JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kraken Merah V


__ADS_3

"Siapa Kau?" Putri Nakano menanggapi dengan tatapan tidak senang terhadap kemunculan Gentayu.


Baginya, sikap pemuda tersebut yang muncul tiba-tiba merupakan bentuk ketidaksopanan lainnya. Terlebih sikap Ryutaro sebelumnya juga menunjukkan betapa mantan panglima itu menghormati Gentayu melebihi sikap hormatnya pada sang putri.


"Maaf, Nona. Aku hanyalah pengelana biasa. Boleh aku tahu..." Gentayu tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat sebuah pedang melesat secepat kilat ke arahnya.


Dengan sedikit memiringkan badannya, pedang tersebut melewati wajahnya. Hanya setipis rambut baginya untuk lolos dari serangan mendadak tersebut.


'DUAR!'


Pedang yang melewati mukanya tersebut kemudian meledak sesaat setelah menancap pada batu karang di belakangnya.


"Penguasaan Pedang Energi?" Gentayu menyipitkan matanya saat menyadari bahwa pedang yang nyaris mencabut nyawanya hanyalah energi yang memadat dan diubah menjadi pedang. Orang yang mampu melakukan hal seperti itu  tentulah seorang di level pendekar bumi setidaknya.


"Nona! Apa maksudmu menyerangku?!" Gentayu menjadi marah saat menyadari bahwa perempuan muda di hadapan mereka adalah pelakunya.


"Kita tidak memiliki dendam satu sama lain, kenapa tiba-tiba..." Kembali Gentayu gagal menyelesaikan kalimatnya saat rentetan pedang energi menyerangnya dengan gencar.


Menanggapi serangan tersebut, Gentayu tidak lagi menghindar.


Mengaktifkan ilmu Perisai Naga Api miliknya, seluruh pedang energi itu terserap masuk ke dalam tubuhnya tanpa melukainya.


Selepas mencapai level Pendekar langit, selain kecepatan regenerasi sel tubuhnya meningkat, kemampuan pertahanan tubuhnya juga berkembang di tingkat berikutnya.


Bila sebelumnya Perisai Naga Api hanya menangkal dan menahan serangan agar tidak mengenai tubuhnya, di level sekarang kekuatan tambahan yang bisa diaktifkan adalah meredam energi serangan dan menyerap ke dalam tubuhnya.


Namun, saat ini teknik tersebut mempersyaratkan bahwa energi yang digunakan lawan untuk menyerang harus berunsur api. Di luar unsur api, Perisai Naga Api tidak akan bekerja untuk menyerapnya namun menolak dan menahan serangan sebagaimana biasa.


Mengetahui bahwa energi serangannya berakhir dengan diserap dan menjadi nutrisi bagi pihak lain, Putri Nakano mendengus marah.

__ADS_1


Namun saat dia hendak melakukan langkah berikutnya untuk menyerang Gentayu, sebuah sentakan berhawa panas telah menghantam dadanya.


'DAG!'


Tubuh Putri Nakano terlempar sejauh lima hingga enam meter ke belakang sebelum jatuh mencebur ke air laut.


Menyaksikan hal ini, Ryutaro hanya mematung di tempatnya. Bingung untuk menentukan sikap. Bagaimanapun, dalam posisi sekarang Gentayu menyerang Putri Nakano sebagai bentuk pembelaan diri.


Sementara Putri Nakano yang dikenalnya, memang bertempramen keras cenderung kasar dan tak pernah mau kalah bila ada orang lain memiliki kehebatan di atasnya.


"Kita tidak punya dendam, dan aku tahu bahwa Ryutaro ingin menjadi pengikutmu. Jadi, siapapun kau Nona, mari akhiri ini sampai di sini.." Gentayu kali ini menekankan suaranya dengan sedikit intonasi bernada marah.


"Akhiri ini?? Tidak! Sebelum kau mengalahkanku! Bukankah kau tuan dari panglima Ryu sebelumnya? Dia telah menolak untuk bertarung denganku, jadi sebagai tuannya, kau harus menggantikannya! Bersiaplah!" Putri Nakano tampaknya masih tak mau menyerah pada obsesinya untuk bertarung.


Dengan langkah zigzag, dia telah berada tepat di hadapan Gentayu dalam sekejap mata dan melakukan serangannya.


Iya, tubuh Putri Nakano memang dimaksimalkan sebagai senjata bergerak.


Dengan kibasan lengan bajunya, pisau-pisau kecil telah bermunculan di siku, kedua pergelangan tangan, lutu, pergelangan kaki  dan kedua bahunya.


Gentayu terpaksa melakukan gerakan mundur dengan cepat sembari menghindari serangan siku dan pergelangan tangan perempuan muda bangsawan itu. Tak ingin mengambil resiko.


Sekalipun kemungkinan besar ilmu Perisai naga Api akan  dapat bertahan dan  melindungi tubuhnya dari pisau-pisau itu, Gentayu masih memilih untuk berhati-hati.


'Tak ada cara lain, aku harus mengalahkannya kalau begitu!' Gentayu berkesimpulan bahwa nafsu bertarung wanita muda ini sudah seperi candu bagi dirinya. Maka, mengegeretakkan giginya, gentayu menyiapkan dirinya untuk balas menyerang.


Keduanya segera terlibat dalam pertarungan sengit.


Dalam waktu kurang dari sepuluh nafas berikutnya, keduanya telah bertukar pukulan lebih dari seratus jurus.

__ADS_1


Penduduk Desa yang menyaksikan dua jagoan bertempur di pantai hanya bisa melihat cahaya putih terang dan merah berkelebat bergantian di antara debu, air, dan puing yang beterbangan menutupi pertempuran.


Sesekali, suara ledakan terdengar di dalam selimut debu dan puing tersebut.


Tak jarang pula, serangan nyasar menghantam areal sekitarnya, menyebabkan beberapa kerusakan dan kehancuran.


Akhirnya, penduduk desa memilih menjauh dari area pertarungan. Tidak ingin membayar tontonan itu dengan nyawanya.


Ryutaro Sendiri telah menjauh dari lokasi pertarungan. Sekalipun kecil kemungkinannya akan tewas oleh serangan nyasar, tekanan energi kedua orang itu lebih dari cukup untuk membuatnya sesak nafas dan tercekik jika terlalu dekat.


Tiga puluh nafas berikutnya, pertarungan berakhir.


Gentayu terlihat berdiri dengan kepayahan disangga oleh sebilah pedang merah menyala. Sementara Putri Nakano tergeletak tak jauh darinya. Dia masih hidup, terlihat dari tangannya masih bergerak untuk meraih sesuatu di dalam saku jubahnya.


"Syukurlah.." Ryutaro bernafas lega melihat keduanya akhirnya berhenti bertempur tanpa ada yang kehilangan nyawa.


Putri Nakano menelan sesuatu, sepertinya adalah obat penyembuh. Lalu berdiri, bermaksud untuk pergi meninggalkan tempat itu. Namun Gentayu mencegahnya.


"Bukankah Nona bermaksud akan membawa Ryutaro bersama? Ajaklah dia. Kembali ke tanah kelahirannya dan mengakhiri hidupnya dalam pengabdian pada kaisar adalah keinginannya. Tanpa tekad itu, dia mungkin sudah mati ratusan tahun lalu.."


Gentayu berkata tanpa memandang pada Putri Nakano.


Yang dikatakan Gentayu tidaklah berlebihan, karena motivasi yang menjaga kekuatan diri Ryutaro tetap hidup memang semangatnya untuk menyelesaikan tugas. Inilah yang dipelajarinya setelah mencoba memahami mengapa Ryutaro bisa lolos dari maut saat korban lain dari Tombak Kristal menemui kematiannya.


Tak menunggu reaksi Putri Nakano, Gentayu melangkah ke tubuh dua pimpinan Perompak yang terbunuh di awal pertarungan sebelumnya. Membetot Kantong Buana atau kantong  penyimpanan milik mereka, Gentayu segera membenamkan kesadarannya untuk memeriksa isi kantong-kantong tersebut.


'Seperti yang kuharapkan..." Gumamnya seraya tersenyum. Sama sekali tidak mempedulikan Putri Nakano yang menatap punggungnya dengan muka masam.


__ADS_1


__ADS_2