JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana X


__ADS_3

Gentayu tiba-tiba mengubah serangannya. Sedangkan Karang Setan juga melakukan hal serupa.


Keduanya bersiap memasuki tahap pertarungan yang lebih serius.


Karang Setan nampak menggerakkan kedua tangannya membentuk pola tertentu yang rumit. Lalu mendadak terjadi kegaduhan di bawah sana!


Dari dalam komplek Utama Istana, terlihat ratusan mayat hidup berhasil keluar melewati kobaran api. Meskipun mereka yang lolos segera disambut dengan berbagai serangan penghancur oleh sepuluh pendekar yang telah berada di sana, namun kelihatannya kekuatan mereka telah meningkat terlalu jauh untuk bisa dihancurkan hanya oleh senjata dan pukulan mereka dalam satu kali serangan.


Gentayu menyadari, bahwa Karang Setan inilah pengendali seluruh mayat hidup yang melakukan kekacauan di bawah sana. Maka, tak lagi menunggu lelaki tua itu menyelesaikan urusannya, Gentayu segera mengarahkan beberapa pukulan secara beruntun agar mengacaukan konsentrasi iblis tua tersebut.


Berhasil!


Karang Setan kini kembali disibukkan untuk menghindari serangan Gentayu. Serangan-serangan itu benar-benar berbahaya seandainya lawannya bukan karang Setan. Beberapa pukulan yang meleset, energinya bahkan menghancurkan bangunan-bangunan kokoh di bawahnya.


Meskipun begitu, sesuatu cukup mengganggu Gentayu terjadi.


Belasan, bahkan puluhan mayat hidup itu kini melesat ke arah Karang Setan lalu menyatu dengan tubuh Karang Setan. Terjadi ledakan saat mayat-mayat tersebut bertemu dengan tubuh Karang Setan, lalu berubah menjadi asap putih dan seolah lenyap terhisap pada tubuh Karang Setan. Kendati begitu, secara fisik, kondisi tubuh Karang Setan tidak mengalami perubahan. Hanya kekuatannya yang terasa terus meningkat.


Gentayu tak mau ambil resiko menunggu Karang Setan bertambah kuat. Dia tidak yakin, apakah serangannya berikutnya akan memiliki efek seperti sebelumnya setelah kekuatan Karang Setan meningkat nanti.


Secepat kilat, Gentayu melesat kembali. Seolah berubah menjadi cahaya putih, tubuh Gentayu terlihat seperti menabrak tubuh Karang Setan. Padahal yang terjadi adalah Gentayu menerjang dan menghujani Karang Setan dengan pukulan-pukulannya.


Bukan hanya percikan kecil yang kini tercipta seperti sebelumnya, namun ledakan-ledakan setiap kali pukulan mereka beradu.

__ADS_1


Gentayu menggunakan teknik Naga Apinya. Tinju Naga Api yang kini jauh lebih kuat berkali-kali lipat dari sebelumnya itu berbenturan dengan pukulan Karang Setan yang sebenarnya cukup untuk mengancurkan gedung utama istana kerajaan.


‘BHAM!’


‘BUM!’


Terdengar berkali-kali suara ledakan. Berkali-kali pula setelahnya Gentayu dan Karang Setan yang hanya terlihat sebagai dua cahaya itu memisahkan diri saling menjauh, lalu mendekat dan bertarung kembali.


Kelima orang Pendekar dari aliansi Bintang Harapan yang telah selesai memulihkan diri kini melongo melihat dahsyatnya energi pertempuran pemuda yang sempat mereka remehkan. Ternyata, kekuatannya bahkan lebih hebat dari mereka semuanya. Mereka yang awalnya berniat untuk kembali bertarung setelah memulihkan diri menjadi ragu begitu melihat kekuatan Karang Setan yang jauh lebih besar dari perkiraan mereka.


“Ternyata, pemuda itu benar-benar...” Pendekar Lengan Seribu bahkan tak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan kekagumannya pada pendekar asing yang sedang bertarung. Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika menyaksikan semakin banyak percikan cahaya dan ledakan yang terjadi dari pertemuan kekuatan Gentayu dan Karang Setan.


Langit malam kini benar-benar dihiasi cahaya terang setiap kali keduanya bergerak.Pergerakan mereka hanya terlihat seperti dua buah cahaya yang saling menabrak, satu cahaya terlihat sebagai putih dan satu terlihat sebagai cahaya ungu. Angin tampak berhembus kencang di sekitar mereka setiap kali keduanya bergerak. Belum terlihat ada yang mendominasi pertarungan. Gentayu sendiri meyakini bahwa Karang Setan belum menggunakan kemampuan sepenuhnya.


“Cepat!! Pergi dari sini..!!” Perintah Indung Imau tiba-tiba. Kelima orang itu segera menyingkir dari area pertarungan karena imbas pertarungan mereka mulai merusak lingkungan di bawahnya.


Udara di bawah pertarungan menjadi semakin berat dari waktu ke waktu. Para prajurit yang masih bertahan berjaga di beberapa bangunan sebagian besar langsung kehilangan kesadaran. Sedangkan para pendekar Bintang Harapan yang semula disibukkan oleh mayat hidup memilih meninggalkan tempat itu.


Para mayat hidup itu bahkan juga tidak selamat. Yang terkuat di antara mayat hidup itu satu persatu terhisap ke atas oleh Karang Setan. Pendekar yang digelari Iblis Tua itu menjadikan para mayat hidup sebagai sumber energinya karena berhadapan dengan Gentayu benar-benar merepotkannya.


Tenaganya terus terhisap setiap serangannya menyentuh kulit Gentayu. Sementara itu serangan Gentayu terlalu berbahaya untuk ditangkis karena energi serangannya selalu berhasil merambat ke saraf-sarafnya. Karang Setan sama sekali belum menyadari bahwa keberadaan pedang Satam adalah biang masalah dalam pertarungannya ini.


Para Mayat hidup yang lebih lemah sebenarnya masih lebih kuat dua kali lipat dari kondisi saat mereka hidup. Namun, Api yang semula hanya membakar beberapa titik, kini makin membesar dan membumihanguskan seluruh istana juga membakar para mayat hidup tersebut. Api itu beterbangan terhempas angin hasil pertarungan yang entah kapan akan berakhir.

__ADS_1


Selama bertarung, Gentayu terus menerus menghisap energi Karang Setan. Sedangkan Karang Setan memperbarui kekuatannya secara terus menerus melalui mayat-mayat hidupnya yang masih mampu bertahan. Satu-satunya kekhawatiran Gentayu adalah kapasitas tubuhnya kemungkinan tidak akan mampu menampung seluruh energi yang diterimanya dari Karang Setan. Itulah sebabnya, Gentayu tak pernah ragu menyerang menggunakan energi yang sangat besar hingga berkali-kali.


Berkali-kali keduanya sama-sama termundur saat dua kekuatan mereka bertemu. Namun, sejenak kemudian pertarungan yang lebih hebat kembali berlanjut.


Gentayu merasakan energi hitam yang diserapnya sudah lebih besar beberapa kali lipat dari energi putih miliknya. Khawatir energi hitam itu akan mempengaruhi jiwanya, Gentayu segera bersiap menggunakan jurus aliran hitam miliknya dengan seluruh energi hitam yang telah diserapnya.


Karang Setan melayangkan tendangan ke udara, namun energinya mampu melesat dan menghantam reruntuhan bangunan di bawahnya karena Gentayu telah lenyap menghindar, lalu balas melayangkan tendangan Ekor Naga yang disusul dengan Cakar Naga Api.


Serangannya mengalami nasib yang sama, berhasil dielakkan Karang Setan dan menghancurkan gapura istana di bawahnya.


Saat itulah, Gentayu mengambil nafas dalam-dalam dan memusatkan seluruh energinya diperut dan tenggorokannya.


“Raungan Naga Kematian!!”


‘GROAAAAARRRR.....!!!’


Terdengar suara raungan sangat keras. Saking kerasnya, bahkan Mpu Jangger yang sedang memimpin sisa pasukannya untuk kembali ke kerajaan sampai berhenti karena terkejut.


Tapi, dampak lebih mengerikan terjadi di lingkungan Istana. Raungan itu berhasil melemparkan Karang Setan hingga keluar dari tembok Istana dan jatuh terbanting ke bebatuan di tepi sungai. Jaraknya setidaknya lebih tiga kilometer seharusnya.


Tentu saja dengan luka dalam yang parah, jika baik-baik saja pasti pendekar legendaris itu akan mendarat dengan baik.


Terdapat bekas berupa lubang dangkal terbentuk secara memanjang. Pangkalnya berada tak jauh dari tanah di atas tempat Karang Setan melayang sebelumnya hingga ke tepi sungai. Menghancurkan apapun yang dilewati, termasuk tembok benteng kerajaan dan banyak bangunan bangsal prajurit ataupun rumah bangsawan.

__ADS_1


Seluruh pendekar, baik dari aliran hitam maupun aliansi Bintang Harapan yang berjarak kurang dari lima ratus meter dari pusat pertempuran semuanya terkena imbas. Bahkan lima belas pendekar Bintang Harapan yang menyerang pusat komplek istana dan kepatihanpun batuk darah dibuatnya.


“Hah.. hah.. hah.. hapa.. hitu..tadih..?” Tiung Emas bertanya sembari memegangi dadanya yang sesak. Dadanya serasa dihantam dengan batu besar, sangat sesak. Demikian juga yang dialami pendekar lainnya. Untunglah, mereka tidak tewas karenanya.


__ADS_2