
Di hari kedua meditasinya, tepat saat menjelang malam, Gentayu telah berhasil menyelaraskan energi yang diserapnya dengan tubuhnya, menjadikannya tumbuh lebih kuat dan mencapai pertengahan level 5 pendekar bumi.
Sebuah pencapaian sangat pesat dan tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Ternyata, dengan kondisi khusus tubuhnya ditambah penguasaanya secara sempurna terhadap ilmu Samudera menarik Rembulan, kekuatan kedua belalang sembah raksasa sepenuhnya bisa berpindah ke dalam dirinya.
Hal ini benar-benar di luar perhitungan Gentayu. Bahkan, kitab Api Abadi tidak menyinggung hal seperti ini di bab awalnya.
Sedikit Perasaan kagum sempat menyelinap dalam diri Gentayu. Namun dia segera menyadari, bahwa pencapaiannya saat ini belum ada apa-apanya untuk bisa sekedar diperhitungkan sebagai pendekar di dunia Danyang ini.
Bahkan, ketika mengingat Anjani yang mampu mencapai level Puncak Pendekar Langit maka dirinya jelas bukan apa-apa dan tidak bisa dibandingkan.
“Ah.. kenapa aku tiba-tiba teringat gadis itu?” Gentayu menggelengkan kepala, mencoba menepis bayangan Anjani. Namun, wajahnya justru terlihat tersenyum saat itu.
‘Brasak! Brasak! Bragg!!’
Sebuah suara berisik mengagetkan Gentayu dari lamunannya.
Ingatannya segera beralih kepada Sempati yang ditinggalkannya selama dua hari ini. Apakah suara itu berkaitan dengan Sempati?
Keingintahuan Gentayu segera terjawab ketika sesuatu berwarna hitam melayang jatuh ke arahnya, dengan asap hitam mengikutinya.
Itu adalah Sempati, anakan Garuda miliknya yang entah bagaimana ceritanya jatuh dari udara dengan dua helai bulu ekor terbakar, menciptakan asap hitam di belakangnya.
Gentayu segera memadamkan api di ekor burung itu sebelum menoleh ke arah datangnya Sempati.
Rupanya, di angkasa terlihat sebuah bola api melesat mengejar burung itu. Nyalanya sangat terang di dalam kegelapan malam seperti saat ini.
Begitu bola api itu mendarat di hadapan Gentayu, jelaslah bahwa itu bukan bola api biasa. Ternyata itu adalah wujud dari sesosok makhluk dengan tubuh seluruhnya terdiri dari api yang berkobar.
__ADS_1
Makhluk api itu memiliki postur tubuh seperti manusia. Memiliki kepala, dua tangan dan kaki. Yang membedakannya dengan postur manusia adalah makhluk ini memiliki ekor panjang mirip ekor buaya.
“Grrrrrh… Kru frikir, akru akran tringgal dri dralam trubuh brurung..grrrhhh.. Rupanyakrh adra manrusia bertrubuh drewa Api… rrrkhh…!” Makhluk api itu berbicara dengan suara seperti api membakar kayu, namun Gentayu memahami maksud garis besarnya.
Singkatnya, makhluk ini awalnya menginginkan tubuh Sempati untuk diambil alih, namun kemudian justru lebih tertarik setelah menemukan Gentayu dengan tubuh dewa apinya.
Gentayu menjadi waspada sekaligus cemas.
Makhluk di hadapannya ingin mengambil alih tubuhnya, menunjuukkan bahwa yang sedang dihadapinya tak lain adalah makhluk sejenis roh lelembut namun berunsur api murni. Iblis Api? Mungkin saja.
Kekuatan yang dipancarkannya menunjukkan bahwa makhluk api ini setidaknya berada di level pendekar langit pertengahan. Alam yang lebih tinggi satu tingkat di atas Pendekar bumi. Dengan kekuatannya, makhluk ini bisa membunuh Gentayu hanya dengan menjentikkan jarinya saja.
Tekanan yang diberikan makhluk api ini kepada Gentayu membuatnya kesulitan bernafas.
Mengambil alih tubuh, adalah salah satu teknik sesat yang dikembangkan kelompok aliran hitam di antara teknik peningkatan kekuatan lainnya.
Namun begitu, mengambil alih tubuh orang yang lebih lemah tidak pernah terjadi di kalangan para bhakta. Mereka memilih mengambil alih kekuatan lawan dengan cara mencerna kristal kekuatannya, atau dengan teknik pemindahan kekuatan seperti yang Gentayu warisi dari Bulan Perak.
Gentayu mengepalkan tangannya.
Jantungnya berdetak kencang karena gugup. Merasa bahwa nyawanya kali ini tidak akan selamat.
Makhluk api itu mulai mendekati Gentayu dengan aura mengintimidasi.
Gentayu merasakan tekanan yang hebat, memaksanya untuk jatuh berlutut. Namun, dia berusaha melawannya.
‘Aku adalah manusia! Dan manusia lebih unggul daripada lelembut!’ batinnya membulatkan tekad untuk melawan makhluk api di hadapannya.
Baginya, melawan ataupun menyerah, dirinya tetap akan mati di hadapan makhluk ini. Dengan memberikan perlawanan, setidaknya peluangnya untuk hidup akan tetap ada. Tapi, hal itu hanya ada dalam fikiran Gentayu karena hawa panas segera menyelimuti lehernya.
__ADS_1
Rupanya makhluk itu telah mencekik keras leher Gentayu dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
Tak ada ucapan apapun yang dipertukarkan di antara mereka berdua.
Makhluk berapi itu terdengar mendengus sebelum matanya yang berkilat kemerahan menatap tajam mata Gentayu, membuat pemuda itu nyaris kehilangan kontrol atas kesadarannya.
‘Aku tidak boleh kalah! Aku adalah manusia! Dia hanya lelembut, makhluk tak sempurna!’ Gentayu memejamkan mata, menguatkan tekadnya untuk tetap bertahan hidup. Tapi, semakin kerasnya cekikan makhluk itu memaksanya membuka mata.
Ketika membuka mata itulah, tatapan mata makhluk itu seolah menusuk kesadarannya.
Gentayu merasakan jiwanya tiba-tiba terlempar ke lautan api yang bergejolak. Dirinya merasa bahwa seluruh dunia ini adalah api.
Bukan api biasa, tetapi api yang memusnahkan segalanya. Api yang perlahan membakar energi kehidupannya dan menguapkannya menuju kematian.
Gentayu menolak untuk pasrah dan menyerah.
Namun di sisi lain dirinya tidaklah memiliki pilihan.
Lautan api di hadapannya benar-benar hendak ******* jiwa sekaligus energi kehidupannya.
Makhluk api yang mencekik tubuh Gentayu selesai dengan persiapannya. Tubuh Gentayu sekarang dalam kondisi layu, namun belum mati. Dan memang tubuh itu tidak boleh mati agar bisa diambil alih. Si Makhluk api hanya menghilangkan kekuatan jiwa Gentayu agar sepenuhnya dapat mengambil alih tubuhnya.
Perlahan, melalui mata Gentayu, tubuh makhluk api itu mengalir, tersedot masuk ke dalam tubuh Gentayu secara perlahan.
Gentayu berteriak, meraung kesakitan.
Sekalipun kesadaran jiwanya sudah ditaklukkan, namun dirinya belum mati. Dia masih hidup. Berusaha mempertahankan kehidupannya.
Butuh waktu tak kurang dari satu jam lamanya, prosesi pengambil alihan tubuh itu berjalan.
__ADS_1
Sempati, anakan burung garuda itu tidak bisa menyaksikan betapa tubuh tuannya menderita saat kobaran api itu perlahan memasuki tubuh tuannya. Burung garuda anakan itu sendiri sedang dalam kondisi sekarat.