JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tiga Istri


__ADS_3

Tidak ada yang menyadari, bahwa kondisi Gentayu sebenarnya bisa lebih parah tanpa andil tiga siluman yang telah menjalin Kontrak mati dan bersemayam di tubuh Gentayu saat ini.


Begitulah adanya, berkat Konga Baye dan dua rekannya nyawa Gentayu masih bisa selamat. Darah ketiga siluman tersebut selain memperkuat fisik dan melipatgandakan kekuatannya, ternyata juga bisa memperkuat pertahanan jiwanya.


Hal lain yang juga tidak disadari yaitu kemampuan tiga siluman tersebut menyerap energi iblis membuat pengaruh iblis di dalam diri gentayu lebih cepat dinetralisir. sekaligus, energi yang diserap tiga siluman itu juga membuat kekuatan ketiganya meningkat drastis.


Tiga Siluman itu jugalah yang menjadi sebab dibalik rantai Tali Jiwa, yang seolah tidak berdaya di hadapan Karang Setan justru berfungsi dengan sangat baik di tubuh Gentayu.


Para Pendekar Aliansi Bintang Harapan tentu saja tidak bisa berlama-lama menunggui Gentayu. Lagipula, mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kondisi yang dialami Gentayu. Selain itu, musuh juga belum sepenuhnya ditaklukkan. Masih ada beberapa titik di kerajaan yang harus dibersihkan.


“Eh, Nona. Jadi, bagaimana kau akan mengembalikan pusaka giokku, hah? Bagaimana?” Ratna Mangali mencecar pertanyaan kepada Hao Lim. Jelas saja, karena pusaka itu adalah senjata sekaligus identitas yang membuat namanya dikenal sebagai Pendekar Bangau Emas.


“Ehm.. itu, soal itu nanti kita bahas lagi. Aku berjanji akan mengembalikannya setelah dia pulih. Karena hanya dia yang bisa mengembalikannya sekarang..” Hao Lim hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya.


“Baiklah, Nisanak!” Tungkal Anom memotong obrolan keduanya yang mengarah pada perdebatan. “mohon maaf kami tidak bisa banyak membantu saat ini. Tapi aku akan segera meminta seorang tabib terbaik untuk datang kemari. Kami harus melanjutkan perang yang belum selesai ini.. Mohon dimaklumi..” Ki Tungkal Anom berpamitan kepada Hao Lim mewakili seluruh pendekar yang ada.


“Terimakasih kami sampaikan atas bantuan nisanak dan pendekar muda ini” lanjut Tungkal Anom canggung karena belum sama sekali mengenal Gentayu dan Hao Lim.


“Namanya Gentayu, tuan..” Kata Hao Lim, seolah mengerti pikiran lawan bicaranya.


“Hmm.. Gentayu, ya..”Kata ketua aliansi itu menggumamkan nama Gentayu. Demikian juga para pendekar lain yang berdiri di belakangnya.


“Baiklah, kami harus pergi sekarang.. Ayo!” Ki Tungkal Anom sedikit membungkukkan badan sebagai tanda penghormatannya sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Para pendekar lainnya mengikuti di belakangnya.


Saat itu, Yumiko dan Sakuza sedang berada di sisi seberang sungai. Mereka tengah sibuk memeriksa tubuh Karang Setan saat Tungkal Anom dan para pendekar Aliansi Bintang Harapan berpamitan.


Mereka berdua berhasil mendapatkan banyak barang dan benda berharga, termasuk beberapa pusaka. Dari sekian banyak benda yang mereka temukan, akhirnya mereka menghentikan ‘penjarahan’ itu setelah mendapatkan Pedang Satam.


“Kita harus menyerahkan semua benda ini pada Gentayu. Semua ini mungkin akan berguna baginya..” Sakuza sengaja mengingatkan rekannya, Yumiko yang matanya tampak berbinar menemukan sebuah cermin dari tubuh Karang Setan.


Bukan apa-apa, cermin di tangan Yumiko itu jelas bukan cermin sembarangan. Awalnya, Yumiko bermaksud sekedar mencobanya saja. Namun setelah ditegur secara halus oleh Sakuza, akhirnya diurungkan juga niatnya.

__ADS_1


“Kakak benar..”Yumiko mengangguk, lalu segera menyimpan semua benda yang ditemukan dari tubuh karang Setan ke balik bajunya.


Mereka kemudian bergegas menuju ke seberang sungai, tempat di mana Gentayu dan Hao Lim berada. Dengan lincah, keduanya berlari seolah menapak di atas air sungai, menimbulkan percikan kecil setiap kali kaki mereka menyentuh permukaan air tersebut. Dalam sekejap, mereka telah tiba di seberang sisi lainnya dari tubuh Karang Setan terbujur.


Tak lama setelah para pendekar Bintang Harapan pergu, seorang pendekar wanita yang bertindak sebagai pendekar tabib datang dengan melayang di antara puncak-puncak pohon, menyusuri sepanjang sungai.


“Ah.. akhirnya aku menemukan kalian..tidak mudah ternyata..” katanya lega ketika kakinya mendarat tidak jauh dari Gentayu yang tergeletak.


Aroma obat tercium cukup pekat pada tubuhnya. Ceceran darah yang mengering nampak menghiasi beberapa bagian pada pakaian yang dikenakannya. Sepertinya, pendekar tabib wanita ini sedang cukup sibuk merawat para pendekar yang terluka saat Ki Tungkal Anom memintanya datang ke tempat ini.


Dengan cekatan, wanita yang sudah cukup tua itu segera memeriksa kondisi Gentayu. Ekspresi wajahnya nampak berubah-ubah saat memeriksa bagian tubuh yang berbeda dari Gentayu. Namun akhirnya, dia hanya menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepala.


“Ini, benar-benar mustahil...” katanya pelan setelah selesai memeriksa tubuh Gentayu.


“Apa maksudnya, nek?” tanya Hao Lim dengan cemas.


“Apa kamu ini istrinya? Syukurlah! Segera kamu pergi dan cari daun Ceruk Katup. Daunnya mirip dengan daun jelatang, tapi warnanya biru kehijauan. Memiliki bunga yang mengatup mirip kantung semar. Seharusnya ada di daerah pinggiran sungai berbatu. Biasanya, tak jauh dari rumpun bambu. Periksa saja setiap rumpun bambu yang tumbuhnya di atas tanah basah” wanita tua itu memberikan perintah kepada Hao Lim tanpa merasa perlu memastikan jawaban dari pertanyaannya. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan mengenai maksud ucapannya yang mengatakan ‘mustahil’ itu.


Yumiko dan Sakuza datang hanya berselang beberapa detik setelah Hao Lim beranjak meninggalkan tempat itu dan menghilang di balik semak.


“Ehm.. maaf. Nenek ini apakah tabib yang diminta untuk menolong Gentayu?” Pertanyaan Yumiko mengagetkan tabib wanita tersebut. Keduanya memang seperti muncul tiba-tiba di belakang sang tabib yang sedang fokus membalurkan sesuatu pada bagian kening Gentayu.


“Aih.. tak kusangka. Tiga istri yang cantik-cantik..” komentar sang tabib kemudian setelah melihat Yumiko dan Sakuza.


“Istri??” kini giliran Sakuza dan Yumiko dibuat bingung. Namun akhirnya keduanya menyadari situasinya. Tabib tua ini pastilah mengira mereka berdua, dan mungkin Hao Lim juga, sebagai istri Gentayu.


“Oh.. hoho.. bukan, bukan nenek.. kami, kami hanya teman seperjalanan saja, hehe,.. iya.. hanya teman seperjalanan..” Sakuza mencoba menjelaskan dengan canggung, namun hatinya justru berdebar. Istri Gentayu? Apa-apan ini, fikirnya.


“Bagaimana kondisinya, nek? Dan kemana nona Lim?”


“Aa.. apa? Nona? Jadi, wanita yang tadi Nona? Belum meni... Owalah..!! xixixixixi...” kini tabib itu justru tertawa terkekeh menyadari kekeliruannya. Barulah dia sadar, bahwa dia telah salah tanggap terhadap situasinya karena melihat sepertinya Hao Lim sangat perhatian dan mencemaskan Gentayu.

__ADS_1


“Tunggu dulu, tunggu dulu. Apakah nona ini tadi menyebut nama ‘nona Lim’?”


“Iya, benar, nek. Kenapa memangnya?” Sakuza justru heran menyadari raut wajah tabib di hadapannya kini sedikit memucat.


“Apa, apakah dia Nona Lim dari Naga Merah?” Tabib wanita itu jelas tak bisa lagi menutupi kegugupannya.


“Iya. Nenek benar..” jawab Sakuza singkat.


“Waduh! Mati aku..” kata wanita tua itu sambil menepuk jidat.


Bagaimana dia tidak cemas, karena yang dia dengar selama ini sekte Naga Merah adalah sekte misterius yang dikenal cukup kuat dan berpengaruh di antara kelompok aliran putih. Dan hari ini, matriarknya disuruh-suruh oleh seorang tabib tua untuk seseorang yang bukan suaminya? Kepalanya menjadi pusing karena mengira bakal mendapat hukuman dari para ketua perguruan, terutama ketua aliansi Ki Tungkal Anom.


“Nenek tak usah cemas. Aku bukan lagi matriark Sekte..” sebuah tepukan lembut di bahu kirinya membuatnya hampir tersedak. Itu adalah Nona Lim!


“Ma.. maafkan aku, nona Lim. Aku tak mengenalimu..” tabub tua itu benar-benar merasa bersalah.


“Sudah, sudah nek. Sekarang yang terpenting, kita sembuhkan Gentayu dulu. Ini, daun Ceruk Katup yang nenek minta..” Hao Lim menyodorkan seikat besar daun berwarna biru kepada perempuan di hadapannya.


“Baiklah. Tapi, mohon jangan ceritakan apapun pada yang lain, ya..” tabib tua itu memohon.


“Hahahaha.. tidak, nek. Tenang saja. Lagipula, sepertinya mereka juga tidak mengenaliku lagi sekarang..” Hao Lim berkata sambil mengerjap-ngerjapkan bulu matanya ke arah Yumiko dan Sakuza.


Keduanya membalas sikapnya dengan cemberut, menggembungkan kedua pipi dan melengos e arah lain.


Begitulah, akhirnya Gentayu mendapatkan perawatan dari Hao Lim yang mumpuni di bidang spiritual-kerohanian atau metafisika, bersama tabib tua yang ternyata bernama Mak Payung atau pendekar payung. Seorang tabib mumpuni yang berkali-kali menolak saat diminta menjadi tabib istana di masa Prabu Menang dan ayahnya masih menjadi raja Lamahtang.


“Seharusnya, dia ini tidak terluka apapun. Kesadarannya menghilang, karena jiwanya bergelut dengan kekuatan yang lebih kuat darinya. Tapi bagaimana dia bisa bertahan? Seharusnya, dia sudah tewas melihat bekas pergulatannya. Aku menemukan ada aura jahat iblis di pergelangan tangannya sebagai biang masalah. Seharusnya, setelah mencampur ramuan dari Ceruk Katup ini dengan bubuk Celak, daun Bidara serta air suci dari tirtamaya yang kubawa ini, semuanya akan kembali membaik” Mak Payung menjelaskan kondisi Gentayu sekaligus rencana pengobatan yang akan dijalani.


Permata Hitam segel iblis itu sendiri saat ini aman berada di sisi Hao Lim. Wanita itu akhirnya berhasil melepas segel itu dari tangan Gentayu dan dengan kemampuannya, menyegel kembali keuatan tersebut untuk sementara waktu.


Hao Lim yang sedikit memahami kondisinya menjadi antusias. Sementara Sakuza dan Yumiko memilih menangkap ikan di sungai untuk makan mereka berempat pagi itu.

__ADS_1


__ADS_2