
Gentayu segera melesat tinggi ke udara, meninggalkan rombongan Anila juga Hao Lim dan dua wanita dari Hidama.
‘BHAMM!!’
Tiba-tiba sebuah ledakan besar kembali terdengar.
Sebuah Bola api yang meledak di udara membentuk seperti cendawan raksasa. Ledakan kali ini diiringi dengan gelombang kejut dahsyat dan berhasil menghempaskan lawan-lawan Karang Setan ke berbagai arah.
Gentayu bahkan terpaksa berhenti mendadak di udara karena tubuhnya juga terkena gelombang kejut yang menghempaskan segala material di sekitar tempat itu.
“Hahahahahahahahahahaha.....!!!”
Terdengar tawa keras Karang Setan yang kini telah berdiri di angkasa, tepat pada bekas ledakan yang dibuatnya dan masih menyisakan cahaya terang di langit malam.
Ledakan ini jelas lebih besar dari ledakan pertama yang disaksikan Gentayu dan rombongan saat masih di sekitar hutan tadi.
Gentayu melepaskan aura kekuatannya, membuat tubuhnya seolah diliputi hawa panas. Bahkan, di tengah kegelapan malam tersebut, tubuhnya tampak bersinar meskipun tidak terlalu terang.
Kehadirannya segera disadari oleh Karang Setan.
Lelaki tua itu membalikkan tubuhnya, dan menemukan Gentayu telah berdiri di udara sejajar dirinya. Melihat Gentayu, Karang Setan menaikkan alis kanannya.
“Hah.. kau bocah itu lagi rupanya! Bukankah seharusnya kau mati malam itu, heh?” Karang Setan tersenyum mengejek ke arah Gentayu. Rupanya dia mengenali sosok Gentayu.
Namun dalam hatinya sedikit bertanya-tanya, bagaimana bisa pemuda di hadapannya selamat dari serangannya? Bahkan, dirinya terluka cukup serius saat itu. Sepanjang hidupnya bertualang di tanah Dipantara, baru sekali itu Karang Setan bisa terluka serius.
“Ho ho ho.. Iblis tua.. Karena kepalamu kupukul, rupanya otakmu sedikit bermasalah. Seharusnya, yang tua dulu mati, barulah yang muda menunggu giliran.. Hahahahaha...
Lagipula, sepertinya kau cukup cepat mengenaliku bahkan di tengah gelap begini. Padahal pasti musuhmu sudah sangat banyak. Apa kau mengalami trauma bertemu aku, heh??” Gentayu tertawa terbahak-bahak. Memancing Emosi Karang Setan karena harus mengingat untuk pertama kali kepalanya dikapak orang lain.
“Pedang jelekmu ini, masih kusimpan karena kufikir sebagai kenang-kenangan. Kuakui, aku cukup terkejut ternyata ada pemuda lancang yang berani melukaiku! Tak kusangka, hari ini aku masih melihatmu bernyawa! Baiklah, aku berjanji bahwa kematianmu akan kuantarkan kepadamu menggunakan pedang ini..” Karang Setan mengeluarkan pedang Satam milik Gentayu yang diambilnya beberapa waktu lalu.
Tangan Karang Setan masih saja gemetar saat memegang senjata warisan Ki Brajawana tersebut. Padahal saat ini kondisinya sedang sangat prima, berbeda dengan saat pertama kali dia mendapatkan pedang tersebut.
__ADS_1
Dulu, awalnya memang Karang Setan berfikir, tangannya gemetar karena kondisinya yang sedang terluka. Namun ketika saat inipun tangannya masih juga gemetar memegang pusaka di tangannya, otaknya menemukan sebuah kesimpulan.
‘Pedang ini senjata yang setia kepada tuannya..’ gumamnya dalam hati. Lalu pedang tersebut kembali menghilang.
Gentayu yang awalnya sedikit gembira melihat Karang Setan menggunakan pedang tersebut, ekspresinya kembali menjadi datar saat pedang itu kembali menghilang. ‘Seharusnya, dia menggunakannya agar aku lebih mudah menghadapinya. Huh!’
“Hei Iblis Tua! Ada apa? Kau bahkan tak kuat memegang senjataku, bagaimana kau begitu yakin bisa membunuhku dengan pedang itu? Ah, usia tuamu ternyata membuatmu pikun..!” Gentayu kembali mengejek, mencoba memancing kembali kemarahan Karang Setan.
Ternyata, lelaki tua itu tidak terpengaruh.
Di saat bersamaan, Lima lawan Karang Setan yang semula terhempas ke segala arah kini telah mengelilingi ereka berdua. Empat Ksatria Vajra Dewa dan Pendekar Indung Imau!
Kelimanya jelas penasaran dengan kehadiran sosok Gentayu. Mereka tak habis fikir, bagaimana pemuda itu tidak terintimidasi sama sekali dengan kekuatan Karang Setan.
Andai mereka tahu bahwa Karang Setan bahkan terluka saat berhadapan dengannya pertamakali, kelima pendekar senior itu tentu akan menaruh hormat.
Namun, kelimanya tak ingin mengganggu atau mengusik kehadiran pemuda asing itu. Melihat pemuda itu berani berhadapan dengan karang setan saja sudah sesuatu yang luar biasa menurut mereka.
Walau mereka jelas tidak menaruh harapan atau memperhitungkan sama sekali bahwa kekuatan Gentayu akan mampu sekedar menahan serangan Karang Setan. Setidaknya, kehadiran pemuda itu akan memberi sedikit waktu kepada kelimanya untuk memulihkan kekuatan sebelum bertarung kembali.
Namun, tawanya segera berhenti karena sebuah sepatu mendarat di mukanya.
"'..."
“Hei! Tua Pikun! Lawanmu aku! Ingat, Kau punya hutang denganku...” Seru Gentayu yang langsung menerjang Karang setan dengan tendangan-tendangan yang menyasar ke arah muka.
Satu kakinya masih mengenakan sepatu sedangkan sebelah kirinya tanpa sepatu lagi.
Karang Setan menangkis dengan santai serangan gentayu. Namun pendekar tua itu agaknya menyadari sesuatu setelahnya. Tangannya terasa terbakar saat menangkis serangan kaki dan tangan Gentayu yang seolah sangat lambat untuk ukuran pendekar sakti itu.
Bahkan, kelima pendekar senior yang kini memilih turun kembali ke tanah juga terlihat meragukan pemuda itu. Gerakannya lambat dan mudah dibaca!
Lima Pendekar itu baru merasakan hal tak wajar setelah Karang Setan terlihat melompat mundur beberapa saat kemudian dengan marah.
__ADS_1
“Apa yang dilakukan pemuda itu sehingga Karang Setan berubah menjadi sangat marah seperti itu? Bukankah serangannya terlihat sangat lambat dan tampak tak bertenaga?” Pendekar Indung Imau menyatakan keheranannya. Namun keempat pendekar lain tidak menanggapi.
“Pemuda itu bukan pemuda sembarangan. Sebaiknya, kita manfaatkan waktu untuk memulihkan diri selagi pemuda itu bisa menguur waktu..” perintah Indung Imau selanjutnya.
Sementara di angkasa, Serangan Gentayu mulai terlihat lebih cepat dan lebih bertenaga. Setiap gerak serangannya, membuat udara di sekitar Karang Setan berubah menjadi angin walaupun tidak terlalu kencang.
Karang Setan tidak lagi berusaha menangkis serangan tersebut. Pendekar tua itu justru lebih memilih menghindar.
Sejauh ini, Karang Setan belum terlihat melakukan serangan balik. Entah apa yang sedang difikirkan pendekar terkuat aliran hitam itu. Namun, Gentayu tidak terlalu ambil pusing. Baginya, tidak ada serangan balik berarti kesempatan untuk terus menyerang.
Serangannya memang terlihat tidak berarti bagi Karang Setan. Namun tidak demikian kenyataannya.
Karang Setan diam-diam mewaspadai setiap gerakan Gentayu karena dia menyadari, pemuda di hadapannya jauh lebih kuat dari kelihatannya. Karang Setaan sengaja terus menghindar demi mengukur batas kemampuan Gentayu, namun sejauh ini dirinya bahkan belum berhasil melihat batas kekuatan pemuda itu.
Maka, pada serangan Gentayu berikutnya yang kecepatannya semakin tak masuk akal untuk dihindari pendekar biasa, Karang Setan terpaksa menangkisnya dengan sebuah perisai energi. Tendangan Gentayu menabrak perisai tersebut, menimbulkan gelombang kejut yang membuat tubuh keduanya terpental mundur.
Kelima Pendekar yang menjadi lawan Karang Setan sebelumnya tidak memperhatikan pertarungan keduanya. Mereka sedang memusatkan diri untuk memulihkan kekuatan mereka saat itu.
Namun Yumiko, Anila, Sakuza dan Hao Lim cukup terpana melihat bagaimana Karang Setan yang terkenal kuat itu dibuat termundur saat menahan serangan Gentayu. Meskipun Gentayu sendiri juga termundur lebih jauh, namun pemuda itu segera berhasil menyeimbangkan diri.
“Iblis Tua, Kalau kau fikir akan bisa menguras energiku dengan terus menghindar, sebaiknya fikirkan lagi..” Gentayu berkata dengan lantang sembari melesat cepat ke arah Karang Setan. Tubuhnya hanya tampak seperti kelebat cahaya putih yang redup.
Kali ini pertarungan keduanya terlihat lebih serius. Gentayu tetap melancarkan sebanyak mungkin serangan ke arah Karang Setan. Sebaliknya, Karang Setan sendiri tidak lagi hanya menghindar, namun mulai melancarkan serangan-serangan balasannya. Walaupun begitu, pendekar tua itu tetap berusaha tidak menangkis serangan Gentayu.
Pukulan dan serangan keduanya di udara menimbulkan percikan-percikan cahaya kecil setiap kali pukulan tersebut mendapat tangkisan.
Bedanya, setiap kali menangkis serangan Gentayu, Karang Setan merasakan seolah hawa panas luar biasa merasuki tubuhnya. Rasa panas yang menyertai setiap serangan Gentayu itu seolah merambat di tangan atau kaki yang digunakan menagkisnya.
Sebaliknya, saat serangannya ditangkis Gentayu, tenaganya seakan terus tersedot dan membuatnya melemah.
Meskipun begitu, ini keduanya sama-sama belum menyarangkan satupun pukulan telak ke tubuh lawan.
Gentayu tersenyum melihat raut muka Karang Setan yang semakin buruk dari waktu ke waktu. ‘Iblis tua ini belum menyadarinya..’ kata Gentayu membatin.
__ADS_1
Berkat Pedang Satam yang saat ini berada di tubuh Karang Setan, Gentayu mendapatkan keuntungan. Pedang tersebut akan menyerap energi lawan dari pemiliknya, terlebih saat pertarungan seperti saat ini. Ditambah, kemampuan pedang itu meningkatkan beberapa kali lipat efek serangan pemiliknya pada tubuh lawan.
Energi pedang Satamlah yang membuat setiap serangannya ditangkis, justru energi serangan seolah terserap ke tubuh karang Setan. Menimbulkan efek panas membakar, sekalipun sebenarnya Karang Setan sendiri kebal senjata.