
Di sebuah lembah subur pada deretan pegunungan berpuncak salju, wilayah kekaisaran Huang.
Seorang pria yang terlihat berumur tiga puluhan tahun dengan jubah putih, tengah dibuat kesal oleh kegagalan percobaannya.
Pria itu, adalah seorang ahli alkimia atau ilmu pengobatan bernama Li Jiang . Pendekar tabib terkenal di sekitar Provinsi Tianmen, kekaisaran Huang.
Siang itu, dia tengah mengerjakan sebuah tugas khusus dari gurunya sebagai syarat kenaikan level kemampuannya. Syarat itu cukup sulit baginya, sehingga ribuan kali mencoba selama hampir setahun terakhir dirinya menemui kegagalan demi kegagalan.
Tak peduli apapun langkahnya, tetap saja dia gagal menciptakan pil sebagai syarat kenaikan tingkat ini. Mulai dari mencoba mengubah perpaduan tanaman bahan dasar obatnya, mengubah persentase dan komposisi, mengubah metode hingga berpindh tempat, tetap saja belum berhasil.
“Oh, Langit! Kenapa masih juga tidak berhasil?!Aku gagal lagi..! Aku telah menghabiskan seluruh tabunganku selama menjadi tabib untuk menciptakan pil obat ini! Aku bangkrut, benar-benar bangkrut tanpa hasil!...” tabib itu terduduk lemas di depan tungku obatnya. Kedua tangannya menumpu pada lantai tanah.
Wajahnya tampak makin kusut, ditambah rambutnya yang sudah menggimbal tak terurus. Entah kapan terakhir kali Li Jiang mandi, dia tak ingat lagi. Pakaiannya hanya tersisa pakaian bagian dalam dengan warna hitam kotor berdebu jelaga hitam.
Wajahnya juga hitam oleh abu jelaga bekas ledakan dari percobaan terakhirnya.
Sebenarnya, Pil Obat yang harus dibuat oleh Li Jiang untuk bisa naik menjadi Penghusada Utama, hanyalah sebuah pil obat untuk memulihkan level energi secara cepat.
Bukan hanya memulihkan, tapi pil obat itu haruslah juga mampu memperkuat orang yang mengkonsumsinya.
Gurunya, tabib sakti Kendi Emas memberinya resep obat itu. Tapi, hingga hari ini belum juga berhasil menciptakan pil obat dimakssud. Padahal, Li Jiang telah mengeluarkan segala daya upaya dan kemampuannya.
Li Jiang, adalah salah satu di antara para jenius murid Tabib Kendi Emas.
Dalam legenda para tabib, disebutkan bahwa dewa obat pernah menciptakan sebuah obat sejenis di usianya yang masih belasan tahun. Saat itu, sang Dewa Obat baru berada di level penghusada Muda, dua tingkat di bawah level Li Jiang saat ini.
__ADS_1
“Aku mulai curiga! Jangan-jangan semua cerita guru itu hanya bualan! Dewa Obat? Dewa Obat hanya kisah bualan..!” Li Jiang menyumpah serapah.
“Guru juga tidak masuk akal! Bagaimana mungkin dia mempercayai cerita dewa obat yang hanya omong kosong itu..?” Li Jiang masih terus mengoceh.
Dia bahkan tidak menyadari, saat sebuah titik hitam terbentuk di belakangnya dari kehampaan. Titik itu perlahan-lahan membesar dan membentuk sebuah lubang hitam dengan lorong seolah tak berujung.
Lubang hitam itu terlihat memancarkan cahaya menyilaukan, menyadarkan Li Jiang dari gerutuannya. Ketika cahaya tersebut menghilang, dua orang berpakaian jubah hitam dengan motif pegunungan batu muncul dari dalam sumber sinar terang itu.
Keduanya adalah Dana setra dan Montawiraba.
Tekanan yang sangat kuat mengisi udara di sekitar tempat itu, membuat Li Jiang kesulitan bernafas.
“Salam, Senior! Maaf, siapakah senior berdua ini dan apa tujuan senior berdua mendatangi tempat ini?” Li Jiang memberi hormat dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada atas, bersikap sopan dan dengan dengan gemetar menyapa kedua orang asing itu.
Dari aura yang dipancarkan, kekuatan mereka berdua belum pernah ditemui Li jiang sejauh ini, sehingga menurutnya tidak membuat masalah dengan keduanya adalah cara untuk tetap selamat. Akan lebih baik jika keduanya segera meninggalkan tempat ini tanpa membuatnya harus tertekan seperti ini.
“Tidak perlu sungkan, saudara. Saya dan adik adik saya ini bermaksud menemui Pendekar Lou Shisan. Apakah kami berdua bisa bertemu beliau?” Jawab Dana Setra sembari membalas penghormatan Li Jiang.
Melihat keduanya membalas sikap penuh hormat yang ditunjukkannya, Li Jiang merasa sedikit lega meski harus bersusah payah mempertahankan kesadarannya. Keringat dingin membanjiri seluruh tubuhnya.
“Maafkan saya, senior! Seingat saya, tidak ada pendekar dengan nama tersebut di sekitar tempat ini..” Li Jiang menjawab dengan jujur, namun juga penuh khawatir.
Biasanya, orang-orang yang lebih kuat suka sekali menindas mereka yang elbih lemah. Mereka biasanya tak segan menyiksa jika mendapatkan umpan balik yang tidak sesuai keinginannya.
“bukankah, anda seorang tabib dan murid di sini? Bagaimana mungkin anda tidak mengenal Pendekar Lou?” Dana Setra tidak begitu saja percaya penjelasan Li Jiang, membuat pendekat tabib itu sedikit cemas.
__ADS_1
“Dia adalah pendekar berjuluk Dewa Obat. Seharusnya namanya cukup terkenal karena kudengar dia memiliki tiga murid utama..” Dana Setra menjelaskan. Wajahnya yang menunjukkan rasa tidak puas membuat li Jiang merasa terancam.
Mendengar penjelasan ini, Li Jiang tiba-tiba berubah ekspresinya. Apakah dia tidak salah dengar? Apakah orang ini cukup gila karena mencari seseorang yang sudah lama tiada?
“Ttt.. tuan, mohon jangan salah faham. Saya katakan sejujurnya. Jika beliau yang anda maksud adalah Dewa obat, maka beliau seharusnya sudah meninggal ratusan tahun lalu..” li Jiang menjelaskan dengan gugup.
Li Jiang, sekalipun seorang pendekar Penghusada yang selangkah lagi menjadi Penghusada Utama, namun kemampuan beladirinya terlalu jauh tertinggal. Saat ini, dia hanya setara pendekar Madya. Maka wajar, jika untuk sekedar berdiri di hadapan kedua orang ini saja, dia harus mengerahkan segenap kekuatan tenaga dalamnya agar tetap bisa sadarkan diri.
Melihat Dana Setra menatapnya dengan tajam, serasa seluruh sendinya dilolosi dari tubuhnya. Hampir saja dirinya jatuh tak sadarkan diri.
Tepat saat itulah, sebuah tekanan lain mengisi udara di sekitarnya. Tekanan ini sebenarnya sedikit menetralisir tekanan yang dirasakan sebelumnya, namun akhirnya dirinya jatuh tak sadarkan diri.
Hahhh.. Murid lemah semakin banyak..” gerutu sebuah suara memenuhi udara.
Nb.
Mohon Maaf saya memang belum maksimal menggarap Novel ini.
Kesibukan saya masih belum bisa saya kondisikan.
Chapter ini saya tulis dalam sebuah perjalanan, mohon dimaklumi jika banyak kurangnya.
Mudah-mudahan malam ini bisa update satu chapter lagi. Doakan saja.
Rencananya, saya mau ambil istirahat menulis, tapi sejauh saya masih bisa menulisnya di ponsel sambil berkegiatan, saya akan melakukannya.
__ADS_1
Andai tidak bisa, ya mohon tunggu sampai setidaknya hari rabu baru saya bisa update lagi.
Teman-teman pembaca silakan membaca karya author lain sembari menunggu (Eh, emangnya ada yang nungguin, gituh? Wkwkwkwk “Pede boleh lah yaaa..”).