
“Kakek! Saya Mamoto, dari generasi muda Klan Senju memberi hormat pada leluhur!”
Mamoto, ternyata juga berasal dari klan yang sama dengan Ryutaro. Sebelumnya, Ryutaro juga telah bertemu dengan De Wu (Dewoo), salah satu keturunannya yang lain di Sekte 7 tirai atau nama sebelumnya Naga Merah.
“Oh, baiklah! Terimakasih kau tidak mempermalukan klan kita sebagai klan para pahlawan..” Tatap Ryutaro dengan bangga kepada Mamoto.
Mamoto adalah tabib kekaisaran yang tersisa dan selamat dari pembantaian para pemberontak. Datang dan melarikan diri ke desa ini, karena berdasarkan catatan dalam keluarganya, tidak jauh dari desa ini salah satu leluhur mereka pernah menghilang dalam sebuah misi kerajaan.
Berniat menemukan warisan dan semacamnya, mamoto akhirnya berhasil menemukan desa ini. Keberadaan desa ini jadi lebih mudah ditemukan berkat munculnya kabar penemuan artefak hidup. Di lembah kematian tak jauh dari desa.
Berbekal pengetahuan dan beberapa referensi sejarah, Mamoto menyimpulkan bahwa artefak hidup dimaksud berkaitan dengan menghilangnya sang kakek. Setidaknya, diyakini bahwa di sekitar lokasi tersebut memang pernah menjadi tempat berdirinya sekte aliran hitam. Sasaran operasi militer kekaisaran yang dipimpin Ryutaro ratusan tahun lalu.
“Aku akan menghadapi para perompak itu sebagai tanggungjawab masa laluku. Kalian, tidur saja di rumah dan teruslah bersikap seolah-olah kalian ini masih menjad laki-laki..” Ryutaro menatap tajam ke arah kepala desa dan yang lainnya.
Segera saja, udara tiba-tiba menjadi lebih dingin.
Mereka kesulitan bernafas. Ternyata, dalam kemarahannya, Ryutaro melepaskan aura kependekarannya. Aura pendekar Sakti bergelar dan hanya tinggal selangkah menuju pendekar bumi!
Menyadari kemarahan pihak lain akibat mereka menyinggung keturunannya, Kepala desa dan para tetua menjadi semakin pucat. Mereka tidak berani menyanggah walaupun dikritik sebagai ‘bukan-laki-laki’ dalam kalimat Ryu.
Keringat dingin membanjiri tubuh mereka. Mereka ingin meninggalkan ruangan itu andai mereka bisa.
“Manusia macam apa kalian? Laki-laki yang telah mengorbankan nyawa agar anak gadis kalian tidak diculik. Kehormatan kaum wanita kalian tidak dirampas. Harta kalian tidak dirampok. Nyawa kalian bisa selamat! Tapi ini balasan kalian?? Berusaha menyerahkannya kepada musuh setelah perjuangan dan pengorbanannya??” mendengus marah, Ryutaro meningkatkan tekanan auranya membuat para tetua dan kepala desa semakin sulit bernafas. Seolah batu besar menimpa tubuh mereka.
“Enyah Kalian!!” raungnya dengan marah.
Bersamaan dengan itu, tubuhnya memancarkan gelombang kejut yang menghempaskan orang-orang itu keluar ruangan berikut beberapa perabotan dalam rumah tersebut.
Ruangan tamu segera berubah menjadi berantakan. Bahkan Hideki dan Mamoto tidak akan selamat andaikan Gentayu tidak berada di dekat mereka. Melindungi dari gelombang kejut yang dilepaskan Ryutaro.
__ADS_1
“Aku baru saja berhasil dibangkitkan, dan melihat kaumku menjadi begitu memalukan!” dengusnya marah hendak menyusul kepala desa dan empat tetua. Namun Gentayu menahan bahunya. Berharap agar Ryutaro tidak meluapkan amarahnya saat ini.
“Masih ada lain kali. Dan ada cara lain untuk mendidik mereka..” kata Gentayu berusaha menengahi.
Di luar, kerumunan menjadi panik ketika lima orang pemuka mereka terlempar begitu saja. awalnya, warga mengira telah terjadi perkelahian dan berniat menyerbu ke dalam. Namun, kepala desa menahan mereka.
Ketika itulah, seorang warga berteriak dari arah pelabuhan. Berlari ketakutan ke arah warga yang berkumpul.
“Mereka dataaaang...!! Perompak itu dataaaaang!! Mereka telah bersandar di pelabuhan!!”
Mendengar teriakan itu, sontak seluruh warga menjadi panik.
Mereka segera berhamburan keluar dan bermaksud kembali ke kediaman masing-masing guna menyelamatkan diri. Tapi langkah mereka tertahan karena lima bayangan terlihat terbang ke arah mereka sambil menenteng senjata masing-masing.
Mendarat tak jauh dari kerumunan, aura dan wajah bengis mereka berlima telah mengintimidasi dan menekan keberanian warga desa hingga titik terendah.
Keberanian mereka untuk membela para pemuka mereka yang tiba-tiba terlempar dari dalam kediaman tabib Mamoto, telah menghilang begitu saja saat kelima sosok ini berdiri dengan angkuh di hadapan mereka.
Jauh di belakang mereka berlima, di pelabuhan. Sebuah kapal besar berbendera hitam nampak tengah sandar dan menurunkan para penumpangnya. Lebih dari dua ratus anggota perompak nampak turun dari kapal dan tengah berlarian menuju desa. Menyusul kelima panglima mereka.
Chizua, satu-satunya wanita dari lima orang itu maju ke depan dengan memanggul padang besarnya di bahu. Wanita ini sebenarnya cantik, andai saja tato dan luka sayat tidak menghiasi wajahnya. Dengan luka tersebut, wanita itu kini memakai penutup wajah berbahan dari sejenis kulit.
“Aku dengar, kemarin ada yang telah berani menghabisi puluhan anak buahku di desa ini..” Kata wanita itu, seraya berjalan mendekati kepala desa yang baru saja berhasil bangun setelah terlempar dari rumah tabib.
“Katakan siapa dia dan serahkan padaku, cepat!!” Tanpa aba-aba, wanita itu segera mencekik leher kepala desa dan mengangkatnya tinggi sebelum melemparkannya ke tengah kerumunan warga.
Plok!
Plok!
__ADS_1
Plok!
Terdengar tepuk tangan dari dalam rumah Mamoto, dan Ryutaro tampak berjalan santai ke arah wanita itu.
“Kenapa tak kau bunuh sekalian kepala desa tidak beguna itu, wanita bermuka belatung!” ejek Ryutaro.
Muka belatung adalah kata ejekan di masa hidup generasi Ryutaro sebelumnya untuk menyebut orang-orang yang mengalami cacat wajah dan terpaksa menutupinya. Mendengar itu, Chizua tak terima dan segera melolong ke arah Ryutaro.
“Kau yang muka belatung. Ibumu Muka belatung. Seluruh keluargamu muka belatung!” semburnya marah.
Segera saja, sebagaimana kebiasaan wanita itu yang jarang berfikir panjang, pedang di bahunya segara menebas ke arah Ryutaro yang kini telah berada dalam jarak serangnya.
Menerima serangan mendadak dipenuhi kemarahan Chizua, Ryutaro hanya mengelaknya dengan menahan kakinya dan sedikit mendoyongkan tubuhnya ke belakang.
Detik berikutnya, serangan pedang besar wanita itu membelah udara di atas kepala Ryutaro dan turun langsung untuk membelah tubuhnya menjadi dua.
Suara berdesing dari angin akibat serangan itu menunjukkan bahwa serangan itu bukanlah serangan dari pendekar biasa.
Namun, lagi-lagi serangan itu belum membuahkan hasil. Ryutaro dengan mudah menghindari serangan yang sebenarnya sangat cepat dan sulit diikuti mata itu hanya dengan memiringkan tubuhnya ke kanan.
Nb.
Sejak awal Januari, saya terpaksa harus bolak-balik ‘berurusan’ dengan rumah sakit. Mala ini, alhamdulillah bisa rilis kembali. Semoga lancar-lancar saja dan bisa kembali normal.
Saya sengaja tidak membaca komen-komen di chapter terakhir. Karena biasanya ada saja yang akan membuat penulis amatir seperti saya menjadi ingin ngomel dan tangan gatel ingin membalas. Daripada nyesek nantinya, mending gak saya baca yaaaa..
Tapi, saya juga yakin banyak kok yang mendoakan kebaikan saya. Untuk itu, hanya ucapan terimkasih saya untuk mereka yang tetap berprasangka baik.
Saya berusaha terus untuk memberikan yang terbaik. Masalah komen nyelekit, itu pertanda karya saya mulai mendapatkan tempat yang baik di antara karya-karya sejenis. Dan saya harus mensyukurinya.
__ADS_1
Semoga, kalian semua bisa memahami kondisi ini.
Tetap jaga kesehatan. Tetap produktif dan jangan lupa bahagia.