. Ketika itulah, sebuah tendangan ‘cangkul’ mengarah ke tubuh bagian atasnya yang sedang setengah rebah itu. Gentayu terpaksa berguling ke kiri dan kanan bolak-balik karena tendangan cangkul yang dikombinasi dengan pukulan tangan kiri-kanan sosok berjubah hitam terus menyerangnya dengan tenaga dalam berkekuatan besar. Setiap serangan yang luput pasti menghantam tanah dan menimbulkan bekas berupa lubang sebesar kendi minum.
Dengan susah payah, Gentayu melakukan salto berulang kali di atas tanah ke belakang agar keluar dari jangkauan serangan musuhnya. Namun, musuhnya seolah tidak membiarkannya dan terus mendesak. Gerakan mereka jika dilihat hanya berupa kelebatan hitam-putih yang disertai angin menerbangkan debu dan dedaunan disekitarnya. Akhirnya Gentayu berhasil keluar dari tekanan tersebut setelah musuhnya dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba pedang kembar di tangan Gentayu.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut, momen terkejut yang hanya tidak lebih dari dua detik itu cukup menjadi celah bagi Gentayu untuk melancarkan serangan mematikan. Satu serangan pedang ke arah leher dan beruntun menyasar ke arah ketiak bagian atas tubuh dapat dielakkan, namun ternyata Gentayu berhasil membuat kejutan lain dengan meningkatkan kecepatannya lebih cepat dari kedipan mata. Sebuah tebasan ke arah kaki kanan tak berhasil dihindari. Membuat sosok berjubah hitam limbung dan dihadiahi sebuah tendangan keras yang menghempaskannya sejauh lebih dari sepuluh depa.
Gentayu tidak mengejarnya seperti biasanya. Sosok berjubah yang terhempas di ujung sana cukup kesulitan untuk berdiri. Kemarahan nampak terlihat di wajahnya. Bagaimana tidak, kedua orang yang dilawannya semuanya berhasil melukainya. Dia segera bangkit sambil meringis. Tiba-tiba dia menjadi histeris..
“Tidaaaaaak!!! Apa Yang Kau Lakukan??!!” Teriaknya seraya menunjuk ke arah Gentayu.
Pendekar bercaping lebar yang kini berdiri tak jauh dari bocah laki-laki yang dititpkannya pada Gentayu. Dia sedikit heran saat menyadari proses pemulihan sosok jubah hitam ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Namun, ketika mendengar si Jubah Hitam itu berteriak dengan panik, dia menangkap ada yang salah! Iya, kaki lelaki itu tidak kembali menyatu seperti saat melawannya tadi. Darah tidak lagi mengucur dari bekas tebasan pedang Gentayu. Bahkan luka itu telah menutup sempurna. Namun kakinya tidak lagi menyatu di tubuhnya.
“Kurang Ajar! Matilah Kau...!” Jubah hitam itu mengumpat sejadinya menyadari kakinya kini buntung, mungkin untuk selamanya.
Jubah Hitam melakukan sebuah gerakan aneh. Meski berdiri dengan kaki sebelah, nyatanya lelaki itu bisa bergerak cukup bebas karena kakinya kini sedikit melayang, sekitar dua hingga tiga jari di atas tanah. Mendadak, tubuh sosok jubah hitam itu mengeluarkan asap berwarna hitam yang semakin lama semakin pekat menyelubunginya.
Gentayu melompat mundur mendekat ke arah lelaki bercaping lebar.
“Tuan, apa yang terjadi? Siapa orang itu?” Gentayu merasa perlu mengenali sosok yang sedang mereka hadapi.
__ADS_1
“Dia adalah Gagak Hitam. Pendekar aliran sesat yang entah kenapa tiba-tiba melibatkan diri dalam perang....” Pendekar bercaping lebar tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Puluhan bahkan mungkin ratusan sesuatu berwarna hitam melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi dari tubuh Gagak Hitam yang kini mulai berputar cepat seperti gasing. Nampaknya, itu adalah lontaran-lontaran energi hitam yang semakin pekat menyelimuti tubuhnya tubuhnya.
“Gawat! Pergi dari sini dan lindungi anak itu, biar aku yang menghadapi makhluk ini!” Gentayu meyakinkan pendekar bercaping lebar untuk menjauh dari arena karena membahayakan jiwa bocah yang sedang dilindunginya.
Meskipun terlihat ragu, pendekar bercaping lebar tidak membantah dan segera melompat menjauh menggendong bocah kecil bersamanya.
Setelah pendekar bercaping lebar tersebut pergi Gentayu tidak lagi menunggu lama karena lontaran-lontaran energi mulai merusak lingkungan di sekitarnya. Meskipun demikian, berkat ilmu Perisai Naga Api-nya, energi hitam yang mampu menghancurkan bebatuan besar sekalipun itu tidak dapat melukai Gentayu. Gentayu menancapkan kedua pedang kembarnya di tanah. Lalu kedua tangannya membentuk sebuah segel atau formasi jemari setelah dirinya melakukan serangkaian gerak serupa jurus.
Ketika tubuh Gagak Hitam berhenti berputar, asap hitam telah lenyap dari dirinya. Sebagai gantinya, kini terlihat tubuhnya dipenuhi dengan tato-tato yang baru saja tercipta. Gentayu mengetahui, bahwa gagak hitam ini pasti meningkatkan kekuatannya dengan menggunakan kekuatan roh makhluk tertentu. Hal yang lazim dilakukan oleh para pendekar aliran hitam. Aura kekuatan gagak hitam kini meningkat dua kali lebih kuat dari sebelumnya. Namun bagi Gentayu yang pernah berhadapan dengan sosok seperti Karang Setan, Gagak Hitam ini jelas tidak lebih mengerikan.
Gentayu yang telah selesai dengan persiapan jurusnya tidak bergeming saat tiba-tiba tubuh Gagak Hitam meluncur menerjang ke arahnya seperti peluru.
Terjadi ledakan dahsyat saat tubuh Gagak Hitam bertemu dan menabrak tubuh Gentayu.
Anehnya, yang tampak justru tubuh Gagak Hitam kini berguling-guling di atas rerumputan dalam posisi terbakar.
Itu adalah jurus ciptaan Gentayu selama berada di Sekte Naga Merah. Perpaduan antara berbagai jurus yang dimilikinya dengan dengan Jurus Matahari Emas. Kombinasi berbagai Jurus pamungkas yang menciptakan jurus baru, jurus Badai Matahari. Jurus itu membuat penggunanya terlindungi oleh sebuah ‘ruang’ yang menjadi perangkap. ketika tubuh seseorang masuk ke dalamnya, maka tubuh tersebut akan kehilangan kemampuan bergerak, layaknya benda mati. Lalu sengatan petir dan api dari jurus Matahari Emas bahkan jurus apapun yang dimiliki Gentayu bisa digunakan dan akan menghujani mangsanya hingga tewas.
‘Ruang’ pelindung tersebut sebenarnya adalah Gelang Gerobok yang telah ditingkatkan kekuatannya oleh Matriark Lim menjadi lebih luas dan lebih kuat sehingga bisa menampung energi penghancur seperti pukulan Matahari Emas dan Tinju Naga Api atau Jari Petir dan sejenisnya. Bahkan pada percobaan awalnya, seluruh senjata sakti juga bisa difungsikan selama tidak memiliki roh dalam ruang tersebut.
__ADS_1
Itulah sebabnya, Gentayu tidak menghindar saat tubuh Gagak Hitam meluncur ke arahnya. Karena perangkap ruang dari Gelang Gerobok telah disiapkannya dengan baik. Begitu tubuh Gagak Hitam masuk ke dalamnya, maka segera saja tubuhnya kehilangan daya gerak, energi, bahkan roh yang menumpang di tubuhnya ikut lenyap. Kemudian, sengatan panas dari jurus pamungkas Matahari Emas, Jari Petir, dan Naga Api menghajarnya.
Tubuh Gagak hitam yang gosong mengeluarkan asap hitam. Dia belum mati. Dan tentu saja, pengguna rawa rontek tidak akan bisa dibunuh dengan cara tersebut. Maka, sebelum tubuh itu pulih kembali, dengan secepat kilat Gentayu memenggal kepala Gagak Hitam dan memasukkannya ke dalam Gelang Gerobok.
Benar ternyata perkiraan Gentayu. Tubuh itu tidak bisa kembali menyatukan kepalanya yang dikirim ke dimensi lain di dalam gelang gerobok. Sebaliknya, di dalam Gelang Gerobok setiap makhluk bernyawa akan dihancurkan menjadi nutrisi dan berubah menjadi energi bagi Gelang Gerobok.
Gentayu bernafas lega mengetahui usahanya berhasil. Dalam pengalaman kelompok aliran putih, menghadapi orang-orang yang memiliki ilmu rawa rontek adalah hal paling menyulitkan. Selagi darahnya masih menetes di bumi, pemilik ilmu ini akan memulihkan diri sekalipun tubuhnya dihancurkan. Namun ternyata, dengan kecerdasan dan kehebatan pusakanya, Gentayu bisa membereskan masalah itu dengan cukup efektif.
Mengetahui Gagak Hitam yang mengejarnya telah benar-benar tewas, pendekar bercaping lebar kemudian kembali mendekati Gentayu dengan perasaan takjub.
“Kisanak, terima kasih. Terimakasih karena telah membantu kami. Tanpa kisanak, entah apakah aku bisa menghadapi Gagak Hitam tadi.. Oh iya, kalau boleh tau, siapakah nama kisanak ini?” Pendekar bercaping sedikit membungkuk sebagai tanda penghargaan sekaligus terimakasihnya kepada Gentayu. Tak lupa, sebagai sopan santun diapun membuka caping lebarnya. Nampaklah wajah seorang lelaki gagah berkumis tipis. Wajahnya yang gagah terlihat seperti berumur 40 tahunan. Namun tentu bukan rahasia bahwa wajah tidak selalu benar dalam menampilkan usia seseorang.
“Tidak masalah, tuan. Eh,.. tunggu.. sepertinya saya mengenal tuan..?!” Gentayu sedikit terkejut saat melihat wajah di balik caping yang menutupinya itu.
“Tunggu, sepertinya aku juga mengenalmu..”
Cat:
Caping \= Topi lebar berbentuk mirip kerucut yang biasa dipakai petani di sawah dan ladang.
__ADS_1