JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Utusan Pangeran Ke Tiga


__ADS_3

Kehadiran sosok lelaki tua yang terlihat masih sangat kekar tersebut membuat pertempuran berhenti seketika. Tubuhnya masih melayang di udara, dengan pancaran tenaga yang sangat dahsyat membuat udara semakin berat saat dirinya mendekat ke tengah pertempuran.


Sebenarnya, bukan kehadiran sosok tersebut yang membuat bahkan kadal-kadal api itu berhenti menyemburkan api super panas ke arah kerumunan pendekar aliansi aliran hitam. Kadal-kadal itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan yang dipancarkan oleh lelaki yang tetap berdiri di angkasa tersebut. Namun ada dua orang sosok lain yang muncul kemudian membuat pasukan kadal tersebut berhenti menyerang.


“ Guru..!”


“Paman Guru..!”


“Paman Karang..!”


Serentak, para murid dari Perguruan Rambut Iblis berlutut, diikuti para sesepuh perguruan tersebut. Tindakan tersebut ternyata juga dilakukan para ketua yang memimpin aliansi pendekar aliran hitam. Mereka segera berlutut memberi hormat.


Rupanya, sosok yang datang adalah Karang Setan. Pendekar Legendaris sekaligus manusia terkuat yang dimiliki perguruan Rambut Iblis. Bukan hanya Rambut Iblis, bahkan terkuat di antara para pimpinan perguruan yang tergabung dalam aliansi pendekar aliran hitam.


Kehadirannya ternyata diikuti oleh dua orang lain di belakangnya yang membuat pihak Panunggul Sewu dengan pasukan kadalnya juga berlutut.


“Ayahanda..!” Itulah kalimat yang keluar dari mulut Panunggul Sewu sebelum turun dari kadal tunggangannya dan berlutut menyambut orang yang datang di belakang Karang Setan.


Panunggul Sewu, adalah anak sulung dari Ki Renggolo atau Iblis Pencabut Roh yang merupakan ketua dari kekuatan besar aliran hitam di Pulau Padi Perak, Sembilan Iblis Darah.


Kedatangan Panunggul Sewu dengan pasukan kadalnya ke Pulau Emas Besar adalah dalam rangka mengejar tetua Shou dan tiga tetua lain dari Sekte Naga Merah yang telah merebut dan membawa kabur ‘segel’ dari Putri Pandan Wungu adiknya.


Panunggul Sewu berhasil membunuh tiga tetua dari Sekte Naga Merah, namun tetua Shou berhasil selamat dan kabur beserta segel yang dicari.


Penelusuran terhadap sosok tetua Shou dan rekan-rekannya mengantarkan Panunggul Sewu pada fakta bahwa Tetua Shou adalah anggota Sekte Naga Merah.


Namun saat Panungul Sewu tiba dan berhasil menemukan lokasi markas sekte Naga Merah, justru dirinya terpedaya oleh muslihat Gentayu.


Kini, tiga sosok berbeda dengan kekuatan yang belum akan ditemui tandingannya di Pulau Emas Besar itu membuat tekanan udari makin berat.


Beberapa Kadal Api bahkan kini tidak mampu mengangkat kepalanya. Sementara para pendekar yang ada di sana dengan kekuatan di bawah pendekar Madya akan langsung kehilangan kesadaran.

__ADS_1


Ketiganya turun serentak dan saat kaki mereka menapak tanah tercipta gelombang kejut kecil yang menerbangkan debu dan dedaunan. Ketiganya kemudian menarik kembali aura mereka yang menekan tersebut.


“Bocah ******!”


Sebuah hentakan kaki pada tanah dilakukan oleh Ki Renggolo dengan penuh amarah, namun akibatnya diluar dugaan. Panunggul Sewu yang berjarak tak kurang dari sepuluh depa terhempas ke belakang bersama kadal tunggangannya, akibat gelombang kejut yang tercipta dari energi dari hentakan kaki di atas tanah tersebut.


“Kau malah menyerang dan menyinggung pasukan binaan Paman Karang Setan?!” Ki Renggolo mendengus dengan nada marah ke arah putranya sendiri.


“Kemana matamu Bocah tengik!” Ki Renggolo kembali meluapkan amarahnya ketika anaknya bahkan belum bangun dari hempasan barusan.


“Ampun Ayah..” Panunggul Sewu kembali terpelanting lebih jauh ketika Ki Renggolo mengibaskan tangannya.


Ki Renggolo kemudian berbalik ke arah Karang Setan dan seseorang disampingnya sebelum menatap satu persatu para ketua aliran hitam anggota aliansi.


“Maafkan kelakuan anakku itu. Dia masih terlalu mudah dibodohi musuh. Tentu itu salahku. Kurang keras mengajarinya” Ki Renggolo menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan posisi sembah sebagai permintaan maaf ke arah para pendekar yang hadir.


“Aku akan membawanya pulang sekarang..” Lanjutnya tanpa mempedulikan reaksi dari orang-orang disekitarnya.


“Kalian Juga Segera Pulang!!”


Sosoknya telah menghilang saat suara Pendekar Iblis Pencabut Roh itu terdengar membahana. Memerintahkan seluruh pasukan kadal api untuk kembali ke Pulau Padi Perak.


Tidak ada yang berani menghadang atau menghalangi saat para kadal berikut para penunggangnya beranjak dari tempat tersebut. Tanpa bicara. Hanya suara ranting patah dan semak yang tersibak saat kumpulan kadal tersebut melangkah menjauhi tempat itu.


“Aku menunggu Penjelasanmu!” Kini sosok lain di samping Karang Setan yang bicara.


Mpu Jangger, Gandos, Kalapati, Piyut dan Dewi Mawar Hitam yang baru saja keluar dari semak-semak dengan pakaian dari anakbuahnya yang tewas saling berpandangan sesaat sebelum Mpu Jangger mengangguk.


“Entah bagaimana ceritanya, kami diserang oleh para Kadal itu sesaat setelah kami keluar dari lubang bekas Sekte Naga Merah itu, Tuan Senopati!” Gandos berbicara mewakili para ketua setelah mendapat izin dari Mpu Jangger selaku pendekar senior.


“Bekas Sekte Naga Merah? Bukankah informasi yang kau sampaikan minggu lalu bahwa di sinilah markas sekte tersebut? Bagaimana sekarang kau bisa bilang bekas sekte?” Senopati Ruyung, lelaki itu bertanya dengan muka merah padam dan mata melotot.

__ADS_1


Senopati Ruyung, adalah orang utusan Pangeran Ke Tiga dari Istana sekaligus otak di balik semua penyerangan terhadap kelompok aliran putih pendukung raja Prabu Menang.


“Benar Tuan. Sayangnya, ketika kami masuk sekte ini hanya tinggal puing-puning saja. Api bahkan masih menyala di beberapa sisi. Kami sempat menemukan sisa kerangka manusia milik sekitar tiga puluhan orang yang tidak sepenuhnya terbakar. Mungkin, Sekte Naga Merah ini telah dimusnahkan orang lain sebelum kami datang..” Mpu Jangger kini ikut bersuara.


Tekanan yang diberikan oleh Senopati itu kepada rekan-rekannya yang banyak kehilangan nyawa anak buahnya oleh para kadal membuatnya tidak sabaran. Seandainya bukan karena sebagai utusan Pangeran Ke Tiga, mungkin Mpu Jangger sudah turun tangan untuk memberi pelajaran kepada lelaki tersebut. Saking geramnya melihat gaya bicara senopati tersebut.


“Baiklah. Ada hal penting yang harus aku sampaikan di sini. Pertama, kami kehilangan salah satu utusan kami beberapa waktu lalu. Jika perintah untuk bergerak tersebut ternyata sampai pada kalian, berarti utusan tersebut hilang saat kembali menuju kerajaan.


Kami khawatir bahwa rencana kita sudah diketahui pihak istana. Yang lebih gawat lagi, aku khawatir Raja Prabu Menang sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasi pergerakan kita selanjutnya. Untuk itulah aku datang sendiri kemari.


Aku diperintahkan oleh Pangeran Ke Tiga, Yang Mulia Pangeran Sekangit agar menginformasikan bahwa semua rencana kita berubah. Malam ini, semuanya harus bergerak menuju ibukota. Selanjutnya tunggu tanda dari dalam istana dan segera menyerbu. Ini, aku bawa peta untuk kalian agak kalian bisa masuk tanpa harus melewati penjagaan di pintu utama!


Pasukan dari Bhupati Talang Tengah sudah bersiap di dalam istana dengan menyamar. Demikian juga beberapa kelompok perampok dan Pasukanku sendiri tentunya.."


Senopati Ruyung menjelaskan rencana dan perintah dari Pangeran ke tiga.


Perubahan rencana yang sangat mendadak, membuktikan bahwa sesuatu yang besar sedang dan akan segera terjadi tidak lama lagi.


++++++ +++++ +++++ +++++ +++


Sementara itu, Ki Renggolo yang semula membawa Panunggul Sewu, anaknya seperti kucing memindahkan bayinya tiba-tiba berhenti tak jauh dari tepi desa sekitar setengah jam kemudian.


Panunggul Sewu sebenarnya keheranan tak memahami maksud ayahnya namun juga tidak berani bertanya saat diturunkan tiba-tiba.


"Kau bodoh! gegabah! Ceroboh! Tapi ayah tidak akan menghukummu... " Ki Renggolo tersenyum, lalu memeluk anaknya tersebut.


Panunggul sewu membalas pelukan ayahnya, dengan diliputi perasaan bingung. Perubahan sikap yang terlalu cepat, bukan?


"Aku ini ayahmu. Sekejam apapun aku di depan musuhku, engkau tetap darah dagingku. Setunduk apapun aku pada si tua bangka Karang Setan itu, tetap saja aku tak mungkin membunuh anakku sendiri.


Ketahuilah nak. Ayahmu ini adalah bawahan langsung Karang Setan. Kami adalah pengabdi kuasa kegelapan yang sebentar lagi akan bangkit. Dan kau.. kuharap kau bisa jauh lebih kuat saat hal itu terjadi agar kau juga memiliki posisi tawar yang bagus. Tidak diremehkan. Sekarang, pulanglah.." Lelaki itu berbalik dan menghilang begitu saja dari pandangan Panunggul Sewu.

__ADS_1


Tentu saja Panunggul sewu faham maksud dari tindakan ayahnya tersebut.


__ADS_2