
“Ah, apa? Jadi aku harus meneteskan darahku di kepalamu dan memberimu nama juga?” Gentayu bertanya kepada si burung selayaknya tengah berbincang dengan manusia umumnya.
“Kwark! Kwark!” anakan burung itu berjingkat riang, mengiyakan ucapan Gentayu.
“Baiklah..” Gentayu segera menggigit ujung ibu jarinya hingga luka dan mengeluarkan darah. Ibu jari yang berdarah karena luka kecil itu segera ditempelkannya pada kepala sang anakan burung. Ketika darah itu mengenai kulit kepala gundul burung tersebut, sinar terang berwarna keemasan keluar memancar dari seluruh tubuh burung itu selama beberapa detik.
Gentayu sedikit terperangah, namun segera dapat mengendalikan diri. Sinar terang keemasan itu hanya memancar selama beberapa detik sebelum redup dan menghilang kembali.
Kondisi burung itu kembali seperti keadaan sebelumnya. Melompat-lompat riang dan mematuki bahu Gentayu. Menimbulkna sensasi rasa geli.
“Iya, baik, baik. Aku akan memberimu nama. Bagaimana kalau aku menamaimu ‘Sempati’?! Apa kau setuju?”
Burung di bahunya tampak menoleh ke kiri atas dan kanan atas bergantian, seolah sedang berfikir. Lalu melonjak-lonjak seolah kegirangan dan menyetujui nama pemberian itu.
“Eh, Baiklah, Sempati! Ayo kita melihat-lihat sekitar sini! Aku juga baru sadar bahwa selama hampir sepekan di sini ternyata tidak kemana-mana.. “ Gentayu berkata sembari mengelus kepala botak anak burung tersebut.
‘Aku juga ingin melihat, apakah kekuatanku sekarang sudah bisa kuandalkan, setidaknya untuk memburu kelinci seperti tempo hari atau tidak!’ Gentayu melangkah cepat menuju ke dalam hutan di seberang sungai kecil di hadapannya sambil bergumam pada dirinya sendiri.
Membawa sempati bersamanya Gentayu segera menghilang ke dalam rerimbunan hutan.
Di dalam hutan, tiba-tiba dia teringat dengan seluruh hewan siluman miliknya dan Ryu, sang roh harimau yang kemudian berubah menjadi roh pedang kembar miliknya. Dia sedang memikirkan kemungkinan melatih mereka semua di hutan ini sehingga nantinya mereka akan memiliki kekuatan memadai ketika dibutuhkan.
‘Hmm.. karena mereka termasuk hewan jenis siluman, siapa tahu mereka juga sebenarnya bisa bertambah kuat dengan cara yang sama dengan Sempati. Tidak ada salahnya mencoba! Pertama-tama, aku akan menggunakan para kadal raksasa untuk menangkap hewan danyang kecil. Lalu biarkan mereka menjadi bahan percobaanku..’ ide liar segera muncul di kepala Gentayu.
__ADS_1
Hutan yang dimasuki Gentayu saat ini bukanlah hutan biasa. Keberadaan sosok seperti Sempati sang anakan garuda menunjukkan bahwa hutan itu sebenarnya adalah hutan yang dipenuhi bermacam hewan danyang. Bahkan kemungkinan hewan suci seperti garuda lainnya akan bisa ditemukan di hutan ini.
Setelah beberapa saat memasuki hutan, beberapa hewan buas mulai menampakkan diri. Namun, mereka hanyalah hewan buas biasa. Mereka segera menjauh ketika menyadari kehadiran Gentayu dan Sempati.
Bahkan, seekor harimau sebesar anak sapi segera kabur meninggalkan daging rusa santapannya ketika Gentayu mendekat. Jelas, bahwa hewan-hewan terbuas di tempat ini sebenarnya hanyalah mangsa bagi hewan danyang. Tapi, bahkan hewan danyang kemungkinan besar tidak akan mau memangsa mereka, karena hanya mampu menjadi pengganjal perut dan tidak mampu menambah kekuatan.
Biasanya, hewan danyang yang kuat lebih senang berburu sesama hewan danyang dengan level kekuatan di bawahnya. Bagaimanapun, mereka adalah hewan-hewan siluman yang telah mengalami mutasi sedemikian rupa sehingga akan berperilaku tidak lagi sama seperti hewan biasanya.
Saat mencapai bagian lebih dalam dari hutan, suasananya terasa berbeda. Tidak lagi banyak hewan-hewan liar yang berkeliaran seperti sebelumnya. Bahkan, jenis tumbuhannyapun terlihat asing.
Rasa asing terutama disebabkan oleh ketebalan energi dath yang melingkupi tempat itu. Bahkan, sepertinya setiap tanaman di tempat ini adalah tanaman ajaib mengandung energi dath atau energi dewa. Berbeda dari tanaman biasa.
Saat itulah, Gentayu jadi teringat Anjani.
‘Tetumbuhan seperti ini jelas akan bermanfaat bagi para penghusada atau tabib seperti mereka. Sayang sekali dia tidak ada di sini..’ Gentayu tiba-tiba merindukan gadis itu.
Akhirnya, Gentayu menepis semua fikirannya tentang Anjani. BAginya, saat ini menjadi lebih kuat adalah prioritasnya sebelum bisa kembali ke tanah leluhurnya. Terlebih, bila memungkinkan dia ingin bisa kembali ke Lamahtang, berjumpa dengan para pendekar yang telah bekerja keras membebaskan negeri itu dari kekuasaan kelompok aliran hitam.
Ketika tengah melamun, tanah di sekitarnya bergetar. Tak lama, suara lolongan terdengar. Menyadari bahaya mendekat, Gentayu segera menjadi waspada.
“Tuan Ryu! Aku membutuhkanmu!” seketika, Gentayu mengeluarkan pedang kembar dari gelang geroboknya.
Saat mencabut pedang tersebut, Gentayu menyadari satu hal. Kini, setelah mencapai level pendekar bumi, Gentayu bisa melihat lapisan demi lapisan energi yang menyelimuti pedang tersebut. Bahkan, sosok samar Ryu dalam wujud cahaya pedang terlihat baginya.
__ADS_1
‘Sebelumnya, aku sama sekali tidak bisa melihat hal-hal seperti ini..’
Getaran semakin kuat, membuat Gentayu tidak lagi mencoba menganalisis pedang kembar itu lebih jauh. Kini, fokusnya sepenuhnya terarah ke kedalaman hutan. Pada sumber suara lolongan dan getaran yang semakin terasa.
Seekor serigala dengan empat kaki berwarna perak, bukan hanya berwarna perak namun benar-benar terbuat dari perak muncul dari balik rerimbunan hutan.
Di belakangnya, sekitar dua puluh kawanan serigala besar dengan aura kejam mengiringinya. Semuanya, berkaki perak!
Tapi, serigala paling depan adalah yang paling besar sekaligus terasa paling kuat. Mereka adalah serigala kaki perak.
Kelompok serigala ini, terlahir sebagai darah murni. Artinya, mereka memang terlahir sudah menjadi hewan danyang, bukan hewan mutasi karena menerima kekuatan dewa ataupun iblis.
Saat lahir, mereka hanya setara pendekar kelas madya pada manusia. Seiring dengan bertambahnya usia dan banyaknya membunuh hewan danyang lainnya, kekuatannya terus tumbuh semakin kuat. Namun, mereka hanya akan tumbuh sampai batas setara puncak pendekar langit.
Belum pernah ditemui srigala ini mampu menembus hingga level hewan iblis ataupun hewan suci.
Puluhan Serigala kaki Perak di hadapan Gentayu ini setidaknya berada di level Pendekar Bumi awal hingga menengah. Semua terdeteksi berkat aura yang mereka pancarkan.
Aura mereka jelas berada di level pendekar bumi. Namun, daya kekuatan yang mereka pancarkan jelas berada di atas gentayu saat ini. Bagaimana dengan Srigala paling besar dan berada di depan gerombolan ini?
Gentayu bahkan tidak mampu mengenali aura itu. Jelas bahwa kekuatannya sebagai pemimpin gerombolan serigala kaki perak ini berada di atas yang lainnya. Bukan lagi berada di level pendekar bumi.
Gentayu menjadi bimbang, antara melakukan pertarungan atau melarikan diri.
__ADS_1
Bagaimanapun, dia sebenarnya tidak sepenuhnya siap berburu. Apalagi jika harus berhadapan dengan para serigala ini.
Niat awalnya hanya akan berburu hewan pengerat kecil untuk makanan Sempati. Siapa sangka, di awal pertemuannya dengan hewan danyang dia justru berhadapan dengan sekelompok srigala ini.